Kamis, 31 Desember 2009

PROFIL DESA

Sejarah Singkat
Desa Tenjolaut terdiri dari 5 (lima) RW yaitu RW 08, RW 09, RW 10, RW 11 dan RW 12. Kelima RW yang berada dalam teritori dusun III ini mempunyai nama masing-masing, sehingga setiap RW dianggap sebagai perkampungan.
Berdasarkan hal itu, RW 08 dan RW 12 disebut dengan nama Kampung Cigatrot Girang, RW 09 disebut Kampung Wadon, RW 10 disebut Kampung Cileunca dan RW 11 disebut dengan Kampung Cibuluh. Dalam hal ini, RW 08 dan 12 diberi satu nama (Cigatrot Girang) karena sebelumnya, wilayah ini bersatu dalam RW 08. Baru pada tahun 1975, wilayah RW 08 dimekarkan dan terbentuklah RW 12. Namun, kedua RW ini tetap memakai nama yang sama, Cigatrot Girang.

Selanjutnya ...

POTRET DESA

. Sejarah Desa
Nama dan Kepemimpinan.
Desa Mekarjaya terbentuk pada tahun 1982 yang merupakan pemekaran dari Desa Ciapus Kecamatan Banjaran, pada masa pemerintahan Kabupaten Bandung dijabat oleh Bupati Sani Lupias. Pada tahun tersebut, Bupati mengundang para tokoh masyarakat di wilayah yang akan dimekarkan, diantara tokoh yang hadir, yaitu H. Yaya bin Sanduy dkk. dari Kampung Cigentur, Ading Syamsudin dkk. dari kampong Pasirwaru, dan Ii Mulyana dkk. dari Kampung Cibaribis. Para tokoh diminta menyusulkan nama untuk desa yang akan dimekarkan tersebut. H. Yaya bin Sanduy dkk. menyusulkan nama Mekar Kencana, Ading Syamsudin dkk. menyusulkan nama Batu Kencana, dan Ii Mulyana dkk. menyusulkan nama Mekar Jaya. Dua tokoh masyarakat yang menyusulkan nama dengan memakai kata “kencana”, karena alasan adanya gunung yang bernama “Gunung Kancana” di Kampung Cibaribis, yang saat ini di sebut kampong Pasirwangi. Sementara Ii Mulayana dkk menggunakan nama Mekar Jaya, karena konon pemilihan nama tersebut berdekatan dengan nama seorang tokoh/sesepuh besar yang ada di Cibaribis bernama Maketa Wijaya.
Setelah melakukan pemungutan diperoleh suara terbanyak untuk nama Mekar Jaya, yaitu sebanyak 43 suara, sementara Mekar Kencana 31 suara, dan Batu Kencana sebanyak 17 suara. Akhirnya disepakati nama yang digunakan untuk desa baru ini adalah Mekarjaya. Dari namanya, Mekarjaya mengandung makna sebagai desa yang baru dimekarkan dengan harapan bisa berjaya dan sejahtera.
Pejabat sementara yang diangkat saat itu, yaitu M. Afandi (bapak Leube). Tugas pekerjaannya dimulai dengan menentukan lokasi untuk balai desa, sehingga diadakan rapat warga untuk maksud itu. Dalam rapat tersebut, beberapa tokoh masyarakat yang hadir mengajukan saran beberapa tempat/tanah yang diwakafkannya untuk balai desa, yaitu :
1. Ading Syamsudin mengusulkan tempat di Kampung Pasirwaru.
2. Udung mengusulkan tempat di Kampung Empal, dan
3. Olot Fatma (U. Susilahadi - putra) menyusulkan tempat di Kampung Citanjung.
Hasil rapat tersebut menyepakati tempat yang dipilih di Kampung Citanjung, sebagai wakaf dari keluarga Bapak Olot Fatma. Pada tahun 1983 mulailah dibangun balai Desa Mekarjaya di Kampung Citanjung tersebut yang sampai sekarang ini menjadi kantor Desa Mekarjaya.
Tugas besar kedua dalam masa jabatan M. Afandi ini adalah menyelenggarakan pemilihan umum Kepala Desa Mekarjaya untuk pertama kali. Ini menandai akan berakhirnya masa jabatan M. Afandi sebagai pejabat sementara Kades Mekarjaya.
Tahun 1984 merupakan tonggak sejarah kepemimpinan dan demokrasi di Desa Mekarjaya dengan diadakannya pemilihan umum kades definitif untuk pertama kali. Tahun itu warga Mekarjaya dapat menggunakan haknya untuk dipilih dan memilih langsung calon pemimpinnya sebagai kepala desa.
Dalam pemilihan tersebut, 3 orang tokoh masyarakat mencalonkan diri menjadi kepala desa (Kades), yaitu H. Yaya bin Sanduy, Ii Mulyana, dan Popon Fatimah. Hasil pemilihan Kades yang dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Desember 1984 menempatkan H. Yaya bin Sanduy sebagai Kades Mekarjaya periode 1984 – 1992 dengan perolehan suara sebanyak 1.203 suara, sementara Ii Mulyana sebanyak 1.199 suara, dan Popon Fatimah kurang lebih sebanyak 250 suara.
Catatan penting dari sejarah pemilihan kades ini, adalah pertama : bahwa emansipasi wanita telah ditunjukkan oleh warga masyarakat Mekarjaya, dimana salah satu calon kades mereka adalah seorang wanita, yaitu ibu Popon Fatimah. Kedua : Peroleh suara antara H. Yaya bin Sanduy dengan Ii Mulyana sangat tipis, yaitu hanya terpaut 4 suara saja. Ini berarti terdapat 2 kubu kekuatan masyarakat yang sangat berimbang di Mekarjaya.
Masa kerja Kades H. Yaya bin Sanduy sesuai dengan aturannya menjabat selama 8 tahun, yaitu periode 1984 – 1992, namun karena belum adanya pemilihan kades baru setelah akhir jabatannya, maka masa kerjanya bertambah 2 tahun sampai diadakan pemilihan kades baru tahun 1994.
Pada tahun 1994 diadakan kembali pemilihan Kades Mekarjaya untuk kedua kali. Para calon kades saat itu, adalah Ii Mulyana dari Cibaribis, dan Kamal dari Kampung Jadipa. Hasil pemilihan memenangkan Ii Mulyana sebagai Kades Mekarjaya periode 1994–2002.
Selepas masa jabatan Kades Ii Mulyana, pada tahun 2002 diadakan pemilihan kades untuk ketiga kalinya. Tokoh masyarakat yang mencalonkan diri saat itu, yaitu Nana Sumarna dari Cibaribis, D.A. Hidayat, SH dari Cibaribis Peuntas, dan Use dari Kampung Cigentur. Pemilihan tersebut menempatkan Nana Sumarna sebagai Kades Mekarjaya periode 2002-2007. Pada saat itu aturan masa jabatan kades menetapkan selama 5 tahun masa kerja.
Pemilihan kades terakhir diadakan pada tahun 2007 sebagai pemilihan kades yang keempat kali. Para tokoh masyarakat yang mencalonkan diri, yaitu Ii Mulyana (mantan kades) dari Cibaribis, I. Zaenal Mutaqin, ST dari Cibaribis Kulon, dan Duki Sutisna dari Pasirbungur. Dalam pemilihan ini, Ii Mulyana terpilih kembali sebagai Kades Mekarjaya periode 2007 – 2012, yang kemudian dikuatkan melalui SK Nomor : 141.I.Kep 09 Pem 2007.
Harus diakui bahwa keberadaan tokoh yang terakhir ini telah banyak memberikan andil dalam perjalanan Desa Mekarjaya. Dari perjalanannya sebagai tokoh muda dalam perjuangan pemekaran desa, hingga 2 kali terpilih memimpin Desa Mekarjaya.
Dari uraian di atas, diketahui bahwa di Desa Mekarjaya telah terjadi 5 kali pergantian kades, dan 4 kali pemilihan umum kades. Secara singkat, sejarah kepemimpinan Desa Mekarjaya dapat diringkas sebagai berikut :
1. M. Afandi (pejabat sementara) periode 1982 – 1984
2. H. Yaya bin Sanduy periode 1984 – 1994
3. Ii Mulyana periode 1994 – 2002
4. Nana Sumarna periode 2002 – 2007
5. Ii Mulyana periode 2007 - 2012
Sampai saat ini Desa Mekarjaya telah berusia 27 tahun. Andai diibarat manusia, maka usia ini telah memasuki usia dewasa muda atau early adulthood (22 – 28 tahun). Usia dimana mulai menemukan gambaran dirinya, dan melangkah pada arah tujuan yang pasti. Jika diukur menurut jangka waktu pembangunan, dimana pembangunan jangka panjang diukur selama 25 tahun, maka Desa Mekarjaya telah melewati Pembangunan Jangka Panjang I, dan periode kepemimpinan 2007 - 2012 ini merupakan periode pembangunan jangka pendek pertama dalam Pembangunan Jangka Panjang II.




Sarana dan Pra sarana.
Setelah terbentuknya desa secara resmi, pembangunan di Desa Mekarjaya mulai terfokus. Pada kepemimpinan kades pertama beberapa jalan mulai diaspal, terutama karena adanya Program Satata Sariksa yang diluncurkan pemerintah Kabupaten Bandung. Diantaranya pengaspalan Jalan Cigentur – Jadipa, dan Batu Numpuk – Cibaribis.
Pada kepemimpinan kades berikutnya berbagai pembangunan sarana prasarana di Mekarjaya dilanjutkan. Seperti pada masa jabatan Ii Mulyana periode 1994 – 2002, sebagian jalan kembali diaspal dan dibangun jembatan Cimalabar yang menghubungkan Kampung Pasirbungur dengan Cidalung. Pembangunan ini didukung oleh adanya program Santri Raksa Desa (Saraksa), IDT, dan P3DT.
Jauh sebelum dimekarkan, Desa Mekarjaya telah memiliki jalan-jalan protokol yang dibangun dengan swadaya masyarakat, yang berbentuk jalan tanah dan beberapa jalan yang dibatu, yaitu Jalan Cigentur – Jadipa, Cimalabar Empel – Cibaribis, Pasirwaru – Batu Kampaan (Jalan Kawat), Batu Numpuk – Kolelega, dan Jalan Ciapus – Cibaribis. Semangat warga masyarakat untuk membangun jalan ini sebagian dipicu oleh adanya lomba Panca Karya Tingkat Kabupaten pada tahun 1978, dimana warga masyarakat berlomba-lomba membangun dan memperbaiki jalan secara swadaya untuk mendapat penilaian terbaik.
Dengan adanya jalan-jalan protokol ini mulai masuk transportasi umum, atau angkutan desa dengan kendaraan jenis pick up. Jalur/trayek saat itu adalah trayek dari kecamatan/Terminal Banjaran - Cibaribis, dan kemudian bertambah trayek dari Terminal Banjaran – Cigentur. Angkutan umum yang mulai tersedia sekitar tahun 1982 dan marak hingga tahun 1998 ini telah memberi kemudahan bagi warga masyarakat Mekarjaya. Semula untuk menuju ke ibukota kecamatan atau pasar, sebagai pusat kota, warga masyarakat harus berjalan kaki terlebih dahulu menuju Ciapus, kemudian dilanjutkan dengan naik “keretek” (delman/sado) ke kecamatan/pasar. Setelah adanya angkutan umum, warga masyarakat menjadi mudah berpergian ke pasar ataupun luar kota. Transportasi ini merupakan sarana pertama yang mendukung terjadinya perubahan dan perkembangan di Mekarjaya, dimana banyak masyarakat mulai bekerja ke kota, sekolah ke luar desa, dan menjalin relasi dengan pihak luar desa. Artinya, dengan adanya sarana angkutan umum, mobilitas warga masyarakat Mekarjaya menjadi meningkat.
Namun sekitar 10 tahun terakhir, semenjak terjadinya krisis moneter, telah muncul perubahan baru. Warga masyarakat mulai banyak memiliki kendaraan roda dua (motor). Warga lebih banyak menggunakan motor pribadi sebagai alat transportasinya, dan beberapa warga menjadikan kendaraannya sebagai mata pencaharian baru yaitu sebagai tukang/penarik ojek.
Setidaknya ada 2 alasan yang mendorong warga masyarakat memiliki kendaraan pribadi. Pertama, ongkos angkutan umum naik dan dianggap mahal, sehingga mereka merasa perlu untuk memiliki kendaraan sendiri yang dapat meringankan biaya transportasi anggota keluarga. Kedua, adanya kemudahan dalam memiliki kendaraan dengan sistem pembelian kredit yang ringan, mudah, dan cepat.
Akibatnya angkutan umum mulai tersisihkan, jumlah maupun frekuensi perjalanannya telah berkurang drastis. Saat ini ojek menjadi sarana transportasi utama di Desa Mekarjaya. Sebelumnya ojek memang telah ada sebagai transportasi warga, baik masa sebelum maupun ketika adanya angkutan umum, namun jumlahnya masih sedikit dan belum menjadi pilihan warga. Ketika belum ada kendara umum, sebagian besar warga masyarakat lebih memilih jalan kaki, kecuali pada kondisi terpaksa atau malam hari. Demikian juga ketika adanya kendaraan umum, ojek hanya menarik penumpang pada saat angkutan umum tidak ada atau telah larut malam. Berbeda dengan saat ini, ojek yang beroperasi dari pagi hingga malam hari menjadi pilihan, karena warga masyarakat yang menunggu angkutan umum lewat belum tentu bisa segera mendapatkannya. Ini merupakan bukti adanya hubungan dari satu perubahan kepada suatu kondisi /perubahan lainnya. Satu sisi, kehadiran ojek membawa dampak merugikan bagi angkutan umum, namun sisi lain menjadi lapangan kerja baru bagi warga masyarakat.
Lima tahun setelah berdirinya Desa Mekarjaya, sekitar tahun 1987 listrik masuk ke Desa Mekarjaya. Adanya listrik telah membawa perubahan bagi warga Mekarjaya. Manfaat yang dirasakan warga masyarakat diantaranya: sebagai sarana penerangan umum, terutama pada malam hari, sehingga berbagai aktivitas dapat dilakukan pada malam hari. Warga masyarakat bisa berpergian malam, melakukan pekerjaan dan para siswa sekolah dapat belajar di malam hari lebih nyaman dari sebelumnya.
Selain itu, warga masyarakat bisa memiliki dan menikmati peralatan yang menggunakan sumber listrik, baik untuk keperluan rumah tangga, seperti televisi, radio/tave recording, kulkas, CD/DVD Player, dispenser, dan sebagainya, maupun untuk keperluan peralatan kerja. Hal menonjol dari pengaruh adanya listrik ini bagi sebagian besar warga masyarakat adalah dalam hal memiliki televisi sebagai sarana hiburan keluarga. Dari tontonan televisi inilah yang akhirnya berpengaruh besar terhadap pengetahuan, wawasan, dan pola perilaku warga masyarakat Mekarjaya.
Sementara sejarah bidang pendidikan dimulai dengan dibangunnya Sekolah Dasar Negeri Ciapus II di Cibaribis pada tahun 1964 sebelum Desa Ciapus dimekarkan menjadi Desa Mekarjaya. Setelah menjadi desa mandiri ini mulai dibangun sekolah-sekolah dasar lainnya, yaitu SDN Pasirwaru, SDN Mekarjaya, dan SDN Cigentur.
Selanjutnya sekitar tahun 1993/1994 dibangun SLTP PGRI di lokasi yang sama dengan SDN Ciapus di Cibaribis. Kemudian setelah belasan tahun kemudian, sekitar tahun 2006/2007 dibangun SMK PGRI di lokasi yang sama. Bidang pendidikan ini dari perkembangannya dapat dikatakan lamban. Sehingga beberapa generasi di Mekarjaya mengalami kesulitan melanjutkan sekolah ke tingkat lanjutan, terutama bagi warga masyarakat yang kurang mampu. Karena untuk bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP atau SLTA mereka harus bersekolah ke luar desa yang jaraknya cukup jauh, belum lagi biaya pendidikan yang dianggap mahal untuk saat itu.
Sekitar 1 tahun ke belakang barulah berdiri Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di beberapa kampung. Warga masyarakat mulai banyak yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Kehadiran pendidikan yang terakhir ini mencerminkan adanya kesadaran warga masyarakat akan pentingnya pendidikan yang dimulai sejak usia dini.


Perubahan di Mekarjaya.
Tak ada masyarakat yang tidak berubah. Demikian juga dengan masyarakat Mekarjaya. Dalam kurun waktu 27 tahun ini, telah terjadi perubahan-perubahan walaupun tidak diketahui persis waktunya. Secara umum beberapa perubahan nyata telah terjadi di Mekarjaya, yaitu :
1. Jalan-jalan yang semula hanya sedikit dan masih bentuk tanah dan batu, kini jumlahnya bertambah banyak dan sebagian besar telah diaspal maupun dibeton/tembok.
2. Sarana penerangan warga masyarakat yang semula menggunakan patromaks, cempor, damar, obor, atau listrik dari sumber aki (accu) dan deassel, kini hampir seluruh warga menggunakan listrik negara (PLN).
3. Rumah warga masyarakat yang semula mayoritas berbahan kayu/papan/bambu, kini sebagian warga mulai membangun rumah dalam bentuk setengah tembok maupun tembok penuh, atau dari bentuk rumah ”panggung” ke ”gedong”.
4. Mata pencaharian warga masyarakat yang semula mayoritas sebagai petani, kini mulai banyak warga yang bekerja sebagai karyawan swasta, PNS, TNI/Polri, buruh bangunan, dan wirausaha.
5. Pendidikan warga masyarakat yang semula mayoritas hanya menamatkan pendidikan SD dan SLTP, kini mulai bertambah warga yang bersekolah sampai tingkat SLTA bahkan Perguruan Tinggi.
6. Transportasi warga masyarakat telah mengalami tiga kali perubahan. Semula transportasi warga masyarakat lebih banyak dengan berjalan kaki kemudian berubah dengan menggunakan angkutan umum, dan perkembangan terakhir, warga lebih banyak menggunakan motor pribadi dan ojek.
7. Sarana komunikasi atau telepon yang sampai saat ini belum masuk ke Desa Mekarjaya, kini telah terganti dengan adanya telepon seluler (handphone). Saat ini telah banyak warga masyarakat yang memiliki handphone, sehingga memberi kemudahan dalam menjalin komunikasi, baik dengan pihak internal maupun eksternal desa.
8. Penduduk bertambah banyak. Pertambahan penduduk ini selain akibat pertambahan dari dalam warga masyarakat karena kelahiran dan perkawinan, saat ini mulai masuk warga-warga pendatang yang menetap di Desa Mekarjaya.
9. Berdirinya villa-villa atau rumah peristirahatan. Walaupun keberadaan villa/ rumah peristirahatan ini masih dalam hitungan jari, namun perubahan ini menunjukkan bahwa Mekarjaya telah mulai tersentuh oleh pihak-pihak luar atau mulai terjadi interaksi antar warga masyarakat Mekarjaya dengan pihak lain, yaitu orang-orang kota yang umumnya mempunyai modal uang banyak.
10. Bahan bakar memasak telah terjadi perubahan. Semula warga masyarakat menggunakan minyak tanah dan kayu bakar, namun karena adanya program nasional pergantian bahan bakar minyak tanah kepada bahan gas, maka hampir seluruh warga menggunakan bahan bakar gas, walaupun sebagian besar warga masih memadukannya dengan menggunakan kayu bakar.
Demikian secara singkat sejarah Desa Mekarjaya hingga saat ini. Walaupun masih ada perubahan-perubahan lainnya yang terjadi dalam masyarakat Mekarjaya, seperti kesadran akan usia perkawinan, jumlah anak, tergeseran nilai tradisi, dan sebagainya.
Pada dasarnya, setiap perubahan tersebut tentunya membawa dampak terhadap suatau kondisi dan perubahan lainnya. Dari alur sejarah ini, dalam langkah ke depan kita dapat memperkirakan ke arah mana Desa Mekarjaya akan berkembang.

b. Kondisi Geografis
Desa Mekarjaya merupa-kan salah satu desa, dari 11 (sebelas) desa yang berada di wilayah Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Desa-desa lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Banjaran tersebut, yaitu Desa Banjaran Wetan, Ciapus, Kamasan, Neglasari, Tarajusari, Kiangroke, Sindang-panon, Banjaran, Marga Hurip dan Desa Pasirmulya.
Secara topografi, Desa Mekarjaya termasuk dalam kategori desa berbukit-bukit dengan luas 464,773 ha/m2. Luas tanah tersebut terdiri dari 7,001 ha/m2 pemukiman, seluas 414,181 ha/m2 persawahan, seluas 1,5 ha/m2 tanah pekuburan, seluas 1,795 ha/m2 pekarangan, seluas 0,2 perkantoran, dan seluas 40,096 ha/m2 prasarana umum lainnya.
Desa Mekarjaya berada di kaki Gunung Malabar pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut dengan kemiringan tanah 45 derajat. Kondisi ini mengakibatkan desa tergolong bersuhu dingin. Jumlah hujan terjadi selama 4 bulan dengan curah hujan 2,500 Mm, dan suhu rata-rata harian mencapai 27 oC (cercius).
Dalam ukuran orbiter, jarak Desa Mekarjaya ke ibu kota Kecamatan Banjaran sejauh 5 Km, jika ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit, dan dengan berjalan kaki atau kendaraan non motor ditempuh selama 1 jam. Sementara jarak dari Desa Mekarjaya ke ibu kota Kabupaten Bandung sejauh 12,5 Km. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor menghabiskan waktu selama 30 menit, sedangkan dengan berjalan kaki atau kendaraan non motor memerlukan waktu 2 jam. Jarak Desa Mekarjaya ke ibu kota Propinsi Jawa Barat sejauh 25 Km. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor menghabiskan waktu 1 jam, 30 menit, sedangkan ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan non motor memerlukan waktu selama 7 jam.
Adapun batas-batas wilayah Desa Mekarjaya yaitu:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran.
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pasirmulya Kecamatan Banjaran.
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran.
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pasirmulya, Kecamatan Banjaran.
Beberapa kampung yang terdapat di Desa Mekarjaya, yaitu Kampung Cibaribis, Cigentung, Jadipa, Pasir Peudeuy, Pasir Bungur, Pasir Salam, Pasir Waru, Pasir Wangi, Leweung Malang, Batu Numpuk, Lemah Duhur, Citanjung, Kole Lega, Cikeretew, Pasir Panglay, Cimangkin, Ciawiniti, Cisengal, Panyindangan, Sinapeul, Empel, dan Citanjung Wetan. Secara administratif Desa Mekarjaya terdiri dari 4 dusun, dengan 21 Rukun Warga (RW), dan 60 Rukun Tetangga (RT).

c. Kondisi Demografi
Jumlah Penduduk. Jumlah penduduk Desa Mekarjaya pada tahun 2008 berjumlah 7.714 jiwa, dengan 2.347 KK (Kepala Keluarga). Jumlah penduduk tersebut terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 3.841 jiwa atau 49,79%, dan penduduk perempuan sebanyak 3.873 jiwa atau 50,21%. Komposisi perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan ini cukup seimbang. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2 berikut :
TABEL 2 :
JUMLAH PENDUDUK DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008
NO JENIS KELAMIN JUMLAH JIWA %
1 Laki-Laki 3.841 49.79%
2 Perempuan 3.873 50.21%
JUMLAH 7.714 100.00%







Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun sebelumnya (2007) yaitu sebanyak 7.611 jiwa, maka pada tahun 2008 ini terjadi peningkatan sebesar 1,3%. Sementara jumlah Kepala Keluarga tahun sebelumnya sebanyak 2.317 orang atau terjadi peningkatan sebesar 1,3%, yaitu menjadi 2.347 orang. Ini bisa jadi sebagai indikator bahwa setiap tahunya selalu terjadi pertambahan penduduk di Desa Mekarjaya.
Usia. Kondisi masyarakat Desa Mekarjaya berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 3 berikut:











TABEL 3:
JUMLAH PENDUDUK DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN USIA TAHUN 2008

N0. USIA JENIS KELAMIN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 0 - 12 bln 197 204 401
2 1 – 5 th 203 201 404
3 6 – 15 th 446 462 908
4 16 – 21 th 325 330 655
5 22 – 25 th 383 368 751
6 26 – 30 th 229 260 489
7 31 – 35 th 245 261 506
8 36 – 40 th 232 237 469
9 41 – 45 th 229 239 468
10 46 – 50 th 230 238 468
11 51 – 55 th 223 228 451
12 56 – 60 th 203 208 411
13 61 – 65 th 219 199 418
14 > 66 th 477 438 915
TOTAL 3,841 3,873 7,714
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Untuk memberikan arti pada tabel 3 tersebut, kita dapat melihatnya berdasarkan pada usia produktivitas. Pengelompokan usia produktivitas tersebut meliputi :
1). Usia Produktif, yaitu usia 15 - 55 tahun.
2). Usia Non Produktif, yaitu usia kurang dari 15 tahun, dan
3). Usia Semi Produktif, yaitu lebih dari 55 tahun.
Berdasarkan tabel 3 tersebut, diketahui bahwa Desa Mekarjaya memiliki kuantitas Usia Produktif (dengan hitungan usia 16 – 55 tahun) sebanyak 4.257 jiwa atau 55,19% dari seluruh penduduk Mekarjaya. Sementara mereka masuk dalam kategori Usia Non Produktif (0 – 15 tahun) sebanyak 1.713 jiwa atau 22,20%, dan Usia Semi Produktif (dengan hitungan usia 56 tahun ke atas) sebanyak 1.744 jiwa atau 22,61% dari seluruh penduduk.

Pendidikan. Kondisi pendidikan warga masyarakat Desa Mekarjaya dapat dilihat pada tabel 4 berikut :
TABEL 4:
KONDISI DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN PENDIDIKAN TAHUN 2008

NO. PENDIDIKAN JUMLAH %
1 Tamat SD/sederajat 4,166 73,71%
2 Tamat SLTP/sederajat 1,302 23,04%
3 Tamat SLTA/sederajat 154 2,72%
4 Tamat D-1/sederajat 3 0,05%
5 Tamat D-2/sederajat 3 0,05%
6 Tamat D-3/sederajat 11 0,19%
7 Tamat S-1/sederajat 13 0,23%
8 Tamat S-2/sederajat 0 0,00%
9 Tamat S-3/sederajat 0 0,00%
T O T A L 5,652 100,00 %
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Berdasarkan tabel 4 tersebut, diketahui bahwa mayoritas warga masyarakat Desa Mekarjaya hanya menyelesaikan pendidikan pada tingkat SD, yaitu sebanyak 4.166 jiwa atau 73,71%. Selanjutnya tingkat pendidikan yang bisa diselesaikan warga adalah pada tingkat SLTP, yaitu sebanyak 1.302 jiwa atau 23,04 %. Tingkat pendidikan selanjutnya di atas SLTP (SLTA s.d. Strata) masih dianggap sangat minim, yaitu hanya sebanyak 184 jiwa atau 3,26%.
Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Mekarjaya dapat dikatakan masih rendah. Kualitas SDM (sumberdaya manusia) dari aspek pendidikan ini setidaknya membawa pengaruh terhadap cepat lambatnya perkembangan Desa Mekarjaya.
Namun demikian, masih terdapat jumlah penduduk yang masih bersekolah sebanyak 1.520 jiwa. Ada kemungkinan kelompok ini dapat mendokrak tingkat pendidikan warga di atas tingkat SLTP. Diantaranya terdapat sebanyak 120 orang sedang menempuh pendidikan SLTA, 3 orang sedang menempuh pendidikan D-1, 2 orang D-2, dan 11 orang sedang menempuh pendidikan sarjana (S-1).
Mata Pencaharian. Mata pencaharian penduduk Desa Mekarjaya dapat dilihat pada tabel 5 berikut :
TABEL 5:
KEADAAN PENDUDUK DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN MATA PENCAHARIAN TAHUN 2008

N0. JENIS PEKERJAAN JUMLAH %
1 Petani 715 25,95%
2 Buruh Tani 1.039 37, 71%
3 Buruh Migran 14 0,51%
4 PNS 25 0,91%
5 Pengrajin 4 0,15%
6 Pedagang Keliling 20 0,73%
7 Peternak 2 0,07%
8 Montir 2 0,07%
9 Pembantu Rumah Tangga 5 0,18%
10 TNI 9 0,33%
11 POLRI 1 0,04%
12 Pensiun PNS/TNI/POLRI 9 0,33%
13 Dukun Kampung Terlatih 4 0,15%
14 Seniman/Artis 12 0,44%
15 Karyawan Swasta 133 4,83%
16 Lain-lain 761 27,62%
TOTAL 2.755 100,00 %
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Berdasarkan tabel 5 tersebut, diketahui bahwa mata pencaharian penduduk Desa Mekarjaya terbesar adalah sebagai buruh tani, yakni sebanyak 1.039 jiwa atau 37,71%. Sementara penduduk yang berkerja sebagai petani terdapat sebanyak 715 jiwa atau 2,95%. Jika jumlah buruh tani dan petani tersebut disatukan, maka terdapat angka sebanyak 1.754 jiwa atau 63,67% peduduk bekerja di sektor pertanian.
Ini bisa menunjukkan bahwa Desa Mekarjaya termasuk desa pertanian, maka pekerjaan yang berkaitan dengan pertanian menjadi mata pencaharian utama warga masyarakat. Sektor pertanian ini merupakan sandaran pokok warga masyarakat Desa Mekarjaya dalam menyangga penghidupannya.
Mata pencaharian sebagai buruh tani ini, yaitu mereka yang bekerja dalam kegiatan bertani dengan mendapatkan upah. Dalam istilah masyarakat Mekarjaya, buruh tani ini disebut ”buburuh” atau ”ngabedug”. Pekerjaan mereka dilakukan dari pagi hingga ”bedug” atau adzan dhulur berkumandang. Jenis pekerjaannya sesuai dengan kebutuhan petani yang memintanya, biasanya berupa :
• ”Macul”, yaitu kegiatan membajak sawah atau kebun.
• ”Ngaseuk ”, yaitu kegiatan menanam padi di sawah atau menanam tanaman di kebun/tegal, seperti suuk, kacang, jagung, ubi, dan sebagainya.
• ”Ngarambet” atau ”Ngored”. ”Ngarambet” yaitu kegiatan membersihkan rumput atau tanaman lainnya yang ada di sawah. Sedangkan istilah ”ngored”, kegiatan membersihkan rumput dan tanaman lainnya yang terdapat di kebun/tegal.
• ”Dibuat”, yaitu kegiatan memanen hasil tanaman padi maupun tanaman kebun lainnya. Pekerjaan untuk memanen ini bagi para buruh tani disebut ”gacong”.
Upah dari pekerjaan ”buburuh” ini berbeda antar satu kampung dengan kampung lainnya. Ada yang memberi upah untuk buruh laki-laki 15 ribu, ada pula yang 20 ribu. Sementara buruh perempuan diupah 10 ribu, ada pula yang mengupah 15 ribu. Namun yang pasti semua kampung membedakan antara upah untuk buruh laki-laki dan perempuan, dimana upah laki-laki lebih besar dari perempuan. Upah untuk laki-laki berkisar antara 15 ribu sampai dengan 20 ribu. Sementera perempuan mereka mendapatkan upah antara 10 ribu sampai dengan 15 ribu.

1. Kehidupan dan Relasi Sosial Warga
a. Pola Perumahan
Kualitas bangunan perumahan warga masyarakat pada umumnya adalah rumah tidak permanen, artinya bangunan terbuat dari kayu murah, dengan dinding terbuat dari bilik/papan, dan lantai menggunakan kayu dengan model panggung. Sebagiannya berbentuk semi permanen, yaitu separoh dinding menggunakan bahan semen dan sebagiannya lagi kayu/papan/bilik. Hal tersebut dapat dilihat dari data berikut :
TABEL 6:
KONDISI PERUMAHAN MASYARAKAT DESA MEKARJAYA
MENURUT BAHAN DINDING TAHUN 2008

NO. BAHAN DINDING JUMLAH %
1 Tembok 355 15.26%
2 Kayu 506 21.74%
3 Bambu 1.486 63.86%
T O T A L 2.347 100.00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 6 tersebut menunjukkan bahwa seba-nyak 1.486 KK atau 63,86% warga menggunakan bambu untuk dinding rumahnya. Sementara sebanyak 506 KK atau 21,74% menggunakan kayu. Sisanya sebanyak 355 KK atau 15,26% menggunakan tembok. Ini berarti terdapat sebanyak 84,73% KK tinggal dalam rumah tidak permanen. Dalam istilah warga masyarakat Mekarjaya kategori rumah terbagi 2, yaitu rumah “panggung” dan rumah “gedong”. Rumah “panggung” adalah rumah yang dibangun dengan bahan kayu/papan/bambu yang dibuat naik diatas permukaan tanah, sedangkan rumah “gedong” adalah rumah yang dibangun dari bahan tembok.









Sementara dari bahan lantai yang dipergunakan dapat dilihat dari tabel 7 berikut:
TABEL 7:
KONDISI PERUMAHAN MASYARAKAT DESA MEKARJAYA
MENURUT BAHAN LANTAI TAHUN 2008

NO. BAHAN LANTAI JUMLAH %
1 Keramik 350 14.91%
2 Semen 205 8.81%
3 Kayu 1.792 77.01%
T O T A L 2.347 100.00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 7 menunjukkan bahwa bahan lantai yang digunakan sebagian besar warga masyarakat adalah kayu, yaitu sebanyak 1.792 KK atau 77,01%. Sementara dari atap rumah yang digunakan, hampir seluruhnya telah menggunakan bahan genting dan sebagian kecil memadukannya dengan bahan seng.
Sisi lain yang menonjol dari pola pemukiman warga, yaitu warga masyarakat yang memiliki bintang ternak biasanya membangun kandang ternak di samping rumahnya, menempel pada dinding rumah, atau berada di dekatnya.
Sarana air untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) warga masyarakat sebagian masih memanfaatkan pemandian umum atau seke. Mata air yang digunakan sebagian besar warga masyarakat adalah air berasal dari sumur, dan mata air yang dihubungkan dengan pipa-pipa paralon menuju rumah-rumah warga, karena di Desa Mekarjaya belum masuk air ledeng PAM. Secara jelas mengenai pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat dapat dilihat pada tabel 8 berikut:
TABEL 8:
KONDISI PEMENUHAN AIR BERSIH
MASYARAKAT DESA MEKARJAYA TAHUN 2008

NO. SUMBER JUMLAH (KK) %
1 Sumur gali 450 19.17%
2 Sumur pompa 10 0.43%
3 Perpipaan air kran 1.240 52,83%
4 Mata air 647 27,57%
T O T A L 2.347 100.00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa warga masyarakat Mekarjaya banyak memanfaatkan mata air dengan cara mengalirkannya melalui pipa ke rumahnya masing-masing.
















b. Interaksi Masyarakat
Hubungan interaksi antar warga yang berkembang dalam kehidupan warga masyarakat Mekarjaya dapat dikatakan cukup dekat. Warga yang satu masih dapat mengenal dengan baik warga lainnya walaupun jarak antara mereka relatif jauh.
Nilai-nilai gotong royong masih tertanam di tengah-tengah warga masyarakat Mekarjaya. Hal ini banyak ditunjukkan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti kegiatan membangun atau memperbaiki jalan, masjid, mushola, sarana olah raga, kebersihan lingkungan, peringatan Hari Kemerdekaan, dan gotong royong dalam membantu acara hajatan warga.
Salah satu contoh kekuatan warga masyarakat Desa Mekarjaya dalam kegiatan gotong royong ini adalah pembangunan jalan di Kampung Pasirpeundeuy RW 13. Kegiatan pembangunan jalan yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah Desa Mekarjaya merupakan penantian yang panjang warga Pasirpeundeuy. Jalan yang akan diaspal tersebut sebelumnya telah dibatu (diberi batu) oleh warga masyarakat Pasirpeundeuy sejak tahun 2005. Artinya selama 4 tahun lebih masyarakat dengan sabar bergotong royong kerja bakti, setiap Hari Minggu hingga akhirnya terlaksana pembangunan pengaspalan jalan saat ini.
Nilai kebersamaan, dimana warga masyarakat merasa sebagai satu bagian dan satu saudara, masih terlihat melekat dalam kehidupan masyarakat Mekarjaya. Hal ini terlihat ketika terjadi peristiwa gempa bumi Jawa Barat yang mengakibatkan hancurnya 13 rumah warga Mekarjaya, warga masyarakat bersama-sama mengumpulakan dana untuk membantu korban bencana tersebut. Bukan seberapa nilai uang yang dapat disumbangkan warga masyarakat untuk korban tersebut, namun semangat dan rasa kepeduliannya untuk membantu merupakan nilai kebersamaan dan persaudaraannya.







Sisi lain, dalam kasus-kasus tertentu dari kuatnya nilai-nilai kebersamaan ini dapat menimbulkan konflik diantara warga, ketika salah satunya tidak mendapatkan bagian yang sama. Sebagai contoh, dalam program BLT. Ketika salah satu warga menerima dan warga lainnya tidak menerima dapat menimbulkan kecemburuan dan konflik yang terpendam antar warga. Hal ini karena mereka merasa sama dengan yang lain, sehingga hak-hak atau perlakuan pun terhadap mereka seharusnya sama. Contoh lain dalam hal pembangunan. Ketika pembangunan jalan misalnya, dilakukan pada satu kampung, seharusnya juga kampung lainnya mendapat bagian pembangunan yang sama. Konflik-konflik yang berasal dari kecemburuan inilah yang paling sering terjadi. Sementara konflik yang bersifat “sara” tidak terjadi di Mekarjaya.
Konflik-konflik yang bersifat insidental/seketika masih terjadi dalam acara-acara tertentu, seperti dalam acara pertandingan sepak bola, acara orkes dangdut, atau hiburan lainnya dalam acara hajatan. Namun konflik tersebut tidak berkepanjangan dan tidak mengakibatkan konflik/perang antar kampung. Keributan atau perkelahian ini umumnya dipicu karena pengaruh minum-minuman keras dari para pengunjung yang datang, umumnya adalah anak-anak muda.

c. Sistem Nilai Keagamaan
Mayoritas warga masyarakat Desa Mekarjaya beragama Islam, yaitu sebanyak 7707 jiwa atau 99,91%. Sedangkan warga yang non muslim hanya sebanyak 7 orang atau 0,09%. Sistem nilai keagamaan yang mempengaruhi warga Mekarjaya adalah nilai-nilai Islam. Sebelumnya nilai-nilai agama ini masih bercampur dengan nilai-nilai adat istiadat atau budaya leluhur, namun dalam perkembangan saat ini terjadi pemisahan antara nilai budaya dan nilai agama.
Pemahaman dan kesadaran warga masyarakat tentang nilai-nilai agama saat ini cukup baik. Berbagai tuntutan agama dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat. Sekalipun tidak dikatakan sebagai “Kampung Santri” atau pemeluk Islam taat, namun nilai-nilai Islam telah menjadi bagian dari kehidupan warga masyarakat Mekarjaya.
Berbagai kegiatan keagamaan banyak dilaku-kan oleh warga Mekarjaya, seperti pengajian-pengajian mingguan atau bulanan yang diadakan hampir di setiap Rukun Warga. Desa Mekarjaya sendiri secara rutin setiap sebulan sekali mengadakan Pengajian Bulanan, yang bernama Pengajian Al-Hidayah. Pengajian ini diselenggarakan secara bergiliran setiap bulan di satu RW yang ada di lingkungan Desa Mekarjaya.
Sisi lain dari menguatnya nilai-nilai keagamaan, yaitu jumlah warga yang membayar zakat fitrah (muzaki) meningkat setiap tahunnya. Semula masih banyak warga yang berzakat dengan membayar seadanya, misalnya karena mempunyai uang 15 ribu, sementara tanggungannya 3 orang, maka ia katakan, “abdi mun gaduh sakieu, ieu weh zakat 15 rebu kanggo tilu urangeun” (Saya cuma punya segini, ini saja zakat 15 ribu untuk tiga orang). Artinya mereka tidak mengikuti aturan yang seharusnya. Contoh seperti itu telah jauh berkurang untuk saat ini.
Selain itu, berbagai peringatan hari-hari besar Islam, mulai diperingati oleh warga masyarakat. Ajaran-ajaran sunah seperti kurban dan aqiqah mulai dikerjakan oleh sebagian warga. Bukti lain menguatnya nilai-nilai keagamaan, yaitu beberapa fasilitas ibadah berupa masjid dan mushola, banyak dibangun melalui swadaya masyarakat, yang saat ini terdapat 30 masjid dan 7 mushola/langgar di Desa Mekarjaya.



2. Struktur Lembaga Pemerintahan dan Institusi Sosial Lokal
a. Pemerintahan Desa Mekarjaya
Susunan Organisasi Pemerintahan Desa Mekarjaya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, yaitu :
Kepala Desa (Kades) : Ii Mulyana
Sekretaris Desa (Sekdes) : Icang Wahyudin
Kepala Urusan Umum (Kaur Umum) : Ade Didin T
Kepala Urusan Keuangan (Kaur Keuangan) : Rachmat
Kepala Seksi Pemerintahan (Kasi Pemerintahan) : Aep Witarso
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Kasi Ekobang) : Ii Tarsika
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) : Ara Sutisna
Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kasi Kesra) : Ade Curyana
Kepala Dusun 1 : Adis Mamat
Kepala Dusun 2 : Ade Sutisna
Kepala Dusun 3 : Ayep Mardiana
Kepala Dusun 4 : Asep Kartiman

Sebagai tambahan para Ketua Rukun Warga yang menjabat saat ini, yaitu :






DUSUN 1 :
1. RW 02 : Sutisna U.K
2. RW 05 : Dadang Suryana
3. RW 06 : Enjang Iskandar
4. RW 12 : Rahmat
5. RW 18 : Tata Tarman
DUSUN 2 :
1. RW 01 : Ahim Cahyadi
2. RW 03 : Asep Saepudin, S.Pd.
3. RW 04 : Alit
4. RW 19 : Ayat
5. RW 21 : Maman
DUSUN 3 :
1. RW 07 : Heri Nurdin
2. RW 08 : Tatang Nasrudin
3. RW 09 : Asa Warsa
4. RW 14 : Dede Carya
DUSUN 4 :
1. RW 10 : Een Sobari
2. RW 11 : Opid
3. RW 13 : Karyana
4. RW 15 : Asep Ruhaya
5. RW 16 : Nana Imam
6. RW 17 : Aep Sonjaya
7. RW 20 : Yaya Sodikin


b. BPD Desa Mekarjaya
Susunan Organisasi BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Desa Mekarjaya, yaitu :
Ketua : E. Suhendi S.Pd.
Wakil Ketua : Endah
Sekretaris : U. Sisilahadi
Anggota : Amir Muhidin, Acep Kusna, S.Pd., Enjang Iskandar, Wawa Sopian, Rahmat, Kamal, H. Harsono SKD., dan Asep Amar.

c. LKMD Desa Mekarjaya
Susunan Organisasi LKMD Desa Mekarjaya, yaitu :
Ketua : Drs. Sucipto
Wakil Ketua : Anang Suganda, S.Pd.
Bendahara : Ii Tarsika
Anggota : Usep Suprianto, S.Pd., Anang BS., dan Imat Safari, S.Pd.

d. Linmas Desa Mekarjaya
Susunan Organisasi Linmas Desa Mekarjaya, yaitu :
Pelindung : Kepala Desa
Penasehat : Icang Wahyudin
Anggota : Yaya Sukarya, Yeye, Aju, Maman Suparman, Atang, Toto, Warto, Ara Suhara, U. Junaedi, Dana, Endi, Sunarya, Ayep Mardiana, Andi, Karsa, Wahyu, Damiri, Maman Sulaeman, Osid Sudayat, dan Ude.




e. PKK Desa Mekarjaya
Susunan Pengurus PKK Desa Mekarjaya, yaitu :
Ketua : Yoyoh Mulyana
Wakil Ketua : Neneng Suniangsih
Sekretaris : Imas Sri Setiani
Bendahara : Yayah Rodiah
Wakil Bendahara : Reni Maryani
POKJA I : Imas S (Ketua).
POKJA II : Awang (Ketua).
POKJA III : Tati Nirwendah (Ketua).
POKJA IV : Kokom Komariah (Ketua).

f. MUI (MAJELIS ULAMA INDONESIA) Desa Mekarjaya
Susunan Organisasi MUI Desa Mekarjaya, yaitu :
Ketua : H. Harsono SKD
Wakil Ketua : Dede Rusmana
Sekretaris : Asep Hidayat, S.Ag.
Bendahara : Encas Suherman
Anggota : Nuryaman, Abdul Yasin, Aep Saefudin, Arok Mawardi, Rahmat, Siti Asriah, Lilis Anisa, Dedi Abdul Azis, Toto Simtiah, dan Dadan Daud.

g. BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) JAYA MEKAR
Kepemimpinan kolektif periode 2008 – 2010, Anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Jaya Mekar, Desa Mekarjaya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, yaitu :
1. Asep Hidayat Sulaeman (koordinator)
2. Asep Saepudin
3. A. Suarna
4. Aep Witarso
5. Ade Curyana
6. Agus Sasmita
7. A. Suparman
8. Imas Sri Setiani
9. Kokom K
10. Lilis
11. Imat Rohimat
12. Nandang Suherman
13. Rahmat
Personil Unit Pengelola BKM Jaya Mekar
1. Unit Pengelola Lingkungan (UPL) : Ade Didin Tajudin, Asep Ratiman, dan Ade Sutisna.
2. Unit Pengelola Ekonomi (UPE) : Darya Kusmana, Desta, dan Heri Husaeri
3. Unit Pengelola Sosial (UPS) : Imas Sunengsih, Imat Safari R, dan Agus Tarmana.
Sekretariat BKM : Rahmat Za.


h. PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) Desa Mekarjaya
Susunan Anggota PSM Desa Mekarjaya, yaitu :
1. Koordinator : Imat Safari R. S.Pd.
2. Anggota : Tatat B Basyarah AMD, Hendra Gunawan, ST, Ii Mulyana, Drs. E. Suhendar, Drs. Sucipto, Icang Wahyudin, Ika Tarsika, Nanag, Hendrawan, Ade Didin T, Eap Witarso, Hendiyana, Agus Sasmita, Encas Suherman, Acep Aji, Asep Kartiman, Agus Tarman, Yanto, dan Acep Kusna, SPd.







3. Fasilitas Publik
Fasilitas umum yang dimiliki warga Mekarjaya, yaitu meliputi fasilitas pendidikan, transportasi, air bersih dan MCK, olah raga, fasilitas keamanan, kesehatan, dan fasilitas ibadah.
TABEL 9:
FASILITAS PUBLIK
DESA MEKARJAYA TAHUN 2008

NO. FASILITAS PUBLIK JUMLAH
1. PENDIDIKAN
a. Play Group (PAUD) 3
b. TK 1
c. SD/sederajat 10
d. SLTP/sederajat 1
e. SLTA/sederajat 1
2. TRANSPORTASI
a. Angkutan umum 12 unit
b. Ojek 80 unit
c. Pangkalan Ojek 7 tempat
3. OLAH RAGA
a. Lapang sepak bola 1 unit
b. Lapang bulu tangkis 2 unit
c. Lapang bola volly 2 unit
d. Meja pinpong 6 unit
4. KEAMANAN
a. Pos Kamling 21 unit
b. Hansip dan Linmas 26 orang
c. Pos jaga induk desa 1 unit
5. KESEHATAN
a. Posyandu 17 unit
b. Dukun bersalin terlatih 4 orang
c. Bidan 1 orang
6. IBADAH
a. Masjid 30 unit
b. Langgar/mushola 7 unit
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 12 tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan SD merupakan fasilitas terbanyak di Mekarjaya. Dari jumlah 10 SD tersebut, sebanyak 4 sekolah sebagai SD umum , dan sebanyak 6 sekolah sebagai SD keagamaan (ibtidayah). Jumlah seluruh siswa SD tersebut adalah sebanyak 1.370 siswa, dengan jumlah guru/pengajar sebanyak 64 orang. Sementara fasilitas pendidikan non formal/kursus/ tempat pelatihan yang dimiliki dan dikelola oleh perorangan warga masyarakat yaitu, kursus menjahit dengan 2 orang tenaga pengajar dan 12 siswa. Tempat pelatihan lainnya, yaitu padepokan bela diri sebanyak 7 tempat dengan 7 orang pelatih dan 250 siswa.
Fasiliats transportasi yang dapat dinikmati warga Mekarjaya meliputi angkutan umum sebanyak 12 unit dan ojek sebanyak 80 unit dengan 7 pangkalan.
Fasilitas air bersih yang dapat dimanfaatkan warga adalah 54 titik mata air, dan MCK umum sebanyak 14 unit.
Fasilitas keamanan yang dimiliki warga Mekarjaya meliputi pos kamling, Hansip dan Linmas, serta pos jaga induk. Untuk fasilitas kesehatan warga Mekarjaya meliputi posyandu, dukun bersalin, dan bidan. Sementara fasilitas ibadah yang terdapat di Mekarjaya terdapat 37 buah. Fasilitas ibadah atau masjid ini merupakan potensi yang menonjol yang dapat dimanfaatkan. Masjid ini sering dimanfaatkan untuk berbagai pengajian dan pertemuan-pertemuan warga.




4. Sosiografis dan Tradisi Lokal
Mayoritas warga masyarakat Mekarjaya ber-etnis Sunda, yaitu sebanyak 7706 jiwa atau 90,90%, dan sebanyak 8 orang atau 0,10% etnis Jawa. Tradisi yang berkembang dalam kehidupan warga masyarakat Mekarjaya adalah tradisi Sunda. Namun tradisi-tradisi yang dahulu tumbuh di Mekarjaya telah mengalami pergeseran, atau tidak dipegang teguh lagi oleh warga masyarakat Mekarjaya. Salah satu contoh tradisi yang duhulu pernah ada adalah upacara “hajat hamin”, yaitu upacara menjelang panen yang dipimpin oleh seorang punduh. Punduh adalah seorang ketua atau sesepuh adat yang biasa memimpin acara-acara kemasyarakatan dan kegiatan pertanian. Dalam upacara tersebut punduh membacakan “Layang Dewi Sri”, sebuah wawacan yang menceritakan kisah Dewi Sri atau Dewi Padi. Upacara tersebut atau “salametan-salametan” lainnya yang berkaitan dengan pertanian ini sudah hampir jarang lagi dijalani warga masyarakat Mekarjaya saat ini.
Demikian juga dengan pandangan-pandangan atau anggapan-anggapan yang berbau mistis dan tahayul sudah ditinggalkan sebagian warga masyarakat. Sedikit sekali larangan-larangan, pantrangan-pantrangan, sesajen-sesajen atau hal-hal tabu yang dipertahankan warga masyarakat. Warga Mekarjaya telah mulai berpikir logis dalam menyikapi hal-hal yang mistis atau hal-hal yang dianggap tidak masuk akal, terutama pada kalangan generasi mudanya. Namun beberapa tradisi masih melekat dalam kehidupan masyarakat Mekarjaya antara lain:
a. Upacara Kelahiran Anak
Upacara kelahiran anak di Mekarjaya dimulai saat kehamilan ibu dan setelah anak dilahirkan. Biasanya pada saat usia kehamilan 7 bulan diadakan upacara dengan ”mandi 7 bulanan” dan membuat ”rujakan” . Dalam upacara ”mandi 7 bulanan” ini ibu hamil dimandikan dengan menggunakan 7 lembar kain yang dipakai secara bergantian, satu per satu setelah basah kuyup karena siraman yang dilakukan oleh para sesepuh, orang tua, atau para kerabat. Dahulu air siraman tersebut biasanya disatukan dengan bunga 7 jenis atau ”kembang 7 rupa”, perhiasan, dan dimasukkan ikan belut, sebagai simbol agar saat melahirkan nanti mendapatkan kemudahan atau lancar melahirkan bayinya, serta anak dalam kandungan suatu hari nanti mempunyai harta benda yang banyak.
Sementara upacara ”ngarujak” dibuat dengan 7 bahan buah-buahan oleh keluarga ibu hamil, yang selanjutnya dijual kepada para tetangganya. Dahulu biasanya para tetangga atau anak-anak membelinya dengan uang yang dibuat dari bahan genting (duduitan), namun sekarang dibeli dengan uang beneran.
Pada perkembangan saat ini, banyak pula warga masyarakat yang memperingati upacara kehamilan pada usia kehamilan 4 bulan. Dalam upacara 4 bulanan ini diadakan pengajian (pangaosan) dengan membacakan ayat-ayat al-quran di rumah keluarga ibu hamil.
Dengan demikian, sebagian besar warga masyarakat memperingat 4 bulanan, sebagian kecilnya memperingati 7 bulanan, dan ada pula yang memperingati keduanya. Tujuan dari upacara ini agar anak dalam kandungan mendapatkan keselamatan dan menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tuanya.
Setelah masa kelahiran biasanya diperingati upacara cukur bayi pada hari ke 40 setelah kelahiran. Dalam acara ini biasanya dibacakan wawacan (cerita-cerita pupuh) yang isinya mengandung harapan agar anak kelak menjadi anak yang soleh dan menjadi harapan orang tuanya. Namun ada pula sebagian warga hanya memperingatinya dengan acara syukuran biasa setelah beberapa hari kelahiran anak.



b. Upacara Perkawinan
Upacara perkawinan biasanya memakai upacara adat Sunda. Upacara ini diadakan di rumah calon mempelai perempuan. Serangkaian upacara dari mulai ”seserahan”, dimana mempelai pria beserta keluarga mendatangi rumah calon mempelai perempuan dengan membawa barang-barang untuk mempelai perempuan. Kemudian prosesi ”seren sumeren” atau serah terima, akad nikah, dan diakhiri dengan upacara saweran atau ”nyawer”. Acara saweran ini dipimpin oleh seorang juru kawih/sinden yang menembangkan kawih berupa nasihat-nasihat bagi kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya nanti.
Dalam tradisi perkawinan ini, terkadang keluarga mempelai pria mengadakan upacara lainnya dengan upacara ”mulung mantu”, yaitu upacara yang diadakan di rumah mempelai pria setelah perkawinan di rumah mempelai wanita berlangsung. Upacara ini mengandung makna bahwa keluarga mempelai pria mengambil mempelai wanita menjadi bagian dari keluarganya.
Waktu yang dipilih dalam tradisi perkawinan di Mekarjaya biasanya pada Bulan Rayagung. Bulan Rayagung ini bertepatan dengan Bulan pada Hari Raya Idul Adha/Kurban. Bulan ini dipercaya merupakan waktu yang baik bagi penyelenggaraan perkawinan, sehingga kelak keluarga akan menjadi keluarga yang baik, rukun dan makmur sejahtera. Pemilihan waktu di Bulan Rayagung inilah yang masih melekat kuat sebagai tradisi Sunda dan masih dipercaya oleh masyarakat Mekarjaya.
Peringatan lainnya, setelah perkawinan berlangsung diadakan acara hiburan, bisa malam atau siang hari, berupa Calung, Reog, musik Pop Sunda, atau Dangdut. Sisi lain yang menarik dari peringatan upacara perkawinan di Mekarjaya, yaitu tradisi diadakannya acara pengajian (pangaosan) umum. Acara ini bentuknya ceramah umum yang dihadiri oleh warga masyarakat. Biasanya keluarga mempelai mengundang seorang mubalig yang kondang dari dalam atau luar daerah. Jika mubalig yang diundang cukup populer, warga yang menghadiri bisa mencapai ratusan sampai ribuan orang.
Ini menjadi menarik bagi praktikan, karena upacara ini tidak biasa dilakukan oleh warga kota Bandung, dimana praktikan menetap. Sekalipun ada pengajian dalam acara pernikahan, sifatnya tertutup dan diselenggaran di dalam rumah, atau bukan bentuk pengajian umum.
Praktikan menilai, ini merupakan salah satu tradisi yang bernilai positif, sedikitnya bisa memberikan pengetahuan dan pencerahan nilai-nilai agama, disamping sebagai hiburan bagi sebagian warga masyarakat.
c. Upacara khitanan
Menurut kepercayaan warga Mekarjaya, pelaksanaan upacaran sunatan atau khitanan adalah baik dilaksanakan pada Bulan Rayagung. Keluarga yang mampu biasanya mengadakan acara hiburan, berupa singa depok atau kuda renggong, calung, atau musik organ tunggal dan ”pangaosan” (pengajian umum).
Dalam acara khitanan tersebut, anak ”sunatan” (anak yang disunat) biasanya diarak keliling kampung dengan diiringi hiburan singa depok atau kuda renggong. Kemudian disawer atau acara saweran yang dipimpin juru kawih. Upacara ”nyawer” ini didalamnya mengandung doa-doa dan harapan-harapan bagi kehidupan anak yang disunat pada suatu hari kelak.
Bagi sebagian warga masyarakat Mekarjaya, acara-acara dalam upacara khitanan ini menjadi tontonan yang menghibur, terutama bagi anak-anak ketika acara saweran. Mereka akan ramai berebutan uang yang disawerkan oleh juru kawih dan anggota keluarga anak ”sunatan”. Bentuk acara khitanan seperti ini tentunya merupakan tradisi budaya, namun khitanannya sendiri sebagai inti acara (acara pokok) merupakan kewajiban agama bagi seorang laki-laki Muslim.

d. Upacara Kematian
Tradisi dalam acara kematian di Mekarjaya mengikuti tradisi yang diambil dari kelompok agama. Tentunya bagi sebagian lain, tradisi ini dipandang sebagai suatu tradisi dari budaya, bukan ritual agama atau suatu peribadatan. Tidak ada tradisi khusus dari adat istiadat untuk memperingati upacara kematian. Kalau sebelumnya ada upacara tertentu sebelum jenazah dikuburkan, atau anggota keluarga harus melakukan hal-hal tertentu, seperti ”ngolongan”, ”sibeungeutan”, dan ”neukteuk leukeur meulah jantung”, sekarang hanya sedikit diikuti. Hal lain yang masih dilakukan pada saat pemakaman jenazah, yaitu uang ”solawat”. Uang ini disimpan dalam amplop kemudian dibagikan oleh keluarga almarhum kepada para penggali kubur, atau pengantar jenazah, dan anak-anak.
Bentuk upacara kematian yang masih ada saat ini yaitu tahlilan. Para tetangga diundang untuk membacakan doa-doa dan ayat-ayat Al-quran. Waktu peringatan ini adalah selama 7 hari berturut-turut setelah kematian almarhum, hari ke 40 (matang puluh), dan hari ke 100 (natus), bahkan hari ke seribu (newu). Acara ini bertujuan untuk mendoakan almarhum agar mendapat ketenangan di alam kubur, mendapat ampunan dan kebahagiaan di akhiratnya.
Upacara ini pada perkembangan terakhir telah berubah. Keluarga almarhum tidak lagi mengadakan acara tahlilan, tapi menggantinya dengan acara ”Yasin-an”. Dalam mendoakan almarhum tidak lagi membacakan doa-doa yang biasa dilaksanakan dalam tahlilan, tetapi dengan membacakan Surat Yasin bersama-sama. Pergeseran dalam upacara ini hanyalah pada isi doa yang dibacakannya. Artinya masih terdapat suatu tradisi dalam peringatan kematian seorang warga. Walaupun ada sebagian kecil warga yang tidak melakukan upacara apapun sepeninggalannya almarhum, seperti pada sebagian warga di RW 01. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh keyakinan/paham dari aliran organisasi Islam tertentu.

e. Upacara Membangun Rumah
Saat ini untuk kegiatan membangun rumah tidak ada upacara khusus. Tradisi dahulu biasanya diadakan upacara khusus ketika akan mulai membangun, pada saat bangunan telah berdiri (ngadeg), dan setelah rumah selesai dibangun. Upacara-upacara tersebut sudah banyak ditinggalkan. Walau sebagian kecil masih memperingatinya mengadakan syukuran atau ”salametan” rumah. Salah satunya syukuran rumah yang diadakan oleh salah seorang warga RW 10 Kampung Pasirbungur.
Namun dalam hal keyakinan terhadap hitungan-hitungan hari baik untuk membangun rumah atau kemana arah rumah harus menghadap masih diikuti oleh sebagian warga masyarakat, walaupun tidak seperti dahulu yang begitu kuat disertai dengan acara adat tertentu.
Tradisi yang masih dilaksanakan oleh sebagian warga dalam membangun rumah ini adalah tradisi gotong royong membantu mendirikan rumah. Para tetangga akan membantu secara suka rela ketika ada warga yang akan mendirikan rumah atau mereka yang baru berumahtangga yang akan membangun rumahnya, sampai bangunan rumah tersebut berdiri. Selanjutnya untuk menyelesaikan rumah tersebut (finishing) dengan membayar orang (tukang). Rumah yang dibantu secara gotong royong ini adalah rumah ”panggung”. Istilah bagi kegiatan ini disebut ”ngahiras”. Warga bekerja tanpa mendapat bayaran, hanya mendapatkan konsumsi atau makan yang disediakan oleh keluarga yang membangun rumah tersebut. Sementara untuk rumah ”gedong” biasanya dengan menggunakan tenaga tukang atau dengan membayar tukang sejak dari awal hingga selesainya, tidak ada bantuan gotong royong dari warga masyarakat.
Kegiatan gotong royong ini tidak hanya pada acara membangun rumah, tetapi juga pada kegiatan pindah rumah. Warga yang akan pindah rumah sering dibantu oleh para tetangganya. Bantuan pindah rumah ini bukan sekedar mengangkat barang-barang milik warga yang akan pindah tersebut, namun mengangkat bangunannya atau rumah tersebut. Sebagaimana bahan rumah panggung dari kayu, sehingga bangunan dapat dibongkar dan dipindahkan.
Tradisi ini merupakan cerminan masih melekatnya rasa kebersamaan dan sikap gotong royong warga masyarakat Mekarjaya. Sebuah nilai positif yang masih hidup di tengah-tengah maraknya sikap egoistis dan individualis kehidupan modern.

f. Upacara ”Ngaruat”
Upacara ”ngarut” atau tolak bala adalah sebuah tradisi yang masih dipegang oleh sebagian warga Mekarjaya. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghidari diri dari bencana yang dapat menimpa atau memohon keselamatan dari Sang Kuasa. Salah satunya seperti dilakukan oleh warga Pasirbungur (RW 10) ketika terjadinya gempa bumi Jawa Barat beberapa bulan yang lalu (09/2009).
Warga Pasirbungur bersama-sama berdoa di lapangan terbuka. Membacakan ayat-ayat Al-quran, doa-doa, dan tawasulan kepada para leluhur atau ”karuhun” untuk memohon keselamatan. Nasi tumpeng, sayur kuah dan sesaji lainnya dipersiapakan oleh warga untuk upacara tersebut. Ayam yang dimasak sayur menggunakan ayam putih, sebagai persyaratan. Setelah dimasuk kemudian dibagikan kepada warga dan dimakan bersama.
Dalam upacara ini, biasanya warga masyarkat diberi ”sawen”, yaitu sebuah benda yang telah diberi jampi-jampi atau doa-doa, sebagai simbol untuk menolak bencana. Benda tersebut akan dipasang oleh warga masyarakat di pintu rumah masing-masing. Khusus di Kampung Pasirbungur upacara-upacara seperti ini atau ”ruatan” sering dilakukan, walaupun pada sebagian besar warga lainnya sudah jarang dilakukan.
g. Peringatan Hari Kemerdekaan RI
Peringatan Hari Kemerdekaan RI (17 Agus-tusan) bagi warga masyarakat Mekarjaya merupakan tradisi yang dipertahankan. Peringatan karnaval ini dilaksanakan oleh Desa Mekarjaya pada setiap tanggal 18 Agustus di Lapang Penclut. Tradisi peringatan ini telah dijalankan selama kurang lebih 25 tahun, semenjak masa pemerintahan kades pertama.
Pada setiap tanggal 18 Agustus itu lapangan sepak bola Penclut berubah menjadi lautan manusia. Berbagai kreasi warga dari 21 RW ditampilkan di lapangan tersebut untuk mendapatkan penilaian dari kades dan para panitia. Warga Mekarjaya berbondong-bondong menyaksikan kemeriahan peringatan dan menjadi hiburan keluarga yang sangat menggembirakan. Peringatan Hari Kemerdekaan RI ini merupakan sebuah peristiwa yang paling besar dan meriah di Desa Mekarjaya yang terus dipertahankan.
Peringatan kemerdekaan ini tentunya diperingati juga oleh warga masyarakat di setiap RW, dengan mengadakan berbagai kegiatan perlombaan dan hiburan, namun peringat di desa itulah yang menjadi peringatan terbesar warga Mekarjaya. Sedangkan tepat pada tanggal 17 Agustus biasanya setiap RW mengikuti karnaval ke Kecamatan Banjaran dengan menampilkan kreasi seninya, dan mengadakan perlombaan-perlombaan bagi warganya pada setiap Rukun Warga.
Dari peringatan kemerde-kaan ini terlihat bahwa jiwa kebersamaan, sikap gotong royong, dan pengorbanan warga masyarakat cukup besar. Karnaval dengan berbagai kreasi dan asesorisnya, jika dinilai dengan uang, bukanlah harga yang murah untuk mewujudkannya. Bagi warga Mekarjaya, peringatan Hari Kemerdekaan RI selain sebagai semangat rasa syukur, acara hiburan masyarakat, juga menjadi momentum untuk membangun sikap kebersamaan, gotong royong dan jiwa pengorbanan warga Mekarjaya.

h. Tradisi kegiatan ekonomi
Beberapa tradisi dalam kegiatan ekonomi masyarakat yang telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat Mekarjaya, yaitu :
1). ”Ngagaduh” dan ”Maro”, yaitu kegiatan ekonomi di bidang ternak atau pemeliharaan hewan ternak yang umumnya pada binatang ternak kembing/domba. Kegiatan ini berbentuk kerja sama antara si pemilik ternak dengan si pemelihara ternak, yang nanti hasilnya dibagi dua antara si pemilik dan si pemelihara.
Dalam kegiatan ”ngagaduh” si pemilik ternak akan menyerahkan kambingnya (betina) kepada si pemelihara, dan nanti setelah kambing tersebut melahirkan hasilnya dibagi dua secara sama. Jika melahirkan 2 anak, maka 1 untuk si pemilik, dan 1 untuk si pemelihara. Jika melahirkan 3 misalnya, setelah dua belah pihak mendapat satu ekor anak, maka sisa satu tersebut dijual/diuangkan kemudian dibagi dua. Cara lainnya, anak tersebut diberikan kepada si pemelihara, dan nanti ketika kambing induk lahir anak baru diberikan satu untuk si pemilik. Demikian juga ketika induk melahirkan 1 anak, biasanya si pemelihara mendapatkan jatah yang pertama, baru setelah kelahiran berikutnya si pemilik mendapatkan satu bagiannya.
Dalam hal kambing tersebut tidak menghasilkan anak setelah sekian lama, umumnya si pemelihara mendapat bayaran dari si pemilik sebagai ”buruh” (upah) atau ganti rugi tenaga selama mengurusnya. Besar upah tergantung kebaikan si pemilik, bisa mencapai 100 ribu sampai dengan 400 ribu rupiah.
Sementara kegiatan ”maro”, si pemilik biasanya menyerahkan domba (jantan) yang masih kecil, dan yang dihitung bersama nilai belinya/modalnya. Terlebih si pemilik sengaja membeli kambing untuk ”marokeun”, akan menyebutkan modal belinya. Misalnya, harga kambing tersebut 300 ribu, kemudian setelah besar dipelihara dan dijual oleh si pemelihara seharga 1 juta, maka keuntungan sebesar 700 ribu dibagi dua secara rata, masing-masing 350 ribu. Dengan demikian, si pemilik menerima uang sebesar 650 ribu (modal + untung) dan si pemelihara mendapat 350 ribu rupiah.


2). ”Nengah dan Mertelu”. Kegiatan ”nengah”, yaitu kegiatan kerjasama di bidang pertanian antara si pemilik tanah dengan si pekerja. Pihak si pemilik tanah menyerahkan tanahnya, sedangkan si pekerja memberikan tenaganya untuk menanam/mengolah sawah, dimana hasil panennya dibagi rata untuk kedua belah pihak. Untuk biaya pupuk biasa dibebankan kepada kedua belah pihak secara rata/dibagi dua. Misalnya untuk biaya pupuk tersebut menghabiskan 500 ribu, maka masing-masing mengeluarkan biaya 250 ribu.
Sementara kegiatan”mertelu”, yaitu kegiatan kerjasama yang serupa dengan ”nengah” antara si pemilik tanah dengan si pekerja, hanya biasanya kegiatan ini dilakukan pada sawah yang kurang produktif/hanya sekali panen dalam setahun. Pembagian hasil panen dari kegiatan ”mertelu” ini dianggap dibagi tiga (tilu), yaitu 1 bagian untuk si pemilik tanah, dan 2 bagian untuk si pekerja. Dalam kegiatan ekonomi ini si pekerja mendapat bagian lebih besar daripada si pemilik tanah. Biaya untuk bibit atau pupuk biasanya menjadi tanggung jawab si pekerja.
c). ”Gade Sawah dan Gade Goah”. Kegiatan gadai menggadai dalam masyarakat Mekarjaya ini meliputi ”gade sawah” dan ”gade goah”. Kegiatan ”gade sawah”, yaitu kerjasama antara si pemilik sawah dengan si pemilik modal/uang. Peran si pemilik sawah menjadi pekerja atau yang bekerja mengolah sawahnya, sementara si pemilik modal sebagai investor atau bisa juga dianggap sebagai pemberi pinjaman, karena sejumlah uang yang digadaikan harus dikembalikan oleh si pemilik sawah.
Pembagian hasil panen dari kegiatan ini dibagi dua setiap musim panen, sementara sejumlah uang gadaian yang diserahkan si pemilik modal tetap dikembalikan oleh si pemilik sawah. Dalam hal ini, keuntungan yang dibagi dua akan berubah-ubah sesuai hasil panennya. Artinya, ada resiko keuntangan yang tanggung/dirasakan bersama-sama antara kedua belah pihak. Walaupun si pemilik modal tetap tidak akan kehilangan modalnya yang harus dikembalikan oleh si pemilik sawah.
Dalam kegiatan ”gade sawah” ini jelas ada barang, yaitu sawah menjadi jaminannya. Sementara kegiatan ”gade goah”, tidak ada barang yang menjadi jaminannya. Ini lebih mirip seperti pinjaman biasa. Jika dilihat dari asal katanya ”goah” adalah tempat menyimpan hasil panen yang terdapat di dalam rumah. Namun pada kenyataannya ”goah” tersebut tidaklah menjadi barang jaminan, karena tidak mungkin si pemilik modal akan menyita ”goah” seandainya si peminjam tidak dapat mengembalikan uang pinjamannya.
Dalam gadai ini si peminjam akan mengembalikan uang pinjamannya kepada si pemilik modal disertai dengan kesanggupan untuk memberikan hasil panen setiap musim panen sejumlah tertentu. Ukurannya menggunakan blek/kaleng gabah atau ”marus”. Besarnya tergantung pada perjanjian dan umumnya tergantung keinginan si pemilik modal. Jumlah bervariasi antara 6 – 10 blek. Harga satu kaleng/blek gabah dihitung 35 ribu rupiah.
Dalam kegiatan ”gade goah” ini si peminjam mau tidak mau setiap musim panen (5 bulan sekali) harus menyerahkan gabuh sejumlah tertentu yang telah diperjanjikan. Jadi, jika seseorang peminjam tersebut tidak bertani, biasanya ia akan membeli sejumlah gabah setiap musim panen untuk diserahkan kepada si pemilik modal.
Sistem ”gade goah” ini oleh sebagian masyarakat dianggap memberatkan, bahkan ada yang menganggapnya sebagai praktek rentenir. Dalam kenyataannya praktek ini masih banyak dilakukan masyarakat Mekarjaya. Bentuk kegiatan gadai menggadai ini merupakan indikator bahwa ditengah-tengah kehidupan mereka diperlukan adanya suatu sumber untuk pinjaman modal usaha maupun keperluan lainnya.
d). ”Liliuran”, yaitu suatu kegiatan kerjasama antar para petani dengan cara mengeluarkan tenaga atau bekerja pada kegiatan-kegiatan pertanian secara bergiliran. Dalam kegiatan ini para petani akan bekerja untuk membantu petani lainnya yang sedang mempunyai pekerjaan, seperti membajak sawah, menanam atau memanen. Petani yang telah dibantu tersebut akan membayarnya dengan tenaganya kepada mereka yang telah membantunya. Seandainya seorang petani telah membantunya bekerja satu hari, maka petani yang dibantu itupun akan bekerja satu hari untuk membayarnya.
Jadi dalam kegiatan ini tidak ada bayaran uang, namun sistem pembayaran ”tenaga dengan tenaga” antar para petani. Kegiatan ”liliuran” ini masih berjalan pada sebagian para petani, namun umumnya pada mereka yang mempunyai hubungan dekat. Memang sangat berbeda jauh dengan masa lalu, dimana kegiatan ini hampir banyak dilakukan oleh warga masyarakat.
Tradisi-tradisi dalam kegiatan ekonomi tersubut menunjukkan bahwa ditengah-tengah kehidupan masyarakat Mekarjaya telah membudayanya suatu sikap kerjasama yang saling menguntungkan antar warga masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi warga masyarakat.
Praktikan menilai ini merupakan modal sosial yang sudah sejak lama dimiliki masyarakat Mekarjaya, seperti biasa tumbuh di tengah kehidupan desa/daerah pertanian. Jika kita menilai lebih jauh ini berarti bahwa sikap kerjasama telah terbentuk sejak dulu, hanya masih dalam bentuk tradisional. Artinya ada potensi melakukan kerjasama yang lebih profesional lagi/bentuk kerjasama ekonomi lainnya yang dapat dilakukan oleh warga masyarakat Mekarjaya.
5. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang, keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan dan gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, keterasingan dan perubahan lingkungan (secara mendadak) yang kurang mendukung, seperti terjadinya bencana.
Berdasarkan data yang dari PSM Desa Mekarjaya, PMKS yang ada di Desa Mekarjaya dalam tabel 13 berikut :
























TABEL 10:
PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL
DESA MEKARJAYA TAHUN 2009
NO. MASALAH JUMLAH (Jiwa/KK) % dari
PMKS
1 Anak Balita Terlantar 0 0.00%
2 Anak Terlantar 209 19.81%
3 Anak yang Menjadi Korban tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah 0 0.00%
4 Anak Nakal 15 1.42%
5 Anak Jalanan 0 0.00%
6 Anak Cacat 0 0.00%
7 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 15 1.42%
8 Wanita Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah 0 0.00%
9 Lanjut Usia Terlantar 10 0.95%
10 Lanjut Usia Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah 0 0.00%
11 Penyandang Cacat 10 0.95%
12 Penyandang Cacat Bekas Penderita Penyakit Kronis 0 0.00%
13 Tuna Susila 0 0.00%
14 Pengemis 0 0.00%
15 Gelandangan 0 0.00%
16 Bekas Narapidana 1 0.09%
17 Korban Penyalahgunaan Napza 5 0.47%
18 Keluarga Fakir Miskin 717 67.96%
19 Keluarga Berumah Tak Layak Huni 36 3.41%
20 Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis 0 0.00%
21 Komunitas Adat Terpencil 0 0.00%
22 Masyarakat Yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana 22 2.09%
23 Korban Bencana Alam 15 1.42%
24 Korban Bencana Sosial 0 0.00%
25 Pekerja Migran Terlantar 0 0.00%
26 Keluarga Rentan 0 0.00%
27 Penyandang AIDS/HIV 0 0.00%
T O T A L 1.055 100.00%
Sumber : Data PSM Desa Mekarjaya 2009
Tabel 10 tersebut menunjkkan bahwa PMKS yang paling banyak adalah keluarga fakir miskin. Ini berarti bahwa masalah kemiskinan atau keluarga fakir miskin adalah masalah yang terbesar di Desa Mekarjaya. Pengertian Keluarga Fakir Miskin tersebut dikeluarkan oleh Departemen Sosial RI, yaitu seseorang atau kepala keluarga yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan.
Hal ini bisa memberikan arti strategis bahwa arah pembangunan dan penangan masalah di Desa Mekarjaya harus diprioritaskan pada penangan masalah kemiskinan.

6. Tingkat Kesejahteraan Keluarga
Konsep kesejahteraan menurut BKKBN tidak hanya diukur dengan ukuran material, melainkan juga oleh ukuran-ukuran sosial dan psikologis. Keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan itu dibagi menjadi lima kelompok, yakni :
1) Keluarga pra sejahtera, yang dicirikan oleh ketidak mampuan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal. Kebutuhan dasar meliputi kebutuhan spritual, pakaian, makanan, perumahan dan kesehatan.
2) Keluarga sejahtera I, yang dicirikan oleh kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pakaian, makanan dan perumahan secara minimal, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis.
3) Keluarga sejahtera II, ditandai dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan sosial psikologis, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan pengembangan, seperti menabung dan memperoleh informasi.
4) Keluarga sejahtera III, dicirikan oleh kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sosial dan psikologis serta kebutuhan pengembangan keluarga, tetapi belum memberikan kontribusi terhadap masyarakat.
5) Keluarga sejahtera III plus, yang dicirikan oleh kemampuan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Apabila konsep BKKBN tersebut dikonversi dengan konsep kemiskinan, maka keluarga kategori pra sejahtera dan sejahtera I termasuk ke dalam kategori keluarga atau rumah tangga miskin.
Berdasarkan perhitungan BKKBN tahun 2008 diketahui bahwa tingkat kesejahteraan keluarga di Desa Mekarjaya sebagaimana tabel 9 berikut :
TABEL11:
KONDISI DESA MEKARJAYA BERDASARKAN
TINGKAT KESEJAHTERAAN TAHUN 2008

NO. TINGKAT KESEJAHTERAAN JUMLAH
(KK) %
1 Pra Sejahtera 628 26,76%
2 Sejahtera 1 878 37,41%
3 Sejahtera 2 611 26,01%
4 Sejahtera 3 212 9,03%
5 Sejahtera 3 plus 18 0,77%
T O T A L 2.347 100.00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Berdasarkan tabel 11 tersebut diketahui bahwa kondisi keluarga terbanyak berada pada kategori keluarga Sejahtera 1 (37,41%), kemudian keluarga Pra sejahtera (26,76 %), dan Sejahtera 2 (26,01%). Data ini menunjukan bahwa kondisi kesejahteraan di Desa Mekarjaya masih sangat rendah, dimana terdapat banyak kondisi keluarga yang masuk kategori keluarga Sejahtera 1 dan Pra sejahtera.
Apabila keluarga Pra sejahtera dan Keluarga Sejahtera I dimasuk dalam kategori keluarga miskin, maka terdapat sebanyak 1.506 KK atau 64,17% KK di Desa Mekarjaya sebagai keluarga miskin. Angka ini yang digunakan oleh BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) Jaya Mekar dalam menghitung jumlah keluarga miskin di Desa Mekarjaya.
Sementara itu, BKM sendiri menentukan kriteria kemiskinan di Desa Mekarjaya dengan ukuran berikut :
1) Penghasilan maksimal Rp. 600.000,- per bulan per keluarga;
2) Makan maksimal 2 kali dalam sehari;
3) Rumah berdinding bambu/bilik atau lantai tanah;
4) Tidak memiliki MCK sendiri;
5) Tidak memiliki pekerjaan tetap atau menganggur;
6) Taraf pendidikan kepala keluarga maksimal SLTP;
7) Mempunyai penyakit yang menahun;
8) Jumlah tanggungan minimal 3 orang;
9) Tidak mempunyai harta yang dapat dijual cepat seharga Rp. 750.000,-
Sementara berdasarkan data BPS yang dilihat dari penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2009, terdapat sebanyak 717 KK yang menerima BLT atau sebagai Rumah Tangga Miskin (RTM) di Desa Mekarjaya.



TABEL 12:
PENERIMA BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT)
DESA MEKARJAYA TAHUN 2009

NO. RW JUMLAH %
1 01 36 5.02%
2 02 36 5.02%
3 03 30 4.18%
4 04 36 5.02%
5 05 36 5.02%
6 06 36 5.02%
7 07 36 5.02%
8 08 36 5.02%
9 09 36 5.02%
10 10 36 5.02%
11 11 36 5.02%
12 12 36 5.02%
13 13 40 5.58%
14 14 40 5.58%
15 15 35 4.88%
16 16 35 4.88%
17 17 36 5.02%
18 18 35 4.88%
19 19 35 4.88%
20 20 35 4.88%
T O T A L 717 100.00%
Sumber : PSM Desa Mekarjaya tahun 2009
Berdasarkan tabel 12 tersebut, jika dilihat dari jumlah seluruh KK di Desa Mekarjaya sebanyak 2.347 KK, maka terdapat 30,55% KK yang masuk dalam kategori Rumah Tangga Miskin. Jelas angka ini tidak menunjukkan realitas yang sebenarnya. Alasannya karena BLT tidak diberikan kepada seluruh keluarga miskin. Perhitungan dari BKKBN lebih menunjukkan kenyataan kondisi kemiskinan yang ada di wilayah Desa Mekarjaya.
Ukuran yang digunakan dalam menentukan keluarga miskin tersebut menurut kriteria BPS dilihat dari 14 kriteria, yaitu:
(1). Luas bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang.
(2). Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
(3). Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
(4). Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
(5). Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
(6). Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
(7). Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.
(8). Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.
(9). Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
(10). Hanya sanggup makan satu/dua kali dalam sehari.
(11). Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik.
(12). Sumber penghasilan kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) per bulan.
(13). Pendidikan tertinggi kepala keluarga: tidak bersekolah/tidak tamat SD/hanya SD.
(14). Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah), seperti sepeda motor kredit/non-kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lain
Sementara untuk melihat kondisi kemiskinan Desa Mekarjaya dibandingkan dengan desa lainnya di Kecamatan Banjaran dapat dilihat dari tabel 13 berikut ini :
TABEL 13:
RINCIAN ALOKASI PENERIMA BLT
KECAMATAN BANJARAN KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2009

NO. DESA ALOKASI (KK) %
1 Banjaran Wetan 913 16.19%
2 Mekarjaya 815 14.45%
3 Ciapus 610 10.82%
4 Kamasan 588 10.43%
5 Neglasari 582 10.32%
6 Tarajusari 400 7.09%
7 Kiangroke 383 6.79%
8 Sindangpanon 377 6.68%
9 Banjaran 337 5.98%
10 Margahurip 323 5.73%
11 Pasirmulya 312 5.53%
T O T A L 5,640 KK 100.00%
Sumber : Rincian Alokasi BLT 2009 Kab. Bandung
Berdasarkan data BPS yang dilihat dari rincian alokasi penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2009, terdapat sebanyak 815 KK yang menerima BLT atau sebagai Rumah Tangga Miskin (RTM) di Desa Mekarjaya. Angka tersebut menempatkan Desa Mekarjaya sebagai urutan kedua terbanyak RTM di Kecamatn Banjaran setelah Desa Banjaran Wetan.
Kondisi ini merupakan tugas dan tanggung jawab bersama dari semua komponen di Desa Mekarjaya, baik pemerintah desa maupun warga masyarakat Mekarjaya, sehingga jumlah keluarga miskin atau angka kemiskinan ini bisa dikurangi.





7. Sumber Daya dan Asset Wilayah
1). Asset Sumber Daya Manusia
Asset sumber daya manusia yang ada di Desa Mekarjaya berdasarkan usia produktivitas, yaitu terdapat dalam tabel 14 berikut:
TABEL 14:
KONDISI MASYARAKAT DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN USIA PRODUKTIVITAS TAHUN 2008

NO. USIA (Tahun) JUMLAH %
1 Produktif (16 – 55 th) 4.257 55,19%
2 Non Produktif ( 0 – 15) 1.713 22,20%
3 Semi Produktif (56 th ke atas) 1.744 22,61%
T O T A L 7.714 100,00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Berdasarkan tabel 14 tersebut, diketahui bahwa Desa Mekarjaya memiliki kuantitas Usia Produktif sebanyak 4.257 jiwa atau 55,19% dari seluruh penduduk Mekarjaya. Sementara mereka masuk dalam kategori Usia Non Produktif sebanyak 1.713 jiwa atau 22,20%, dan Usia Semi Produktif sebanyak 1.744 jiwa atau 22,61% dari seluruh penduduk.
Sementara dilihat berdasarkan usia angkatan kerja yaitu usia 18 – 56 tahun, terdapat sebanyak 4,338 jiwa atau 56,24% angkatan kerja dari seluruh penduduk Desa Mekarjaya. Keberadaan angkatan kerja tersebut dari status pekerjaannya dapat dilihat dalam tabel 15 berikut :
TABEL 15:
KONDISI ANGKATAN KERJA DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN STUTUS PEKERJAAN TAHUN 2008

NO. STATUS PEKERJAAN JUMLAH %
1 Bekerja 2.855 65,81%
2 Tidak atau Belum Bekerja 1.483 34,19%
T O T A L 4.338 100,00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 15 tersebut menunjukkan bahwa terdapat 2.855 jiwa atau 65,81% angkatan kerja yang telah bekerja. Sedangkan mereka yang seharusnya bekerja namun kenyataannya belum mempunyai pekerjaan atau tidak bekerja sebanyak 1.483 jiwa atau 34% dari seluruh angkatan kerja.
Angka angkatan kerja yang telah bekerja tersebut, jika dihitung dari seluruh penduduk Mekarjaya, maka terdapat 37,01% penduduk yang bekerja. Angka inilah yang mungkin secara riil menunjukkan kekuatan warga Mekarjaya dalam menyokong kehidupan keluarganya. Sedangkan mereka yang tidak atau belum bekerja jika dihitung dari seluruh penduduk Mekarjaya, maka terdapat angka 19,22%. Angka ini menunjukkan angka pengangguran di Desa Mekarjaya.
Sementara kualitas angkatan kerja tersebut jika dilihat berdasarkan pendidikan dapat diketahui dalam tabel 16 berikut :
TABEL 16:
KONDISI ANGKATAN KERJA DI DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN PENDIDIKAN TAHUN 2008

NO. PENDIDIKAN JUMLAH %
1 Buta Aksara 112 2,58%
2 Tidak Tamat SD/sederajat 71 1,64%
3 Tamat SD/sederajat 2.686 61,92%
4 Tamat SLTP/sederajat 1.302 30,01%
5 Tamat SLTA/sederajat 154 3,55%
6 Tamat Perguruan Tinggi 13 0,30%
T O T A L 4.338 100,00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 16 tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan angkatan kerja yang ada di Mekarjaya sangat minim, yaitu sebanyak 2.686 jiwa atau 61,92% hanya bermodalkan pendidikan Sekolah Dasar. Kekuatan selanjutnya, sebesar 1.302 jiwa atau 30,01% berpendidikan SLTP.
2). Asset Alam/Sumber Daya Alam
Sumber daya alam yang dimiliki Desa Mekarjaya ini sangat terbatas. Sumber alam yang utama menjadi kekuatan warga Mekarjaya adalah tanah persawahan.
a). Tanah/Persawahan
Tanah persawahan merupakan sumber daya alam yang paling besar dimiliki oleh Desa Mekarjaya. Dari luas wilayah sebesar 464.773 ha terdapat 414.181 ha atau 89,11% merupakan tanah pertanian. Dengan demikian, Desa Mekarjaya merupakan desa agraris atau desa pertanian. Lebih jelas tentang penggunaan lahan di Desa Mekarjaya tersebut dapat dilihat dari table 17 berikut :
TABEL 17:
LUAS WILAYAH DESA MEKARJAYA
BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN TAHUN 2008

NO. PENGGUNAAN LAHAN LUAS (ha/m2) %
1 Pemukiman 7.001 1,51%
2 Persawahan 414.181 89,11%
3 Kuburan 1.500 0,32%
4 Pekarangan 1.795 0,39%
5 Perkantoran 0.2 3,04%
6 Prasarana umum 40.096 8,63%
T O T A L 464.773 100,00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 17 tersebut jelas menunjukkan begitu besar lahan pertanian di wilayah Desa Mekarjaya. Inilah potensi atau sumber kekuatan yang dimiliki oleh warga Mekarjaya. Luas lahan pertanian tersebut dikelola oleh sebanyak 715 keluarga petani. Namun dari segi kepemilikannya, sebanyak 507 keluarga memiliki tanah pertanian, dan sebanyak 208 keluarga tidak memiliki tanah pertanian.









Sementara berdasarkan jumlah lahan yang dimiliki oleh keluarga petani tersebut dapat dilihat dalam tabel 18 berikut:

TABEL 18:
LUAS TANAH PERTANIAN
BERDASARKAN KEPEMILIKAN TAHUN 2008
NO. KEPEMILIKAN TANAH JUMLAH (keluarga) %
1 Kurang dari 1 ha 494 97,44%
2 1,0 – 5,0 ha 13 2,56%
3 5,0 – 10 ha 0 0,00%
4 Lebih dari 10 ha 0 0,00%
T O T A L 507 100,00%
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Tabel 18 menunjukkan bahwa sebagain besar keluarga petani hanya memiliki lahan kurang dari 1 ha atau sebanyak 97,44%. Sementara mereka yang memiliki 1,0 – 5,0 ha hanya dimiliki oleh 13 keluarga atau 2,56% keluarga. Ini juga menunjukkan bahwa kepemilikan tanah pertanian tidak terpusat pada segelintir keluarga saja, namun merata oleh sebagian besar keluarga petani.
Dari data tersebut dapat terlihat adanya pola stratifikasi di Desa Mekarjasa berkaitan dengan kepemilikan tanah, yaitu :
• Golongan pertama, adalah para petani atau orang-orang yang memiliki tanah yang cukup besar untuk menjamin kehidupan yang cukup bagi keluarganya.
• Golongan kedua, adalah para petani yang memiliki atau menguasai tanah yang luasnya terbatas atau kualitas marjinal, sehingga kehidupannya dan keluarganya sangat tergantung selain dari kesempatan kerja sampingan, juga dari iklim dan faktor harga. Kalau ada hama wereng, banjir atau musim kemarau yang panjang, tingkat kehidupan mereka langsung terpukul (petani guram).
• Golongan ketiga, adalah mereka yang sama sekali tidak mempunyai tanah. Kehidupannya seluruhnya tergantung dari upahnya sebagai penggarap tanah, dan dari penghasilannya sendiri dan keluarganya dari bermacam-macam pekerjaan tambahan yang sangat rendah produktivitas dan penghasilannya, dimana dia dan keluarganya harus bekerja sepanjang hari secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhn hidupnya
Menurut penilaian praktikan, stratifikasi masyarakat di Desa Mekarjaya ini lebih dominan dilihat dari kepemilikan tanah, artinya semakin luas tanah/sawah yang dimilikinya, semakin tinggi kelas/status sosialnya di tengah masyarakat.

b). Jalan Raya
Jalan yang men-jadi asset utama warga Mekarjaya sebanyak 2 jalan raya yaitu Jalan Cibaribis dan Jalan Cigentur. Dua jalan ini menjadi jalan utama warga Mekarjaya, sehingga menjadi perlintasan/trayek angkutan umum Terminal Banjaran – Cibaribis, dan Terminal Banjaran – Cigentur. Selain jalan utama tersebut, terdapat banyak jalan-jalan yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya di Mekarjaya.
Asset jalan yang terdapat di Mekarjaya dapat dikatakan memadai, dimana warga masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan mudah antar kampung atau ke luar desa. Dengan tersedianya jalan ini mobiltas warga dan berbagai kegiatan pengangkutan menjadi mudah. Misalnya, untuk pengangkutan hasil panen, mengangkut barang-barang besar, dan selalin itu memudahkan masuknya pihak-pihak luar ke wilayah Desa Mekarjaya.

c). Hutan
Hutan yang ada di wilayah Desa Mekarjaya merupakan hutan lindung milik Negara seluas 50 ha/m2. Kondisi hutan tersebut 35 ha keadaannya baik, dan 15 ha dalam keadaan rusak. Kerusakan hutan ini telah mempengaruhi pada rusaknya biota/plasma nuftah hutan, hilangnya habitat binatang hutan, sumber mata air, terjadinya kekeringan/sulit air, dan hilangnya daerah tangkapan air (cacthment area). Padahal fungsi dan manfaat utama hutan bagi warga Mekarjaya adalah sebagai sumber mata air, dimana dari hutan inilah mengalirnya air yang menjadi kebutuhan warga akan air bersih.
Selama ini hutan tidak menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh warga masyarakat Mekarjaya. Sebagian warga masyarakat memanfaatkan hutan untuk mencari kayu sebagai bahan bakar memasak.

Hutan ini merupakan sumber daya alam yang masih mungkin dapat dioptimalkan untuk keperluan warga Mekarjaya, sekurang-kurang bagi perbaikan sumber mata air warga Mekarjaya, lebih jauh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan prinsip, “melestraikan hutan untuk mensejahterakan masyarakat”.

Perlu upaya untuk mengatasi masalah ini, atau mengembalikan kelestarian hutan ini, karena saat musim kemarau tiba sering terjadi kekeringan sawah dan sumber air bagi warga, sebagai akibat rusaknya sumber mata air dan kerusakan hutan.
Kerusakan hutan yang terjadi di Desa Mekarjaya diakibatkan terjadi bencana kebakaran beberapa tahun lampau, tanah longsor, dan beberapa penebangan liar baik untuk keperluan komersial ataupun sekedar untuk bahan bakar memasak warga Mekarjaya.
Seharusnya ada pola kerjasama antara PT. Perhutani, pemerintahan Desa Mekarjaya, dan warga masyarakat dalam mengelola hutan, sehingga fungsi dan manfaat hutan dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat Mekarjaya.
Ketika praktikan mulai datang ke mekarjaya ini, telah terdengar rencana-rencana/program dari pemerintah, swasta, maupun LSM yang akan melaksanakan kerjasama mengatasi masalah kelestarian hutan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Tentunya ini menjadi bagian yang mendukung perbaikan kondisi lingkungan hidup di wilayah Desa Mekarjaya.

3). Asset Keuangan/Sumber Daya Ekonomi
Kelembagaan ekonomi yang terdapat di Desa Mekarjaya sangat terbatas. KUD, Koperasi Simpan Pinjam, BUMDES, Bank Desa tidak terdapat di Desa Mekarjaya. Beberapa kelompok yang berjalan adalah Kelompok Simpan Pinjam sebanyak 20 unit, dengan jumlah anggota sebanyak 250 orang.
Kelompok usaha simpan pinjam 20 unit tersebut terdapat di setiap RW di Desa Mekarjaya, merupakan kegiatan dari program Raksa Desa. Data tersebut dilaporkan pada tahun 2008, namun kenyataannya pada tahun 2009 hanya tidak beberapa RW saja yang dapat menjalankan program simpan pinjam bergulir tersebut.
Sebagai desa agraris, ekonomi warga Mekarjaya digerakan oleh sektor pertanian. Dari hasil pertanian inilah yang menjadi kekuatan ekonomi warga masyarakat. Tabel 19 berikut ini dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan sektor pertanian.
TABEL 19:
HASIL KOMODITAS PERTANIAN
DESA MEKARJAYA TAHUN 2008
NO. JENIS
KOMODITAS LUAS
LAHAN (Ha) JUMLAH (Ton)
1 Padi sawah 368,106 7.730
2 Padi ladang 1,5 5.250
3 Jagung 12 6.300
4 Kacang tanah 10 3.500
5. Kacang panjang 3 2.100
6. Kacang merah 3 1.200
7. Ubi kayu 3 4.500
8. Ubi jalar 20 21.000
9. Cabe 1,5 1.575
10. Bawang merah 2 2.100
11. Tomat 0,5 2
Sumber : Potensi dan Perkembangan Desa 2008
Sementara usaha ekonomi produktif warga masyarakat relatif sangat minim. Sebagian kecil warga membuka usaha warung kelontongan, usaha kerupuk, penggilingan padi, pemotongan kayu, perbengkelan, dan jasa transportasi.

Minggu, 27 Desember 2009

UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK

A. LATAR BELAKANG.

Anak merupakan harapan dan masa depan bangsa. Oleh sebab itu kehidupan anak memerlukan perhatian yang sangat serius baik dari Pemerintah maupun Masyarakat. Meskipun Pemerintah Indonesia telah merativikasi Konvensi Hak Anak dari Perserikatan Bangsa-bangsa sejak tahun 1990 dan mengimplentasikan Undang-undang No.23 tentang Perlindungan Anak pada tahun 2002 dan Undang-Undang No.23 tentang Penghapusan Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga, namun kondisi anak belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Selanjutnya ...

KEHADIRAN PEREMPUAN DI POLITIK

Kehadiran perempuan di ruang public dalam bentuk gerakan perempuan sebenarnya telah ada sejak tahun 1928. Ketika itu pertama kalinya diadakan Kongres Wanita Indonesia yang diadakan pada tanggal 28 Desember 1928 di Yogyakarta. Pada waktu itu terbentuklah Organisasi pergerakan yang diberi nama Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang anggotanya terdiri dari 7 organisasi perempuan antara lain Wanita Utomo, Wanita Taman Siswa, Wanita Aisyah, Wanita Katholik, Putri Indonesia, Wanita Islam dan Wanita Jawa.

Selanjutnya ...

GAMBARAN UMUM DESA

GAMBAR DESA
Desa Nanjung merupakan salah satu desa di Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung dengan luas + 68.987 ha berada di ketinggian 600 m diatas permukaan laut, dengan suhu berkisar 18o C s/d 22o C dan curah hujan mencapai 1.250 mm/tahun dengan intensitas maksimum curah hujan selama 90 hari dalam setahun.
Asal-usul nama Desa Nanjung adalah sebagai berikut :
Nama Desa Nanjung pada zaman dahulu (+ tahun 1905) adalah Desa Sukabirus. Pada waktu itu Desa Sukabirus merupakan daerah dimana para pahlawan mataram bermukim. Beragam alasan kenapa pahlawan mataram bermukim disana, yakni sebagai tempat persembunyian saat melawan penjajah (VOC) karena minimnya perbekalan disaat peperangan; ataupun sebagai tempat peristirahatan untuk melepas lelah karena Desa Sukabirus relatif sejuk.
Di masa itu, pemerintah menghendaki adanya nama suatu lokasi di tiap-tiap daerah, sehingga pembentukan suatu desa didasarkan atas kebutuhan untuk memperjelas lokasi dan luas teritorialnya. Sukabirus diambil dari nama sebuah tanaman obat (sebut: akar cocor bebek) yang pada waktu itu merupakan obat yang paling manjur untuk mengobati sakit panas, yakni dengan menghaluskan akar cocor bebek kemudian dibalurkan di kepala.
Belum ada informasi yang akurat sejak kapan nama Desa Sukabirus tersebut digunakan .Sejak kepala desa pertama wafat (Mama Adiredja) wafat, terjadi kekosongan kepemimpinan selama beberapa waktu. Namun muncul inisiatif untuk melakukan pemilihan kepala desa secara demokratis yang diadakan di Leuwi Kodok (sekarang disebut daerah Daraulin), dari pemilihan kepala desa tersebut, kemudian terpilih R. H. Ahmad Djoenaedi. Setelah beliau terpilih, kemudian dilakukan musyawarah di balai desa dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat (yang sekarang dijadikan SD Negeri Nanjung/Totogan Jl. Nanjung).
Musyawarah tersebut dimaksudkan untuk mencari nama yang tepat untuk sebuah Desa. Dalam musyawarah tersebut, muncullah sebuah ide dari seorang aki-aki (no name) untuk merubah nama Desa Sukabirus menjadi Desa Nanjung. Nama Nanjung berarti subur dan makmur. Hal ini tercermin dari masyarakat pada waktu itu memang merupakan kumpulan orang yang kaya raya (juragan tanah). Selain itu pula, keadaan desa tersebut memang subur, makmur, gemah ripah loh jinawi. Atas dasar inilah nama Desa Sukabirus diganti menjadi Desa Nanjung, yang diharapkan menjadi cita-cita daerah tersebut.
Berikut merupakan struktur organisasi pemerintahan Desa Nanjung.










Berikut merupakan runtutan Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Nanjung :
Tabel 1
Daftar Runtutan Kepemimpinan Desa Nanjung
NO NAMA TAHUN
1. Mama Adiredja (Ma Agan), wafat pada tahun 1905 Sebelum tahun 1905
2. Rd. H. Ahmad Djoenaedi 1905 – 1914
3. Poera Dinata (Mama Eyang Poera) 1914 – 1920
4. H. Sanoesi 1920 – 1927
5. H. Tamin 1927 – 1935
6. Rd. H. Ahmad Djoenaedi 1935 – 1941
7. H. Tamin 1941 – 1946
8. Oyoh Adiredja 1946 – 1950
9. Atih Soetiana (H. Toha) 1950 – 1953
10. H. Epe Ahmad Danadja 1953 – 1964
11. H. Aen Suhendra 1965 – 1985
12. Imam Kurnia 1986 – 1994
13. Dede Supardi Kurnia 1994 – 2007
14. H. Suryana Manap 2007 - sekarang
Sumber : Informasi dari M. Akib Sastradiningrat (Tokoh Masyarakat) dan Tabel Runtutan Kepala Desa di Desa Nanjung

1. Keadaan Geografis
Desa Nanjung terbagi kedalam 4 Dusun, 10 Rukun Warga (RW) dan 62 Rukun Tetangga (RT). Nama-nama Kampung yang ada di Desa Nanjung adalah Jati, Sukabirus, Cibisoro dan Daraulin.
Yang termasuk dalam Kampung Jati meliputi wilayah RW. 01, 02, 03 dan 10. Kampung Sukabirus meliputi wilayah RW. 04, 05, dan 09. Kampung Cibisoro meliputi RW. 08. Sementara Kampung Daraulin meliputi wilayah RW. 06 dan 07.
Luas wilayah menurut penggunaan lahan mencakup luas pemukiman (50% atau + 34.493,5 ha), luas persawahan (30% atau + 20.696,1 ha) dan luas prasarana umum lainnya (20% atau + 13.797,4 ha).
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pemerintahan Desa Nanjung bahwa 30% lahan pertanian yang ada di Desa Nanjung, 85% telah dijual dan kepemilikannya berpindah ke tangan orang-orang dari luar Desa Nanjung (milik pabrik) atau biasa disebut dengan “tanah petrik”
Jarak orbitasi antara Desa Nanjung dengan Ibu Kota Kecamatan + 3 Km dapat ditempuh dengan jalan kaki (+ 30 menit) atau menggunakan kendaraan bermotor (+ 15 menit), sementara jarak Desa Nanjung dengan Ibu Kota Kabupaten + 14 Km dapat ditempuh dengan jalan kaki (+ 90 menit) atau menggunakan kendaraan bermotor (+ 30 menit), dan jarak Desa Nanjung dengan Ibu Kota Propinsi + 35 km dapat ditempuh dengan sepeda motor (+ 45 menit) atau angkutan umum (+ 90 menit).
Batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah utara dengan Desa Margaasih Kecamatan Margaasih.
b. Sebelah selatan dengan Desa Gajah Mekar Kecamatan Kota Waringin.
c. Sebelah timur dengan Desa Cigondewah Hilir Kecamatan Margaasih.
d. Sebelah barat dengan Desa Jelegong Kecamatan Kota Waringin.

Gambaran wilayah Desa Nanjung dapat dilihat melalui peta berikut ini :


Gambar 1
Peta Wilayah Desa Nanjung Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung

Sumber : Foto Peta Desa Nanjung

2. Keadaan Demografi
Masyarakat Desa Nanjung memiliki beragam karakteristik penduduk berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan mata pencaharian. Data mengenai kependudukan diperoleh melalui Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008.
a. Komposisi Penduduk menurut Usia dan Jenis Kelamin
Sesuai hasil data yang diperoleh dari Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008, bahwa penduduk Desa Nanjung berjumlah 15.362 jiwa, yang terdiri dari 4.492 Kepala Keluarga, dengan jumlah laki-laki 7.960 jiwa dan perempuan 7.402 jiwa dengan komposisi sebagai berikut :
Tabel 2
Komposisi Penduduk Desa Nanjung menurut Usia dan Jenis Kelamin
NO USIA (TAHUN) JENIS KELAMIN JUMLAH PERSENTASE
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 0 – 1 108 84 192 1,25%
2 1 – 5 694 525 1.219 7,94%
3 6 – 15 1.302 984 2.286 14,88%
4 16 – 21 744 788 1.532 9,97%
5 22 – 25 540 521 1.061 6,91%
6 26 – 30 524 581 1.105 7,19%
7 31 – 35 473 534 1.007 6,56%
8 36 – 40 520 480 1.000 6,51%
9 41 – 45 515 520 1.035 6,74%
10 46 – 50 575 609 1.184 7,71%
11 51 – 55 620 645 1.265 8,23%
12 56 – 60 519 546 1.065 6,93%
13 61 – 65 258 222 480 3,12%
14 > 66 568 363 931 6,06%
JUMLAH 7.960 7.402 15.362 100,00%
Sumber : Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbanyak adalah usia 6 – 15 tahun mencapai 14,88% (usia sekolah). Ini merupakan salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam pembangunan Desa Nanjung di masa yang akan datang, khususnya dalam sumber daya manusia (pendidikan).
b. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan
Komposisi penduduk Desa Nanjung menurut Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3
Komposisi Penduduk Desa Nanjung menurut Tingkat Pendidikan
NO TINGKATAN PENDIDIKAN JENIS KELAMIN JUMLAH PERSENTASE
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 Tidak Sekolah 280 334 614 7,93%
2 Belum Sekolah 363 309 672 8,68%
3 Tidak Tamat SD 663 506 1.169 15,11%
4 Tamat SD 512 431 943 12,19%
5 Tidak Tamat SLTP 216 284 500 6,46%
6 Tamat SLTP 710 812 1.522 19,67%
7 Tidak Tamat SLTA 248 217 465 6,01%
8 Tamat SLTA 563 431 994 12,85%
9 Tamat D-I 208 212 420 5,43%
10 Tamat D-II 116 86 202 2,61%
11 Tamat D-III 86 113 199 2,57%
12 Tamat S-1 17 7 24 0,31%
13 Tamat S-2 11 3 14 0,18%
JUMLAH 3.993 3.745 7.738 100,00%
Sumber : Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008
Berdasarkan tabel 3, menunjukkan bahwa sejumlah 19,67% atau 1.522 jiwa penduduk Desa Nanjung berlatar belakang pendidikan SLTP. Sementara disisi lain sejumlah 42,69% atau 3.226 jiwa berada dibawah tingkat SLTP. Tingkat pendidikan yang rendah akan mempengaruhi pola kemampuan berpikir dan berusaha dalam memperoleh pekerjaan.
c. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian
Komposisi penduduk Desa Nanjung menurut jenis mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut ini : 
Tabel 4
Komposisi Penduduk Desa Nanjung menurut Jenis Mata Pencaharian
NO MATA PENCAHARIAN JENIS KELAMIN JUMLAH PERSENTASE
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 Petani 1.527 1.527 21,80%
2 Buruh Tani 1.199 754 1.953 27,88%
3 Buruh Migran 17 23 40 0,57%
4 PNS/TNI/POLRI 158 111 269 3,84%
5 Pengrajin 62 33 95 1,36%
6 Pedagang 299 219 518 7,39%
7 Montir 43 43 0,61%
8 Tenaga Medis - 46 46 0,66%
9 PRT - 33 33 0,47%
10 Pensiunan 127 38 165 2,36%
11 Pengusaha 193 - 193 2,75%
12 Notaris 1 - 1 0,01%
13 Dukun Paraji - 11 11 0,16%
14 Jasa Pengobatan Alternatif 1 - 1 0,01%
15 Seniman 2 1 3 0,04%
16 Karyawan Perusahaan 1.111 997 2.108 30,09%
JUMLAH 4.740 2.266 7.006 100,00%
Sumber : Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008
Tabel 4 menunjukkan bahwa sejumlah 30,09% atau 2.108 jiwa penduduk Desa Nanjung bekerja sebagai karyawan perusahaan. Ini menandakan bahwa penduduk Desa Nanjung mampu mengakses sistem sumber lain (perusahaan) sebagai tempat bekerja.
Namun disisi lain sejumlah 49,67% atau 3.480 jiwa penduduk Desa Nanjung mengandalkan lahan pertanian sebagai mata pencaharian untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dapat disimpulkan bahwa Desa Nanjung merupakan daerah agraris, dimana sebagian besar masyarakatnya lebih banyak melakukan kegiatan dibidang pertanian.
Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara bahwa penduduk yang bekerja sebagai buruh tani memperoleh upah sebesar Rp. 25.000,-/hari dengan waktu efektif bekerja 10 s/d 14 hari, sehingga pendapatan yang mereka peroleh dalam satu bulan sebesar Rp. 250.000,-. Ini menandakan bahwa posisi tawar mereka dalam bidang pertanian sangat rendah, apabila diukur dengan Upah Minimum Propinsi Jawa Barat tahun 2009 sebesar Rp. 628.191,15,-. Sementara bila diukur dengan standar pemenuhan kebutuhan hidup layak di Jawa Barat sebesar Rp. 731.68,-. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang bekerja dibidang pertanian (khususnya buruh tani) masih berada dibawah upah minimum untuk memenuhi standar kebutuhan hidup layak.
3. Kondisi Sosiografis
Masyarakat islami dan memegang teguh adat sunda merupakan salah satu ciri dari masyarakat Desa Nanjung. Aspek-aspek yang dapat menggambarkan kehidupan sosial masyarakat setempat adalah :
a. Institusi/Kelembagaan lokal
Institusi/Kelembagaan lokal merupakan kelompok atau group yang bersifat nonformal, didirikan oleh dan untuk para anggota serta masyarakat setempat. Alasan utama pembentukan institusi/kelembagaan lokal ini didasari oleh kepentingan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan atau oleh tujuan-tujuan peningkatan solidaritas dan partisipasi warga masyarakat. Batasan-batasan organisasi ini kerapkali kurang jelas, karena keterlibatan anggotanya tidak bersifat formal melainkan informal dan sukarela (stelsel pasif).
Institusi/kelembagaan lokal yang ada di Desa Nanjung seperti :
1) Kelompok pengajian
Masyarakat Desa Nanjung yang identik dengan masyarakat islami dapat dilihat dari aktifnya berbagai kelompok pengajian. Kegiatan pengajian ini dikelompokkan berdasarkan usia yakni kelompok pengajian anak-anak, remaja, bapak-bapak dan ibu-ibu. Pengajian dilakukan dengan waktu yang berbeda, misalnya saja untuk anak-anak dilakukan pada ba’da shalat subuh dan maghrib; untuk remaja dilakukan pada malam senin dan malam minggu; untuk bapak-bapak dilakukan pada malam rabu dan malam jum’at; untuk ibu-ibu dilakukan pada hari selasa (siang hari) dan malam kamis.
Sementara ada juga kelompok pengajian yang tidak dibedakan berdasarkan usia, yang biasa disebut pengajian umum. Pengajian ini dilakukan ba’da magrib, malam jum’at dan malam selasa.
2) Kelompok Arisan
Selain kelompok pengajian yang dijadikan sebagai salah satu media silaturahmi dan peningkatan pengetahuan dalam bidang agama, ada media lain yang sejenis di Desa Nanjung yang bertujuan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, yakni kelompok arisan. Kelompok arisan yang masih aktif dilaksanakan adalah kelompok arisan ibu-ibu yang ditujukan sebagai media untuk menabung dalam jangka pendek, ajang silaturahmi diantara sesama warga dan media dimana para anggotanya dapat memanfaatkan dana sosial apabila terkena musibah.
3) Dewan Kemakmuran Masjid (DKM)
Kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid yang ada di Desa Nanjung biasanya dipegang oleh mereka yang ada di daerah setempat dan aktif dalam kegiatan peribadatan dengan tugas dan fungsi sebagaimana tugas dan fungsi DKM secara umum yakni melaksanakan kegiatan dakwah, majelis ta’lim (pengajian), Lembaga Amal, Zakat, Infaq dan Shadaqoh (LAZIS), mengurus kematian dan kegiatan ibadah lainnya.
4) Program Kesejahteraan Keluarga (PKK)
Institusi/kelembagaan yang tergabung dalam wadah PKK di Desa Nanjung senantiasa aktif di masyarakat, salah satunya dalam bidang kesehatan yakni Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) diperuntukkan bagi kesehatan ibu dan anak. Posyandu di Desa Nanjung dilakukan secara aktif oleh para kader PKK yang kegiatannya antara lain penimbangan balita, pemeriksaan ibu hamil dan pemberian makanan tambahan bergizi bagi balita yang rutin dilakukan sebulan sekali di tiap RW. Selain kegiatan tersebut, PKK juga melakukan kegiatan pelestarian lingkungan hidup dengan melakukan kerja bhakti untuk kebersihan lingkungan dan penanaman tanaman obat keluarga (TOGA) di lingkungan setempat.
5) Kelompok Kepemudaan
Kelompok kepemudaan di Desa Nanjung yang biasa disebut sebagai Karang Taruna merupakan salah satu wadah pengembangan kelompok pemuda yang didalamnya mencakup kegiatan yang bersifat edukatif dan rekreatif. Sebagai contoh salah satunya dalam bidang olahraga seperti bola volley dan sepak bola. Kepengurusan kelompok pemuda di Desa Nanjung masih aktif, namun dalam implementasinya masih belum rutin dan hanya melakukan pada waktu-waktu tertentu seperti kegiatan 17 Agustus-an. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pembinaan dari pemerintah Desa dan minimnya pendanaan untuk melaksanakan kegiatannya.

b. Nilai Budaya
Rafael Raga Maran menyatakan bahwa kebudayaan adalah cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinganan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sebagai proses humanisasi.
Unsur-unsur kebudayaan menurut C Kluckhohn adalah : peralatan dan perlengkapan hidup; mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi; sistem kemasyarakatan; bahasa; kesenian; sistem pengetahuan dan religi.
Nilai budaya yang diperoleh praktikan melalui wawancara dan observasi lapangan di Desa Nanjung adalah :
1) Bahasa
Masyarakat Desa Nanjung dalam kesehariannya menggunakan bahasa sunda yang sering disebut juga sebagai bahasa ibu. Penggunaan bahasa ini biasanya disosialisasikan secara turun temurun didalam keluarga.
2) Sistem kemasyarakatan
Kerukunan dan kebersamaan serta gotong-royong antar penduduk masih menjadi ciri masyarakat Desa Nanjung, salah satunya dapat dilihat dengan adanya partisipasi yang spontan (contohnya menjenguk apabila ada yang sakit dan melayat apabila ada yang meninggal dunia dengan memberikan bantuan materi maupun non materi).
3) Mata pencaharian hidup
Sistem mata pencaharian hidup masyarakat Desa Nanjung paling dominan berkenaan dengan sektor pertanian (petani dan buruh tani dengan jumlah sekitar 49,67%) (lihat tabel 4). Hal ini dicerminkan dengan sebagian besar luas wilayahnya merupakan daerah pertanian atau daerah yang berbasis agraris/agriculture base. Artinya bahwa struktur perekonomian Desa Nanjung lebih dominan pada sektor pertanian, walaupun masih banyak mata pencaharian hidup yang digeluti oleh masyarakat Desa Nanjung.
4. Sarana dan Prasarana
Sarana merupakan sesuatu yang dapat dipakai atau digunakan sebagai media dalam mencapai tujuan tertentu, sedangkan prasarana adalah suatu perangkat penunjang utama suatu proses usaha agar maksud dan tujuan dapat tercapai.
Sarana dan prasarana yang ada di Desa meliputi sarana dan prasarana dalam bidang pemerintahan, komunikasi, peribadatan, olah raga, kesehatan dan pendidikan.
Tabel 5
Prasarana yang ada di Desa Nanjung
NO ASPEK JENIS PRASARANA JUMLAH
1. Pemerintahan Kantor Pemerintahan Desa 1 unit
2. Komunikasi Wartel 6 unit
3. Peribadatan Masjid 31 buah
Mushola 14 buah
4. Olah Raga Lap. Bulu tangkis 1 buah
Lap. Voley 6 buah
Tenis Meja 6 buah
5. Kesehatan Puskesmas Pembantu 1 unit
Balai Pengobatan 1 unit
Posyandu 10 unit
Rumah Bersalin 1 unit
6. Pendidikan Sekolah Dasar 9 buah
Pendidikan Agama 3 buah
Sumber : Buku Potensi dan Perkembangan Desa Nanjung Tahun 2008

Berdasarkan data yang diperoleh dari Desa Nanjung (Kasie Kesra), sebaran keluarga miskin adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Jumlah Penduduk Miskin di Desa Nanjung
NO LOKASI (RW) JUMLAH PERSENTASE
KK MISKIN KK
1. 01 129 447 28,86%
2. 02 168 719 23,37%
3. 03 143 893 16,01%
4. 04 147 493 29,82%
5. 05 80 206 38,83%
6. 06 136 490 27,76%
7. 07 115 318 36,16%
8. 08 145 359 40,39%
9. 09 40 186 21,51%
10. 10 35 177 19,77%
Sumber : Data Penerima BLT Desa Nanjung Tahun 2008

Tabel 6 menjelaskan bahwa persentase keluarga miskin yang ada tiap-tiap RW di Desa Nanjung yang terbanyak adalah RW. 08. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh jahit topi dan buruh tani.