Senin, 05 Mei 2014

POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN



POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Oleh Bambang Rustanto
Bagian ke-10- Mata Kuliah Penelitian Peksos Kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif,populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi itu. Populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu,jumlah pegawai pada organisasi tertentu, jumlah guru dan murid di sekolah tertentu dan sebaginya.
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi,tetapi oleh spradley dinamakan “social situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu : tempat(place), pelaku(actors) dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial tersebut, dapat di rumah berikut keluarga dan aktivitasnya atau orang-orang di sudut-sudut jalan yang sedang mengobrol,dll. Situasi sosial tersebut dapat dinyatakan sebagai obyek penelitian yang ingin diketahui “apa yang terjadi didalamnya”. Tetapi sebenarnya obyek penelitian kualitatif bukans emata-mata pada situasi sosial yang terdiri dari 3 elemen tersebut melainkan bisa juga peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan , binatang.kendaraan.dll.
Penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi karena mengambil dari kasus tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan di populasi , tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki persamaan dengan situasi sosial yang diteliti.
Sampel dalam penelitian kualitatif tidak dinamakan responden tetapi sebagai narasumber,informan,dll. Sampel dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik tetapi sampel teoritis karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori.
2.2 Teknik Pengambilan Sampling Dalam Penelitian Kualitatif
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel . Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian , terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan secara skematis .
A.  Jenis-Jenis Teknik Pengambilan Sampling
1.    Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik probability sampling diantaranya: simple random sampling, proportionate statisfied random sampling, disproportionate statisfied random sampling, area sampling(Sampling menurut daerah).
a.       Simple Random Sampling . Dikatakan sederhana karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak.
b.      Stratified Random Sampling . Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Misal suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstarata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1= 45, S2=30, ST=900, SMEA= 400, SD=300.
c.       Cluster Sampling (area sampling) . Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Misal penduduk suatu negara, propinsi, atau kabupaten. Untuk menentuka jumlah penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

2.    NonProbability Sampling
Teknik yang pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/ kesemapatan sama sekali bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan dalam purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengampilan sample sumber data dengan pertimbanagn tertentu. Misal , orang tersebut dianggap apling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit , lama-lama menjadi besar. Hal dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu belum mampu memberikan data yang memuaskan , maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah informan semakin banyak. Seperti bola salju yang menggelinding lama-lama menjadi besar.
Lincoln &guba(1985) penenentuan sampel dalam penelitian kualitatifsanagt berbeda dengan penentuan sampel dalam penenlitian konvensional(kuanti). Speseifikasi sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Ciri-ciri sampling purposive yaitu : 1) sementara 2) menggelinding seperti bola salju 3) disesuaikan dengan kebutuhan 4) dipilih sampai jenuh. Jadi , penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu :
1.      peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan;
2.      berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari informan sebelumnya itu, peneliti dapat mentapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data yang lebih lengkap. Unit informan yang dipilih makin lama makin terarah sejalan dengan makin terarahnya fokus penelitian.
Penentuan unit sampel dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf redudancy atau datanya telah jenuh, ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru. Artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti.
Dalam proposal penenelitian kualitatif , sampel sumber data yang dikemukakan masih bersifat sementara. Namun demikian pembuat proposal perlu menyebutkan siapa-siapa yang kemungkinan akan digunakan sebagai sumber data. Misalnya akan meneliti gaya belajar anak jenius, maka kemungkinan sampel sumber datanya adalah orang-orang yang dianggap jenius, keluarga, guru yang membimbing, serta kawan-kawan dekatnya. Selanjutnya misal , akan meneliti tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka kemungkinan sampel sumber datanya adalah pimpinan, bawahan, atasan, teman sejawat, yang dianggap tahu tentang gaya kepemimpinan.
Sanafiah Faisal (1990) situasi sosial untuk sampel awal disarankan didalamnya menjadis emacam muara dari banyak domain lainnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa, sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.      mereka yang menguasai atau memahami sesuati melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui , tetapi juga dihayatinya
2.      mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti
3.      mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi
4.      mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil kemasanyya sendiri
5.      mereka yang pada mulanya tergolong cukup asing dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber
jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data.

                                                                                   DAFTAR PUSTAKA
}  Shulamit Reinharz, 2005 : Feminist Methods In Social Research, Oxford : Oxford University  Press
}  Denzin Norman, 2004 : Handbooks of Qualitative Research  , London : Sage
}  Rustanto Bambang, 2008 : Perempuan di Ruang Publik (Kajian Perubahan Pemerintahan Lokal dan Dampaknya Terhadap Posisi Perempuan di India dan Indonesia), Jakarta :  Universitas Indonesia



PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF



TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Oleh Bambang Rustanto
Bagian Ke-8- Mata Kuliah Penelitian Peksos Kuantitatif

Adapun teknik pengumpulan data  sebagai berikut:
1.      Wawancara Mendalam (in-depth interview)
Wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilakukan secara mendalam terhadap informan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Wawancara ini dilakukan dengan menggali informasi guna diperoleh data secara jelas sehingga dapat melengkapi temuan-temuan dari penelitian. Cara yang dilakukan peneliti dalam melakukan wawancara mendalam adalah sebagai berikut:
a.       Peneliti melakukan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan dengan berpedoman kepada instrumen.
b.      Dalam melakukan wawancara, peneliti mendengar secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan. Dalam teknik ini peneliti mampu bertanya sebanyak-banyaknya agar diperoleh data atau informasi yang lengkap dan rinci.

2.      Observasi Partisipatif
Stainback dalam Sugiyono (2005: 64) menyatakan bahwa dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan informan dalam hal ini . Peneliti melakukan teknik observasi dengan cara melihat secara langsung
.
3.      Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah pengumpulan data dengan mempelajari data-data yang ada.  Peneliti melakukan studi dokumentasi dengan cara mempelajari data-data

                                                                         DAFTAR PUSTAKA
}  Shulamit Reinharz, 2005 : Feminist Methods In Social Research, Oxford : Oxford University  Press
}  Denzin Norman, 2004 : Handbooks of Quantitative Research  , London : Sage
}  Rustanto Bambang, 2008 : Perempuan di Ruang Publik (Kajian Perubahan Pemerintahan Lokal dan Dampaknya Terhadap Posisi Perempuan di India dan Indonesia), Jakarta :  Universitas Indonesia


MASALAH PENELITIAN KUANTITATIF



MASALAH PENELITIAN KUANTITATIF
Oleh Bambang Rustanto
Bagian Ke-Tujuh Mata Kuliah Metode Penelitian Peksos Kuantiatif

Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Masalah penelitian juga disebut dalam istilah lain, yaitu objek atau topik penelitian. Objek atau topik penelitian disebut juga masalah penelitian karena objek penelitian itu memang merupakan suatu masalah, suatu problema yang harus dipecahkan atau diatasi melalui penelitian ilmiah.
Penelitian itu dimaksudkan untuk menjawab keingintahuan akan sesuatu yang belum diketahui, benar tidaknya sesuatu kesimpulan teoritik atau hipotesa, baik tidaknya sesuatu keadaan, apa yang menyebabkan sesuatu gejala terjadi, bagaimana kecenderungan gejala tertentu akan terjadi di suatu masa yang akan datang, bagaimana mengatasi sesuatu keadaan yang di anggap “tidak baik’, dan lain-lain sebagainnya.
Jadi penelitian itu bermula dari suatu masalah. Masalah itu ingin kita jawab, ingin kita pecahkan, ingin kita atasi, ingin kita cari jalan keluarnya, secara ilmiah. Penelitian-penelitian sosial tidak mudah memuhi persyaratan. Kehidupan sosial demikian rumit, kompleks,. Karenanya para calon peneliti harus berhati-hati benar.
Menurut pendapat  Prof. DR. Lexy J.Moloeng.MA dalam buku nya Metodelogi Penelitian Kualitatif (edisi revisi)
Masalah disini lebih dari sekedar pertanyaan, dan jelas berbeda dengan tujuan.
Ada 3 macam cara menentukan masalah:
a.       Secara diskusi : cara ini cara penyajianya adalah dengan dalam bentuk pernyataan secara deskriptif namun perlu di ikuti dengan pertanyaan- pertaanyaan penelitian.
b.      Secara proposional : secara langsung menghubungkan faktor-faktor dalam hubungan logis dan bermakna.dalam hal ini ada yang disajikan dalam bentuk uraian atau deskriptif dan ada pula yang langsung dikemukakan dalam bentuk pertanyaan pertanyaan penelitian.
c.       Secara gabungan : terlebih dahulu disajikan dalam bentuk diskusi, kemudian ditegaskan lagi dalam bentuk proposional.

Sedangkan menurut  Wahyu Purhantara dalam bukunya Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Bisnis. Masalah berperan dalam pengidentifikasikan komponen – komponen yang spesifik dalam problem penelitian, hanya masalah penelitian yang ditentukan dengan jelas saja yang dapat didesain.

Pendapat  Prof. Dr. Sugiyono dalam buku nya Metode Penelitian kuantitatif Kualitatif. Masalah dalam penelitian kualitatif akan terjadi tiga kemungkinan terhadap masalah dan dibawa oleh peneliti dalam penelitian
a.       Masalah yang dibawa oleh peneliti tetap sehingga sejak awal sampai akhir tetap sama. dengan demikian judul proposal dengan judul laporan penelitian sama.
b.      Masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah disiapkan, dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul peneliti cukup disempurnakan.
c.       Masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total sehingga harus ganti masalah, dengan demikian judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dan judulnya diganti.

Pendapat M. Aziz Firdaus dalam buku nya Metode Penelitian Kualitatif, dalam penelitian kualitatif  “masalah” yang akan dipecahkan melalui penelitian harus jelas, spestik yang dibawa oleh peneliti masih remang-remang bahkan gelap komples dan dinamis, oleh karena itu masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat  masih bersifat sementara. Tetantive dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada dilapangan.

Pendapat Burhan. B (ed) dalam buku nya Metode Penelitian Kualitatif, Masalah itu hendak nya dituangkan dalam desain yang cermat dengan uraian yang teliti mengenai variabel –variabel serta menggunakan metode-metode yang paling serasi. Dan masalah juga hendaknya memanfaatkan konsep- konsep teori atau data dan teknik – teknik.
                                                           
Fokus Judul Penelitian
Menurut pendapat  Prof. DR. Lexy J.Moloeng.MA dalam buku nya Metodologi Penelitian kualitatif(edisi revisi), fokus judul pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperoleh melalui kepustakaan ilmiah atau kepustakaan lainya.
Menurut  Wahyu Purhantara dalam bukunya Metodelogi Penelitian Kualitatif untuk Bisnis, fokus judul penelitian merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif maleong (2004) memberikan arahan didalam menentukan batasan masalah. Penelitian tidak mungkin dimulai dari sesuatu yang kosong, tetapi dilakukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya masalah, implikasinya, peneliti seyogyanya membatasi masalah penelitianya  yang bertumpu pada fokus, hal ini yang mempermudah peneliti didalam mencari acuan teori.
Pendapat  Prof. Dr. Sugiyono dalam buku nya Metode Penelitian kualitatif, karena terlalu luasnya masalah , maka dalam penelitian kualitatif peneliti akan membatasi penelitian dalam satu atau lebih variable. Dengan demikian dalam penelitian kualitatif ada yang disebut dengan batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum.
Pembatasan dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi dan feasebilitas masalah yang akan dipecahkan, selain juga faktor keterbatasan tenaga, dana dan waktu.
Pendapat M. Aziz firdaus dalam buku nya Metode Penelitian Kualitatif Spladley dalam sanapiah faisal (1988) mengemukakan empat alternative untuk menetapkan fokus judul penelitian yaitu:
a.       Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informal
b.      Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain.
c.       Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan judul.
d.      Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dan teori- teori yang telah ada.

Menurut Burhan. B (ed) dalam buku nya Metode Penelitian Kualitatif, Fokus judul penelitian dalam penelitian kualitatif pada umumnya disusun berdasarkan pada masalah yang telah ditetapkan. Masalah sifatnya sementara dan holistic (menyeluruh) dan kemungkinan bisa berkembang setelah memasuki lapangan penelitian.


Prinsip-prinsip Perumusan Masalah
Prinsip perumusan masalah adalah sebagai pegangan bagi para peneliti dalam rangka merumuskan masalah yang pada dasarnya bersifat luwes, artinya dapat atau tidaknya digunakan si peneliti untuk memanfaatkannya. Pengajuan prinsip perumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Prinsip yang berkaitan dengan teori-teori dasar.
Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Sehingga, Perumusan masalah adalah sekedar arahan, pembimbing, atau acuan pada usaha untuk menemukan masalah yang sebenarnya.
  1. Prinsip yang berkaitan dengan maksud perumusan masalah.
Perumusan masalah untuk menunjang upaya penemuan dan penyusunan teori substantif, yaitu teori yang bersumber dari data. Masalah yang dirumuskan dan disempurnakan akan berfungsi sebagai patokan untuk mengadakan analisis data, kemudian menjadi Hipotesis dengan teori yang ada.
  1. Prinsip hubungan faktor.
Fokus sumber masalah penelitian merupakan rumusan masalah yang terdiri dari dua faktor atau lebih yang menghasilkan tanda tanya atau kebingungan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman atau fenomena, yang memuat tiga aturan diantaranya:
a.       Adanya dua atau lebih faktor
b.      Faktor-faktor dihubungkan dalam suatu hubungan yang logis atau bermakna
c.       Pemecahan atau upaya untuk menjawab tanda tanya atau kebingungan.
  1. Fokus Sebagai wahana untuk membatasi studi.
Penelitian kualitatif bersifat terbuka, artinya tidak mengharuskan peneliti menganut suatu orientasi teori atau paradigma tertentu sebagai pilihan subjektif berupa paragidma ilmiah atau alamiah. Perumusan masalah bagi soerang peneliti akan mengarahkan dan membimbingnya di lapangan untuk memecahkan masalah yang ditelitinya.

  1. Prinsip yang berkaitan dengan kriteria inklusi-eksklusi.
Perumusan fokus baik dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal terjun kelapangan melalui pengamatan berperanserta, wawancara mendalam, analisis dokumen dan sebagainya.
  1. Prinsip yang berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah.
Ada tiga bentuk perumusan masalah
a.       Secara diskusi, adalah dengan dalam bentuk pernyataan secara deskriptif yang disertai denga pertanyaan penelitian
b.      Proposisional, adalah langsung menghubungkan faktor-faktor dalam hubungan logis dan bermakna yang disajikan dalam bentuk uraian atau deskriptif
c.       Secara gabungan, adalah menyajikannya dalam bentuk diskusi dan ditegaskan lagi dalam bentuk proposisional.
  1. Prinsip sehubungan dengan perumusan masalah.
Maksudnya adalah kedudukan untuk rumusan masalah diantara penelitian lainnya yang erat kaitannya dengan perumusan masalah berupa latar belakang, masalah, tujuan, dan acuan teori dan metode penelitian.
  1. Prinsip yang berkaitan dengan hasil penelaahan kepustakaan.
Prinsip yang perlu dipegang oleh seorang peneliti adalah bahwa seorang peneliti harus membiasakan diri agar dalam merumuskan masalah, senantiasa disertai dengan penelaah kepustakaan yang terkait.
  1. Prinsip yang berkaitan dengan penggunaan bahasa.
Pelaporan hasil penelitian, peneliti harus mempertimbangkan ragam pembaca sehingga rumusan masalah yang akan diajukan nantinya dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan keumuman para pembaca.
2.3 Model dan Bentuk Perumusan Masalah
A.     Model Perumusan Masalah
Salah satu teknik yang sering digunakan dalam proses penelitian adalah membuat model obyek yang akan diselidiki. Karena model itu merupakan tiruan kenyataan, maka ia harus dapat menggambarkan berbagai aspek kenyataan tiruan kenyataan, dan dapat menggambarkan berbagai aspek yang diselidiki. Salah satu alasan utama pengembangan model adalah untuk lebih memudahkan pencarian variabel-variabel yang penting dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
Teknik perumusan masalah, khususnya untuk kawasan penelitian kualitatif, dapat diatasi dengan menelaah, mempelajari dan memahami model-model perumusan masalah, kemudian mengadakan latihan sendiri. Yang termasuk kedalam model perumusan masalah ialah mencari tema penelitian dan menentukan rumusan masalah.
B.     Bentuk Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan bentuk pertanyaan yang dapat memandu peneliti untuk mengumpulkan data di lapangan. Berdasarkan level of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif.
1.      Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Contoh : Bagaimanakah profil pendidikan di Indonesia ?
2.      Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain. Contoh : adakah perbedaan dinamika murid dikelas yang diajar dengan metode ceramah dan demonstrasi ?
3.      Rumusan masalah asosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah asosiatif dibagi menjadi tiga yaitu, hubungan simetris, kausal dan reciprocal atau interaktif.
Hubungan simetris adalah huubungan suatu gejala yang munculnya bersamaan sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibat atau interaktif. Contoh : adakah hubungan antara kupu-kupu yang datang ke rumah dengan kedatangan tamu ? Adakah hubungan antara kejatuhna binatang cicak dengan musibah keluarga ? Adakah hubungna natar menabrak kucing dengan kemungkinan mendapat kecelakaan ? Adakah hubungan warna rambut dengan kecerdasan ? Adakah hubungan antara proses sunat (senin kamis) dengan hasil belajar anak ?
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab dan akibat. Hubungan ini merupakan salah satu asumsi ilmu dalam metode kuantitatif, dimana segala sesuatu itu ada, karena ada sebabnya. Dengan demikian paradigma penelitian selalu ada variable dependen sebagai akibat. Contoh : adakah pengaruh insentif terhadap kinerja guru ? Adakah pengaruh gaya kepemimpinan dengan kedisiplinan murid ?
Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif. Contoh : Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jenjang pendidikan masyarakat (hubungan ini merupakan hubungan interaktif, karena dengan adanya radio, maka masyarakat lebih terbuka mendapat berbagai informasi. Dengan informasi ini, maka aspirasi untuk memperoleh pendidikan semakin tinggi. Selanjutnya dengan pendidikan yang tinggi, akan mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, sehingga dapat digunakan untuk membeli radio). Bagaimanakah antara peran orangtua, guru dan murid dalam pembentukan kepribadian anak ?
            Dalam penelitian kualitatif seperti yang tekah dikemukakan, rumusan masalah yang merupakan focus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian masuk lapangan atau sosial tertentu. Namun demikian setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk lebih memahami gejala yang masih remang-remang, tidak teramati, dinamis dan kompleks, sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas apa yang ada dalam situasi sosial tersebut. Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitinya kemungkinan belum memiliki gambaran yang jelas tentang aspek-aspek masalah yang akan ditelitinya. Ia akan mengembnagkan focus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design” (Lincoln dan Guba, 1985: 102).

DAFTAR PUSTAKA
}  Shulamit Reinharz, 2005 : Feminist Methods In Social Research, Oxford : Oxford University  Press
}  Denzin Norman, 2004 : Handbooks of Quantitative Research  , London : Sage
}  Rustanto Bambang, 2008 : Perempuan di Ruang Publik (Kajian Perubahan Pemerintahan Lokal dan Dampaknya Terhadap Posisi Perempuan di India dan Indonesia), Jakarta :  Universitas Indonesia