Kamis, 10 Desember 2009

KESETIAKAWAN SOSIAL NASIONAL

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul menghadiri Acara puncak Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Tahun 2009 di Payakumbuh yang kita cintai ini. Solawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabat serta para pengikutnya sampai akhir jaman.

Hadirin sekalian,

Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Tahun ini mengangkat tema: Memperkuat Kesetiakawanan Sosial untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial. Tema ini mengandung pesan yang sangat penting, pertama, kita harus mewujudkan kesejahteraan sosial sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Kedua, kita harus memperkuat kesetiakawanan sosial untuk mewujudkan kesejahteraan sosial tersebut.

Kesejahteraan sosial sebagai suatu kondisi harus dipandang sebagai hak dan tanggungjawab setiap warga negara untuk mewujudkannya. Tentu saja dalam kehidupan bermasyarakat sebagaimana kita saksikan terdapat warga masyarakat kurang beruntung yang kurang mampu mencapai kesejahteraan sosial karena berbagai hambatan dan kesulitan. Karenanya kesejahteraan sosial menjadi kewajiban sektor pelayanan publik (pemerintah), sektor partisipatori (masyarakat) maupun sektor private (dunia usaha) untuk berupaya mewujudkannya. Dengan kata lain, kesejahteraan sosial dicapai oleh dan untuk semua. Sementara itu, kesetiakawanan sosial harus dipandang sebagai nilai luhur yang menjiwai dan mendasari sikap setiap pelaku pembangungan kesejahteraan sosial.

Hadirin yang saya muliakan,

Kita harus paham betul makna dari nilai kesetiakawanan sosial. Saya berpandangan bahwa kesetiakawanan sosial merupakan keyakinan tentang apa yang baik dan layak dilakukan terhadap orang lain, tidak saja terhadap orang yang kurang beruntung melainkan juga terhadap sesama pada umumnya. Setiakawan secara sosial pada dasarnya harus terjadi pada keadaan susah maupun senang, namun demikian kesetiakawanan sosial nampaknya lebih dimaksudkan sebagai kepedulian terhadap masalah dan penderitaan orang lain. Nilai kesetiakawanan sosial kemudian diwujudkan dalam sikap dan perilaku gotong royong, kebersamaan, dan saling tolong menolong, dan lebih dari itu semua, kesetiakawanan sosial telah menjadi sumber jiwa dan semangat nasionalisme dan patriotisme sehingga menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dari penjajahan.

Hari Kesetiakawanan Sosial itu sendiri lahir di Yogjakarta pada tanggal 20 Desember 1948 ketika rakyat bergotongroyong membantu pejuang kemerdekaan melawan agresi Belanda. Sejarah panjang bangsa Indonesia telah menunjukkan bahwa kesetiakawanan sosial terbentuk dari rasa senasib seperjuangan dari para pejuang dan pahlawan daerah dalam situasi penindasan kaum penjajah sehingga pada akhirnya mereka bahu membahu bersatu dan mencapai kemerdekaan.

Ditengah suasana kemerdekaan saat ini, kita selayaknya berkaca pada pengalaman bahwa kita seharusnya mengembangkan kesetiakawanan sosial dari ragam kedaerahan yang dikreasi dan diinovasi menjadi dasar persahabatan antar daerah, berbaur berdasar rasa senang, saling menerima, saling percaya, respek, saling membantu dan berbagi pengalaman dan perasaan satu sama lain, saling memahami dan merasa bebas mengembangkan diri dalam semangat otonomi daerah yang memungkinkan untuk itu.

Hadirin yang saya muliakan,

Saat ini bangsa Indonesia masih menghadapi banyak masalah sosial antara lain kemiskinan, keterlantaran, ketunaan sosial, kecacatan dan bencana, yang menuntut perhatian dan kepedulian kita semua.
Khusus tentang bencana, Indonesia memang sudah dikenal sebagai wilayah rawan terhadap ancaman berbagai macam bencana. Baru saja kita mengalami bencana gempa bumi yang melanda berbagai daerah mulai Jawa Barat, Sumatera Barat, Sulawesi dan Maluku Utara, Irian Jaya, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, yang kemudian disusul dengan bencana-bencana lainnya di beberapa daerah di tanah air seperti banjir, tanah longsor, gelombang pasang air laut, dan lain-lain.

Berbagai macam bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa, kerusakan dan kerugian harta benda kepemilikan, fasilitas umum dan pemerintahan, serta fasilitas sosial yang tidak sedikit, juga menimbulkan penderitaan sosial psikologis yang mendalam pada saudara-saudara kita. Karenanya pada kesempatan ini, saya ingin mengungkapkan rasa duka cita sedalam-dalamnya atas nasib saudara-saudara kita. Marilah kita berdoa, agar saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, tetap tabah menghadapi cobaan ini. Di samping tentunya jajaran pemerintah terutama Pemerintah Daerah telah dan sedang melakukan langkah-langkah mengatasi bencana tersebut, saya meminta masyarakat di berbagai pelosok tanah air dengan jiwa kesetiakawanan sosial turut memberikan bantuannya dengan tulus.

Hadirin yang saya muliakan,

Tentu saja dengan berbagai bencana yang terjadi tersebut, banyak anggota masyarakat kita yang mengalami penurunan tingkat kesejahteraan sosialnya, bahkan mungkin ada yang sampai mencapai “titik nol”, dalam arti harus membangun kembali assetnya mulai dari awal. Kita pun dapat membayangkan bagaimana nasib saudara-saudara kita yang tergolong kedalam penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) seperti fakir miskin, orang-orang terlantar, penyandang cacat, tuna sosial yang tentunya semakin terpuruk karena bencana. Kemiskinan, kecacatan, rasa kehilangan (grieving) akibat bencana adalah sebagian masalah yang mengancam menurunnya derajat kesejahteraan sosial masyarakat korban bencana. Karenanya kita harus berupaya dan mengupayakan secara bahu membahu agar kesejahteraan sosial masyarakat dapat dipertahankan dan ditingkatkan.

Saudara-saudara yang saya banggakan,

Sebagai umat beragama, selayaknya kita tidak membiarkan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, terlarut dalam duka dan penderitaan. Kita harus memberikan dukungan material, moral, maupun spiritual dengan tetap memberikan harapan dan keyakinan bahwa dibalik berbagai musibah bencana terdapat hikmah yang harus kita raih sehingga pada saatnya dapat mencapai kondisi yang lebih baik. Saya mempunyai keyakinan bahwa salah satu hikmah tersebut adalah semakin menguatnya solidaritas, rasa kebersamaan serta kegotongroyongan di kalangan masyarakat dalam upaya merehabilitasi dan merekonstruksi berbagai kerusakan, kerugian serta penderitaan fisik dan psikologis yang dialami para korban bencana, sehingga masyarakat dapat mencapai suatu kesejahteraan sosial yang lebih baik.

Melalui peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional ini, saya mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia, marilah kita tingkatkan kesetiakawanan sosial kita dengan selalu siap sedia dan setia membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami penderitaan dan kesusahan akibat masalah sosial yang menghimpit mereka. Marilah kita ikuti jejak dan semangat juang para pahlawan yang mendahului kita untuk membangun bangsa ini sehingga kesejahteraan sosial oleh dan untuk semua dapat terwujud di negeri yang kita cintai ini.

Lebih dari itu, saya ingin menyampaikan bahwa kita sedang berada dalam era globalisasi, dimana pengaruh luar dan persaingan antar negara begitu besar. Dalam era globalisasi saat ini, tanpa kesetiakawanan sosial yang kokoh, kita tidak mungkin mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kita harus yakin, bahwa bangsa kita mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dengan modal dasar kesetiakawanan sosial. Saya setuju dengan pernyataan bahwa upaya memperkuat nilai-nilai kesetiakawanan sosial, harus dimulai sejak dini, mulai dari lingkungan sosial terdekat. Kita dapat melakukannya mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan akhirnya pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadirin yang saya muliakan,

Khususnya bagi saudara-saudara kita yang sedang dihimpit masalah dan kesulitan, saya menghimbau agar bersikap aktif dan berupaya sungguh-sungguh untuk mengatasinya, tanpa semata-mata mengharapkan bantuan warga yang lain. Bagaimanapun kita akan berkembang dan maju atas apa yang kita putuskan dan lakukan dengan tanggungjawab sendiri, sementara bantuan orang lain hanyalah bersifat stimulan. Termasuk juga apa yang sudah dan tengah dilakukan pemerintah dan pemerintah daerah saat ini dalam membantu perbaikan rumah yang rusak akibat gempa, saya tegaskan disini “bantuan itu hanyalah bersifat stimulan”. Bagaimana mungkin dengan bantuan yang hanya berjumlah 15 juta rupiah untuk rumah rusak berat, 10 juta rupiah untuk rumah rusak sedang dan 1 juta rupiah untuk rumah rusak ringan, dapat memenuhi semua kebutuhan untuk perbaikan rumah. Bagaimanapun pihak Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal ini memiliki keterbatasan. Karenanya saya pun menghimbau agar pihak-pihak lain seperti kalangan dunia usaha turutserta membantu meringankan kesulitan saudara-saudara kita melalui mekanisme yang mengatur tentang Corporate Social Responsibility (CSR). Ini pun saya pandang merupakan wujud nyata dari kesetiakawanan sosial.
Hadirin yang saya muliakan,

Perlu pula saya sampaikan bahwa dalam membantu saudara-saudara kita yang mengalami masalah dan kesulitan dalam mewujudkan kesejahteraan sosialnya, kita perlu mengacu pada paradigma pertolongan yang dianut profesi pekerjaan sosial yakni “to help people to help themselves” yang artinya kita menolong orang agar dapat menolong dirinya sendiri. Bahkan menurut pandangan saya seharusnya “to help people to help themselves to help others” artinya setelah mampu menolong dirinya sendiri, orang tersebut harus juga menolong orang lainnya yang mengalami masalah dan kesulitan. Inilah saudara-saudara makna dari memperkuat kesetiakawanan sosial.

Untuk bisa mencapai kondisi diatas, kita melaksanakan bentuk kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, dimana telah diluncurkan 3 jenis program sistematis dan simultan untuk masyarakat miskin :

1. Sasaran diibaratkan dengan “diberi ikan”, ini adalah cluster program Bantuan perlindungan sosial rumah tangga miskin (RTS) yang mencakup program Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), Beras Miskin (Raskin), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Bantuan Sosial Korban Bencana, Penyandang cacat dan Lansia.
2. Sasaran diibaratkan “diajari memancing”, ini adalah cluster Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.
3. Sasaran diibaratkan “dibantu untuk punya pancing dan perahu”, ini adalah cluster program Penguatan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hadirin yang saya muliakan,

Untuk mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih, kepada dunia usaha yang telah terlibat dalam pemberdayaan sosial, melalui program Corporate Social Responsibilty (CSR). Saya minta program ini tidak dipandang sebagai pengurangan keuntungan usaha, namun justru CSR harus dianggap sebagai penyertaan/penambahan modal.

Kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi sosial, baik dari dalam maupun luar negeri, serta individu-individu yang telah tergerak untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial, saya juga mengucapkan terima kasih. Sekali lagi saya mengajak, agar implementasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial dapat terus kita lakukan dan tingkatkan sepanjang masa sehingga menjadi sebuah Gerakan Nasional yang nyata.
Akhirnya, melalui Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Tahun 2009, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memperkokoh Gerakan Nasional Kesetiakawanan Sosial.

Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar