Rabu, 23 Desember 2009

METODE PENELITIAN GENDER


METODE PENELITIAN GENDER
OLEH BAMBANG RUSTANTO

A. Metodologi Penelitian.
Penelitian dengan judul "Kehadiran Perempuan di Ruang Publik (Kajian Perubahan Struktur Pemerintahan Lokal dan Dampaknya Terhadap Posisi Perempuan Dalam Masyarakat di Kerala State dan Sumatera Barat)”, dilakukan dengan cara :
1. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lintas budaya . Penelitian lintas budaya digunakan untuk mengusahakan perombakan orientasi lama yang hanya melihat penelitian dalam satu budaya. Dalam penelitian lintas budaya, dibutuhkan pendekatan studi kasus dengan melihat beraneka kelompok dalam berbagai masyarakat yang berbeda budaya. Demikian juga dalam sosiologi gender, perlu adanya penelitian lintas budaya untuk menemukan berbagai aspek permasalahan sosial yang dialami dan dihadapi perempuan dengan keanekaragamannnya, baik di lingkungan privat maupun di lingkungan publik. Untuk itu, harus ada penelitian langsung secara empiris secara lintas budaya terhadap pengalaman hidup perempuan dari budaya yang berbeda. Berikut empat asumsi penelitian lintas budaya :

a. Pentingnya kekhususan budaya.
b. Keperluan studi intensif.
c. Persamaan pengalaman perempuan dari budaya yang berbeda-beda.
d. Kebutuhan terhadap evaluasi kritis terhadap bahan penelitian.
Tujuan penelitian lintas budaya dengan pendekatan sosiologi gender masa kini adalah untuk membandingkan dan mengevaluasi kebijakan yang berdampak kepada perempuan. Selain itu, tujuan penelitian lintas budaya dengan pendekatan sosiologi gender adalah untuk menerangkan fenomena yang sama-sama dimiliki perempuan-perempuan dari budaya berbeda sehingga dimungkinkan untuk melahirkan teori sosial baru. Penelitian lintas budaya dihadapkan pada dua perangkat etika yang saling bersaing, yaitu penghormatan terhadap perempuan dan penghormatan terhadap budaya.
Perspektif penelitian sosiologi gender yang digunakan adalah "perspektif perempuan" yang akan mengungkapan pengalaman dan subjektivitas perempuan sebagai pihak yang mengalami dan memahami kehidupannya. Hal ini digunakan untuk memperjuangkan hak-hak dan isu-isu perempuan. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mencapai keterlibatan aktif informan dan keikutsertaan mereka dalam menyusun data tentang kehidupan mereka. Peneliti berusaha untuk dapat masuk ke pendapat, pikiran, dan ingatan informan dalam bahasa mereka sendiri, bukan dalam bahasa peneliti. Nilai ini sangat penting terutama untuk studi perempuan. Hal ini diharapkan dapat menjadi titik balik setelah berabad-abad pendapat perempuan diabaikan sama sekali. Penelitian ini berupaya menafsirkan perilaku perempuan yang dibentuk oleh konteks sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang melihat realitas sebagai suatu yang jamak dan dapat dikonstruksikan serta bersifat holistik. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memahami proses, fenomena, dinamika, perspektif, serta makna-makna yang mendalam (insight) dan menyeluruh (whole) yang berkaitan dengan peran perempuan dalam pemerintahan lokal. Metode yang digunakan adalah studi kasus . Di dalam studi kasus, peneliti mengeksplorasi suatu entitas atau fenomena tunggal (kasus) yang dibatasi oleh waktu dan kegiatan. Dalam studi kasus, pengumpulan informasi dilakukan secara terperinci dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu.
Pendekatan kualitatif melalui studi kasus dinilai paling tepat karena enam asumsi, yaitu : (a) Lebih mengutamakan proses daripada hasil atau produk; (b) Lebih tertarik pada makna, yaitu bagimana informan memaknai hidup dan pengalaman mereka; (c) Peneliti adalah instrumen utama pengumpulan dan analisis data; (d) Peneliti langsung terjun ke lapangan untuk melakukan obeservasi, pencatatan, dan analisis; (e) Bersifat deskripsi, yaitu peneliti tertarik pada proses, makna, dan pemahaman yang didapat melalui lapangan; dan (f) Prosesnya induktif, yaitu peneliti membangun abstraksi, konsep, hipotesis, dan teori dari detail lapangan.
Studi kasus menurut Robert Yin merupakan : (a) Strategi yang dipersiapkan untuk mencari jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana; (b) Peneliti memiliki sedikit kontrol; (c) Obyek studinya merupakan fenomena kontemporer; (d) Di dalam konteks kehidupan yang nyata; (e) Batasan antara fenomena dan konteks sangat jelas; dan (f) Tidak memerlukan sumber-sumber ganda dalam pembuktian. Robert Stake menekankan bahwa studi kasus menghasilkan pengetahuan dari hal-hal yang khusus. Dalam studi kasus, dicari pemahaman dari isu-isu instrisik dalam sebuah kasus. Stake menyatakan bahwa kasus dapat dipilih dan dipelajari melalui instrumen yang dapat dipahami secara khusus dalam problem, isu, konsep, dan lainnya.
Penelitian ini akan dilakukan melalui prosedur , yaitu review literatur dan hasil penelitian, menyusun desain penelitian, menetapkan lokasi, mengurus izin penelitian, memasuki lokasi penelitian dan mengembangkan relasi dengan berbagai pihak, mengadopsi peranan sosial dalam lingkungan komunitas, mengumpulkan data, menganalisis dan mengecek atau menguji, dan diakhiri dengan menulis laporan penelitian.


2. Subjek Penelitian
Unit observasi penelitian ini adalah individu. Individu yang menjadi subjek utama adalah perempuan, sedangkan subjek pendukung adalah pengurus dan anggota kelembagaan pemerintahan lokal dan anggota masyarakat lainnya. Informan penelitian ini adalah para pengurus Pemerintahan Nagari Kamang Hilir Provinsi Sumatera Barat dan Vizhinjam Gramma Panchayati-Raj Kerala State. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penelitian lapangan langsung untuk kasus Pemerintahan Nagari di Provinsi Sumatera Barat yang dilakukan selama lima bulan. Tahap kedua adalah penelitian lapangan langsung selama satu bulan untuk kasus Gramma Panchayati-Raj di Kerala State.
Sementara itu, unit analisis adalah individu dan organisasi berupa kelembagaan pemerintahan lokal dan komunitasnya. Para subjek dalam penelitian ini adalah mereka-mereka yang dapat memberikan informasi secara luas dan jelas mengenai berbagai persoalan yang terkait dengan kajian penelitian terutama perempuan sebagai pengurus pemerintahan lokal di Gramma Panchayati-Raj dan Pemerintaha Nagari.

3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pemerintahan Nagari Kamang Hilir Provinsi Sumatera Barat dan Vizhinjam Gramma Panchayati-Raj Kerala State. Lokasi penelitian ini dipilih di tingkat pemerintahan lokal. Hal ini berdasarkan pemikiran bahwa masing-masing perempuan sebagai anggota dan pengurus lembaga pemerintahan lokal mewakili kampung (territorial) dan suku (geneologis) serta kasta sehingga dengan mengkaji kasus satu pemerintah lokal di Sumatera Barat dan satu di Kerala State saja diyakini dapat mencapai tujuan penelitian.
Kedua lokasi penelitian ini dipilih dengan sengaja mengikuti tipe Nagari dan tipe Gramma sesuai dengan dominasi suku atau penduduk yang mendiami okasi tersebut. Di Sumatera Barat, para penduduknya mayoritas muslim. Akan tetapi, terdapat dua tipe budaya, yaitu budaya suku Laras Koto Piliang dan budaya suku Laras Body Chaniago. Biasanya, satu nagari mengikuti salah satu budaya suku laras yang dominan mendiami lokasi tersebut, seperti ada nagari tipe Koto Piliang saja atau nagari tipe Body Chaniago saja. Akan tetapi, lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah gabungan dari tipe Koto Piliang dan tipe Body Chaniago.
Nagari Kamang Hilir yang dipilih sebagai lokasi penelitian di Sumatera Barat ini menggabungkan kedua tipe laras tersebut. Nagari Kamang Hilir menggabungkan kedua tipe laras tersebut karena penduduk dan suku yang mendiami lokasi tersebut mempunyai populasi yang seimbang. Demikian juga halnya dengan di Kerala State. Di lokasi penelitian di Kerala State terdapat tiga tipe Gramma Panchayati-Raj yaitu Gramma dari komunitas Hindu, komunitas Islam, dan komunitas Katholik. Ketiga agama besar ini dianut oleh masyarakat di Kerala State.
Biasanya, setiap Gramma hanya didominasi oleh komunitas Hindu saja, komunitas Islam saja, atau komunitas Katholik saja. Akan tetapi, lokasi yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan gabungan tiga tipe Gramma, yaitu dari komunitas Hindu, komunitas Muslim, dan komunitas Kathotik. Hal ini disebabkan ketiganya sama-sama mempunyai penduduk yang sama besarnya yang mendiami lokasi tersebut.

4. Setting Penelitian
Penelitian ini juga dilakukan pada beberapa setting karena perempuan sebagai anggota pemerintahan lokal melakukan aktivitas dengan pihak lain di dalam komunitasnya. Penelitian ini mencakup tiga level analisis, yaitu individu, kolektif (komunitas), dan organisasi. Dengan kata lain penelitian ini akan mengalir dari tataran mikro, messo, hingga makro sebagai berikut :
a. Pada tataran mikro, akan dipahami tindakan sosial atau aktivitas perempuan, baik sebagai dirinya sendiri.
b. Pada tataran messo, akan dikaji bagaimana kemampuan perempuan berperan aktif dan ikut mengambil keputusan di dalam pemerintahan lokal.
c. Pada tataran makro, akan dikaji perubahan sosial pada struktur dan mekanisme politik yang berkaitan dengan perubahan kebijakan dan perundang-undangan dan berkaitan dengan perubahan sistem pemerintahan lokal.

5. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
a. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara secara mendalam, focus group discussion (FGD), dan dokumentasi. Wawancara secara mendalam adalah wawancara berdasarkan acuan dari daftar yang berisi pertanyaan disusun secara khusus guna menggali dan menghimpun keterangan atau informasi yang cocok dari informan. FGD dilakukan dengan menghadirkan informan dalam bentuk kelompok untuk mendengarkan persepsi subjek tentang isu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dokumentasi berguna untuk membantu peneliti dalam pengumpulan data dan informasi seperti data statistik, buku, kliping, dan jurnal. Disamping itu, pengumpulan data dilakukan juga dengan cara lain yang sesuai dengan kondisi dan situasi lapangan.



b. Alat Pengumpul Data
Data dikumpulkan dengan wawancara dan FGD. Peneliti dibantu dengan alat perekam (tape recorder) dan lembar pengamatan.

c. Jenis Data
Data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber data utama. Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu perempuan. Data sekunder yaitu data pendukung seperti data dari pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan pakar. Data lainnya yaitu data yang dihimpun dari sumber yang tidak langsung seperti laporan tertulis, buku, jurnal, dan bahan yang terkait.

d. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan melalui wawancara dan FGD dianalisis dengan pendekatan kualitatif secara bersiklus, artinya dilakukan semenjak dimulainya pengumpulan data awal, sampai tahap penulisan laporan, dan penarikan kesimpulan. Dengan berpedoman kepada panduan analisis data dan penelitian kualitatif, analisis data penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu :

1) Reduksi data
Data yang diperoleh melalui wawancara dan FGD segera dibuat transkripnya, diberi kode jawaban subjek, selanjutnya dibuat kategori dan temanya.
2) Penyajian data
Pada tahap ini, data dikelompokkan sesuai dengan tema atau pokok permasalahan. Untuk lebih memudahkan penafsiran, data disajikan dalam bentuk deskripsi. Hal ini memudahkan peneliti untuk melihat hubungan, kesamaan, maupun kontradiksi antardata yang diperoleh di lapangan setelah reduksi data dilakukan.
3) Simpulan data
Pada tahap ini hasil analisis data disimpulkan dengan menggunakan analisis gender. Data yang dikumpulkan, terutama untuk menemukan faktor yang paling menentukan partisipasi perempuan dalam pemerintahan nagari, dianalisis dengan mengunakan analisis kualitatif. Hal ini memungkinkan ilmuwan sosial khususnya sosiologis menyelami fenomena secara lebih mendalam dan realistik.



6. Kepercayaan dan Kepastian Data
Pengumpulan data kemungkinan dihadapkan pada isu derajat kepercayaan (credebility) dan kepastian (confirmability), di samping isu lain yaitu kebergantungan (dependability), dan keteralihan (transferability). Untuk mengatasi hal tersebut, akan ditempuh beberapa upaya sebagai berikut :
a. Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan membandingkan jenis data dan metode pengumpulan data yang berbeda untuk melihat apakah ada hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Triangulasi diterapkan berdasarkan perspektif teoritis yang digunakan. Pemilihan metode, data, dan pemberian struktur dan makna dilakukan sesuai dengan perspektif tersebut.
b. Validasi
Validasi pada informan yaitu mengonfirmasi kembali data pada subjek yang diteliti.

7. Penjelasan Konsep
Untuk menjelaskan konsep-konsep yang dipakai dalam penelitian ini, maka penjelasan mengikuti judul penelitian ini yaitu "Kehadiran Perempuan di Ruang Publik (Kajian Perubahan Struktur Pemerintahan Lokal dan Dampaknya Terhadap Posisi Perempuan Dalam Masyarakat di Kerala State - India dan Sumatera Barat - Indonesia )". Penjelasan konsep ini bertujuan untuk membatasi dan menghindari timbulnya penafsiran makna lain.
Berikut uraian penjelasan konsep tersebut :
a. Perempuan adalah individu yang menjadi pengurus lembaga perwakilan rakyat pada pemerintahan lokal.
b. Kehadiran Perempuan adalah keterlibatan perempuan di dalam pemerintahan lokal melalui parlemen lokal.
c. Pemerintah Lokal adalah pemerintahan yang diwujudkan di dalam struktur birokrasi yang dihasilkan dari peraturan-perundangan tentang pemerintahan lokal.
d. Ruang Publik adalah arena bagi warga masyarakat, baik individu maupun kelompok, untuk dapat berpartisipasi dalam pengelolaan tata pemerintahan.
e. Kehadiran Deskriptif yaitu mengacu pada fakta-fakta fisik dari individu yang ditempatkan pada institusi-institusi politik.
f. Kehadiran Substantif yaitu mengacu pada muatan substansi seberapa jauh individu mempengaruhi keputusan politik.
g. Kehadiran Transformatif yaitu mengacu pada dampak keikutsertaan seseorang dalam institusi politik terhadap dirinya sendiri dan kelompoknya.
h. Posisi Perempuan adalah kontruksi sosial budaya terhadap peran dan kedudukan perempuan di lingkungan masyarakatnya.
i. Gramma Panchayati–Raj adalah pemerintahan setingkat desa menurut Perda No. 13 tahun 1994 di Kerala State.
j. Pemerintahan Nagari adalah pemerintahan setingkat desa menurut Perda No.9 tahun 2000 di Propinsi Sumatera Barat.

B. Pengalaman Penelitian.
1. Pengalaman di Nagari
a. Menentukan Lokasi Penelitian
Pada pertengahan 2006, setelah peneliti menyelesaikan ujian proposal, peneliti menyiapkan diri untuk melakukan penelitian lapangan. Lokasi pertama yang dituju adalah Sumatera Barat. Pilihan tersebut dilakukan karena pada tahun 2002 peneliti pernah bekerja di Sumatera Barat selama hampir 10 bulan dalam pembangunan sarana air bersih di Kabupaten Pesisir Selatan.
Peneliti masih bingung untuk menentukan lokasi penelitian yang sesuai dan tepat. Sebenarnya, sebelum peneliti datang kembali ke Sumatera Barat, peneliti sudah menghubungi salah seorang teman yaitu Mbak As yang masih bekerja di Painan untuk meminta bantuan dicarikan tempat penelitian yang tidak jauh dari Kota Padang.
Mbak As menyanggupi untuk mencarikan Nagari yang ada di perbatasan Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan yang berjarak kurang lebih 25 km. Tempat tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan umum kurang lebih satu jam dari Kota Padang. Namun, kendaraan umum menuju lokasi itu hanya ada sampai pukul enam sore. Selain itu, nagari tersebut mempunyai kondisi geografis yang berbukit-bukit yang sulit dilalui kendaraan roda dua. Apalagi waktu turun hujan, jalanan menuju lokasi menjadi becek dan berlumpur.
Peneliti membatalkan rencana penelitian di Kabupaten Pesisir Selatan karena alasan letak dan kondisi geografis yang sulit. Pada bulan yang sama peneliti kebetulan mendapat tugas dari Kantor Sosial untuk melakukan evaluasi program di Kota Padang. Kesempatan tersebut peneliti manfaatkan untuk memulai melakukan penelitian. Di Kota Padang, peneliti bertemu dengan teman kuliah sewaktu di Bandung, yaitu Uda Cep dan Uni At. Pada waktu senggang peneliti mampir ke rumahnya dan bercerita tentang rencana penelitian di Sumatera Barat.
Kemudian kami berdiskusi tentang Minangkabau. Dijelaskan bahwa secara geografis ada dua tipe nagari yaitu nagari di Ranah Luhak Nan Tigo yang meliputi wilayah Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Koto, dan Kabupaten Tanah Datar serta nagari di Ranah Rantau meliputi semua Kabupaten di luar tiga kabupaten yang sudah disebutkan. Selain itu, secara genealogis terdapat dua tipe nagari yaitu nagari yang menggunakan aturan adat dan budaya dari suku Laras Bodi Chaniago dan dari suku Laras Koto Piliang Dua suku besar tersebut di masing-masing nagari mempunyai dominasi.
Setelah berdiskusi dengan Uda Cep, peneliti memilih nagari dari Ranah Luhak Nan Tigo yang ada di dekat Kota Bukit Tinggi. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada alasan Kota Bukit Tinggi lebih dekat dengan bandara internasional dan tansportasi umum selalu ada selama 24 jam. Kebetulan Uda Cep punya teman di dekat Kota Bukit Tinggi yang merupakan temannya ketika bertugas di Kantor Sosial Kota Bukit Tinggi. Besok paginya, peneliti dan Uda Cep berangkat ke Bukit Tinggi dengan menggunakan kendaraan Uda Cep. Peneliti dan Uda Cep tiba di Kota Bukit Tinggi agak sore. Peneliti langsung menuju Kantor Kecamatan yang jaraknya kurang lebih 15 km dari Kota Bukit Tinggi.


Foto 1 : Wawancara Dengan Kepala Jorong.

Sesampai di tujuan, peneliti dan Uda Cep mampir ke tempat teman Uda Cep, tapi ternyata teman tersebut sedang bertugas di Kota Padang Panjang. Kami langsung ke Kantor Kecamatan, tetapi karena hari itu hari Minggu kantor tersebut tutup. Saat istirahat minum-minum di warung, kami bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang bernama Uda Her. Peneliti bercerita bahwa peneliti akan mencari lokasi penelitian tentang nagari. Uda Her menjelaskan bahwa di Kecamatan tersebut terdapat tiga Nagari yaitu Kamang Hilir, Mudik dan Magek.
Lebih lanjut Uda Her menjelaskan tentang kondisi masyarakat di daerah tersebut. Kanagarian Magek menganut aturan adat dari suku Laras Koto Piliang, Kanagarian Mudik menganut aturan adat dari suku Laras Bodi Chaniago, dan Kanagarian Kamang Hilir menganut aturan adat dari gabungan keduanya. Peneliti memilih lokasi penelitian di Kamang Hilir dengan alasan masyarakatnya lebih plural. Kemudian setelah selesai berdiskusi, peneliti diantar ke salah seorang ketua adat untuk berdiskusi.

b. Mencari Pendamping Penelitian
Ternyata Uda Her adalah mantan Wali Nagari Kamang Hilir. Dia juga adalah saudara dekat Mbak As. Setelah semua tentang lokasi penelitian jelas, Uda Cep pulang menuju Padang sedangkan peneliti menginap di Kota Bukit Tinggi. Besok paginya peneliti bertemu dengan Uda Her karena telah ada janji. Peneliti diantar oleh Uda Her ke Kantor Kecamatan untuk melaporkan diri selanjutnya menuju Kantor Nagari Kamang Hilir.
Di kantor Nagari Kamang Hilir, peneliti bertemu dengan sekretaris nagari dan berkenalan dengan beberapa staf nagari. Setelah selesai, peneliti mencari tempat untuk menginap di Kamang Hilir dan mendapat rumah kosong yang besar tetapi lama tidak berpenghuni. Peneliti tidak jadi menginap di rumah tersebut karena fasilitas air kurang baik. Kemudian, staf nagari bernama Uni Nel membantu peneliti sehingga dapat menginap di panti asuhan bersama anak-anak panti.
Uni Nel adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai staf Nagari Kamang Hilir. Dia telah bekerja selama hampir 5 tahun. Dia adalah lulusan perguruan tinggi di Kota Bukit Tinggi. Karena Uni Nel seorang sarjana, peneliti memutuskan untuk menjadikannya sebagai pendamping penelitan. Uni Nel juga mencarikan pendamping penelitian lain. Pendamping penelitian tersebut adalah seorang laki-laki muda yang bernama Uda Han. Dia adalah sekretaris Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN). Han adalah lulusan SMA. Kedua pendamping ini membantu peneliti menyelesaikan penelitian di Kamang Hilir.
Untuk berhubungan dengan para pengurus kelembagaan Nagari dan beberapa tokoh masyarakat, peneliti didampingi oleh Uni Nel. Sedangkan untuk berhubungan dengan masyarakat biasa dan perempuan yang bekerja di luar lingkungan pemerintahan, peneliti didampingi oleh Uda Han.
Peneliti membagi masyarakat dalam dua kelompok, yaitu mereka yang berkecimpung dan berurusan dengan pemerintahan dan mereka yang berada dan bekerja di luar lingkungan pemerintahan. Maksudnya adalah untuk memudahkan peneliti berhubungan dengan informan dan warga masyarakat yang dijadikan subjek penelitian. Terkadang Uni Nel dan Uda Han bersama-sama membantu peneliti dalam melakukan survei, terutama menyebarkan kuesioner ke rumah tangga untuk mengetahui kondisi masyarakat.
Selama membantu penelitian di Kamang Hilir, Uni Nel dan Uda Han memang sukarelawan, tetapi peneliti setiap bulan menyediakan sedikit bingkisan. Untuk keperluan mengelilingi tujuh belas jorong dan mengunjungi beberapa orang yang ada di Kamang Hilir, peneliti menggunakan sepeda motor sewaan yang kadang dikemudikan Uda Han, atau orang lain. Kendaraan ini memudahkan peneliti untuk mendapatkan informasi dan data-data penelitian.

c. Kontak dengan Informan
Untuk lebih memperdalam penelitian, selama berada di Kamang Hilir peneliti terlibat dalam kegiatan kantor nagari dan dalam kegiatan panti asuhan. Keterlibatan inilah yang menyebabkan peneliti banyak mendapat kemudahan untuk menghubungi informan. Selama penelitian, peneliti telah melakukan focus group discussion dengan pengurus pemerintahan nagari sebanyak lima kali yaitu dengan pengurus Sekretariat Nagari (SN), pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN), pengurus Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN), pengurus Lembaga Bundo Kandung (LBK), dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta dari beberapa perwakilan lembaga yang ada.
Peneliti juga melakukan wawancara dan mengunjungi tujuh belas kepala jorong (dusun) dan seluruh staf nagari, termasuk dengan wali nagari. Peneliti juga melakukan wawancara dan bertemu dengan sepuluh orang perempuan yang terdiri atas empat orang pengurus SN, empat orang pengurus BPAN, dan dua orang pengurus BK dan PKK. Selain itu, peneliti menyebarkan kuesioner kepada kurang lebih seratus delapan puluh kepala keluarga yang dipilih secara acak. Selain itu, peneliti melakukan wawancara dengan perempuan dari berbagai profesi, yaitu pengrajin, industri kecil, petani, pedagang, penjahit, ibu rumah tangga, guru dan lainnnya.
Dalam melakukan wawancara, peneliti sering menemui permasalahan terkait dengan keterbukaan perempuan dalam memberikan informasi jika di tempat tersebut terdapat suami mereka. Para perempuan sering diam atau melirik suaminya pertanda segan dan bahkan terkesan ada perasaan takut dan menyilahkan suami mereka yang menjawab. Mengingat realita bahwa budaya masyarakat terkadang membatasi perempuan dalam menyampaikan pendapatnya, maka peneliti memberikan perhatian penuh pada bahasa tubuh para perempuan yang diwawancarai dan memberikan porsi tertentu pada perempuan untuk menjawab pertanyaan.
Peneliti juga melakukan pengamatan terlibat terhadap aktivitas para petani. Selama di Kamang Hilir, peneliti sudah merasakan dua kali masa tanam padi dan dua kali masa panen. Selain itu peneliti juga mengikuti aktivitas pedagang hasil bumi dari Kamang Hilir menuju Bukit Tinggi atau sebaliknya. Peneliti juga ikut mengamati beberapa aktivitas para pengrajin dan industri rumahan serta beberapa aktivitas yang dilakukan perempuan untuk mencari penghasilan di Kamang Hilir dan daerah sekitarnya.
Peneliti juga mengikuti kegiatan upacara-upacara adat seperti upacara selamatan kelahiran bayi, upacara selamatan kematian, perundingan antarkeluarga menjelang perkawinan, upacara perkawinan, pertemuan kerabat, bahkan peneliti sempat ikut shalat taraweh. Untuk menjalin kekeluargaan antara peneliti dengan masyarakat Kamang Hilir, peneliti mengajak salah seorang tokoh adat ke Jakarta untuk mencari dana kepada warga perantau dalam rangka pembangunan Gedung Panti Asuhan.
Peneliti juga membantu salah seorang anak panti asuhan untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Kota Bandung. Ada dua orang orang yang ikut mendaftar, tetapi hanya satu yang lulus dan diterima di perguruan tinggi. Untuk keperluannya di perguruan tinggi, peneliti ikut membantu mencarikan orang tua asuh dan tempat tinggal baginya.

2. Pengalaman di Gramma Panchayati-Raj
a. Perubahan Lokasi Penelitian
Pada pertengahan tahun 2007 peneliti melakukan penelitian ke tempat kedua yaitu Kerala State di India. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk melakukan studi perbandingan. Kedatangan ke Kerala adalah untuk kedua kalinya bagi peneliti. Pada pertengahan tahun 2001, peneliti pernah berkunjung ke Kerala State selama beberapa hari untuk tujuan studi tur bersama teman-teman dari beberapa NGO dan pemerintah daerah. Perjalanan tersebut dibiayai dan disponsori oleh Lembaga Donor Ford Foundation. Salah satu tempat yang dikunjungi waktu itu adalah Gramma Panchayati-Raj di Distrik Kannur kurang lebih enam jam perjalanan darat dari Kota Thiruvananthapuram.
Dalam kunjungan kedua ini, peneliti akan berkunjung ke tempat yang sama. Akan tetapi, peneliti tidak mempunyai alamat orang yang bisa dihubungi di sana. Pada akhirnya, peneliti membatalkan rencana ke tempat tersebut dan mengalihkan tujuan ke tempat lain yang tetap di berada tidak jauh dari Ibu Kota Kerala.
Biaya perjalanan kedua ini ditanggung sendiri. Oleh sebab itu, dicari tempat yang tidak jauh dari Kota Thiruvananthapuram. Pada kunjungan ini, peneliti pergi sendiri. Hal ini membingungkan peneliti karena peneliti tidak mempunyai kontak dengan orang yang bisa memandu di Kerala State.
Setelah mengurus paspor di kantor imigrasi Bandung dan mengurus visa di Kedutaan Besar India di Jakarta, peneliti mempersiapkan diri dan biaya untuk perjalan ke India. Untuk kemudahan perjalanan, peneliti sudah mencari teman orang India, orang yang pernah bekerja, atau orang yang punya hubungan dengan India. Kebanyakan teman yang ditemui berasal dari Mumbay dan tidak tahu tentang Kerala State. Hal ini terjadi karena memang pada tahun 2001 Kerala State termasuk negara bagian India yang paling tertinggal dibandingkan dengan negara bagian lainnya.
Dua hari menjelang keberangkatan ke Negara Bagian Kerala, peneliti mendapat teman yang pernah kerja di India. Dia menyarankan kalau tidak punya teman atau orang yang bisa memandu di India, sebaiknya peneliti pergi dulu ke Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Kota Mumbay untuk mendapatkan petunjuk. Dia kemudian memberikan alamat kantor Konjen RI di Mumbai. Dengan berbekal alamat Konjen RI tersebut, peneliti memberanikan diri untuk melanjutkan penelitian ini ke India.
Hari Rabu sore pukul 18.30, peneliti pergi dengan menggunakan Air India dengan tujuan Mumbay. Setelah berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta, di dalam pesawat peneliti bertemu dengan banyak orang Indonesia yang punya tujuan sama ke Mumbay. Mereka kebanyakan adalah para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di Timur Tengah. Di tengah-tengah perjalanan peneliti bertemu seorang laki-laki bernama Zal. Dia akan turun di Mumbay dan akan melanjutkan perjalanan ke Kerala State juga. Dia bekerja sebagai konsultan pelayaran internasional.
Peneliti mengobrol dengan Pak Zal selama dalam perjalanan dari Jakarta ke Mumbay. Peneliti bercerita bahwa peneliti akan melakukan penelitian perbandingan ke satu desa di Kerala State. Atas bantuannya, peneliti mendapatkan penginapan dan jalan-jalan di Mumbay selama dua hari, termasuk berkunjung ke Konjen RI di Mumbay.

b. Mendapat Bantuan dari Konjen RI di Mumbay
Peneliti sempat berkunjung ke Konjen RI di Mumbay dan bertemu dengan Pak Ant, yaitu orang kedua di Kantor Perwakilan RI di sana. Beliau ternyata menyambut baik kedatangan peneliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan peneliti pergi ke India. Beliau memberi beberapa gambaran tentang kondisi Negara India dan gambaran tentang kondisi, posisi, dan status perempuan di India. Peneliti menjelaskan bahwa peneliti akan pergi ke Kerala State di Selatan India. Beliau menyarankan peneliti supaya berhati-hati karena Kerala State selama beberapa dasa warsa dikuasai oleh Communist Party of India (CPI) yang menurutnya sangat berbahaya dan tidak cocok diadopsi atau diterapkan di Indonesia. Peneliti mengatakan bahwa peneliti tidak akan belajar tentang ideologi atau partai tetapi hanya ingin melihat Pemerintahan Desa. Beliau mengizinkan peneliti untuk berkunjung dan melakukan penelitian ke Kerala State, karena daerah tersebut merupakan bagian wilayah tugas Konjen RI di Mumbay.
Pada saat pertama datang ke Kerala State, peneliti membayangkan bahwa akan ada bendera partai CPI, kondisi kota yang sepi dari lalu lintas kendaraan, serta toko-toko, gedung-gedung pemerintah dan swasta yang terlihat dengan bangunan kuno. Semua aktivitas perekonomian dan fasilitas publik dikuasai oleh negara. Penduduknya jarang ke luar rumah. Benar-benar berbeda dengan negara bagian lain di India terutama jika dibandingkan dengan Mumbay. Dari dua puluh tiga negara bagian di India hanya satu negara bagian yang dikuasai partai CPI.
Setelah peneliti keluar dari Bandara Internasional Rajiv Ghandi di Thiruvananthapuram, di luar dugaan ternyata Kerala State sudah berubah 360 derajat. Cerita tentang partai CPI yang dianggap berbahaya hanya tinggal kenangan dan cerita masa lalu. Kerala State pada tahun 2007 berbeda dengan pada tahun 2001. Selama enam tahun, ternyata telah banyak yang berubah. Selama itu terjadi reformasi besar-besaran di Kerala State. Dulu, partai CPI adalah satu-satunya partai pemerintah, tetapi sekarang ada kurang lebih empat puluh partai politik baru yang bermunculan di Kerala State. Sama seperti Indonesia setelah reformasi tahun 1999, Kerala State telah melakukan perubahan besar-besaran di seluruh aspek pemerintahan dan kehidupan bernegara. Hal yang paling mengejutkan adalah bahwa haluan negara tidak lagi berkiblat pada ideologi kiri. Sama dengan daerah lainnya, Kerala State sudah mengikuti arus globalisasi, liberalisasi dan kapitalisme.

c. Modernisasi di Kerala State
Peneliti melihat di jalan-jalan banyak bendera dari berbagai macam partai politik berkibar di jalan-jalan. Toko-toko dan gedung-gedung kuno diruntuhkan dan diganti dengan bangunan baru yang lebih modern dan mencakar langit. Jalan-jalan ramai dengan lalu lalang mobil, motor, dan oto yang semuanya tampak serba baru. Penduduk banyak keluar rumah dan menggunakan pakaian gaya artis Bollywood. Tidak ada kesan kuno sama sekali. Semua terlihat maju dan modern. Semuanya hampir sama dengan kondisi di kota metropolitan Mumbay.
Ternyata tidak ada yang perlu ditakuti dan dikawatirkan dengan kondisi Kerala State. Banyak orang luar negeri datang untuk berbisnis, belajar, dan datang sebagai turis. Pemerintah maupun masyarakatnya semakin terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua kondisi pemerintahan dan masyarakat Kerala State sudah dibuka secara umum melalui media baik surat kabar, majalah, televisi, internet maupun penerbitan buku-buku. Semua orang dapat mengakses informasi, dapat menikmati televisi lebih dari 20 saluran, dan surat kabar lebih dari 10 penerbit. Internet ada dimana-mana, kantor-kantor pemerintahan terbuka untuk umum, dan mudah dengan pelayanan yang memuaskan.
Dominasi pemerintahan di bidang ekonomi dan kemasyarakatan mulai diambil alih oleh masyarakat dan swasta. Hampir 90% perekonomian dan kemasyarakatan sudah berpindah tangan dari pemerintah ke masyarakat dan swasta. Hanya beberapa unit penting untuk hajat hidup orang banyak yang masih dikuasai pemerintah, yaitu transportasi massa (bis dan kereta api), air minum, listrik, terminal, pelabuhan, bandara, dan telekomunikasi
Hal yang paling menarik adalah banyak kelompok dan masyarakat yang melakukan demontrasi dengan mambawa berbagai macam bendera sebagai simbol gerakan mereka di depan kantor Parlemen dan kantor pemerintahan. Semua orang boleh membuat organisasi massa atau organisasi kemasyarakatan tanpa perlu memakai izin. Ideologi, aliran agama, dan aliran lain diperbolehkan di Kerala State.



d. Mencari Penginapan Murah dan Pemandu
Peneliti teringat Pak Zal yang juga berkunjung ke Kerala State. Peneliti sudah berjanji akan bertemu Pak Zal di salah satu kota pelabuhan terbesar di Kerala State, yaitu di Kota Chocin. Akan tetapi, ketika peneliti sampai di bandara dan menanyakan biaya pejalanan ke Chocin dengan taksi, ternyata mahal sekali. Selain itu, peneliti berpikir kembali bagaimana jika di Cochin peneliti tidak menemukan Pak Zal karena Kota Chocin lebih besar dibandingkan Kota Thiruvananthapuram. Ini berarti peneliti hanya akan menghabiskan uang.
Peneliti teringat tahun 2001, saat pertama pergi ke Kerala State. Dulu, rombongan pernah menginap di salah satu hotel dekat pinggir pantai dan tidak jauh dari hotel ada Mesjid. Ada dua nama daerah yang mirip yaitu Kollam dan Kovalam. Hal ini membuat peneliti bingung tentang daerah mana dulu yang pernah ditinggali. Kemudian peneliti mengingat nama Hotel Lets. Ini menjadi petunjuk kepada sopir taksi yang mengantar peneliti ke daerah wisata pantai Kovalam. Sesampainya di tempat yang dituju, ternyata Hotel Lets adalah hotel mewah berbintang lima di pinggir pantai. Tarif hotel ini menggunakan dolar permalamnya. Peneliti tidak mampu menginap di tempat tersebut.
Peneliti diantar oleh sopir taksi mencari hotel yang lebih murah. Peneliti mendapatkan hotel tepat di bibir Pantai Hahai yang memang murah. Peneliti mencoba menginap dua hari di sana dan beradaptasi dengan keadaan dan kondisi yang ada. Selama dua hari peneliti berkeliling di sekitar daerah wisata itu sambil menikmati pemandangan alam. Pantai itu mirip Pantai Pangandaran di Ciamis. Namun banyak turis dari mancanegara terutama dari Eropa yang datang ke pantai itu. Di dalam buku-buku wisata disebutkan bahwa Pantai Kovallam termasuk primadona wisata di Kerala State.
Pada saat makan pagi di restoran dekat hotel menginap, peneliti mencoba mencari teman sebagai pemandu yang selain bisa bahasa Inggris juga mengerti budaya dan kondisi masyarakat desa. Beberapa orang menawarkan diri, tetapi harganya mahal. Ketika sedang sibuk berdiskusi dengan beberapa orang di restoran itu, ada salah seorang pegawai restoran memanggil. Dia mengatakan setelah ngobrol dan makan-makan, dia mau bicara dengan peneliti. Karena dia melihat peneliti kebingungan. Banyak orang yang ingin memanfaatkan kehadiran peneliti untuk tujuan mendapatkan pekerjaan sebagai pemandu.
Penjaga restoran itu adalah seorang laki-laki muda yang bernama Jo. Dia mengajak peneliti berbicara mengenai tujuan dan maksud peneliti datang ke Kerala State. Peneliti terus terang bahwa peneliti bukan seorang turis biasa tetapi seorang akademisi yang ingin meneliti tentang masyarakat desa dan pemerintah desa termasuk status perempuannnya. Rupanya dia cukup mengerti dengan apa yang peneliti katakan dan inginkan. Kemudian dia bercerita bahwa dirinya juga lulusan sebuah akademi yang mempelajari sejarah dan kemasyarakatan. Peneliti seperti mendapatkan mutiara dari laut, yaitu bertemu dengan pemandu yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang akan peneliti lakukan.

e. Menyusun Rencana dan Jadwal Penelitian
Peneliti dan Jo membuat rencana kerja pokok tentang hal-hal yang harus dilakukan selama peneliti di Kerala State. Ada lima agenda yang kami sepakati. Pertama, mengurus penginapan yang lebih murah dan konfirmasi tiket pulang dengan Air India. Kedua, mencari dan membeli buku literatur terutama sejarah, budaya-sosiologi-gender dan panchayati-raj, dan berkunjung ke perpustakaan Universitas Kerala. Ketiga, berkunjung, bertemu, dan melakukan wawancara dengan masyarakat dan kelompok perempuan, baik di rumah maupun di pekerjaannya. Keempat, berkunjung, bertemu, berdiskusi, dan melakukan wawancara dengan staf pengurus Gramma Panchayati-Raj. Kelima, melakukan survei terhadap beberapa rumah tangga untuk mengetahui kondisi kehidupan masyarakat.
Jo kaget karena tidak mungkin kelima agenda itu dilakukan dalam waktu satu bulan. Katanya, agenda tersebut minimal dapat dilakukan selama tiga sampai empat bulan. Menurutnya yang paling berat adalah agenda keempat dan kelima. Diperlukan izin dan sulit mengurus birokrasi pemerintah. Dia bilang lebih lanjut bahwa peneliti bukan turis biasa tetapi melakukan riset dan itu butuh biaya yang banyak. Peneliti menyadari hal tersebut, tetapi peneliti katakan bahwa kami akan lakukan hal yang mampu dilakukan dengan waktu dan biaya yang terbatas.
Kami membuat jam kerja, menyiapkan kendaraan, dan menyiapkan honor. Jo hanya punya waktu di luar hari Sabtu, Minggu, dan Senin. Di hari-hari itu dia sangat sibuk bekerja di restoran. Jadi, peneliti hanya punya waktu Selasa sampai Jumat, dengan waktu kerja dimulai jam sembilan sampai jam tiga sore. Peneliti harus menyewa kendaraan seperti bajaj. Honor yang diminta Jo dalam satu hari hampir 750 rupee . Peneliti setuju karena dengan cara itu dapat memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian. Harga yang disepakati lebih murah jika dibandingkan para pemandu lain.
Peneliti mempunyai waktu senggang Sabtu, Minggu, Senin, pada pagi hari pukul tujuh sampai dengan pukul sembilan, dan pada sore hari dari jam tiga sampai jam enam sore. Untuk itu, peneliti mencari pemandu tambahan untuk mengisi waktu luang. Secara tidak sengaja ketika jalan-jalan pagi, peneliti bertemu dengan Jab Dia adalah seorang laki-laki dari kalangan muslim yang berkerja sebagai nelayan. Dia mempunyai sedikit kemampuan berbahasa Inggris. Jadi, peneliti mempunyai dua pemandu. Jo untuk urusan dengan para staf dan pengurus Gramma Panchayati-Raj serta beberapa tokoh masyarakat, sedangkan Jab untuk kalangan masyarakat biasa dan perempuan yang berkerja di luar lingkungan pemerintahan. Penulis melakukan ha ini untuk memudahan dalam mendapatkan informan dan warga yang akan dijadikan subjek penelitian.
Peneliti sangat beruntung ketika keliling desa bersama Jab bertemu dengan Jus seorang laki-laki yang bekerja sebagai agen wisata. Ia merupakan tokoh berpengaruh dari kalangan muslim di tempat tersebut. Dia juga adalah seorang anggota Gramma Panchayati-Raj di tempat penelitian. Peneliti mendapat kemudahan untuk keluar masuk kantor Gramma Panchayati-Raj. Jus ini mantan Presiden di kantor itu sehingga wibawanya masih dihargai oleh para staf dan pengurus di kantor itu.

f. Mengumpulkan Data
Selama penelitian di Gramma ini, peneliti melakukan beberapa hal untuk memperdalam dan mendapatkan banyak informasi. Peneliti melakukan beberapa kegiatan, antara lain focus group discussion dengan kepala kantor dan staf administrasi, dengan pengurus, dan tokoh masyarakat dari kalangan Hindu, Katolik dan Muslim. Peneliti juga melakukan wawancara perorangan dari beberapa kalangan terutama pengurus dan staf Gramma Panchayati-Raj. Selain itu, peneliti juga mengadakan survei ke beberapa rumah tangga untuk mengetahui kondisi kehidupan masyarakat.
Peneliti sangat menyadari bahwa kendala bahasa apabila tidak dikelola dengan baik jelas sangat berpengaruh pada proses pengumpulan data. Oleh karena itu untuk memperkecil kemungkinan adanya kesalahpahaman, peneliti sudah mengantisipasi melalui pemilihan pemandu yang tepat, yakni yang sudah berpengalaman dalam penelitian kemasyarakatan dan bersedia mendampingi peneliti dalam pengumpulan data. Disamping itu, guna menghindari kemungkinan kesalahan dalam penerjemahan, peneliti selalu mengulang beberapa pertanyaan untuk mendapatkan konsistensi baik dari informan maupun penerjemah itu sendiri.
Hal yang paling menarik selama penilitian di India adalah semua makanan yang ada di sana sama dengan yang ada di Indonesia, bahkan nama-nama dan bumbunya. Hal ini memudahkan peneliti untuk dapat menyesuaikan diri dengan makanan, situasi, dan kebiasaan masyarakat setempat. Hanya satu yang sering menggelikan peneliti, yaitu ikut acara minum bir, judi kartu, judi lotre, dan memakan kinang.
Untuk memperdekat diri dengan masyarakat di lokasi penelitian, terkadang peneliti ikut terlibat dengan kegiatan mereka, seperti ikut menarik perahu, menarik jaring, berjualan, bercocok tanam di kebun, ikut masak di restoran, bahkan menjadi pengemudi oto atau bajaj. Selain itu, peneliti juga ikut membantu aktivitas di salah satu pondok pesantren, di gereja Katolik, bahkan di Pura Hindu. Dalam tradisi masyarakat ini Hindu, Katolik, dan Muslim saling membantu satu dengan yang lain dalam seluruh aspek kehidupan. Hal tersebut menyebabkan mereka bangga dengan negeri kepunyaan Tuhan (Gods Own Country).


Foto 2 : Wawancara Dgn President Panchayati-Raj.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar