Kamis, 10 Desember 2009

ORGANISASI SOSIAL PEREMPUAN

Oleh Bambang Rustanto

A. KUALITAS PEREMPUAN.

Untuk peningkatkan sumber daya manusia perempuan, cara tercepat adalah dengan melihat kualitas perempuan itu sendiri. Salah satu indicator kualitas perempuan dapat dilihat dari kemajuan indeks pembangunan manusia. Melihat seberapa besar kualitas perempuan dapat dilihat dari 4 hal yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf , kesempatan pendidikan dan kesempatan kerja. Menurut Sensus Penduduk pada tahun 2000, ternyata jumlah penduduk Propinsi Jawa Barat adalah 44 juta jiwa. Dari jumlah itu terdapat penduduk perempuan sejumlah 36 juta jiwa, sedangkan penduduk laki-laki sejumlah 18 juta jiwa. Ini berarti penduduk perempuan jauh lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki, namun kualitas penduduk perempuan jauh lebih rendah dibandingkan penduduk laki-laki.

Kita lihat dari 4 indikator IPM di Propinsi Jawa Barat di atas pada tahun 2000, ternyata angka harapan hidup perempuan adalah 61,9 tahun sedangkan untuk laki-laki lebih tinggi yaitu 63,7 tahun. Untuk angka buta huruf ternyata perempuan 9,50% sedangkan laki-laki lebih rendah sebesar 4,07%. Sedangkan tingkat pengangguran perempuan adalah 7,2 % dan laki-laki lebih rendah 6,17% . Dari segi pendidikan untuk perempuan rata-rata 4,3 atau kelas 4 SD sedangkan laki-laki lebih tinggi yaitu 8,1 atau kelas 2 SMP. Selain itu angka kematian ibu sebesar 307 per 1000 kelahiran dan kematian bayi perempuan sebesar 23-103 per 1000 kelahiran. Data ini diperparah dengan terjadinya perdagangan perempuan dan anak perempuan sebanyak 90 ribu – 100 ribu pada tahun 2005, demikian juga nasib buruh perempuan yang di PHK pada tahun 2002 sebanyak 98 ribu menjadi 117 ribu pada tahun 2004. Di samping itu terdapat 150 ribu buruh migran perempuan dan tidak kurang 62 ribu buruh perempuan berstatus sebagai buruh kontrak..

Rendahnya sumber daya manusia perempuan di Jawa Barat ini, harus disikapi dengan keprihatinan kita. Kita bersama -sama dapat melihat dari data-data yang ditampilkan di atas, membimbing kepada kita untuk peduli terhadap nasib perempuan. Kepedulian itu tidak hanya dilakukan dengan ungkapan kata-kata tetapi juga harus dilakukan dengan tindakan nyata. Untuk itu semua komponen masyarakat khususnya organisasi sosial kemasyarakatan berbasis perempuan harus bersama-sama terlibat. Harus ada kegiatan nyata dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan yang masih dibawah kualitas laki-laki dan setidak-tidaknya setingkat atau menyamai laki-laki.

Kesejahteraan perempuan adalah hak asasi manusia. Karena hak asasi manusia bukan hanya hak-hak sipil dan politik, tetapi juga pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Selama ini perempuan belum dianggap sebagai manusia sama dengan manusia laki-laki, maka hak-hak asasi perempuan terus perlu diperjuangkan Hak-hak perempuan sebagai manusia adalah hak-hak dasarnya yaitu hak atas standar hidup yang layak, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan dan masih banyak hak-hak perempuan yang masih diinjak-injak.

Pemenuhan hak asasi manusia bagi perempuan merupakan bentuk penghargaan terhadap kemanusian. Karena kesejahteraan perempuan merupakan bagian dari unsur pendorong peningkatan sumber daya manusia perempuan. Hak asasi manusia bagi perempuan ini telah diatur dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, Undang-undang No. 11 tahun 2005 tentang hak-hak sipil dan politik dan Undang-undang no. 12 tentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Disamping itu juga telah ada lebih dulu Undang-undang No.. 7 tahun 1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan Undang-undang No.23 tahun 2005 tentang penghapusan tindak kekerasan dalam rumah tangga..

Dengan adanya aspek legalitas perlindungan hak-hak asasi perempuan tersebut diatas, telah menguatkan perjuangan kita sebagai perempuan untuk meningkatkan kualitas perempuan yang masih rendah dibandingkan laki-laki. Upaya ini bukan sulap bukan sihir dan juga bukan semudah membalikkan tangan, tetapi perlu dilakukan dengan kerja keras oleh perempuan itu sendiri. Selain dilakukan oleh masing-masing individu perempuan juga dapat dilakukan secara bersama-sama oleh perempuan melalui organisasi sosial kemasyarakatan. Perjuangan ini juga memungkinkan dilakukan sebagai gerakan sosial perubahan kondisi dan posisi perempuan.

Gerakan sosial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi perempuan atau disingkat gerakan sosial kualitas perempuan (GSKP) ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan keras dan pendekatan lunak. Pendekatan keras dengan melakukan demontrasi di jalan-jalan atau menjadi parlemen jalanan, sedangkan pendekatan lunak dengan mengadakan advokasi sosial dengan dialog-dialog untuk merubahan kebijakan, Tujuannya agar kebijakan pemerintah maupun pemerintah daerah lebih peka gender atau peduli terhadap kondisi dan posisi perempuan.
.
B. KONDISI DAN POSISI PEREMPUAN.

Berbicara soal sumber daya manusia, perempuan tidak dapat dipisahkan dengan dua kata yang saling berdampingan yaitu kondisi dan posisi perempuan. Mengapa perempuan perlu dilihat kondisi dan posisinya, karena kedua kata tersebut terkait erat dengan pandangan perspektif gender. Gender sendiri oleh banyak ahli diartikan sebagai kontruksi sosial atau bentukan sosial yang diberikan kepada laki-laki maupun perempuan. Kontruksi sosial ini untuk membedakan karakteristik sosial laki-laki dan perempuan sesuai dengan pemahaman sosial- budaya yang dianut masyarakat tersebut. Karakteristik sosial budaya antara laki-laki dan perempuan itu berbeda, penyebab perbedaan ini bukan karena jenis kelamin saja tetapi pada aspek harapan masyarakat. Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran sosial yang harus dijalankan oleh laki-laki dan perempuan, sehingga apa yang diharapkan masyarakat akan membawa akibat perbedaan berdasarkan waktu dan tempat.. Harapan peran dari masyarakat tersebut menyebabkan laki-laki dan perempuan bersikap mendekati harapan tersebut, semua itu dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari diwujudkan dalam sikap dan tindakan dari individu tersebut. Karakteristik sosial laki-laki biasanya bersifat maskulin seperti pemberani, bertanggungjawab, memimpin dan tidak cengeng serta lainnya sedangkan perempuan biasanya bersifat feminin seperti penakut, kurang bertanggungjawab dan cengeng serta lainnya.

Perspektif gender merupakan salah satu pendekatan dalam menganalisis situasi sosial masyarakat. Pendekatan gender ini merupakan pisau analisis atau alat bantu untuk melihat dan membedakan. Analisis yang dilakukan dengan pendekatan gender pasti akan memperhatikan relasi sosial laki-laki dan perempuan, artinya kalau menganalisa kesejahteraan perempuan kita juga menganalisa kesejahteraan laki-laki. Selain melihat relasi sosial antara laki-laki dan perempuan, yang paling utama dalam perpektif gender ini adalah ada kuasa sosial dalam hubungan laki-laki dan perempuan tersebut. Karena menurut pandangan kaum feminis sosialis bahwa relasi sosial laki-laki dan perempuan itu bersifat asimetris atau tidak seimbang. Penyebabnya laki-laki diberi kuasa sosial lebih besar dari pada perempuan. Pemberi kuasa sosial untuk laki-laki ini berasal dari ideologi Patriarki dan Kapitalisme. Karena Patriarki dan Kapitalisme merupakan dua musuh besar yang harus dihilangkan dari muka bumi, kalau perempuan ingin mendapatkan kesejahteraan yang setara dengan laki-laki.

Atas dasar perspektif gender itulah kita bisa membedakan kualitas sumber daya manusia laki-laki dan perempuan dengan lebih jelas. Ada dua dimensi yang dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusia dengan perspektif gender yaitu kondisi dan posisi. Kondisi adalah kualitas sumber daya manusia pada kedirian atau ketubuhan perempuan itu sendiri, seperti kesehatan, kebutuhan pangan, sandang dan papan serta lainnya yang menjadi kebutuhan perempuan. Kondisi perempuan dan laki-laki akan berbeda karena secara biologis perempuan dan laki-laki berbeda, sehingga kebutuhannya pun berbeda dan ada kebutuhan-kebutuhan khas perempuan yang tidak dimilki oleh laki-laki. Kondisi ini melihat apa yang perempuan rasakan untuk mampu bertahan hidup atau tingkat survivalitas perempuan itu sendiri. Sedangkan posisi adalah kedudukan sosial bagi laki-laki maupun perempuan, untuk melihat posisi perempuan maka perlu dibandingkan dengan posisi lakii-laki. Posisi perempuan maupun laki-laki ini diperoleh berdasarkan peran yang diberikan oleh masyarakatnya. Sehingga posisi ini bersifat melekat pada peran yang disandang setiap individu. Posisi perempuan dan laki-laki harus dilihat sebagai relasi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contoh posisi perempuan dan laki-laki pada jenjang pendidikan, jenjang karier, jenjang status sosial dan lain sebagainya.

Kualitas yang rendah dalam kondisi perempuan dapat diatasi oleh perempuan itu sendiri sebagai individu. Kalau dia membutuhkan kebutuhan dasar seperti makanan, maka perempuan dapat membuat sendiri atau menggunakan jasa pihak lain, Pemenuhan kebutuhan dasar ini bila tidak dapat terpenuhi oleh masing-masing individu maka perempuan lain harus dihubungi untuk turun tangan. Kondisi untuk masing-masing individu itu akan berbeda-beda, sehingga penyediaan pelayanan atau fasilitas baik yang dilakukan masyarakat maupun yang dilakukan pemerintah juga dilakukan secara berbeda. Kondisi perempuan itu juga cukup banyak variasinya sehingga dibuatlah berbagai jenis pelayanan bagi perempuan, Pemenuhan kebutuhan kondisi perempuan ini dapat disebut sebagai pemenuhan kebutuhan praktis atau practical gender neeed.

Di sisi lain untuk melihat posisi perempuan kita harus melihas kedudukan seseorang dalam masyarakat, Cara yang biasa dan paling mudah dilakukan yaitu jenjang ekonomi, jenjang sosial dan jenjang budaya. Kita akan melihat kedudukan sosial seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga dibandingkan dengan suaminya seorang laki-laki bekerja mencari nafkah sebagai pegawai swasta. Ini berarti apabila individu ini mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, maka perempuan juga harus disejajarkan dengan laki-laki tersebut. Pemenuhan kebutuhan untuk kepentingan ini disebut sebagai pemenuhan kebutuhan strategis atau strategic gender needs Pemenuhan kebutuhan strategis gender inilah yang seharusnya dilakukan untuk cepat mengatasi permasalahan lainnya yang dirasakan perempuan. Perempuan sendiri berjuang tidak akan dihiraukan tetapi bila ribuan atau lebih yang turun melalui organisasi sosial kemasyarakatan pasti akan mendapatkan kedudukan sosial yang setara. Dengan pemenuhan kebutuhan strategis maka perempuan diharapkan mampu mengembangkan dirinya sendiri dan secara kelompok akan mengembangkan anggota lainnya.
.
C. KAPASITAS PRIBADI PEREMPUAN

Untuk melihat kapasitas pribadi perempuan maka kita harus melihat peran sosial perempuan dalam masyarakat. Peran sosial perempuan ini berhubungan dengan penghidupan perempuan dalam masyarakat, sehingga dibutuhkan analisis penghidupan perempuan. Analisis penghidupan perempuan merupakan suatu cara untuk memahami dan mendokumentasikan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup yang mendukungnya. Analisis ini merupakan suatu kerangka kerja untuk menghubungkan data dengan pengembangan dan pengungkapan strategi yang diinginkan untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial perempuan.

Analisis penghidupan perempuan dapat dilihat dari 3 jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan yaitu:
1. Pekerja yang dibayar:
Pekerjaan ini mencakup semua kegiatan produktif yang dilakukan untuk menghasilkan pendapatan, atau untuk perdagangan atau barter, contoh pekerjaan yang bergaji pada perusahaan atau perkantoran.

2. Pekerjaan subsisten atau pekerjaan rumah.
Pekerjaan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan barang atau jasa untuk keluarga atau anggota masyarakat. Pekerjaan ini mencakup semua pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak dan juga produksi serta pengolahan hasil pertanian untuk kebutuhan sendiri, contoh pekerjaan rumah dan berkebun.

3. Pekerjaan pelayanan masyarakat atau kemasyarakatan.
Pekerjaan ini mencakup kegiatan di dalam organisasi sosial, politik, agama, budaya dan kegiatan pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat contohnya pekerjaan sukarela.

Menurut Susan Wismer (2002) perempuan yang berkualitas adalah yang mampu membagi secara proporsional terhadap 3 jenis pekerjaan yang ada tersebut. Hal ini disebabkan setiap jenis pekerjaan mendukung pekerjaan yang lainnya. Kualitas kehidupan perempuan dilandasi oleh sifat hubungan antara ketiga jenis pekerjaan tersebut. Perubahan satu jenis pekerjaan akan mempengaruhi jenis pekerjaan yang lain. Perubahan dalam hal akses dan penguasaan terhadap sumber daya lokal juga mempengaruhi ketiga jenis pekerjaan tersebut. Penghidupan yang berkelanjutan bagi perempuan harus berada diwilayah yang bertumpang tindih anata pekerjaan dibayar, sub sisten dan pelayanan masyarakat, ketiga pekerjaan tersebut harus dilakukan secara seimbang tidak berat sebelah.

Laki-laki dan perempuan umumnya memiliki tingkat dan tipe tanggungjawab, kewajiban dan kesempatan yang berbeda dalam hal kegiatan penghidupannya. Laki-laki lebih sering melakukan pekerjaan yang dibayar dan aspek formal dalam pekerjaan pelayanan masyarakat dibandingkan perempuan. Perempuan sering lebih banyak volume kegiatan dan tingkat tanggungjawabnya dalam pekerjaan sub sistem atau rumah tangga dan dalam mengelola segi informal dalam pelayanan masyarakat.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya perempuan dan mampu masuk seluruh jenis pekerjaan yang ada, maka perlu adanya upaya terpadu dalam peningkatan kapasitas pribadi perempuan itu sendiri. Menurut Tony Patrick (2004) ada 3 komponen yang perlu ditingkatkan dalam kapasitas pribadi perempuan yaitu:



1. Kapasitas Pikiran.
Perempuan dianggap manusia yang kurang menggunakan rasionya atau berpikir secara rasional. Padahal perempuan justru seharusnya lebih banyak menggunakan rasionya dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan permasalahan hidup perempuan jauh lebih rumit dibandingkan permasalahan hidup laki-laki. Karena kebiasaan dan sosialisasi yang diberikan kepada anak perempuan berbeda dengan anak laki-laki, maka perempuan jarang dilatih untuk menggunakan kemampuan menggunakan rasionya. Untuk mengatasi keterbatasan kemampuan dalam menggunakan rasio ini, maka perempuan harus dibiasakan menggunakan rasio dalam menghadapi segala masalah kehidupannnya. Hal ini dapat dimulai dari aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan waktu, uang, dan transaksi jual beli yang harus dilakukan dengan perhitungan dan lambat laun perempuan akan terbiasa menggunakan rasionnya.

2. Kapasitas Emosional.
Perempuan sudah disterotipe selalu mendahulukan emosinya dalam bertindak maupun melakukan kegiatan. Berbeda dengan laki-laki dianggap kurang percaya diri kalau lebih mendahulukan emosinya. Ini juga terkait dengan sosialisasi dan kebiasaan yang diajarkan kepada perempuan. Kalau perempuan tidak menggunakan emosinya dianggap kurang feminin atau tidak lemah lembut. Dampaknya sangat besar dalam diri perempuan akibat kebiasaan dan sosialisasi ini, yaitu perempuan menjadi cepat emosi dan kurang percaya diri. Peningkatan kualitas perempuan dilakukan tidak harus menghilangkan sifat emosionalnya, tetapi mengarahkan sikap emosional ini menjadi dorongan positif dalam memberikan pelayanan yang lebih baik . Emosi yang berkualitas yang dimiliki perempuan akan mendorong kepedulian dan pelayanan masyarakat yang lebih baik.



3. Kapasitas Tindakan
Kapasitas tindakan ini bagi perempuan tidak dapat diragukan lagi, karena kualitas tindakan perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Perempuan sudah dibiasakan dan disosialisasikan untuk aktif dalam segala kegiataan. Sehingga perempuan mengerjakan pekerjaan rumah jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Kapasitas tindakan ini juga harus diperluas kepada pekerjaan yang dibayar dan pelayanan masyarakat yang bersifat formal sehingga kualitas sumber daya manusia perempuan akan lebih dihargai lagi bahkan mungkin sejajar dengan laki-laki.

Dengan memiliki ketiga kapasitas tersebut yaitu kapasitas pikiran, emosi dan tindakan yang seimbang akan membawa perempuan menjadi sejajar dengan laki-laki. Untuk mengatasi ketidakseimbangan kapasitas ini maka diperlukan strategi untuk menangani atau merespon berbagai kebutuhan baik yang bersifat praktis maupun strategis.


D. KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI.

Keterlibatan perempuan dalam organisasi terutama organisasi sosial yang memberikan pelayanan masyarakat sangat tinggi. Hal ini disebabkan sifat pemeliharaan (caring) yang dimiliki perempuan, karena sejak kecil disosialiasikan dan diajarkan untuk menjadi seorang ibu. Ini berbeda dengan laki-laki yang disiapkan untuk menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga sehingga lebih bersifat pemberani. Banyak organisasi sosial yang bergerak dibidang kedermawanan didominasi oleh perempuan seperti organisasi palang merah, pramuka, pengajian, dan posyandu/pkk dan lain sebagainya.

Sebagai anggota suatu organisasi sangat berbeda dengan anggota keluarga atau anggota masyarakat. Keanggotaan dalam organisasi sangat berhubungan dengan pihak lain atau teman sejawat dalam organisasi itu. Banyak perempuan yang terlibat dalam organisasi adalah untuk mengekpresikan atau mengaktualisasikan dirinya bagi pelayanan kemasyarakatan. Keikutsertaan perempuan dalam organisasi sosial ini bersifat sukarela namun setelah masuk didalamnya akan membuat perempuan sangat berdedikasi bahkan fanatisme. Lihat saja keikutsertaan para perempuan di PKK atau pengajian, meskipun kegiatan tersebut tidak memberi keuntungan materi namun banyak perempuan terlihat senang dan tidak pernah berkeluh kesah.

Keanggotaan perempuan dalam organisasi sosial merupakan hal yang biasa namun kualitas keanggotaan dalam organisasi sosial ini perlu terus ditingkatkan. Menurut Louis Gueteress (2000) ada 3 kualitas perempuan dalam organisasi yang perlu diberdayakan yaitu:

1. Kualitas Personal.
Kualitas ini menyangkut kemampuan masing-masing individu perempuan itu sendiri yang dapat menunjang keterampilannya dalam organisasi. Kualitas personal ini merupakan kemampuan yang dimiliki pribadi perempuan seperti kemampuan dalam menggunakan alat perkantoran, kemampuan dalam menggunakan alat elektronik, kemampuan dalam penampilan, dan semua kemampuan yang bersifat pribadi.

2. Kualitas Interpersonal.
Kualitas ini menyangkut kemampuan individu perempuan dalam berhubungan atau berelasi sosial dengan pihak lain, dapat itu teman sejawat, atasan langsung, maupun mitrakerja lainnya. Kemampuan ini menyangkut kemampuan dalam menyampaikan pesan, kemampuan dalam menggunakan bahasa, kemampuan dalam berdiskusi , kemampuan dalam mengajukan gagasan, kemampuan dalam mendukung usulan dan kemampuan lain yang terkait dengan pihak lain, agar mereka mampu memahami apa yang kita inginkan.



3. Kualitas Politikal
Kualitas ini menyangkut kemampuan individu perempuan dalam berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam organisasi. Pengambilan keputusan dalam organisasi saat ini harus melibatkan seluruh komponen masyarakat. Namun kenyataannya perempuan merasa takut berteman dengan para elit politik dalam organisasi. Pengambilan keputusan seringkali pengikuti apa saja yang diputuskan laki-laki; Inilah yang menyebabkan perempuan kurang berkiprah dalam organisasi,.

Keanggotaan dalam organisasi harus ditingkatkan menjadi kepemimpinan dalam organisasi. Kepemimpinan perempuan seharusnya berbeda dengan kepemimpinan laki-laki, namun kenyataannya justru perempuan mengikuti gaya kepemimpinan laki-laki yang bersifat komando. Ini berarti seorang pemimpin laki-laki adalah seorang komandan, dan anggota adalah bawahannya. Untuk menjadi seorang pemimpin laki-laki maka mereka harus bekerja dan taat sepenuh hati dengan atasannya. Melalui beberapa tahapan dan percobaan maka secara lambat laun akan menampilkan jiwa kepemimpinan.. Untuk menjadi pemimpin laki-laki harus memerlukan waktu yang cukup lama. Ini model gaya kepemimpinan hirarchy dimana ada seorang pemimpin dipuncak piramida yang akan memberi intruksi dan eksekusi kepada bawahannya.

Sistem kepemimpinan perempuan seharusnya dimulai dengan bertindak aktif dalam organisasi. Setiap anggota organisasi , perempuan satu dengan perempuan lainnya masing-masing saling mengembangkan diri, harus mengembangkan kompentensinya dan satu dengan lainnya saling bersaing untuk maju. Percaya atau tidak, banyak organisasi berisi ratusan orang yang tidak bernyali, tidak berenergi positif, dan tidak mampu mengajak rekan-rekannya. Kalau kita amati organisasi seperti ini banyak didominasi pemimpin yang kuat, sehingga terjadi praktik ”one man show” dimana individu disekitar orang kuat tersebut hanya mengerjakan tugas-tugas teknis, tanpa perlu mendayagunakan nyali, enerji dan aurannya.

Nyali , energi dan komunikasilah aspek kepemimpinan dasar yang perlu di drill dalam organisasi. Individu yang ingin mengembangkan kepemimpinan perlu sadar bahwa dalam kelompok kita perlu menghadapi situasi konflik, negosiasi dan saling mempengaruhi. Dari sinilah ditumbuhkan keberanian untuk berkomunikasi efektif dengan cara diskusi terbuka, asertif dan berterus terang, serta mengembangkan respek satu sama lain. Keberanian individu dibangkitkan untuk sesekali beda dari rekannya atau mengambil keputusan yang tidak populer, tetapi berdasarkan keyakinan dirinya. Nyali inilah yang bisa menjadi dasar kreativitas dan akuntabilatas individu serta dasar untuk mengendalikan situasi. Kemampuan strategik setiap bawahan perlu dikembangkan pada setiap orang asal dia mau belajar dari lingkungan profesionalnya. Latihan berstrategi ini bisa dilakukan individu disetiap level organisasi dengan membiasakan berpikir, membuat usulan dan proposal untuk mendapatkan kesempatan berkreativitas dan berlatih memecahkan masalah sejak dini, bukan menikmati tugas pelaksanaan saja.

E. MODEL PARTISIPATORIS, IMPROVEMENT DAN TRANFORMATIVE
Pendekataan gender sebagaimana dijelaskan di atas, lebih menghargai keberadaan dan inovasi-inovasi dari aktivitas perempuan itu sendiri. Kita sebagai pekerja sosial memiliki dua alat utama yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pemberdayaan perempuan yaitu pengetahuan dan seni.

Pengetahuan pekerjaan sosial terkait dengan pengetahuan profesional pekerjaan sosial yaitu case work, group work dan community organization/community development yang diimplementasikan dalam keterampilan bekerja bersama perempuan, sehingga pemberdayaan perempuan dilakukan dengan perpektif perempuan itu sendiri . Untuk itu pekerja sosial harus mau hidup bersama dengan perempuan dan belajar tentang kearifan perempuan. Melalui cara itu maka pekerja sosial akan memiliki awareness atau kesadaran akan kehidupan perempuan.

Seni pekerjaan sosial terkait dengan strategi-strategi yang disusun oleh pekerja sosial yang diimplementasikan dalam keterampilan bekerja bersama perempuan. Untuk itu pekerja sosial harus mampu secara bersama dengan perempuan menyusun strategi-strategi dalam meningkatkan kesejahteraannya. Menurut Dubois dan Milley (lihat rustanto 2006) ada 3 strategi sebagai seni pekerja sosial dalam pemberdayaan masyarakat termasuk juga pemberdayaan perempuan , yaitu :
Strategi pertama : strategi partisipatoris dalam arti mampu menyadarkan perempuan untuk mengungkapkan kebutuhan dan masalahnya sendiri. Partsipatoris ini penting karena pemberdayaan perempuan berbasiskan kearifan yang berasal dari bawah atau bottom up. Sarana yang dapat dipergunakan pekerja sosial adalah melalui kelompok sosial yang sudah diorganisir secara baik oleh pekerja sosial.

Strategi kedua : strategi improvement dalam arti mampu mengajak perempuan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan terhadap kondisi kehidupannya. Perbaikan ini terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Improvement ini harus sesuai dengan budaya dan sumber daya yang tersedia di lingkungan tersebut. Sarana yang dapat dipergunakan pekerja sosial adalah melalui kegiatan perubahan perilaku hidup komunitas (community behavior change) dengan menggunakan kelompok-kelompok teladan.

Strategi ketiga ; strategi transformative dalam arti mampu mengajak perempuan untuk mengadakan perubahan hidup sejajar dengan laki-laki. Perubahan ini dengan cara sering bergaul dan berhubungan dengan dunia luar, sehingga aktivitas perempuan tidak hanya dunia domestic, tetapi juga publik. Sarana yang dapat dipergunakan pekerja sosial melalui penyediaan forum tatap-muka dan anjang sana (community deleberative forum) dengan menggunakan perwakilan kelompok kepentingan.


Pustaka Acuan

Wismer Susan, 2002 : Panduan Untuk Fasilitator Dalam Pelatihan Jender dan Lingkungan, Jakarta :Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Gueteress Louis, 2000: Feminism and Social Work, London : Mac Millan..
BPS Provinsi Jabar, 2004: Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat, Bandung: BPS
Patrick Tonys, 2004 : Human Right and Social Work, London Mac Millan
Rustanto Bambang, 2006 : Kesejahteraan Sosial Berbasis Kearifan Lokal , Jakarta: Dit PKAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar