Jumat, 25 Maret 2011

PENELITIAN SOSIAL- JARINGAN SOSIAL ANAK JALANAN

JARINGAN SOSIAL ANAK JALANAN




LATAR BELAKANG MASALAH

Makassar adalah ibu kota dari Provinsi Sulawesi Selatan dimana merupakan salah satu kota besar di Indonesia, Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa. Dalam perkembangan Kota Makassar masih meninggalkan beberapa masalah kesejahteraan sosial, salah satunya permaslahan anak jalanan. Sementara jumlah anak jalanan di Makassar menjelang akhir 2010, sempat meningkat menjadi 1.000 orang, padahal pada akhir 2009 hingga awal 2010 sempat dibawah 500 orang ketika Perda nomor 2 Tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen mulai diterapkan., dari pendataan yang dilakukan Dinas Sosial Kota Makassar umumnya anak jalanan berasal dari luar daerah. Kehadiran anak jalanan di kota Makassar merupakan sesuatu yang sangat dilematis.

Di satu sisi mereka dapat mencari nafkah dan mendapatkan pendapatan (income) yang dapat membuatnya bertahan hidup dan menopang kehidupan keluarganya. Namun di sisi lain kadang mereka juga berbuat hal-hal yang merugikan orang lain, misalnya berkata kotor, mengganggu ketertiban jalan, merusak body mobil dengan goresan dan lain-lain. Selain itu permasalahan anak jalan juga adalah sebagai objek kekerasan. Mereka merupakan kelompok sosial yang sangat rentan dari berbagai tindakan kekerasan baik fisik, emosi, seksual maupun kekerasan sosial. Kecenderungan semakin meningkatnya jumlah anak jalanan merupakan fenomena yang perlu segera ditingkatkan penanganannya secara lebih baik, sebab jika permasalahan tidak segera ditangani maka dikhawatirkan menimbulkan permasalahan sosial baru. Situasi dan kondisi jalanan sangat keras dan membahayakan bagi kehidupan anak-anak, seperti ancaman kecelakaan, eksploitasi, penyakit, kekerasan, perdagangan anak, dan pelecehan seksual.

Salah satu tempat dikota Makassar yang marak dengan anak jalanan yaitu kawasan Pantai Losari yang merupakan kawasan pariwisata di kota Makassar, tempat ini selalu rame dengan pengunjung pada sore dan malam hari karena keramean tempat ini menjadikan lahan bagi anak jalanan mencari nafkah. Anak jalanan di kawasan Pantai Losari kebanyakan berprofesi sebagai pengamen, jumlah anak jalanan di pantai losari sebanyak 150 anak jalanan, anak jalanan yang ada berusia di kawasan pantai losari dari 4 - < 17 tahun. Interaksi sosial antara pengunjung dan anak jalanan sangat negatif tidak sedikit dari mereka yang mengamen di tempat ini meresahkan pengunjung yang datang di kawasan pantai losari, permasalahan dikawasan ini sering terlihat pengamen yang langsung saja memainkan senar gitarnya dan menggetarkan pita suaranya, meskipun sang pengunjung tak ingin menikmati sajian musik yang mereka gelar. Peristiwa itu pun akan berakhir dengan sebuah pemaksaan untuk membayar ongkos jasa, bahkan terkadang sang pengamen ngotot hingga upah itu diberikan. Bahkan anak jalanan di pantai Losari sangat berani memaksa pengunjung agar diberikan upah, mereka tidak takut karena anak jalanan dikawasan pantai losari berkelompok selain itu mereka juga di lindungi sama orang tua yang kebetulan bekerja sebagi pedagang asongan dan preman-preman yang ada dikawasan pantai losari itu menyebabkan mereka sangat agresif, tidak jarang juga sampai menimbulkan percekcokan antara pengunjung yang datang ketempat ini hubungan sosial antara anak jalanan sangat kental terlihat.

Jaringan sosial yang ada dilingkungan ini sangat berpengaruh, dimana jaringan tersebut menfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi yang memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama dengan anak jalanan. Melihat hal diatas siapa aktor yang berhubungan dekat dengan anak jalanan, orang tua bisa sebagai tokoh yang berperan penting karena kondisi ekonomi, selain itu orang-orang yang memanfaatkan keberadaan anak jalanan sebagai aset yang berharga (preman) juga bisa sebagai aktor dari fenomena yang terjadi dikawasan pantai Losari yang berhubungan dengan anak jalanan
Alasan peneliti memilih Anak jalanan dikawasan pantai losari sebagai fokus penelitian berangkat dari pemikiran, yaitu :

1. Anak jalanan dikawasan pantai losari memberikan dampak yang buruk terhadap keberfungisan Pantai Losari itu sendiri sebagai salah satu kawasan wisata di Kota Makassar.
2. Pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai dengan rasa tentram dan aman, tetapi malah tercoreng dengan keberadaan anak jalanan yang mengamen dengan cara memaksa.
3. Anak jalanan dikawasan panati losari bias dikatan preman terselubung.
Berangkat dari pemikiran tersebut maka peneliti tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih lanjut tentang permasalahan anak jalanan dari aspek jaringan sosial di kawasan Pantai Losari Makassar dengan judul penelitian “Jaringan Sosial Anak Jalanan Di Kawasan Pantai Losari Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan”

PERMASALAHAN PENELITI
Penetapan kawasan Pantai Losari sebagai latar penelitian, karena Pantai Losari ini merupakan salah satu wilayah yang rame di kunjungi baik masyarakat Makassar maupun dari luar Makassar dan banyak terdapat anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen dengan cara memaksa agar diberi upah.
Untuk itu yang menjadi permasalahan atau fokus penelitian ini adalah “Bagaimana Jaringan Sosial Anak Jalanan yang Bekerja Sebagai Pengamen Di Kawasan Pantai Losari Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan dengan sub problematik sebagai berikut :
1. Gambaran situasi di lokasi Pantai Losari Makasssar ?
2. Bagaimana Karakteristik anak jalanan di kawasan Pantai Losari ?
3. Bagaimana jaringan sosial anak jalanan di lokasi pantai losari ?
a. Berdasarkan unsur kepadatan (density)
b. Berdasarkan unsur rentang (range)
c. Berdasarkan unsur isi sesuai konteks (content)
d. Berdasarkan unsur frekuensi
e. Berdasarkan unsur kekompakan (durability)
f. Berdasarkan unsur tahapan hubungan (step)
4. Bagaimana hubungan anak jalanan dikawasan pantai losari dengan masyarakat (pengunjung) ?
5. Bagaimana upaya responden dalam mengatasi hambatan yang dirasakan ?
6. Bagaimana harapan-harapan responden ?

TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang dan masalah penelitian yang telah diuraikan maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menggambarkan lokasi penelitian.
2. Untuk menggambarkan karakteristik responden.
3. Untuk memperoleh gambaran secara umum tentang Jaringan Sosial anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen di kawasan Pantai Losari.
4. Untuk mengatahui lebih jauh tentang gambaran masyarakat dalam meyikapi anak jalanan yang mengamen dengan cara memaksa di kawasan pantai losari.
5. Untuk menggambarkan upaya responden dalam mengatasi hambatan yang dirasakan.
6. Untuk menggambarkan harapan-harapan peneliti.

MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah dipaparkan, diharapkan penelitian ini memberikan manfaat, diantaranya :
1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan wawasan pengetahuan penulis tentang permasalahan sosial bertambah khususnya pengetahuan terhadap intervensi komunitas terhadap penanggulangan anak jalanan.
2. Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan pemikiran bagi masyarakat serta orang-orang yang memiliki hubungan dengan anak jalanan bahwa anak jalanan juga memiliki hak sehingga mereka perlu dilindungi dan bagi anak jalanan itu sendiri.
3. Penelitian ini dapat memberikan masukan atau sumbangan bagi Pemerintah Kota Makassar khususnya Dinas Sosial dalam rangka penanggulangan anak jalanan sehingga orang-orang yang memanfaatkan keberadaan dapat dihentikan.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Tinjauan tetang Jaringan Sosial
Jaringan sosial menurut Lawang (2005), menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang memungkinkan kegiatan berjalan secara efisien dan efektif. Analisis jaringan sosial merupakan salah satu pendekatan dalam studi antropologi, pendekatan ini berkaitan erat dengan upaya memahami bentuk dan fungsi hubungan sosial dalam masyarakat kompleks.
Mitchell (1969: 1-2) melihat bahwa jaringan sosial sebagai seperangkat hubungan khusus atau spesifik yang terbentuk di antara sekelompok orang yang karakteristik hubungan-hubungan tersebut dapat digunakan untuk menginterpretasi motif-motif perilaku sosial dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Suparlan (1982: 35) Jaringan sosial adalah sebagai suatu pengelompokan yang terdiri atas sejumlah orang, paling sedikit terdiri atas tiga orang yang masing-masing mempunyai identitas tersendiri dan masing-masing dihubungkan antara satu dengan yang lainnya melalui hubungan-hubungan sosial yang ada, sehingga melalui hubungan sosial tersebut mereka dapat dikelompokkan sebagai suatu kesatuan sosial. Suparlan (1982: 36-39) mengatakan ada beberapa hal yang merupakan ciri-ciri utama dari jaringan sosial, yaitu:
a. Titik-titik, merupakan titik-titik yang dihubungkan satu dengan lainnya oleh satu atau sejumlah garis yang dapat merupakan perwujudan dari orang, peranan, posisi, status, kelompok, tetangga, organisasi, masyarakat, negara dan sebagainya.
b. Garis-garis, merupakan penghubung atau pengikat antara titik-titik yang ada dalam suatu jaringan sosial yang dapat berbentuk pertemuan, kekerabatan, pertukaran, hubungan superordinat-subordinat, hubungan-hubungan antarorganisasi, persekutuan militer dan sebagainya.
c. Ciri-ciri struktur. Pola dari garis yang menghubungkan serangkaian atau satu set titik-titik dalam suatu jaringan sosial dapat digolongkan dalam jaringan sosial tingkat mikro atau mikro, tergantung dari gejala-gejala yang diabstraksikan. Contoh dari jaringan tingkat mikro yang paling dasar adalah suatu jaringan yang titik-titiknya terdiri atas tiga buah yang satu sama lainnya dihubungkan oleh garis-garis yang mewujudkan segitiga yang dinamakan triadic balance (keseimbangan segitiga); sedangkan contoh dari jaringan tingkat makro ditandai oleh sifatnya yang menekankan pda hubungan antara sistem atau organisasi, atau bahkan antarnegara.
d. Konteks (ruang). Setiap jaringan dapat dilihat sebagai terwujud dalam suatu ruang yang secara empiris dapat dibuktikan (yaitu secara fisik), maupun dalam ruang yang didefenisikan secara sosial, ataupun dalam keduanya. Misalnya, jaringan transportasi selalu terletak dalam suatu ruangan fisik, sedangkan jaringan perseorangan yang terwujud dari hubungan-hubungan sosial tidak resmi yang ada dalam suatu organisasi adalah suatu contoh dari suatu jaringan yang terwujud dalam satu ruang sosial. Jaringan komunikasi dapat digambarkan sebagai sebuah peta baik secara fisik, yaitu geografis maupun menurut ruang sosialnya, yaitu yang menyangkut status dan kelas sosial.
e. Aspek-aspek temporer. Untuk maksud-maksud sesuatu analisa tertentu, sebuah jaringan sosial dapat dilihat baik secara sinkronik maupun secara diakronik, yaitu baik sebagai gejala yang statis maupun dinamis.
Dilihat dari skala hubungan sosial yang dapat dimasuki oleh individu-individu, Barnes (1969, 55-57) menyebutkan adanya dua macam jaringan, yaitu jaringan total dan jaringan bagian. Jaringan total adalah keseluruhan jaringan yang dimiliki individu dan mencakup berbagai konteks atau bidang kehidupan dalam masyarakat. Jaringan bagian adalah jaringan yang dimiliki oleh individu terbatas pada bidang kehidupan tertentu, misalnya jaringan politik, jaringan keagamaan, jaringan kekerabatan. Menurut Mitchell (1969: 10-29) hubungan sosial dapat disebut sebagai jaringan sosial jika di dalamnya sekurang-kurangnya mengandung unsur-unsur kepadatan (density), rentang (range), isi sesuai konteks (content), frekuensi (frequency), kekompakan (durability), dan tahapan hubungan (step). Dengan demikian, hubungan-hubungan sosial itu tidak terjadi/terbentuk secara acak, melainkan menunjukkan adanya suatu keteraturan.
a. Kepadatan, dimana terdapat Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik.
b. Rentang (range), yang dimaksud rentang yaitu dimana adanya kendali dalam suatu lingkungan atau wilayah dimana individu berada.
c. Isi sesuai Konteks (content), adanya hubungan dan perilaku-perilaku antara individu dalam suatu kelompok atau satu kelompok dengan kelompok yang lain.
d. Frekuensi, yaitu adanya kekerapan atau perulangan berkali-kali. Jaringan sosial terbentuk apabila interaksi individu atau kelompok terjadi secara berkali-kali dalam kata lain terjadi timbal balik selama menjalin ikatan-ikatan sosial.
e. Kekompakan (durability), adalah adanya kebersamaan dalam suatu kegiatan atau pikiran untuk mencapai suatu tujuan
f. Tahap hubungan (step), adanya perkembangan hubungan atau tingkatan dari ikatan yang telah terbentuk.
Di dalam kehidupan masyarakat kompleks, khususnya masyarakat perkotaan, dijumpai adanya tiga jenis keteraturan hubungan-hubungan sosial, yaitu:
a. Keteratuan struktural (structural order), adalah perilaku orang-orang ditafsirkan dalam istilah tindakan-tindakan yang sesuai dengan posisi yang mereka duduki dalam seperangkat tatanan posisi-posisi, seperti dalam suatu perusahaan, keluarga, asosiasi-asosiasi sukarela, partai politik atau organisasi-organisasi sejenis.
b. Keteraturan kategorikal (categorical order), adalah perilaku orang-orang dalam situasi tidak terstruktur yang dapat ditafsirkan dengan istilah stereotipe seperti kelas, ras dan kesukubangsaan.
c. Keteraturan personal (personal order), adalah perilaku orang-orang, baik dalam situasi-situasi terstruktur atau tidak terstruktur, dapat ditafsirkan dalam istilah hubungan-hubungan antarindividu dalam suatu kelompok atau hubungan antara suatu kelompok dengan kelompok lain seperti jaringan sosial keluarga yang diteliti oleh Bott (Mitchell, 1969: 9-10).
Keteraturan dalam jaringan sosial berimplikasi pada pembentukan struktur sosial. Struktur sosial dapat didefinisikan sebagai pola dari hak dan kewajiban para pelaku dalam suatu sistem interaksi yang terwujud dari rangkaian-rangkaian hubungan sosial yang relatif stabil dalam suatu jangka waktu tertentu. Pengertian hak dan kewajiban para pelaku dikaitkan dengan status dan peranan masing-masing (Suparlan, 1982: 31-34).
Berdasarkan tinjauan hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial dalam suatu masyarakat, jaringan sosial dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Jaringan kekuasaan, merupakan jaringan hubungan-hubungan sosial yang dibentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kekuasaan.
b. Jaringan kepentingan, merupakan jaringan hubungan-hubungan sosial yang dibentuk oleh hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kepentingan.
c. Jaringan perasaan, merupakan jaringan hubungan-hubungan sosial yang terbentuk atas dasar hubungan sosial yang bermuatan peran.
Sebuah jaringan sosial tidak hanya dibentuk oleh satu jenis jaringan sosial di atas. Namun, terjadi tumpang tindih antara tiga jenis bentuk hubungan sosial tersebut. Sebuah jaringan sosial dianggap sebagai jaringan kepentingan jika hubungan-hubungan yang terbentuk dalam jaringan sosial tersebut lebih dominan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan-kepentingan tertentu. Dua jenis jaringan sosial yang lain, yaitu jaringan kekuasan dan jaringan perasaan tetap ada tetapi tidak dominan.



2. Tinjauan tentang anak jalanan
Dalam pengertian untuk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street. Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
Dalam pengertian anak jalanan, anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalanan baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalan dan tempat-tempat umum lainnya (Depsos R.I.,1995).
Berdasarkan definisi operasional dan karakterisitik jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dimana anak jalanan termasuk kedalam jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial, anak jalanan adalah Anak yang berusia 5 – < 18 tahun yang sebagian waktunya berada di jalanan sebagai pedagang asongan, pengemis, pengamen, jualan koran, jasa semir sepatu dan mengelap mobil.
Ciri-cirinya adalah :
a. Mencari nafkah untuk membantu orang tuanya.
b. Bersekolah/tidak sekolah.
c. Keluarganya tidak mampu.
d. Tinggal dengan orang tua/Melarikan diri dari rumah/tinggal di jalanan sendiri maupun bersama-sama teman-teman, seperti di emperan toko, terminal dan sebagainya.
e. Mempunyai aktivitas di jalanan baik terus menerus maupun tidak, minimal 4 sampai 6 jam per hari.
f. Berkeliaran tidak menentu dan sebagainya.




3. Tinjauan tentang pelayanan sosial dan pekerja sosial anak
Pelayanan sosial adalah salah satu bentuk kebijakan sosial (social policy) yang ditujukan untuk mempromosikan kesejahteraan. Namun demikian, pemberian pelayanan sosial bukan merupakan satu-satunya strategi untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Ia hanyalah salah satu strategi kebijakan sosial dalam mencapai tujuannya. Agar efektif kebijakan sosial harus terintegrasi dengan sistem politik dan kebijakan makro ekonomi yang kondusif, termasuk kebijakan fiskal dan moneter yang tertib denga sistem pajak proporsional dan progresif (yang lebih kaya membayar lebih banyak).
Pelayanan sosial adalah kegiatan yang terorganisir atau seperangkat program yang ditujukan untuk meningkatkan kehidupan individu, kelompok atau masyarakat, terutama mereka yang mengalami kesulitan hidup. Makna kata “sosial” pada pelayanan sosial menunjuk pada target atau sasarannya: yakni orang banyak atau publik. Jadi kata sosial tidak lagi terbatas pada makna karitatif atau non-profit saja. Karena pelayanan sosial yang profesional bisa saja berorientasi profit.
Dilihat dari landasan konseptual, maka pelayanan sosial bisa didasarkan perspektif residual dan institusional (Suharto, 2006a; 2006b). Pandangan residual menyatakan bahwa pelayanan sosial diberikan hanya apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi dengan baik oleh lembaga-lembaga yang ada di masyarakat, seperti institusi keluarga dan ekonomi pasar. Pelayanan sosial harus dihentikan manakala individu atau lembaga-lembaga kemasyarakatan tadi dapat berfungsi kembali. Bantuan finansial dan sosial sebaiknya diberikan dalam jangka pendek, pada masa kedaruratan, dan bersifat selektif, yakni hanya diberikan kepada kelompok paling miskin berdasarkan targeting ‘test penghasilan’ (means-tested).
Pekerja sosial merupakan salah satu profesi dibidang kemanusiaan, yang bertugas untuk menolong manusia yang mengalami permasalahan dalam dirinya sehingga tidak dapat berfungsi sosial/social disfungtion pada lingkungan dimana manusia itu tinggal. dalam melakukan pertolongan kepada manusia. Pekerja sosial anak yaitu, pekerja sosial yang bekerja dengan anak dalam hal membantu mengatasi permasalahan yang ada dalam lingkungan anak.pekerja sosial harus memiliki tiga pilar dalam melakukan intervensi sosial. adapun ketiga pilar tersebut diantarannya adalah:
a. Knowladge. Knowladge merupakan salah satu kerangka utama dalam kegiatan intervensi sosial. landasan ilmu pengetahuan menjadi salah satu syarat seorang pekerja sosial dalam menolong manusia, agar jenis pertolongan yang digunakan tepat dengan sasaran. kajian teori-teori tentang perilaku manusia (behaviour), Psikologi, Sosilogi terapan adalah salah satu syarat knowladge pekerja sosial. pemahaman pekerja sosial terhadap metode dan konsep-konsep pendekatan di teori harus dapat di mengerti. knowladge adalah pembeda antara profesi dibidang kemanusiaan seperti relawan/volunter dan lainnya, sedangkan pekerja sosial dalam melakukan sistem pertolongan kepada manusia harus dilandasi oleh ilmu penetahuan sebagai basis ilmiah dan profesionalitas sebuah profesi.
b. Skill. Skill merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pekerja sosial dalam melakukan sistem pertolongan kepada manusia. kemampuan yang harus dimiliki diatarannya adalah bagaimana cara pekerja sosial dalam menerapkan metode intervensi pada berbagai jenis permasalahan manusia, seperti cara menerapkan intervensi pada anak-anak yang mengalami keterlantaran (child abuse), metode yang digunakan pun berbeda dalam menangani anak penngguna narkoba meskipun obyeknya sama-sama anak. biasannya pada anak-anak yang menagalami keterlantaran dilakukan melalui pendekatan play therapy dalam membangun mental dan psikologisnya karena tekanan sedangkan pada anak pengguna narkoba biasannya dilakukan dengan terapeutic community .Hal ini yang perlu di perhatikan bagaimana kemampuan pekerja sosial menerapkan metode pada permasalahan manusia yang mengalai perbedaan karakter, watak, dan latar belakang.
c. Values. Values merupakan nilai dan etika seorang pekerja sosial dalam melakukan intervensi pada manusia. nilai-nilai tersebut muncul berdasarkan kode etik pekerja sosial seperti halnya; humanis, demokrasi, dan menghargai HAM. nilai itu akan membatasi bagaimana seorang pekerja sosial melakukan intervensi sosial pada klien sehingga seorang pekerja sosial tidak mengangap dirinya seperti superhero yang sok tahu dan berkuasa atas keselamatan hidup klien. kade etik inilah yang menjadi batasan intervensi tersebut.



METODE PENELITIAN

1. Disain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat gambaran (deskripsi) mengenai situai-situasi atau kejadian. Menurut Whitney dalam Nazir (1988:63), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah, tata cara yang berlaku serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Metode Penelitian Deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk mempelajari gambaran secara sistematis, actual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat, dan hubungan antara fenomena-fenomena yang diteliti sehingga dapat menunjukkan bagaimana sikap responden baik pikiran, perasaan, dan tindakannya terhadap Jaringan sosial anak jalanan dikawasan pantai losari.
Menurut Sugiyono (2005:1), metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian yang merupakan angka-angka, analisis data bersifat statistik, dan hasil penelitian kuantitatif dapat digeneralisasikan pada populasi dimana sampel tersebut diambil karena sampel diambil secara random.
Menurut Burhan (2005), pendekatan kuantitatif dalam penelitian sosial dimana objek peneliti dilihat memiliki keberaturan yang naturalistik, empiris, dan behavioristik, dimana semua objek peneliti harus dapat direduksi menjadi fakta yang dapat diamati, tidak terlalu mementingkan fakta sebagai makna namun mementingkan fenomena yang tampak, serta serba bebas nilai atau objektif dengan menentang habis-habisan sikap-sikap subjektif.
Pendekatan kuantitatif digunakan dengan pertimbangan bahwa untuk menggambarkan/menangkap jaringan sosial anak jalanan dan bagaimana hubungan-hubungan sosial anak jalanan sehingga membentuk suatu jaringan sosial yang kuat.

2. Populasi dan Sampel

a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2009: 80).
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek tersebut. Berdasarkan masalah penelitian, maka yang menjadi populasi penelitian adalah anak jalanan yang ada di kawasan Pantai Losari, yang jumlah 150 anak jalan di kawasan Pantai Losari.

b. Sample
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu, sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili).
Teknik sampling yang akan dilakukan yaitu Simple Random Sampling. Teknik ini digunakan karena populasi mempunyai anggota/ unsur yang homogen. Sampel yang dijadikan sebagai responden adalah anak jalanan dikawasan Pantai Losari yaitu sebanyak 15 orang. Prosedur pengmbilan sampel secara random sampling ini dilakukan dengan pengambilan sampel sebanyak 10% dari jumlah anak jalanan yang ada dikawasan Pantai Losari.

3. Definisi Operasional
Untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup konsep dalam penelitian ini, peneliti memberikan definisi operasional sebagai berikut :
a. Jaringan sosial adalah suatu asosiasi (hubungan) yang memiliki ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang menumbuhkan kepercayaan dan keamanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatife panjang dalam masyarakat satu sama lain.
b. anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalanan baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalan dan tempat-tempat umum lainnya

4. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Wawancara
Esterberg (2002), wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.
b. Angket (kuesioner)
Angket (self-administered-quistionnaire) adalah teknik pengumpulan data dengan memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
c. Studi dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian/responden, tetapi melalui data sekunder yang dapat dipelajari misalnya catatan kasus, laporan, buku harian, notulen dan dokumen lainnya.





.



















































.


5. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Validitas suatu alat ukur adalah adalah sebagai suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur konsep yang hendak diukur. Suatu ukuran dapat dikatak valid apabila alat ukur tersebut dapat mengukur dengan tepat. Dalam hal ini untuk mengukur kevalidan alat ukur tersebut, Penulis menggunakan pengujian validitas yang disebut dengan Validitas Internal, dimana data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrument yang digunakan.
Reliabilitas yang digunakan adalah Ekuivalen dimana pertanyaan secara bahasa berbeda tetapi maksudnya sama.


6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk menjelaskan temuan-temuan dilapangan. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, analisis ini dilakukan degan mengidentifikasi tema-tema utama yang ditampilkan data, menyusun kategori serta membandingkan perbedaan-perbedaan. Interpretasi peneliti nantinya akan dikompirmasikan kembali kepada responden. Komponen dan proses penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: (Sugiyono, 2009: 30).






Berdasarkan gambar di atas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Rumusan masalah. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan peneliti selanjutnya.
b. Landasan teori. Digunakan untuk menjawab rumusan masalah dengan menggunakan teori.
c. Perumusan hipotesis. Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
d. Pengumpulan data. Dilakuakn pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi.
e. Analisis data. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan.
f. Kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.
7. Jadwal dan Langkah-langkah Peneliti
a. Jadwal Penelitian
Penelitian direncanakan, di kawasan Pantai Losari Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.




b. Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang ditempuh dalam penelitian akan disesuaikan dengan jadwal dan situasi lapangan. Adapun garis besar dari penelitian ini sebagai berikut:
a) Pemilihan lokasi penelitian
b) Penyusunan dan pengajuan proposal
c) Pengurusan perijinan penelitian
d) Penjajakan dan penilaian lapangan
e) Penyiapan peralatan penelitian
f) Penelitian, pendekatan, dan pemanfaatan informan
g) Proses pengumpulan data lapangan
h) Analisis data dan hasil penelitian
i) Bimbingan dan penulisan laporan penelitian
j) Pengesahan hasil penelitian.
Atau dalam tabel dapat di jabarkan sebagai berikut
 1. Studi literature
2. Pengajuan judul proposal dan lokasi
3. Penyusunan proposal
4. Bimbingan penulisan proposal
5. Seminar proposal
6. Pengurusan ijin penelitian
7. Pengumpulan data/ penelitian
8. Penyusunan KIA
9. Penyelesaian KIA
10. Pengesahan KIA



Daftar Pustaka

Suharto, Edi (2007). Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik, Alfabeta, Bandung.
Departemen Sosial Republik Indonesia.2005. Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Sosial Anak Jalanan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial
Bungin, Burhan (2005). Metode Penelitian Kuantitatif, Kencana Prenada Media Group, Surabaya.
Sugiono (2005), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, CV Alfabeta, Bandung.
Kusnadi. Jaringan Sosial Sebagai Strategi Adaptasi Masyarakat Nelayan. Studi Kasus di Desa Pesisir, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Tesis Antropologi. Depok.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Departemen Sosial RI, Sekjen Departemen Sosial (2009), Praktek Pekerjaan Sosial dengan Anak, Jakarta.
www. Google. com, Konsep Jaringan Sosial dalam Perspektif Antropologi, Arief Hilman Arda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar