Jumat, 25 Maret 2011

PRAKTEK INTERVENSI KOMUNITAS

INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL KOMUNITAS




Pekerjaan Sosial adalah suatu kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam melaksanakan fungsi sosialnya serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuannya (Zastrow, 1982:12). Tahapan intervensi atau pelaksanaan program merupakan rangkaian kegiatan proses pertolongan dalam pekerjaan sosial setelah kegiatan perencanaan kegiatan. Sebagai tindaklanjut dari perencanaan yang telah disusun bersama dengan masyarakat agar menjadi nyata dan dapat dirasakan adalah dengan melaksanakan rencana tersebut. Bentuk nyata kegiatan praktikan (pekerja sosial) bersama masyarakat tersebut biasa disebut dengan pelaksanaan intervensi.

Pelaksanaan intervensi menurut Huraerah (2008: 66) adalah tindakan nyata atau tindakan konkrit yang berada didalam masyarakat untuk melaksanakan program tersebut secara konsisten, termasuk didalamnya dukungan ketersediaan anggaran dan profesionalisme pelaksanaan rencana. Model pendekatan yang digunakan dalam proses pengembangan masyarakat menurut Rothman and Tropman,1987 dibedakan menjadi tiga yaitu model locality development, social planing dan social action. dalam melakukan proses intervensi di Desa Bumirejo pratikan menggunakan model pendekatan locality Development. Model ini biasa juga disebut Community Development. Model ini memandang bahwa perubahan atau pengembangan masyarakat dapat dilakukan dengan sangat baik melalui suatu partisipasi aktif dari masyarakat lokal.

Tindakan dalam upaya perubahan yang diambil dan dilaksanakan praktikan bersama dengan masyarakat/komunitas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi masalah yang dialami masyarakat/komunitas dengan berdasarkan pada rencana yang telah disusun secara bersama dan disepakati dalam bentuk program. Gambaran pelaksanaan intervensi dapat dibagi menjadi dua kegiatan pokok, yaitu bekerja bersama dengan masyarakat/komunitas sasaran dan bekerja bersama system di luar komunitas.

A. Bekerja Bersama Komunitas

Bekerja bersama dengan komunitas merupakan gambaran proses kegiatan praktikan dalam menerapkan program sebagai tindak lanjut dari perencanaan program intervensi. Dalam pelaksanaan proses tersebut meliputi kegiatan komunikasi inovasi, Pelatihan diversifikasi gerabah modern, pendampingan dan evaluasi.
Sesuai dengan strategi dan taktik dalam pekerjaan sosial komunitas (Netting : 2001), praktikan dalam pelaksanaan praktikum yang senantiasa melibatkan unsur kelompok dan masyarakat dengan cara bekerja bersama dalam setiap langkah kegiatan dilapangan. Strategi ini menggunakan taktik kolaborasi dengan membangun kapasitas warga dengan mengedepankan unsur partisipatif dan pemberdayaan. Selain itu sebelum melakukan kolaborasi dengan komunitas tersebut praktikan menggunakan taktik kampanye guna menyakinkan kepada komunitas sasaran akan perlunya perubahan dengan melakukan lobi, kooptasi dan pendidikan terhadap masyarakat. Dalam proses bekerja bersama dengan komunitas secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Membangun komunikasi inovasi
a. Mempelajari Inovasi
Pada tahapan ini masyarakat menerima atau mempelajari tentang suatu inovasi. Inovasi dikomunikasikan melalui berbagai media. Media yang digunakan untuk memberikan informasi tentang ide/gagasan adalah berupa rapat-rapat/pertemuan, dialog, diskusi antar pelaku/pengrajin dsb. Inovasi tidaj hanya di komunikasikan melalui saluran personal saja, inovasi bahkan harus disosialisasikan melalui komunikasi interpersonal dan kedekatan secara fisik.

b. Pengadopsian
Tahap ini masyarakat mulai menggunakan inovasi yang mereka pelajari. Diadopsi atau tidaknya sebuah inovasi oleh masyarakat ditentukan juga oleh beberapa faktor. Pratikan memberikan dorongan dan dukungan serta fasilitasi untuk mendapatkan sumber yang berkaitan dengan inovasi produk gerabah. Adopsi inovasi dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan seseorang. Pada beberapa kesempatan pertemuan pratikan memberikan pencerahan berupa pemutaran film/slide yang berkaitan dengan sosok pengusaha yang telah sukses dalam melakukan inovasi produk. Dengan keyakinan dan kemampuannya pengusaha dimaksud berhasil meraih sukses dengan menjangkau dan memperoleh pasaran yang luas. Pratikan meyakinkan pengrajin gerabah Pedukuhan Senik mampu untuk melakukan inovasi da diversifikasi produk gerabah khususnya gerabah modern.
Pratikan juga mendekatkan dan menghubungkan antara pengrajin dengan berbagai sumber yang dapat diakses yang dapat dipergunakan untuk melakukan pengembangan diri/kelompok. nilai yang dimiliki individu serta persepsi diri mempuyani peranan penting dalam pengadopsian. Jika sebuah inovasi dianggapnya menyimpang atau tidak sesuai dengan nilai yang ia anut, maka ia tidak akan mengadopsinya. Semakin besar pengorbanan yang dikeluarkan untuk mengadopsi sebuah inovasi, semakin kecil tingkat adopsinya

c. Pengembangan jaringan sosial
Kegiatan dilakukan dengan mendorong seseorang yang telah mengadopsi sebuah inovasi untuk menyebarkan inovasi tersebut kepada jaringan sosial di sekitarnya terutama kelompok pengrajin. Difusi inovasi juga melalui proses penyampaian dari satu individu ke individu lain melalui hubungan sosial yang dimiliki oleh kelompok. Riset menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang solid dan dekat satu sama lain mengadopsi inovasi melalui kelompoknya.

2. Pelatihan kelompok pengrajin gerabah
Pelatihan kelompok pengrajinn gerabah ditujukan untuk meningkatkan ketrampilan komunitas pengrajin gerabah tradisional agar lebih kreatif, inovatif dan lebih produktif sehingga akan berdampak pada tingkat pendapatan masyarakat setempat.
Adapun tahap pelaksanaan pelatihan ini melalui beberapa rangkaian kegiatan yaitu :

a. Persiapan
Persiapan pelatihan dilakukan oleh segenap unsur dalam sistem yang terwadahi dalam TKM maupun pendamping dan fasilitator. Persiapan terdiri dari persiapan administrasi dan persiapan teknis meliputi lokasi, sarana dan prasarana. Persiapan administrasi dilakukan dengan membuat dan mengedarkan surat undangan untuk pelaksanaan pelatihan bagi peserta pelatihan sebanyak 14 orang dan nara sumber serta kepala dinas perindustrian Kabupaten Kulon Progo. Persiapan juga dilakukan berupa teknis seperti pengadaan tempat untuk lokasi pelatihan, sarana dan prasarana yaitu bahan mentah berupa tanah liat yang telah digiling, gypsum, cat pewarna dsb. Tahap persiapan juga termasuk mencari dan menghubungi pelatih/nara sumber yang kapable dan kompeten.

b. Koordinasi
Koordinasi ditujukan untuk memastikan kegiatan dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Koordinasi dilakukan dengan melibatkan ketua RT dan Kepala Dukuh serta ketua TKM. Kesiapan nara sumber dari dinas Perindustrian, dinas koperasi serta dari praktisi gerabah modern dari desa Wijirejo Pundong memerlukan koordinasi dan kepastian.

c. Pelaksanaan
Pelaksanaan pelatihan dilakukan selama tiga hari pada tanggal 1 Nopember 2010 s.d 3 Nopember 2010 bertempat di Rumah kepala Dukuh Senik Desa Bumirejo dan Rumah Bp Agus Sugiharto Desa Wijirejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul.
Materi pelatihan adalah sebagaiberikut :
1). Manajemen pemasaran
Materi manajemen pemasaran disampaikan oleh Kasubdin Perindustrian Kabupaten Kulon Progo Drs. Dewantoro. Untuk mendapatkan pemasaran yang baik diperlukan produk barang

Foto 14 : Ceramah/Pelatihan gerabah yang mempunyai daya saing bagi pasar, kebutuhan/selera pasar serta perlunya media pemasaran seperti pameran, show room dsb.

2). Pengorganisasian
Pengorganisasian disampaikan oleh Kasubdin Koperasi Kabupaten Kulon Progo. Dalam materi ini disampaikan tentang kebutuhan organisasi dan kelompok usaha. Kelengkapan organisasi/kelompok termasuk aturan aturan yang diperlukan untuk menata keberadaan kelompok tersebut. Dalam materi ini juga disampaikan tentang perkoperasian dan kegiatan simpan pinjam bagi kelompok.

3). Diversifikasi produk gerabah modern
Diversifikasi produk gerabah dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan pengrajin Pedukuhan Senik tentang gerabah modern. Sebagai nara sumber dipilih Bapak Agus Sugiharto dari Desa

Foto 15 : Praktek pelatihan Wijirejo Kecamatan Pundong bantul. Sebagai pelaku usaha sekaligus pengrajin gerabah modern beliau menyampaikan
berbagai teknik serta kiat untuk membuat gerabah modern yang sedang menjadi selera pasar. Gerabah modern yang disampaikan misalnya berupa souvenir-souvenir, vas bunga dsb. Setelah penyampaian teknik dilajutkan dengan praktek bersama yang dilakukan pada hari ke-2 pelatihan. Dengan menggunakan bahan dari tanah liat yang telah digiling peserta mencoba praktek membuat berbagai gerabah modern. Praktek langsung merupakan salah satu cara latihan yang efekltif, karena dengan praktek langsung hasil dari latihan dapat dilihat secara jelas. Dengan praktek langsung dapat terlihat kekuranga-kekurangan yang perlu dibenahi dalam membuat kerajainan tersebut. Praktek juga dilakukan dengan membuat cetakan gerabah yang dibuat dari gypsum serta melakukan pelatihan finishing produk gerabah.

4). Kunjungan Lapangan
Kunjungan lapangan dilakukam untuk membuka dan memotivasi peserta pelatihan untuk melakukan produksi gerabah modern dan mengikuti jejak pengrajin yang telah sukses di bidang produksi gerabah modern.

Foto 16 : Kunjungan lapangan Kunjungan dilakukan di showroom Bapak Agus Sugiharto yang beralamat di Desa Wijirejo Kecamatan Pundong, Bantul.
Nara sumber dengan telaten memberikan penjelasan tentang berbagai produk gerabah yang telah dihasilkan. Kunjungan lapangan juga dilakukan di rumah produksi sehingga peserta dapat melihat secara langsung cara membuat/mencetak kerajinan gerabah di desa Wijirejo Kecamatan Pundong Bantul.

5). Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok dilakukan setelah kegiatan pelatihan selesai. Peserta pelatihan sepakat mengorganisir diri mereka dalam suatu kelompok usaha yang diberi nama Paguyuban pengrajin gerabah Pedukuhan Senik Desa Bumirejo. Kelompok tersebut mengagendakan pertemuan rutin setiap bulan dengan kegiatan simpan pinjam, arisan dan membahas permasalahan kelompok dan perkembangan usaha. Dalam kesepakatan tersebut setiap anggota diwajibkan menyetor uang/simpanan wajib sebesar Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) setiap anggota. Bunga pinjaman disepakati sebesar 1% perbulan, sedangkan besaran arisan setiap bulannya Rp 10.000,-. Sebagai ketua paguyuban terpilih Bapak Sumarjan. Susunan pengurus selengkapnya sebagaiberikut :
Ketua : Sumarjan
Sekretaris : Sukardi
Bendahara : Suryanti
Seksi Usaha : Madiyono
Supartijem
Seksi Pemasaran : Rukiyat
Wahono
Pengawas keuangan : Marsiyati
Runtiyati


d. Pendampingan
Pendampingan diperlukan untuk lebih meningkatkan kemandirian dalam proses pengembangan masyarakat. Sesuai dengan prinsip pekerjaan sosial yaitu to help people to help them selves. Dalam konteks ini pekerja sosial mempunyai kapasitas sebagai pendamping bukan sebagai penyembuh atau pemecah masalah. Pendamping sosial dalam prakteknya dapat berubah dari satu peranan ke peranan lainya. Pendamping adalah mitra atau fasilitator yang membantu masyarakat meningkatkan keberfungsian sosialnya dalam pencapaian tujuan. Kegiatan pendampingan yang dilaksanakan pada proses pengembangan masyarakat pengrajin gerabah Pedukuhan Senik adalah sebagaiberikut :

1). Pemberian motivasi
Keluarga miskin sebagai target sasaran (pengrajin gerabah) diberikan dorongan dan motivasi untuk memahmi nilai kebersamaan, interaksi sosial dan pengorganisasian kelompok. Melalui pengorganisasian kelompok mereka dapat saling berbagi tentang permasalahan dan kebutuhan yang mereka rasakan selanjutnya dipecahkan secara bersama sama. Pendampingan dilakukan dengan menempatkan mereka sebagai ahli dari persoalan mereka karena merekalah yang mengetahui segala permasalahan dan kebutuhannya.

2). Pembentukan kelompok
Pratikan mendampingi dan memfasilitasi dalam pembentukan kelompok pengrajin gerabah di Pedukuhan Senik. Paguyuban/kelompok yang terbentuk harus mampu untuk mengelola dan mengatur kegiatan kelompok (pertemuan-pertemuan rutin, pencatatan dan pelaporan, tertib administrasi dan keuangan dsb.), dengan dilandasi asas kebersamaan untuk mengembangkan usaha mereka dengan menggunakan segala potensi dan sumber yang dimiliki. Pratikan juga memfasilitasi proses perkembangan kelompok tersebut dengan sedikit campur tangan agar tercipta kemandirian sedikit demi sedikit.

3). Mobilisasi sumber
Sumber sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Keberadaan sumber terkadang tidak disadari oleh mereka atau malah keberadaanya tidak diketahui walaupun sebenarnya dapat diakses. Peran sebagai broker dan fasilitator dilakukan oleh pratikan dengan memfasilitasi menyusun proposal kegiatan secara bersama dengan kelompok sasaran. Proposal ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo Cq Kepala Dinas Perindustrian. Dari pendampingan /fasilitasi pengajuan proposal tersebut pemerintah kabupaten menyetujui dan membantu untuk kegiatan Paguyuban pengrajin gerabah Pedukuhan Senik sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah). Peruntukan dana tersebut adalah sebagai biaya kegiatan pelatihan serta simpan pinjam kelompok pengrajin.

4). Pembangunan dan pengembangan jaringan
Keberadaan jaringan sosial mutlak diperlukan untuk kelangsungan bagi pelaku usaha termasuk industri kecil gerabah. Betapapun mereka mampu membuat berbagai produk gerabah akan tetapi tidak dibarengi dengan pengembangan jaringan khususnya pemasaran akan menjadi sia sia. Kelompok sasaran membutuhkan pendampingan untuk membuka akses pasar. Pratikan mencoba membuka akses tersebut baik kepada pengusaha lokal ( Susmirah Craft Jogjavanesia) serta pengusaha luar daerah (dari Pundong Bantul). Mereka menyanggupi untuk membantu memasarkan produk gerabah dengan kontrol kualitas sesuai ketentuan yang disepakati. Pratikan juga mendampingi pengurus kelompok untuk menjalin komunikasi dengan pihak pemerintah Cq Dinas Perindustrian agar dalam berbagai kesempatan pameran hasil-hasil pembangunan yang rutin diadakan pemerintah kabupaten setiap tahunnya keberadaan dan hasil kerajinan gerabah Pedukuhan Senik senantiasa dilibatkan.

B. Bekerja Bersama Sistem di Luar Komunitas
Bekerja sama dengan sistem di luar komunitas diperlukan untuk memperoleh dukungan baik dukungan secara material/finansial maupun dukungan non material. Dukungan dari luar sistem juga merupakan sumber yang dapat dimanfaatkan keberadaanya untuk pengembangan usaha kelompok. Praktikan dalam bekerja bersama sistem di luar komunitas mencoba membangun komitmen dan meminta dukungan dari para penentu kebijakan dan pemangku kepentingan baik dari jajaran pemerintahan paling bawah hingga tingkat atas. Kegiatan bersama dengan sistem diluar komunitas dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bersama Pemerintah Setempat
Bekerja dengan komunitas tidak terlepas dari pemerintah setempat, karena komunitas merupakan bagian dari pemerintah. Dalam proses praktikum, praktikan selalu mengkoordinasikan dan melaporkan hasil kegiatan dengan pemerintah setempat. Pratikan sering mendiskusikan perkembangan kegiatan bersama Kepala Dukuh, Kepala Desa dan Kabag Kemasyarakatan dan Kabag Pembangunan Desa. Koordinasi juga dilakukan dengan pihak pemerintah kecamatan Cq. Seksi Kesos dan PMD. Kegiatan yang menunjukkan kerjasama dengan pemerintah setempat dapat duraikan sebagai berikut ;
a. Proses perijinan pelaksanaan praktikum, dalam proses ini praktikan mengajukan izin untuk bekerja dengan komunitas pengrajin gerabah Pedukuhan Senik dalam upaya pelaksanaan perubahan dengan program-program yang dirancang bersama masyarakat.
b. Proses mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa Bumirejo, dengan berkoordinasi dan berdiskusi tentang hasil assesmen, kemudian rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dan bagaimana proses pelaksnaannya. Dalam proses ini Kepala Desa beserta dengan jajarannya sangat antusias dan memberikan dukungan sepenuhnya. Bahkan dalam acara/sesi pembukaan pelatihan kepala desa berjanji akan memperhatikan kelangsungan kelompok pengrajin gerabah di Pedukuhan Senik. Kegiatan praktikan juga dipantau dan mendapat dukungan dari Sekretaris Desa Bumirejo dalam proses pemberdayaan masyarakat.
c. Pelaksanaan pendampingan dalam pelaksanaan perubahan dari awal pelaksanaan program dilakukan oleh praktikan dan didampingi oleh pihak desa melalui Kabag Kemasyarakatan. Dari pemerintah desa langsung memonitoring ke lapangan untuk bertemu dengan komunitas melalui kelompok kerja yang dibentuk dan siap lakukan pembinaan selanjutnya.
d. Dengan Pihak Kecamatan Lendah melalui Kasi Kesejahteraan Sosial serta Kasi PMD memberikan dukungan untuk rekomendasi dalam penggalangan dukungan sumber khususnya bantuan dana dari pemerentah Kabupaten Kulon Progo

2. Pemerintah Kabupaten
Dalam era otonomi daerah dengan asas desentralisasinya, keberadaan pemerintah kabupaten menjadi tulang punggung dalam roda perekonomian serta pengembangan kesejahteraan masyarakat. Pratikan bersama dengan kelompok sasaran menjalin hubungan dengan dinas terkait (Dinas Perindustrian dan Dinas Koperasi) untuk mendapatkan alokasi bantuan dana kegiatan. Dengan penyusunan proposal yang realistis dan rasional akhirnya mereka bersedia memberikan bantuan dana kegiatan kelompok untuk peningkatan kapasitas pengrajin gerabah dan kegiatan simpan pinjam. Dinas perindustrian juga berjanji membuka/membuat showroom untuk memasarkan berbagai hasil kerajinan masyarakat Kulon Progo seperti batik, gerabah, tas agel, dsb.

3. Lembaga Pemasaran
Dalam Upaya untuk pemasaran produk kerajinan praktikan bersama masyarakat berupaya untuk mengembangkan jaringan. Pratikan bersama dengan ketua kelompok meminta dan mencari bapak asuh/angkat yang mau atau bersedia menampung hasil kerajinan warga Pedukuhan Senik khususnya untuk hasil kerajinan gerabah sovenir/gerabah modern. Bapak Agus Sugiharto pengusaha asal Kecamatan Pundong yang sekaligus sebagai pelatih menyanggupi untuk menampung dan memasarkan hasil kerajinan kelompok dengan memperhatikan kualitas sesuai dengan ketentuan yang disepakati. Pengurus kelompok juga membangun jaringan dengan pengusaha tata rias pengantin untuk pemenuhan kebutuhan souvenir pernikahan.

C. Refleksi
Pelaksanaan intervensi memerlukan waktu yang panjang dan memerlukan dukungan dan keterlibatan dari berbagai pihak. Kelompok sasaran sebagai sistem klien memerlukan dukungan dari pihak pihak pemangku kepentingan dan dinas/instansi terkait. Hal ini tentu saja memerlukan koordinasi, komunikasi dan relasi yang baik agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Pratikan dapat merasakan dan melihat semangat dan motivasi kerja dari kelompok pengrajin gerabah Pedukuhan Senik yang cukup tinggi. Mereka secara antusian mengikuti berbagai tahapan dalam pelaksanaan kegiatan. Persiapan, koordinasi dan pelaksanaan kegiatan pelatihan dilakukan secara bersama sama dengan kerjasama yang baik dari seluruh komponen sistem yang ada. Sebagai contoh dalam kunjungan lapangan semua peserta/anggota kelompok mengikuti kegiatan walaupun hanya dengan menggunakan sarana transportasi kendaraan bermotor dengan jarak tempuh sekitar 40 km. Dalam proses intervensi atau pelaksanaan kegiatan terutama dalam melakukan koordinasi dengan dinas/instansi terkait serta pengembangan jaringan pemasaran mereka masih memerlukan pendampingan. Pratikan mencoba membangun kemandirian mereka dengan mengurangi berbagai peran yang mungkin dapat mereka lakukan sendiri sehingga akan menciptakan kemandirian bagi kelompok pengrajin gerabah di Pedukuhan Senik Desa Bumirejo. Pada tahapan ini sesungguhnya masyarakat memiliki potensi yang memungkinkan mereka untuk berkembang hanya saja yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut adalah orang yang dapat mengarahkan, memberikan motivasi, dan tempat untuk berdiskusi (pendamping sosial). Dalam proses intervensi ini pratikan juga dapat melihat bagaimana masyarakat bekerja sama dalam ikatan-ikatan aturan, mereka bekerja dengan menunjukkan kepercayaan satu sama lain.


Namun demikian dalam pelaksanaan kegiatan tersebut pratikan melihat tentang masih adanya kelemahan tertib administrasi bagi masyarakat atau kelompok usaha masyarakat. Hal ini tentu saja dikarenakan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan mereka sehingga masih membutuhkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar