Sabtu, 06 Agustus 2011

KESEHATAN JIWA PEREMPUAN

GANGGUAN KEPRIBADIAN PEREMPUAN


Abstraks

Dengan menyitir pendapat praktisi kesehatan mental, dikatakan bahwa faktor penyebab gangguan jiwa sangat kompleks, mulai dari permasalahan biologis, psikologis, dan sosiobudaya. Selain itu, status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dalam hal faktor psikologis, terjadi ketika terdapat hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam dan gangguan mental yang kompleks, tergantung dari situasi, individu dan konstitusi orang itu.

A. Pendahuluan

Terdapat sebuah fakta yang mengejutkan bahwa diperkirakan sebanyak 70%-80% penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa intervensi. Sekitar 1%-3% mengalami gangguan jiwa berat dan 10%-20% penduduk mengalami gangguan jiwa ringan (Pikiran Rakyat, 21/8/08). Ada pun hasil survei kesehatan mental rumah tangga (SKMRT) memperlihatkan bahwa 185 orang dari 1.000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukkan adanya gangguan kesehatan jiwa. Untuk lingkup Jawa Barat, penelitian terakhir menunjukkan, 37% warga Jawa Barat mengalami gangguan jiwa, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi (Pikiran Rakyat, 13/10/08)

Ester Lianawati (2008) mengungkap fakta beberapa hasil penelitian. Hasil penelitian Nolen-Hoeksema (2001) menunjukkan jumlah perempuan yang mengalami depresi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Bahkan penelitian Neale, Davis, & Kring (2004) menemukan perempuan tiga kali lebih rentan terhadap depresi dibandingkan laki-laki, yang berlaku baik pada depresi ringan, sedang, maupun berat. Perbedaan gender ini ditemukan pada sejumlah negara, suku bangsa, dan seluruh tahap usia dewasa.

Penelitian Angold, Costello, dan Worthman (1998) tidak menemukan perbedaan gender ini pada anak-anak. Namun sekitar usia 14 atau 15 tahun, depresi pada remaja putri mulai meningkat, sedangkan pada remaja putra tetap stabil.Kenyataan itu menegaskan pentingnya upaya agar perempuan dapat berada dalam situasi yang memungkinkan kepribadiannya dapat berkembang baik dan dapat melakukan tugas-tugas kehidupan dalam mencapai kesejahteraan.

.Manusia mempunyai budi dan kehendak. Ada kalanya kehendak mengikuti budi yang cenderung membawanya pada kebaikan. Tapi di lain saat kehendak bisa bersebrangan dengan budi. Itu sebabnya pada manusia dimungkinkan adanya perilaku yang baik dan perilaku jahat. Tinggal bagaimana kemudian manusia yang bersangkutan mampu memenej dirinya menghadapi berbagai situasi yang mau tidak mau harus dilakoninya.

Kenyataan di atas oleh Poedjawijatna (1983) disebut sebagai kemerdekaan kehendak, yakni manusia dengan kehendaknya memilih, tidak tertentukan dari luar melainkan dapat menentukan tindakannya sendiri. Menurutnya, kehendak bukan merupakan suatu mesin yang tindakannya tertentukan dari rangkaiannya, melainkan cenderung dari dalam yang merdeka.

Masalahnya, bagaimana kemudian pergulatan kehendak ketika manusia---seperti digambarkan Fitri Fauziah (2005) ---dalam kehidupan sehari-hari banyak mengalami peristiwa yang mungkin menimbulkan kecemasan. Walaupun, menurutnya, pada kadar yang rendah kecemasan membantu individu untuk bersiaga mengambil langkah-langkah mencegah bahaya. Namun dalam kadar yang tinggi, kecemasan akan mengganggu stabilitas psikologis seseorang.

Menarik untuk ditelisik, sebab bukankah kini terdapat sebuah fenomena yang bagi sebagian perempuan, situasi hidup saat ini terasa amat melelahkan? Melelahkan bukan hanya karena soal pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang makin berat, tetapi juga ketika mereka dibenturkan pada berbagai problema yang menyiksa.


B. Kondisi Perempuan Depresif

Fakta banyaknya perempuan yang mengalami gangguan kepribadian setidaknya memunculkan pertanyaan, sudah sedemikian parahkah sebuah masyarakat yang dipilari berbagai norma ini hinggá tak cukup punya ketahanan mental yang memadai? Atau jangan-jangan situasi kehidupan sosial yang memang telah memberikan pencetus terhadap variabel kepribadian yang sedang diwarnai situasi tertentu. Kenyatan ini kemudian meyakinkan kita bahwa harus ada koreksi-koreksi signifikan terhadap tata hidup yang memungkinkan orang yang potensial mendapatkan gangguan psikologis tidak menemukan momentumnya untuk terjadinya gangguan kepribadian.

Hal itu nyatanya terkait dengan bagaimana seseorang menjaga suasana perasaan (mood), sehingga ia tidak mengalami gangguan mood yang menurut Halgin & Whitbourne (Fitri Fausiah, 2005) melibatkan masalah emosi yang mengganggu, berkisar antara kesedihan pada depresi hinggá iritabilitas mood. Gangguan mood yang terjadi erat kaitannya dengan situasi kehidupan seharí-hari seseorang. Pengamatan yang dilakukan dalam rentang waktu berbulan-bulan, memperlihatkan bahwa terdapat situasi hidup yang sangat potensial terjadinya gangguan mood. Dalam kadar tertentu situasi ini kemudian dapat saja menjadi beranjak pada apa yang disebut dengan gangguan jiwa.

Para psikolog feminis juga membawa perihal budaya patriarkis telah berperan dalam menyebabkan perempuan cenderung depresif dibandingkan laki-laki (Ester Lianawati, 2008). Menurutnya, dalam budaya patriarkis, perempuan dituntut banyak hal seperti menjadi istri atau ibu ideal. Tuntutan-tuntutan semacam ini dapat menekan perempuan. Selain itu budaya patriarkis juga menghambat perempuan untuk menunjukkan rasa marah atau ketidaksetujuannya, sehingga membawa perempuan ke dalam kondisi depresif.

Kasus-kasus perempuan yang mengalami gangguan mood depresif menunjukkan perilaku yang khas. Orang yang mengalami gangguan semacam ini nampak seperti kehilangan energi, merasa sedíh, tidak berharga, merasa bérsalah, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari orang lain, kehilangan minat dan kesenangan, serta berpikir tentang kematian dan bunuh diri (Fitri Fausiah, 2005). Namun dalam titik yang ekstrem, ekspresi perilaku bisa menjadi sebaliknya, yakni ingin membuat orang merasa sedíh, kehilangan kesenangan, dan mungkin saja kemudian “kehilangan perasaan” yang menyebabkannya memasuki titik nadir perilaku dengan melakukan pembunuhan.

Bila menyimak situasi kehidupan sekarang yang diwarnai dengan banyaknya orang yang mengalami gangguan kepribadian, ditinjau dari perspektif kesehatan mental, jangan-jangan masyarakat kita memang sedang bermasalah, sebuah masyarakat yang sakit secara psikologis sebagai efek dari sebuah kelelahan hidup. Bagi sebagian perempuan, situasi hidup saat ini terasa amat melelahkan. Orang-orang hanya sibuk memikirkan dan mengejar materi tanpa henti. Saling sikut dan saling menjatuhkan, seolah hidup hanya untuk hari ini, seolah hidup hanya untuk makan dan kemewahan. Dalam situasi hidup yang menyiksa seperti itu, ada yang menjadi pemenang, dan ada juga yang jadi pecundang. Tak ada lagi kebersamaan, tak ada lagi pertimbangan saudara atau teman. Inilah situasi sesungguhnya dari apa yang pernah dilontarkan seorang filsuf bahwa manusia kita kini telah menjadi srigala bagi manusia yang lainnya.

Tak heran, kalau dulu kita pernah merasakan masyarakat yang beretika, kini kekerasan tiba-tiba hadir di sekitar kita. Kekerasan kini telah merasuk ke berbagai ranah tanpa kecuali. Tidak hanya orang miskin atau kaya, tua atau muda, terpelajar atau tidak terpelajar; tidak hanya lelaki, tetapi juga ternyata perempuan. Apakah ini semua merupakan ekspresi atau perilaku konpensasi dari tekanan hidup di tengah kelangkaan figur yang bisa dijadikan panutan? Masing-masing individu merasa sangat sendiri, merasa asing di tengah interaksi yang dilakukan. Di titik inilah setiap individu menjadi amat rawan terhadap terjadinya gangguan kepribadian.

Berlandaskan pada analisis Kaplan, Sadock & Grebb, Widuri (2005) menjelaskan secara rinci ciri-ciri dari berbagai gangguan kepribadian tersebut:
1). Orang yang mengalami paranoid, dicirikan dengan adanya kecurigaan dan ketidakpercayaan yang sangat kuat kepada orang lain. Mereka seringkali sangat sensitif, mudah marah dan menunjukkan sikap permusuhan.
2). Orang yang mengalami gangguan kepribadian skizoid menampilkan perilaku atau pola yang menarik diri dan biasanya telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Mereka merasa tidak nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain, cenderung introvert, dan afek mereka pun terbatas.
3). Orang yang mengalami gangguan skizotipal memiliki pemikiran yang ajaib (magical), ide-ide yang ganjil, ilusi dan derealisasi yang biasa mereka tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang pikiran mereka dipenuhi oleh fantasi yang berkaitan dengan ketakutan dan fantasi yang biasanya hanya muncul pada masa kanak-kanak.
4). Orang yang mengalami gangguan kepribadian anti sosial biasanya melakukan tingkah laku kriminal atau antisosial. Gangguan kepribadian ini memperlihatkan ketidakmampuan individu untuk mengikuti norma-norma sosial yang ada selama perkembangan masa remaja dan dewasa.
5). Orang dengan gangguan kepribadian borderline berada di perbatasan antara gangguan neurotik dan psikotik dengan gejala-gejala afek, tingkah laku dan self image yang sangat tidak stabil. Pada suatu waktu ia dapat begitu banyak memberikan pendapatnya yang positif, lalu mendadak tampak depresi, kemudian di waktu yang lain tiba-tiba mengeluh tentang perasaannya.
6). Orang yang mengalami gangguan kepribadian histrionik ditandai dengan tingkah laku yang bersemangat, dramatis atau suka menonjolkan diri dan mudah terstimulasi oleh lingkungan. Di samping penampilannya yang cemerlang dan semarak, ia sebenarnya tidak mampu menciptakan hubungan yang mendalam dan menjaga hubungan dalam waktu yang panjang.
7). Orang dengan gangguan kepribadian nartistik ditandai oleh perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting, merasa spesial dan berharap mendapatkan perlakuan khusus. Oleh karenanya mereka sangat sulit menerima kritik dari orang lain.
8). Orang dengan gangguan kepribadian menghindar (avoidant) merupakan orang yang sangat sensitif terhadap penolakan, sehingga yang tampak adalah tingkah laku yang menarik diri.sangat ingin berelasi dengan orang lain, tetapi mereka malu dan sangat membutuhkan jaminan bahwa mereka akan diterima tanpa alasan apa pun dan tanpa kritik.
9) Orang yang mengalami gangguan kepribadian dependent cenderung meminta orang lain untuk memikul tanggung jawab dan tidak percaya diri. Mereka juga cenderung bersikap submisif atau patuh.
10). Orang yang mengalami gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dicirikan dengan tingkah laku yang keras kepala, bimbang dan cenderung mengulang-ulang sesuatu hal. Mereka cenderung bersikap serius dan tidak memiliki sense of humor. Mereka bertegang teguh pada keyakinan bahwa suatu aturan harus diikuti secara tepat dan tidak dapat diganggu gugat dengan alasan apapun. Oleh karena itu mereka tampak tidak fleksibel dan tidak toleran.


C. Model Pendekatan

Sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh masyarakat kita kini adalah betapa masyarakat sedang berada dalam situasi yang oleh Durkheim disebut sebagai situasi anomi. Situasi yang menunjuk pada berbagai ketidakteraturan yang membuat orang berada dalam kebingungan. Langka atau bahkan ketiadaan panutan dalam berperilaku, membuat masyarakat kemudian membuat narasinya sendiri. Apa yang salah ketika kekerasan, misalnya, begitu menggejala di berbagai strata dengan beragam bentuk?

Di tengah kesulitan masyarakat dalam menghadapi impitan beban hidup yang semakin berat, dalam situasi itu pula sebagian orang bahkan diuntungkan oleh situasi, kedudukan atau berbagai hal lainnya yang membuat dirinya berada dalam kelompok-kelompok elit. Sayangnya, kekayaan materi, kedudukan atau pengetahuannya seringkali tidak berbanding lurus dengan empatinya dalam wujud pelaksanaan kesejahteraan untuk semua. Inilah sebuah anomali yang membuat masyarakat kemudian semakin terbelenggu dan terkotakkan dalam situasi khasnya sendiri.

Dari sudut konsep sosiologis dan psikologis, keadaan ini kemudian dapat menjadi sebuah gangguan bagi individu tertentu yang menyebabkan sebuah ketidaklaziman, yakni tidak terintegrasinya pikiran, perasaan dan perilakunya. Bisa dipahami kalau kini kita bisa melihat begitu banyaknya perilaku yang tak lazim itu muncul ke permukaan. Para perempuan yang mengalami depersonalisasi umpamanya, adalah sebuah kenyataan yang ditemukan dan tentu memerlukan penyelesaian.

Julianti Widury (2005) menjelaskan tentang bagaimana stress yang diakibatkan oleh situasi tertentu dapat membawa dampak buruk terhadap kondisi fiisik maupun psikologis. Dengan mengutip hasil penelitian Stone & Neale, ditunjukkan bahwa peristiwa kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi fluktuasi mood atau perasaan seseorang. Peningkatan peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan dengan disertai menurunnya peristiwa yang menyenangkan dalam kehidupan dapat memunculkan mood negatif dan akhirnya menurunkan produksi antibodi. Dalam keadaan seperti ini, jika seseorang terinveksi virus flu misalnya, maka kemungkinan akan terjangkit flu itu sangat besar.

Demikian pula dalam pengaruhnya terhadap kondisi psikologis yang antara lain munculnya gangguan disosiatif. Mengutip pendapat Davidson & Neale (2001), dijelaskan bahwa gangguan ini ditandai dengan adanya perubahan identitas, memori atau kesadarannya. Dengan mendasarkan pada pendapat Sadock & Grebb (1994), masalah utama gangguan disosiatif adalah bahwa individu merasa kehilangan identitas diri, mengalami kebingungan mengenai identitas diri atau bahkan memiliki identitas ganda sekaligus.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa tekanan situasi kehidupan di satu sisi dan lemahnya pertahanan diri di sisi yang lain, secara tidak disadari menghasilkan efek-efek yang antara lain berupa situasi diri yang khas dan bahkan bukan tidak mungkin akan menghasilkan perilaku menyimpang ketika telah sampai pada sebuah titik ekstrem. Dalam kerangka analisis Julianti Widury (2005), dikemukakan bahwa salah satu gangguan disosiatif adalah terjadinya gangguan depersonalisasi. Gangguan ini, paparnya, ditandai dengan adanya perubahan persepsi yang terjadi secara berulang-ulang atau menetap tentang diri sendiri. Untuk sementara waktu mereka merasakan hilangnya keyakinan bahwa mereka merupakan individu nyata.

Pada gangguan depersonalisasi, memori atau daya ingat individu sebenarnya tidak mengalami gangguan. Tetapi mereka dapat berpikir bahwa dirinya seperti robot, merasa bahwa dirinya sedang bermimpi. Mereka merasa melihat dirinya dari kejauhan atau menonton diri mereka sendiri. Ada perasaan bahwa dirinya sendiri menjadi aneh atau tidak lagi nyata.

Dijelaskan bahwa karakteristik utama dari gangguan depersonalisasi adalah adanya perasaan pemisahan dan sesuatu hal menjadi tidak nyata. Proses dalam tubuh individu dan peristiwa di lingkungan sekitar sebenarnya berlangsung seperti biasa dan tidak ada perubahan berarti, namun mereka merasakan adanya perbedaan. Mereka merasakan bahwa beberapa bagian tubuhnya berubah menjadi asing bagi mereka. Mereka juga dapat merasa seolah sebagian tubuhnya tidak ada dan tidak nyata.
Inilah salah satu bentuk ketidaklaziman pikir seperti disebut di awal tulisan ini. Kedaan serupa ini tentu akan sangat tidak menguntungkan terhadap keberlangsungan dan kesehatan mental individu bersangkutan. Itu sebabnya, diperlukan penanganan dengan pendekatan yang tepat dan efektif jika ada klien yang mengalami fenomena psikologis seperti ini.

a. Pendekatan Melalui Konseling

Konseling merupakan perangkat penting dalam praktik pekerjaan sosial klinis, utamanya dalam menangani klien yang mengalami gangguan depersonalisasi. Mengutip pendapat Mortensen, Surya (2003: 1) mengemukakan pengertian konseling sebagai suatu proses antar-pribadi, di mana satu orang dibantu oleh orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa konseling menunjukkan suatu hubungan antara konselor dengan klien dimana keterampilan konselor dan suasana yang dibuatnya membantu klien untuk berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dalam cara-cara yang lebih produktif dalam membina rencana dan tujuan hidupnya. Ada pun fokus utama dari konseling adalah masalah emosional dan interpersonal yang dialami oleh klien.

b. Makna Yang Diperoleh

Orang yang mendapatkan layanan konseling akan mendapatkan makna penting berupa pengalaman baru. Surya (2003: 29) menegaskan bahwa bagi klien yang berada`dalam rentangan normal, konseling merupakan lingkungan yang sedemikian rupa dapat memberikan pengaruh untuk mengurangi hambatan ke arah perwujudan diri yang lebih baik.
Ada pun bagi orang yang mengalami hambatan psikologis seperti gangguan depersonalisasi, konseling dapat membantu memperbaiki keadaan sehingga yang bersangkutan kembali ke keadaan norma dan lebih baik, Dengan demikian konseling merupakan pengalaman baru yang memberikan kesempatan kepada orang untuk memandang dirinya sendiri, menyatakan perasaan dan berperilaku dalam cara-cara baru. Pengalaman baru yang diperoleh oleh klien dalam proses konseling menyangkut:

1). Mengenal Konflik-Konflik Internal
Melalui konseling klien dibantu untuk menyadari bahwa masalah psikologis yang dihadapi sesungguhnya berada di dalam dirinya, sedangkan apa yang ada di luar dirinya merupakan faktor yang mempengaruhi. Ada pun faktor-faktor internal yang menyebabkan konflik dalam diri individu adalah:
a). Penilaian negatif terhadap diri sendiri. Bila seseorang dihinggapi perasaan negatif terhadap dirinya secara sadar maupun tidak, maka mereka lebih mudah terkena ancaman atau gangguan dalam interaksi dengan lingkungannya.
b). Keharusan psikologis, yakni pikiran dan perasaan yang secara mutlak ”mengharuskan” seseorang berbuat untuk menunjang perjalan hidupnya. Mereka yang mempunyai keharusan psikologis ini merasa bahwa hidup dianggap gagal dan tidak berarti apabila tidak mencapai apa yang diharuskan itu. Mereka selalu berada dalam konflik yang menekan dirinya yang kemudian dapat menimbulkan berbagai masalah.
c). Konflik Kebutuhan-Kebutuhan. Manusia menghadapi sejumlah kebutuhan yang memiliki kekuatan yang sama untuk dipuaskan dan sering saling bertentangan satu sama lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan konflik internal yang kemudian dapat menimbulkan gangguan perilaku.

2). Menghadapi Realitas
Konseling memberikan kesempatan untuk membantu klien dalam menghadapi realitas secara efektif. Proses konseling dapat membantu seseorang untuk memperoleh suatu pengalaman yang sedemikian rupa sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang realitas dan mampu menghadapinya secara efektif.

3). Mengembangkan Tilikan
Konseling merupakan pengalaman yang dapat membawa orang untuk menemukan siapa dirinya sesungguhnya dan hidup sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Bila ia memahami benar tentang dirinya, maka ia akan memanfaatkan waktu dan dirinya sesuai dengan peta psikologisnya untuk mencapai perkembangan optimal dan kebahagiaan dirinya.




4). Memulai Suatu Hubungan Baru
Dalam konseling, klien berinteraksi dengan konselor dalam serangkaian wawancara konseling. Selama interaksi ini klien akan menghayati suatu hubungan baru yang dapat mengembangkan keadaan pribadinya.

5). Meningkatnya Kebebasan Psikologis
Banyak orang menghadapi kesulitan dan masalah karena dalam dirinya tedapat kekurangbebasan dalam menyatakan hal-hal yang bersifat psikologis. Maka dalam proses konseling klien diberi kesempatan untuk mampu menyatakan dirinya secara bebas dan benar.

C. Teknik dan Keterampilan

Tahapan relasi antara konselor dengan klien merupakan inti dari proses konseling. Beberapa teknik yang bisa digunakan (Surya, 2003: 130) dalam hal ini adalah:
1). Teknik Rapport
Teknik ini mempunyai makna sebagai suatu kondisi saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuannya adalah untuk menjembatani relasi antara konselor dan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya.

2). Refleksi Perasaan
Refleksi perasaan merupakan usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap yang esensial. Manfaatnya adalah untuk: 1). membantu klien untuk merasa dipahami secara mendalam, 2). klien merasa bahwa perasaan menyebabkan tingkah laku, 3). memusatkan evaluasi pada klien, 4). memberi kekuatan untuk memilih, 5). memperjelas cara berpikir klien, dan 6). menguji kedalaman motif-motif klien.

3). Teknik Penerimaan
Teknik penerimaan merupakan cara bagaimana konselor melakukan tindakan agar klien merasa diterima dalam proses konseling. Dalam teknik ini ada tiga unsur yang perlu diperhatikan, yakni: 1) ekspresi air muka, 2). Tekanan suara, dan 3) jarak dan penampilan.

4). Teknik Menstrukturkan (Structuring).
Merupakan proses penetapan batasan oleh konselor tentang hakikat, batas-batas dan tujuan proses konseling pada umumnya dan hubungan tertentu pada khususnya, menyangkut: 1) batas waktu, 2) batas tindakan, 3) batas peranan konselor, 4) batas proses atau prosedur, dan 4) batas nilai.

5). Diam Sebagai Sebuah Teknik
Dalam proses konseling, ”diam” (tidak bersuara) dapat merupakan suatu teknik hubungan konseling. Bagi konselor, keadaan ini mempunyai manfaat sebagai berikut:
a). Mendorong klien untuk bicara.
b). Membantu klien untuk lebih memahami dirinya.
c). Setelah diam klien dapat mengikuti ekspresi yang membawa klien berpikir dan bangkit dengan tilikan yang mendalam.
d). Mengurangi kecepatan interview.

6). Teknik-Teknik Memimpin
Istilah ”memimpin” dalam konselor mempunyai dua makna, yakni: 1). Menunjukkan keadaan di mana konselor berada di depan atau di samping pikiran klien, dan 2). Keadaan di mana konselor mengarahkan pemikiran klien kepada penerimaan perkataan konselor.

7). Memberikan Jaminan
Teknik ini dapat mencocokkan sistem kepercayaan klien, dapat mengurangi rasa cemas dan memperkuat pola-pola tingkah laku yang baru. Pemberian jaminan ini dapat dilakukan dengan cara: 1). pernyataan persetujuan, 2). prediksi hasil, 3). pasca diskusi hasil, 4). kondisi wawancara, 5). jaminan faktual, dan 6). mengembalikan pertahanan.

8). Keterampilan mengakhiri interview konseling merupakan teknik hubungan dalam konseling. Mengakhiri interview dapat dilakukan dengan cara:
a). Mengatakan bahwa waktu sudah habis.
b). Merangkum isi pembicaraan.
c). Menunjukkan kepada pertemuan yang akan datang.
d). Berdiri.
e). Isyarat gerak tangan.
f). Menununjukkan catatan-catatan singkat.
g). Memberikan tugas-tugas tertentu.
Ada pun keterampilan yang harus dipunyai dalam konseling (Baraja, 2004) menyangkut:
a. Terampil mengamati.
b. Terampil dalam membuka percakapan.
c. Terampil memperhatikan pembicaraan klien.
d. Terampil memberikan motivasi.
d. Terampil mendengarkan.
e. Terampil mengarahkan.
f. Terampil menanggapi dalam hal: mengenal perasaan klien, mengungkapkan empati, melakukan refleksi dan memahami dengan cermat.
g. Terampil memberi pesan, dalam hal: informasi dan nasihat, bertanya secara langsung, mempengaruhi dan mengajak, menggunakan contoh pribadi, memberikan tafsiran, melakukan konfrontasi dan mengupas masalah.
Dengan menyarikan analisis dari Davison & Neale, Fitri Fausiah selanjutnya menjelaskan beberapa model penanganan yang bisa dilakukan terhadap orang yang mengalami ganguan mood, sebagai berikut:
a. Pendekatan psikodinamik, untuk membantu klien mencapai insight tentang konflik yang direpres dan mendorong pelepasan kemarahan yang selama ini diarahkan ke dalam.
b. Pendekatan cognitive behavioral, yang dilakukan untuk mengubah pandangan klien tentang diri dan peristiwa. Dalam hal ini, untuk menangani klien yang mengalami gangguan bipolar I, targetnya adalah pada pemikiran dan perilaku interpersonal yang buruk pada saat mood mudah berpindah.
c. Pelatihan keterampilan sosial, yakni karena kunci dari depresi adalah kehilangan pengalaman dengan orang lain, maka pendekatan perilaku memfokuskan pada upaya membantu klien meningkatkan interaksi sosialnya.
d. Pendekatan biologis, yakni terapi biologis yang dilakukan pada klien yang mengalami depresi dengan metode electroconvulsive therapy. Selain metode ini juga dapat dilakukan dengan pemberian pengobatan secara tepat.

D. Kesejahteraan Perempuan

Dalam analisisnya, Ester Lianawati (2008) mengemukakan pendapat Alfred Alder, Karen Horney dan Clara Thompson yang mengupas lebih jauh mengapa perempuan kurang sejahtera dibandingkan laki-laki. Mereka menyatakan bahwa dengan memahami bagaimana budaya telah mendidik perempuan, kita dapat memahami mengapa perempuan menderita berbagai gangguan kepribadian. Budaya tidak hanya mengkonstruksi perempuan dalam hal penampilan. Tuntutan terhadap perempuan juga hadir dalam bentuk stereotipe-stereotipe seperti perawan tua ataupun janda. Banyak perempuan menikah hanya karena tuntutan lingkungan. Banyak korban kekerasan dalam rumah tangga yang tetap bertahan karena tidak siap dengan pandangan negatif terhadap janda.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa kepada perempuan juga dilekatkan berbagai peran. Perempuan bekerja sekalipun tetap bertanggung jawab atas tugas-tugas domestik dan keharmonisan keluarga. Ketika rumah tangganya tidak harmonis, ia dipersalahkan karena terlalu sibuk dengan karirnya. Banyak perempuan terpaksa meninggalkan pekerjaan, atau tidak mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena terikat dengan peran sebagai istri dan ibu. Perempuan juga hampir tidak pernah dididik untuk mandiri. Dengan bentukan semacam ini tidak heran jika perempuan rentan menderita gangguan kepribadian dependen, yaitu kondisi kepribadian yang tidak mampu mengambil keputusan karena pilihan hidupnya senantiasa ditentukan orang lain.

Dengan mengutip pendapat Carol D Ryff, Ester mengemukakan bahwa setiap orang dapat menjadi sejahtera dengan menerima diri, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal. Karena menurutnya, kesejahteraan bukan ditentukan oleh seberapa menyenangkan peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang. Peristiwa negatif yang dialami seseorang tidak serta merta membuatnya tidak sejahtera.
Kenyataan itulah yang lagi-lagi menegaskan pentingnya pemberian kemampuan kepada perempuan yang mengalami gangguan kepribadian agar mereka mampu mengelola dirinya dan melakukan upaya-upaya yang bisa meningkatkan kesejahteraan.


E. Kesimpulan

Dapat dipahami bahwa dari tekanan situasi kehidupan, ketika perempuan tak cukup punya ketahanan dan kematangan dalam menghadapi situasi yang terjadi, dimungkinkan terjadi gangguan mood. Banyak perempuan yang tidak mengindahkan ketika mengalami gangguan-gangguan perasaan yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan mood yang akut.

Kenyataan ini menegaskan bahwa diperlukan keselarasan dalam mengelola pribadi, perasaan atau jiwa yang memungkinkan perempuan senantiasa mempunyain kesiapan dalam menghadapi berbagai perubahan yang ada. Dengan kesadaran ini pula maka diharapkan mereka tidak saja akan memiliki kesiapsiagaan dalam bebagai kemungkinan, tetapi juga memiliki cukup kemampuan dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

F. Rekomendasi

Dalam meningkatkan kemampuan perempuan yang mengalami gangguan kepribadian dalam mencapai kesejahteraannya, diperlukan hal-hal sebagai berikut:
a. Diperlukan pendekatan dan upaya nyata agar mereka mampu menerima diri apa adanya.
b. Diperlukan pendekatan dan upaya nyata agar mereka mampu mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain dan menjadi mandiri sehingga mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dalam mencapai tujuan hidupnya.


Pustaka Acuan

Baraja, Abubakar, Psikologi Konseling dan Teknik Konseling, Studia Press, Jakarta, 2004.

Dubois, Brenda, and Miley, Karla K, Social Work and Empowering Profession, Allin and Bacon, Boston, 1996.

EsterLianawati,http://www.targetmdgs.org/index.php?option=com_content&task=view&id=307&Itemid=1

__________, http://esterlianawati.wordpress.com/2008/04/24/menjadi-perempuan-yang-sejahtera/#more-113

I. R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1983.

Fitri Fausiah, Gangguan Afektif (dalam Psikologi Abnormal; Klinis Dewasa), UI Press, Jakarta, 2005.

__________, Gangguan Cemas (dalam Psikologi Abnormal; Klinis Dewasa), UI Press, Jakarta, 2005.

Julianti Widuri, Gangguan Kepribadian (dalam Psikologi Abnormal; Klinis Dewasa), UI Press, Jakarta, 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar