Sabtu, 06 Agustus 2011

PERLINDUNGAN SOSIAL ANAK

PERLINDUNGAN ANAK
Oleh Bambang Rustanto
Mata Kuliah Peksos Dengan Anak

Adapun sasaran pendekatan anak yang membutuhkan perlindungan disesuaikan dengan permasalahan kelayan (KHA : cluster VIII), yang dalam hal ini anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus dalam penanganan Departeman Sosial yaitu :

1. Anak-anak dalam situasi darurat (Children in Situation of Emergency)
pasal (22) Pengungsi:Refugee and IDPs: (Internally Displaced Peoples)
pasal (38) Anak dalam situasi konflik bersenjata (Children in Situation of Armed Conflict)

Beberapa situasi pengungsi anak adalah antara lain :

a. Anak-anak yang berada dalam situasi darurat mencakup anak sebagai korban langsung yang terkena bencana atau tidak langsung yakni menerima dampak karena orang tuanya atau keluarganya menjadi korban bencana dan tidak mampu lagi mengasuh anak. Hal ini dapat terjadi baik secara langsung ketika bencana itu terjadi atau beberapa waktu setelah bencana itu berlalu.

b. Anak-anak tersebut mencakup mereka yang berada di lokasi pengungsian ataupun tinggal di lingkungan masyarakat biasa yang seharusnya dinyatakan juga sebagai pengungsi atau anak korban bencana.

c. Perubahan pengasuhan anak karena orang tua atau pengasuh yang resminya meninggal atau hilang sehingga anak tinggal dengan anggota keluarga luas atau berada di panti.

d. Anak-anak terpisah dan tanpa pendamping yang terpisah dari orang tua atau wali sahnya atau pengasuh resminya.

e. Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak secara maksimal seperti tempat tinggal, kesehatan, makanan, pakaian, dsb.

f. Hilangnya dokumen-dokumen identitas anak.

Secara lebih khusus, situasi anak dalam konflik bersenjata mencakup antara lain :

a. Keterlibatan anak dalam situasi konflik bersenjata bisa berupa saksi, korban, atau terlibat dalam konflik, dalam peran pendukung maupun terlibat langsung dalam kekerasan dengan mengangkat senjata.

b. Keterlibatan anak dalam konflik bersenjata bisa terjadi karena mereka memang berada di wilayah konflik, tidak bisa menghindar dari situasi terjepit oleh dua belah pihak yang bertikai, orangtunya menjadi korban sehingga memunculkan dendam pembalasan, dan atau teman-teman sebayanya yang memang terlibat dalam konflik.

c. Anak-anak baik tersebut berada dalam situasi tekanan dan kekerasan sehingga dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Dampak kekerasan pada anak cenderung akan lama dan mempengaruhi beberapa aspek seperti kesehatan fisik, mental, pendidikan, kehidupan keluarga, hubungan sosial dan perkembangan. Dalam jangka panjang juga cenderung terus mewariskan kekerasan pada generasi berikutnya.



2. Anak dalam situasi Exploitasi :
pasal 32: Exploitasi Ekonomi
pasal 33: Drug Abuse
pasal 34: Eksploitasi Seksual, seksual abuse
pasal 35: Penculikan, Perdagangan dan Trafficking
pasal 36: Eksploitasi Bentuk lain.

Beberapa situasi anak yang tereksploitasi antara lain adalah :
a. Pada umumnya mereka berada di luar pengasuhan orangtua/keluarganya. Kalaupun mereka masih berada di keluarga mereka tidak memperoleh pengasuhan yang memadai. Hubungan antara anak dan orangtua atau keluarganya biasanya telah putus atau minimal tidak teratur.

b. Usia anak pada umumnya berusia SLTP dan SLTA, namun perlu diperhatikan anak-anak yang berusia lebih rendah dari itu (usia SD), balita dan anak dalam kandungan.

c. Anak perempuan biasanya lebih rawan daripada anak laki-laki pada beberapa kategori terutama yang berimplikasi pada memperoleh keuntungan seperti perdagangan anak dan eksploitasi untuk pelacuran atau pekerjaan rumah tangga.

d. Mereka berada dalam penguasaan orang-orang dewasa yang menguasai mereka karena relasi kekuasaan yang besar yang dimiliki orang dewasa. Mereka mungkin terlilit karena utang atau ikatan-ikatan lainnya yang merugikan anak-anak. Biasanya mereka akan sulit keluar dari situasi tersebut.

e. Pada situasi lainnya dapat terjadi orang tua sendiri justru yang mendorong atau memaksa anak untuk terlibat dalam situasi itu demi memperoleh keuntungan dari kesengsaraan anaknya.

f. Faktor-faktor lingkungan dan masyarakat yang menyangkut sistem nilai dan kebiasaan dimungkinkan mempengaruhi secara significan anak-anak terlibat dalam konflik bersenjata atau jenis-jenis pekerjaan yang eksploitatif.

g. Akses anak pada pelayanan-pelayanan dasar umumnya kurang baik karena larangan dari orang yang mengeksploitir mereka atau karena tidakketersediaan program untuk anak-anak tersebut.

h. Situasi umum mengenai anak-anak bekerja pada bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak adalah sbb:
1) Untuk anak dilacurkan, ILO memperkirakan 30% dari 130.000 – 240.000 pekerja seks komersial adalah anak-anak dibawah 18 tahun (Departemen Sosial RI, 2004 : 3).
2) Perlakukan salah pada anak, dalam bentuk fisik, emosional, sosial, dan seksual terjadi pada anak-anak di Indonesia. Belum ada data lengkap.
3) Perdagangan anak, dengan tujuan-tujuan untuk pembantu rumah tangga, pelacuran, mengemis dijalanan, mengedarkan narkotika, untuk dieksploitasi ditempat-tempat kerja berbahaya seperti jermal, pertambangan, perkebunan, dsb telah dikenal lama. Saat ini dikenal pula adopsi palsu, perekrutan anak untuk perang (konflik), pedofilia, dsb.

3. Anak yang berkonflik dengan Hukum
pasal (40; 37. a) : 37. b,c,d ;
pasal (39) Recovery & Rehabilitasi
Beberapa situasi anak yang berkonflik dengan hukum antara lain adalah :

Dua kategori perilaku anak berhadapan dengan hukum :
• Status Offender adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan.
Contoh : tidak menurut, membolos, sekolah atau kabur dari rumah, dll
• Juvenile Delinquency adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dianggap kejahatan atau pelanggaran hukum
Contoh : mencuri, pengedar narkoba, membunuh, dll

Situasi Pengertian Anak Berkonflik dengan Hukum (AKH) :
Adalah anak karena suatu sebab melakukan pelanggaran dan/atau kejahatan yang dilarang menurut ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Anak Berkonflik dengan Hukum (AKH) :
Sumber Penyebab Tekanan bagi Anak dalam Sistem Peradilan
a. Pra Persidangan
• Pemeriksaan medis (bagi korban).
• Pertanyaan yang tidak simpatik, diulang-ulang dan terkadang kasar oleh petugas pemeriksa (bagi korban dan pelaku).
• Harus menceritakan kembali pengalaman atau peristiwa yang tidak menyenangkan dan melakukan rekonstruksi (bagi korban dan pelaku).
• Wawancara dan pemberitaan oleh Media.
• Menunggu persidangan.
• Proses persidangan yang sering tertunda.
• Pemisahan dari keluarga atau tempat tinggal.

b. Persidangan
• Menunggu dalam ruang pengadilan
• Kurang pengetahuan tentang proses yang berlangsung
• Tata ruang Pengadilan
• Berhadapan dengan terdakwa (bagi korban), berhadapan dengan saksi dan korban (bagi terdakwa)
• Berbicara di hadapan para petugas pengadilan
• Proses pemeriksaan dalam sidang

c. Pasca Persidangan
• Putusan Hakim
• Tidak adanya tindak lanjut
• Stigma yang berkelanjutan
• Rasa bersalah
• Kemarahan dari pihak keluarga dan korban


Dampak AKH :
Kondisi penanganan kasus AKH dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

a. Anak mengalami tekanan fisik, mental dan trauma akibat dari beberapa persoalan, antara lain : proses penyidikan di kepolisian, proses penahanan dan proses persidangan

b. Kegagalan dalam rehabilitasi
Perlakuaan petugas, keterbatasan sarana dan prasarana yang ada di rutan dan lapas cenderung membuat proses rehabilitasi tidak berhasil

c. Stigmatisasi
Kesalahan dalam penangkapan, penyidikan hingga dijatuhkannya putusan pada anak akan menimbulkan stigma pada anak yang mengakibatkan terhambatnya proses tumbuh kembang anak secara wajar karena masyarakat akan mengisolasi anak dari lingkungannya

d. Anak mengalami korban eksploitasi oleh orang dewasa
Keterbatasan fasilitas/ruang penahanan anak baik di kepolisian maupun di lapas sehingga tahanan anak sering diekploitasi baik secara fisik maupun seksual oleh orang dewasa

Data AKH :

Tahun 2007 : yang berada di lapas
Tahanan anak :
- Laki-laki : 2.012
- Perempuan : 80
Anak Sipil :
- Laki-laki : 4
- Perempuan : -
Anak Negara :
- Laki-laki : 57
- Perempuan : 5
Anak Pidana :
- Laki-laki : 2.087
- Perempuan : 56
Total :
- Laki-laki : 2.148
- Perempuan : 61


4. Anak masyarakat Adat & Kelompok Minoritas pasal (30)

Dapat dilihat dari dua kategori, yaitu pertama anak-anak yang dari kelompok minoritas karena agama, etnik
atau, bahasa. Kedua adalah anak-anak dari kelompok masyarakat asli atau pribumi. Pada kedua kelompok tersebut, menurut KHA Pasal 30 hak-hak anak pada lingkungan seperti ini tetapi diakui dalam masyarakat, termasuk untuk menikmati budayanya sendiri, untuk mengakui dan melaksanakan agamanya sendiri, atau menggunakan bahasanya sendiri. Anak-anak dari kelompok minoritas dan atau dari kelompok masyarakat asli/pribumi tetap mempunyai hak yang sama dengan anak-anak lain dan tidak dibenarkan adanya diskriminasi terhadapnya.

Beberapa isu megenai keadaan anak-anak pada masyarakat asli atau pribumi yang sistem nilai dan kemasyarakatan berbeda dengan masyarakat pada umumnya adalah sebagai berikut:
a. Ketidakcukupan gizi, terutama mungkin dialami oleh anak balita.
b. akses pendidikan pendidikan yang terbatas misalnya fasilitas sekolah yang jauh dari tempat tinggal
c. Tingkat kesehatan anak dan angka kesakitan.
d. pernikahan usia dini

Dalam praktek manageman kasus, sekalipun fokus penanganan pada anak, tindakan yang perlu dilakukan tidak hanya pada anak, tetapi justru pada orang-orang dan lingkungan yang justru menyebabkan anak-anak berada dalam situasi sulit dan memunculkan kasus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar