Jumat, 25 Maret 2011

PENELITIAN SOSIAL -PEDAGANG KAKI LIMA

SOLIDERITAS SOSIAL PEDAGANG KAKI LIMA

LATAR BELAKANG MASALAH

Kota Payakumbuh merupakan salah satu bagian dari Provinsi Sumatera Barat, Kota Payakumbuh berada pada hamparan kaki gunung Sago, dan dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota yang berjarak 120 km dari kota Padang ibu kota Propinsi Sumatera Barat. Keadaan topografi daerah Kota Payakumbuh terdiri dari pebukitan dengan rata-rata ketinggian 514 meter diatas permukaan laut, dan suhu rata-rata berkisar antara 26 °C serta kelembahan udara antara 45 hingga 50 %.

Wilayah Kota Payakumbuh terbagi dalam 5 Kecamatan yaitu, Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh Timur, Payakumbuh Utara, Payakumbuh Selatan, dan Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, dengan luas wilayah 80,43 Km2. Jumlah penduduk Kota Payakumbuh sebanyak 104.084 jiwa yang terdiri dari 50.635 jiwa pria dan 53.449 jiwa wanita dengan tingkat kepadatan penduduknya sendiri mencapai 1.294,10 per Km2. (Data BPS Kota Payakumbuh Tahun 2008 ).

Dalam hal perdagangan, Kota Payakumbuh memiliki 2 buah pasar yaitu pasar Ibuh dan pasar Inpres. Pasar Ibuh adalah pasar harian yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat seperti sayuran, beras, lauk pauk dan kebutuhan harian lainnya, sedangkan pasar Inpres juga merupakan pasar harian yang menyediakan kebutuhan pakaian, barang elektronik, dan barang kebutuhan lainnya bagi masyarakat Kota Payakumbuh.
Sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan dari Propinsi Riau ke daerah Sumatera Barat, menjadikan Kota Payakumbuh dalam hal usaha perekonomian mengalami perkembangan. Salah satu usaha perekonomian di sektor informal yang berkembang di Kota Payakumbuh adalah pedagang kaki lima.

Salah satu pedagang kaki lima yang ada di Kota Payakumbuh adalah pedagang kaki lima yang ada di Pasar Inpres Kota Payakumbuh, sebahagian dari mereka berdagang di emperan toko, mereka memajangkan barang dagangannya menggunakan estalase dan pajangan kayu. Jenis dagangan yang dijual oleh masing – masing pedagang kaki lima umumnya satu jenis dagangan, ada yang berdagang jam tangan, gasper dan kaus kaki, asesoris, batu akik, serta Handphone dan pulsa.

Berdasarkan keterangan salah seorang pedagang kaki lima yang sudah lama berjualan dengan inisial P yang telah berumur 52 tahun menyebutkan bahwa, jumlah pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh sebanyak 42 orang yang terdiri dari 8 orang berdagang jam tangan, 11 orang berdagang gasper dan kaus kaki, 15 orang berdagang assesoris, 5 orang berdagang batu akaik, 3 orang berdagang handphone dan pulsa.

Menurut keterangan pedagang yang berinisia P dan beberapa pedagang lainnya, pada saat dilakukan wawancara pada bulan Januari tahun 2011, permasalahan yang sering dihadapi pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh adalah, kurangnya pengetahuan dalam pengeloalaan usaha, tempat usaha, kurangnya modal usaha dan permasalahan keamanan barang dagangan.

Dalam pengelolaan usaha khususnya pedagang yang belum berpengalaman, pada umumnya mereka mengelola usaha berdasarkan pengetahuan seadanya saja berbeda dengan pedagang yang telah memiliki pengalaman yang lama dalam berdagang. Tempat usaha pedagang kaki lima di emperan toko ini masih bersifat ilegal dan pembagian tempat usahapun hanya berupa kesepakatan antar pedagang saja. Pedagang kaki lima ini terkadang ada juga mengalami penggusuran oleh aparat pemerintah setempat.

Sesuai dengan ciri –ciri pedagang kaki lima yang ada dalam tinjauan teori seperti yang akan dipaparkan selanjutnya, pedagang kaki lima ini memiliki keterbatasan dalam permodalan, hal ini berkaitan dengan tingkat kesejahteraan mereka. Pedagang kaki lima di emperan toko ini juga menghadapi permasalahan dalam hal keamanan barang dagangan apabila mereka meninggalkan tempat berjualan untuk suatu keperluan. Apabila terjadi hujan dagangan mereka bisa basah, hal ini disebabkan oleh karena tempat usaha mereka tidak memiliki atap yang dapat melindungi dari kehujanan. Para pedagang kaki lima juga dapat mengalami masalah pencurian apabila mereka tidak berada di tempat berusaha.

Sebagai suatu komunitas yang anggotanya berasal dari berbagai daerah, serta latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda, permasalahan – permasalahan atau masalah sosial yang dihadapi oleh pedagang kaki lima dalam menghadapinya, sangat diperlukan sekali rasa solidaritas sosial diantara mereka. Kebersamaan yang terjalin akibat adanya hubungan antara individu dengan individu maupun hubungan antara individu dengan kelompok dalam menjalankan aktivitas usaha, seharusnya dapat menjadikan modal dasar dalam pemecahan masalah sosial yang ada pada kelompok pedagang kaki lima di Pasar Inpres Kota Payakumbuh ini. Selanjutnya, yang mendasari penelitian ini adalah :

1. Penelitian tetang Solidaritas sosial merupakan salah satu penelitian pekerjaan sosial.
2. Peneliti adalah warga masyarakat Kota Payakumbuh yang bertempat tinggal tidak jauh dari Pasar Inpres Kota Payakumbuh.
3. Peneliti merasa tidak menemukan kesulitan dalam memperoleh data tentang Kota payakumbuh dan pedagang kaki lima yang ada di Pasar Inpres kota tersebut.
Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian pada komunitas pedagang kaki lima di Pasar Inpres Kota Payakumbuh, yang mana penelitain ini bertujuan untuk mendalami tentang “ Solidaritas sosial pedagang kaki lima di Pasar Inpres Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat”.

PERMASALAHAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah diatas , maka peneliti merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut ; “Bagaimana solidaritas sosial pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat”.

Dari rumusan permasalahan penelitian tersebut diatas terbagai ke dalam sub–sub problematika sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik Responden.
2. Bagaimana semangat komunitas diantara pedagang kaki lima.
3. Bagaimana hubungan-hubungan pribadi antar Pedagang Kaki Lima
4. Bagaimana tanggung jawab Pedagang Kaki Lima terhadap komunitas.
5. Bagaimana hambatan – hambatan pedagang kaki lima dalam mewujudkan solidaritas sosial.
6. Bagaimana harapan-harapan pedagang kaki lima.

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana solidaritas sosial pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh. Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Untuk menggambarkan karakteristik Responden.
b. Untuk menggambarkan semangat komunitas diantara pedagang kaki lima.
c. Untuk menggambarkan hubungan-hubungan pribadi antar Pedagang Kaki Lima.
d. Untuk menggambarkan tanggung jawab Pedagang Kaki Lima terhadap komunitas.
e. Untuk menggambarkan hambatan – hambatan pedagang kaki lima dalam mewujudkan solidaritas sosial.
f. Untuk menggambarkan harapan-harapan pedagang kaki lima.

2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian adalah :
Manfaat Teoritis
Diharakan dapat memberikan sumbangan pemikiran dari sudut ilmu pekerjaan sosial, dalam suatu program peningkatan solidaritas sosial pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat.
Manfaat Praktis
Diharapkan dapat memberikan sumbangan atau masukan berupa gagasan-gagasan dalam merumuskan program peningkatan solidariatas sosial pedagang kaki lima serta diperolehnya pengalaman bagi penulis untuk dapat mengadakan penelitian yang lebih berkualitas di masa mendatang.

RUANG LINGKUP DAN BATASAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah pedagang kaki lima yang berjualan di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat yang jumlah 42 orang , dengan konsep atau variabel penelitiannya adalah solidaritas sosial.


TINJAUAN PUSTAKA

1. Solidaritas sosial
Menurut Durkheim dalam Doyle Paul Johnson (1986 : 181) Solidaritas sosial adalah suatu keadaan dimana suatu hubungan keadaan antara inidividu dan atau kelompok yang didasarkan pada faktor perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama diperkuat oleh pengalaman pengalaman emosional bersama.
Menurut Emile Durkheim ada dua tipe solidaritas sosial yang menonjol yang satu dilandaskan pada persamaan (solidaritas mekanik) sedangkan yng kedua berdasarkan pada perbedaan (solidaritas organik), akan tetapi perbedaan ini tidaklah menyebabkan perpecahan akan tetapi perbedaan yang menimbulkan adanya saling ketergantungan.

Doyle Paul Johnson mengutip Durkheim yang menyatakan bahwa solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama (Collective conciousness/conscience), yang menunjuk pada kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang rata-rata ada pada masyarakat yang sama itu.
Wujud solidaritas mekanik ini dapat dilihat pada masyarakat pedesaan hal ini disebabkan masyarakat pedesaan yang bersifat homogen baik dalam hal suku, mata pencaharian dan kekerabatan sehingga semangan kebersamaan dan kekeluargaannya masih sangat tinggi. Segala permasalahan yang ada diselesaikan secara bersama-sama melalui kebiasaan dan kebersamaan sesuai adat yang berlaku. Ketika ada seorang individu yang mengalami kesulitan dengan penuh kesadaran berusaha membantu.
Solidaritas organik terjadi pada masyarakat industri, dimana tingginya tingkat pembahagian kerja menyebabkan adanya saling ketergantungan diantara sesama masyarakat yang dapat menimbulkan rasa solidaritas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 853) berarti : “Sifat satu rasa (senasib dsb); perasaan setiakawan; - antara sesama anggota sangat diperlukan”. Hal ini dapat diartikan bahwa solidaritas merupakan perasaan senasip sepenanggungan dimana bila salah seorang mendapatkan kesulitan musibah ataupun kesusahan maka orang-orang terdekat akan turut merasakan juga.
Dalam buku Pengendalian Sosial karangan J.S. Roucek yang disadur oleh Soerjono Soekanto dan Heri Tjandrasari (1987 : 68 ) “Solidaritas Sosial merupakan kohesi yang ada antara anggota suatu asosiasi, kelompok, kelas sosial atau kasta dan diantara pelbagai pribadi, kelompok, maupun kelas-kelas yang membentuk masyarakat atau bagian-bagiannya”.
“Kohesi yang timbul karena persamaan ras, kerabat, bahasa, tempat tinggal, kepercayaan politik, agama, pengalaman, dan ciri-ciri timbul secara serta merta “ (J.S. Roucek : 1987 : 69).
Dari pengertian – pengertian diatas, dapat kita lihat bahwasanya Solidaritas sosial ini menghasilkan semangat kebersamaan yang timbul dari adanya hubungan antara individu dengan individu maupun dengan kelompok yang dilandasi kepercayaan dan rasa emosional bersama, solidaritas sosial dibutuhkan dalam membantu pemecahan masalah yang dihadapi anggota komunitas.

2. Pedagang kaki lima
Pedagang Kaki Lima merupakan suatu usaha kecil sektor informal, keberadaan pedagang kaki lima dapat menyerap tenaga kerja terutama tenaga kerja dengan pendidikan rendah serta mampu menyediakan barang-barang yang murah serta terjangkau .
Konsepsi sektor informal mendapat sambutan yang sangat luas secara internasional dari para pakar ekonomi pembangunan, sehingga mendorong dikembangknnya penelitian pada beberapa negara berkembang termasuk Indonesia oleh berbagai lembaga penelitian pemerintah, swasta, swadaya masyarakat dan universitas. Hal tersebut terjadi akibat adanya pergeseran arah pembangunan ekonomi yang tidak hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi makro semata, akan tetapi lebih kearah pemerataan pendapat. Swarsono (1987) mengatakan bahwa adanya sektor informal bukan sekedar karena kurangnya lapangan pekerjaan, apalagi menampung lapangan kerja yang terbuang dari sektor informal akan tetapi sektor informal adalah sebagai pilar bagi keseluruhan ekonomi sektor formal yang terbukti idak efisien. Hal ini dapat menunjukan bahwa sektor informal telah banyak mensubsidi sektor formal, disamping sektor informal merupakan sektor yang efisien karena mampu menyediakan kehidupan murah.

Dalam UU. Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan. Adapun usaha kecil tersebut meliputi : usaha kecil formal, usaha kecil/informal dan usaha kecil tradisional. Usaha kecil formal adalah usaha yang telah terdaftar, tercatat dan telah berbadan hukum, sementara usaha kecil informal adalah usaha yang belum terdaftar, belum tercatat dan belum berbadan hukum, antara lain petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima dan pemulung. Sedangkan usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun temurun dan/atau berkaitan dengan seni dan budaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Usaha Kaki Lima adalah bagian dari Kelompok Usaha Kecil yang bergerak di sektor informal, yang oleh istilah dalam UU. No. 9 Tahun 1995 di atas dikenal dengan istilah “Pedagang Kaki Lima”.

Ensiklopedia Ekonomi, Bisnis dan Manajemen (1997: 292-293) yang dikutip dari santoso blogspot menyebutkan bahwasanya pedagang kaki lima dicirikan sebagai berikut:
a. Kegiatan usaha tidak terorganisasi secara baik, karena unit usaha timbul tanpa menggunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia secara formal.
b. Pada umumnya unit usaha tidak memiliki izin usaha.
c. Pola kegiatan usaha tidak teratur dengan baik, dalam arti lokasi maupun jam kerja.
d. Pada umumnya kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini.
e. Unit usaha berganti-ganti dari satu sub-sektor ke sub-sektor lain.
f. Teknologi yang digunakan masih tradisional.
g. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasinya juga kecil.
h. Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal, sebagian besar hanya diperoleh dari pengalaman sambil bekerja.
i. Pada umumnya unit usaha termasuk kelompok one man enterprise, dan kalau ada pekerja, biasanya berasal dari keluarga sendiri.
j. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri, atau dari lembaga keuangan tidak resmi.
k. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat kota/desa berpenghasilan rendah atau menengah.
Cipto Wibowo dalam Edi Suharto (2005 : 196) menyebutkan PKL muncul karena berbagai sebab. Salah satu sebab yang penting adalah ketidakmampuan sektor formal menampung angkatan kerja yang cenderung meningkat secara tajam yang sebagian disebabkan oleh terjadinya surplus tenaga kerja disektor pertanian dan semakin banyak tenaga kerja di kota yang masuk ke pasar kerja karena peningkatan pendidikan.

3. Pekerjaan Sosial dalam kemiskinan di Perkotaan
Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam rangka memecahkan masalah, memperbaiki kondisi tingkat kehidupan dan meningkatkan keberfungsian sosial mereka secara umum. Beberapa ahli mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai berikut:
a. Zastrow dalam Abu hurairah (2008 : 38) mengatakan Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional untuk menolong individu, kelompok dan masyarakat dalm meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial serta menciptakan kondisi - kondisi masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan tersebut.
b. Skidmore dan Trackeray, dalam Dwi Heru Sukoco menyatakan “Social work seeks to enhance the social functioning of individuals, singly and in groups, by acitivies focused upon their social relationship which constitute the interaction between man and his enviroment” (Pekerjaan sosial bertujuan untuk meningkatkan berkesinambungan sosial individu-individu, baik secara individual maupun kelompok. dimana kegiatannya difokuskan kepada relasi sosial mereka, khususnya interaksi antara manusia dengan lingkungannya).
Dari beberapa definisi para ahli tersebut dapat ditarik beberapa esensi tentang pekerjaan sosial sebagai berikut:
a. Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional, yang berarti bahwa pekerjaan sosial mendasarkan diri pada pengetahuan, nilai dan keahlian atau keterampilan.
b. Pekerjaan sosial adalah kegiatan pertolongan, di mana pertolongan ini diberikan kepada individu, kelompok atau masyarakat dengan tetap menekankan pada kemandirian mereka. Bahkan konsep pertolongan dalam pekerjaan mengutamakan kemampuan orang yang ditolong, yaitu kemandiriannya. Konsep “to help people to help themselves” (menolong orang lain agar orang tersebut mampu menolong dirinya sendiri) adalah konsep dasar relasi pertolongan dalam pekerjaan sosial.
c. Pekerjaan sosial ditujukan terhadap individu, kelompok atau masyarakat dikaitkan dengan lingkungan sosial mereka. Relasi pertolongan yang dilaksanakan tetap mengacu pada keadaan diri individu/kelompok/masyarakat dengan selalu memperhatikan lingkungan sosial di mana mereka berada. Hal ini sehubungan dengan pengkaitan dan penjangkauan sumber yang potensial untuk memecahkan masalah/memenuhi kebutuhan mereka.
d. Pekerjaan sosial bertujuan untuk memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan dan memperbaiki/meningkatkan kemampuan individu/kelompok/masyarakat. Pekerjaan sosial tidak hanya berhubungan dengan pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan saja, akan tetapi juga didalamnya termasuk pengembangan atas kondisi tertentu ke arah kondisi yang lebih baik, lebih tertata dan lebih maju.
Masalah kemiskinan diperkotaan pada umumnya akibat dari arus urbanisasi yang meyebabkan semakin tidak seimbangnya lapangan pekerjaan yang tersedia dengan angka pencari kerja itu sendri. Kemiskinan diperkotaan juga disebabkan oleh permasalahan individu seperti kurangnya keterampilan dan minimnya modal dalam berusaha.

Berkaitan dengan Pekerjaan sosial dalam masalah kemiskinan di perkotaan, khususnya masalah kemiskinan yang dihadapi pedagang kaki lima di Pasar Inpres Kota Payakumbuh pada penelitain ini, pekerjaan sosial salah satunya dapat melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kemandirian mereka dalam pemecahan masalah. Salah satu program pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan rasa solidaritas sosial diantara para pedagang kaki lima itu sendiri.
Dalam upaya pemberdayaan komunitas pedagang kaki lima melalui peningkatan solidaritas sosial diantara pedagang, peran yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial antara lain:

a. Edukator
Peran mediator dilakukan untuk memberikan masukan yang positif dan terarah kepada pedagang kaki lima tentang pentingnya peningkatan rasa solidaritas sosial diantara mereka dalam menghadapi permasalahan sosial. Peningkatan kesadaran dapat dilakukan oleh pekerja sosial dalam upaya untuk membantu orang –orang dalam melihat bagaimana mereka bisa mendirikan berbagai struktur dalam upaya mengubah kehidupanan mereka sendiri.

b. Fasilitator
Peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau memungkinkan pedagang kaki lima melakukan perubahan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama, yaitu adanya kesepakatan di antara para pedagang untuk melakukan peningkatan rasa solidaritas sosial dalam suatu komunitas seperti komunitas pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh .

c. Broker
Sebagai perantara, pekerja sosial menjembatani sistem kegiatan dengan sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan, yang dalam hal ini menghubungkan pedagang kaki lima dengan dinas-dinas instansi terkait yang dapat membantu mereka dalam program pemberdayaan melalui peningkatan rasa solidaritas sosial.

METODE PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif. Menurut Mely G.Tan dalam Ulber Silalahi (2009 : 28) menyatakan bahwa Penelitian yang bersifat deskriptif bertujuan menggambarkaan secara tepat sifat – sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk mnentukan frekwensi atau penyebaran suatu gejala atau frekwensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dan gejala lain dalam masyarakat. Dalam hal ini mungkin sudah ada hipotesis – hipotesis, mungkin belum, tergantung dari sedikit banyaknya pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang solidaritas pedagang kaki lima dalam upaya menghadapi masalah sosial.

2. Sumber Data dan Populasi
a. Sumber Data
Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari responden yaitu pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh.
b. Populasi
Menurut Irawan Soehartono (2004:57) “Populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu obyek yang akan diteliti”.
Berdasarkan keterangan dari hasil wawancara yang dilakukan pada bulan Januari dengan seorang pedagang yang berinisial P, jumlah atau populasi pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh sebanyak 42 orang, yang terdiri dari 8 orang berdagang jam tangan, 11 orang berdagang gasper dan kaus kaki, 15 orang berdagang assesoris, 5 orang berdagang batu akaik, 3 orang berdagang handphone dan pulsa.
Populasi tersebut diatas adalah merupakan keseluruhan subyek penelitian. Peneliti berkeinginan meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitian ini merupakan penelitian populasi.
Arikunto ( 2006 : 134 ) menyatakan apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya penelitian populasi.

3. Definisi Operasional
Peneliti akan memberikan definisi oprasional pada beberapa konsep penelitian ini, untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran pada konsep-kosep, yaitu sebagai berikut :
a. Solidaritas sosial dalam penelitian ini adalah semangat kebersamaan dalam suatu komunitas yang ada pada pedagang kaki lima, hubungan – hubungan individu yang terjadi antar sesama pedagang dan rasa tanggung jawab pedagang terhadap komunitas mereka. Penelitian Solidaritas sosial ini ditujukan untuk melihat gambaran rasa kebersamaan pedagang kaki lima dalam upaya pemecahan masalah kemiskinan yang mereka hadapi.
b. Pedagang kaki lima dalam penelitian ini adalah pedagang kaki lima yang berjualan di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh yang berjumlah 42 orang, yang terdiri dari 8 orang berdagang jam tangan, 11 orang berdagang gasper dan kaus kaki, 15 orang berdagang assesoris, 5 orang berdagang batu akaik, 3 orang berdagang handphone dan pulsa.
c. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, yang mana semua populasi merupakan subjek penelitian (penelitian populasi) dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket yang disebarkan kepada semua populasi. Validitas alat ukur adalah validitas muka yang mana peneliti berkonsultasi dahulu dengan dosen pembimbing sebelum instrumen disebarkan.

4. Pengumpulan Data
a. Jenis Data
Data yang dikumpulkan adalah data-data yang berhubungan dengan permasalahan penelitian dan sub problematik, yaitu :
1). Data tentang karakteristik informan
2). Data tentang semangat komunitas diantara pedagang kaki lima
3). Data tentang hubungan-hubungan pribadi antar Pedagang Kaki Lima
4). Data tentang tanggung jawab Pedagang Kaki Lima terhadap komunitas
5). Data tentang hambatan – hambatan dalam mewujudkan solidaritas sosial.
6). Data tentang harapan – harapan Pedagang Kaki lima


b. Teknik Pengumpulan Data
1) Angket (kuisioner)
Angkat atau kuisioner adalah “penyelidikan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum ( orang banyak ), dengan jalan mengedarkan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek, untuk mendapatkan jawaban ( tanggapan, respon ) tertulis seperlunya. ( Kartono , 1990 : 217 ).
Dengan teknik angkat atau kuisioner ini diharapkan dapat diketahui data mengenai semangat komunitas, hubungan-hubungan antar pedagang kaki lima, tanggungjawab terhadap komunitas, hambatan – hambatan dalam mewujudkan solidaritas sosial, serta harapan-harapan responden.
2) Teknik Observasi
Teknik observasi adalah teknik langsung dalam pengamatan kondisi kehidupan, lingkungan dan aktifitas responden.
c. Tabel pengumpulan data

Tabel 1
Tabel pengumpulan Data

No Pertanyaan Responden Teknik Hasil yang diharapkan
1 Bagaiman karakteristik responden Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket Didapatnya data karakteristik responden berdasarkan, jenis kelamin, agama, dan tingkat pendidikan.
2 Bagaimana semangat komunitas Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket dan observasi Didapatnya data tentang tindakan yang dilakukan responden apabila ada rekan yang mengalami kesulitan, besarnya bantuan, dan keaktifan dalam kegiatan kelompok
3 Bagaimana hubungan-hubungan pribadi antar Pedagang Kaki Lima
Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket dan observasi Didapatnya data tentang apakah responden mengalami kesulitan dalam bergaul, perlakuan yang diterima dari rekan – rekan, dan mengenal keluarga rekan – rekan atau tidak.
4 Bagaimana tanggung jawab Pedagang Kaki Lima terhadap komunitas Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket dan observasi Didapatnya data tentang Kepedulian responden akan lingkungan usaha, dan partisipasi dalam kelompok.
5 Bagaimana hambatan – hambatan dalam mewujudkan solidaritas sosial. Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket dan observasi Didapatnya data tentang persaingan antar sesama pedagang dan perlakuan kelompok terhadap responden.
6 Bagaimana harapan – harapan Pedagang Kaki lima Pedagang kaki lima di emperan toko Pasar Inpres Kota Payakumbuh Angket Didapatnya data tentang harapan responden terhadap rekan – rekan, kelompok dan Pemerintah daerah.

5. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur
Alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur tersebut mengukur secara tepat aspek-aspek yang diukur. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas muka.
Menurut Moh. Nazir (2005 : 149) validitas muka adalah sebagai berikut : ” Validitas muka berhubungan dengan penelitian para ahli terhadap suatu alat ukur. Jika ahli-ahli ini berpendapat bahwa unsur-unsur dalam skala dapat mengukur masalah yang diteliti secara baik, maka skala tersebut mempuyai validitas tinggi.” Pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa alat ukur penelitian dikatakan valid apabila para ahli telah mengatakan bahwa alat ukur tersebut layak untuk digunakan. Dalam hal ini peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing sebelum menyebarkan instrumen kepada responden.

6. Teknik dan Tahapan Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisa data kuantitatif dan teknik analisa data kualitatif. Teknik analisa data kuantitatif adalah teknik menganalisa data dengan menyajikan data hasil penelitian dalam tabel yang berisi angka-angka. Sedangkan teknik analisa data kualitatif dengan menguraikan atau menarasikan data dalam bentuk kata-kata atau kalimat, sehingga maksud dari penyajian data jelas dan dapat dipahami. Pengolahan data ini menggunakan alat bantu statistik deskriptif.
Adapun tahapan dalam analisis data adalah setelah data dari seluruh responden terkumpul, kemudian dilakukan pengelompokan data berdasarkan variabel dilanjutkan dengan melakukan tabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden. Data disajikan dari tiap variabel yang diteliti dengan menggunakan tabel, yang dilanjutkan dengan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah.

7. Jadwal dan Langkah-langkah Penelitian
a. Jadwal Penelitian
Penelitian dilakukan dalam waktu 40 (empat puluh) hari mulai tanggal 1 April 2011 sampai dengan 10 Mai 2011 dengan lokasi di Pasar Inpres Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat
b. Langkah-langkah Penelitian
Tabel 2
Langkah-langkah dan Jadwal Penelitian

No Kegiatan Feb Mar Apr Mei Juni Juli
1 Penyusunan Rancangan Penelitian
2 Studi Literatur, Penyusunan Desain
3 Seminar Proposal
4 Penyusunan Instrumen
5 Pengumpulan Data di Lapangan
6 Pengolahan dan Analisis Data
7 Penyusunan Laporan Penelitian
8 Sidang Hasil Penelitian dan Pengesahan

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi ( 2006). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Hurairah, Abu (2008). Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat. Bandung : Humaniora
Ife,Jim (2008). Community development. Jogjakarta : Pustaka Pelajar
Johnson, Paul D. Dialih bahasakan oleh Robert M.Z.Lawang (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modren. Jakarta: Gramedia.
Jurusan Pengembangan Masyarakat (PSM) Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung (2007) , Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (KIA) Program Diploma IV STKS Bandung. Bandung : Kopma STKS.
Netting, F.E, Kettner P. M, & McMurtry, S.L. dialih bahasakan oleh staf pengajar STKS Bandung(2001). Praktek makro Pekerjaan Sosial. Bandung
Roucek.J.S disadur oleh Soerjono Soekanto, Heri Tjandrasari (1987), Pengendalian Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukoco, Dwi Heru (1991). Profesi Pekerjaan Sosial dan Proses Pertolongannya. Bandung : KOPMA STKS
Soehartono, Irawan. (1995). Metode Penelitian Sosial, Suatu Teknik Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.
Suharto, Edi. (2005). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: PT. Refika Aditama.
Silalahi, Ulber (2009), Metode Penelitian Sosial.Rafika Aditama
Soekanto, Soerjono (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.

Sumber-sumber lain :

http://ssantoso.blogspot.com /2008/07/konsep-sektor-informal.

2 komentar:

  1. nice info
    tanks
    http://tokoonlinepayakumbuh.com/category/batu-cincin-akik-payakumbuh/

    BalasHapus