Jumat, 25 Maret 2011

PENELITIAN SEKS KOMERSIAL ANAK

EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK DI CIREBON


kOTta Cirebon adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Cirebon merupakan kota terbesar ketiga di Provinsi Jawa Barat, di luar wilayah metropolitan Botabek, setelah Bandung dan Tasikmalaya. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Jalur pantura merupakan jalan terpadat di Indonesia yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya. Secara geografis luas luas wilayah Kota Cirebon adalah 37,36 Km2, yang terdiri dari lima kecamatan dan duapuluh dua Kelurahan. Adapun jumlah penduduknya adalah 272.263 jiwa. Dahulu Cirebon merupakan ibu kota Kesultanan Cirebon dan Kabupaten Cirebon, namun ibu kota Kabupaten Cirebon kini telah dipindahkan ke Sumber. Cirebon menjadi pusat regional di wilayah pesisir timur Jawa Barat. (www.cirebonkota.go.id. Rabu 23/02/11). Cirebon juga disebut dengan nama 'Kota Udang'. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa. (www.id.wikipedia.org. Rabu 23/02/11).

Masalah-masalah sosial yang terjadi di kota ini diantaranya adalah, kemiskinan, konflik dalam hal ini perkelahian antar kampung, peredaran minuman keras dan narkoba, anak jalanan, kebiasaan membawa senjata tajam berupa “badik” dikalangan pemuda, munculnya geng motor yang menimbulkan keresahan di masyarakat. (www.cirebonkota.go.id. Rabu 23/11/2011).

Salah satu masalah sosial di Kota Cirebon adalah anak jalanan. Cirebon di kenal sebagai salah satu daerah pemasok anak-anak jalanan di Jakarta, berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Cirebon Jumlah anak jalanan yang berada di Kota Cirebon itu sendiri adalah 380 anak. Kegiatan yang dilakukan oleh anak jalanan di Kota Cirebon adalah sebagai pengamen dengan jumlah anak jalanan 88 orang, penyemir sepatu 22 orang, pengasong 30 orang, calo 25 orang, penjaja koran 28 orang, pemulung 58 orang, kuli 36 orang, menyewakan payung 31 orang, dan pengemis 62 orang. (Jum’at 07/01/11).

Jumlah anak jalanan di Indonesia kini membengkak menjadi 200.000 lebih dari 36.000-an pada tahun 1997. (www.poskota.co.id. Senin 21/02/11) . Keberadaan anak jalanan tersebut di satu sisi menggugah rasa prihatin, namun disisi lain juga mengentalkan rasa tidak nyaman serta tidak aman. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka mampu bertindak jahat, mulai dari memaksa meminta sebagian upah atas jasa yang tidak dikehendaki (membersihkan kaca, menyanyi alakadarnya), menggores cat mobil, sampai merampok.
Saat ini permasalahan anak jalanan bukan hanya mengenai kesehatan anak, dan ancaman terhadap kelangsungan hidup anak, akan tetapi telah berkembang dalam bentuk tindak kekerasan (abuse) dalam bentuk pemukulan, pemerasan, cemoohan dikeroyok dan tindakan kekerasan mental, bahkan tidak jarang anak jalanan menjadi korban perilaku seks yang menyimpang. Masalah ini diperparah lagi dengan adanya eksploitasi seksual komersial anak terhadap anak-anak jalanan yang belakangan ini sangat pesat dan semakin mencemaskan. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antar anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut.

Terungkapnya perdagangan anak di berbagai daerah menjadi indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kejahatan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) dan perdagangan anak. Namun di sisi lain, mencemaskan termasuk UNICEF yang menyatakan bahwa tindak kriminal itu telah merata di banyak daerah dengan melibatkan banyak unsur masyarakat termasuk keluarga (www.pedophiliasexabuse.wordpress.com Senin 21/02/11).

Kabupaten dan Kota Cirebon sebagai kota transit menarik banyak pendatang. Fasilitas perdagangan berkembang dengan cepat dari tahun 90-an hingga saat ini, termasuk tempat-tempat hiburan yang menawarkan pelayanan seks. Menurut hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan warga yang berinisial “Y” di daerah Kota Cirebon pelacuran jalanan ditemui di Jalan Siliwangi dan Jalan Kejaksan. Ada sekitar lima puluh (50) pekerja seks remaja beroperasi di daerah ini dan sebagian dari mereka berusia di bawah 18 tahun. Anak-anak yang dilacurkan berasal dari Cirebon atau kota-kota kecil disekitarnya seperti karangampel, Indramayu, Subang, dan Majalengka. Adapula yang berasal dari Jawa Tengah seperti Brebes, Purwkokerto dan Cilacap (Sabtu, 19/02/11).

Berdasarkan pengamatan di daerah Kota Cirebon serta wawancara dengan sopir angkot, tukang becak, tukang warung pinggir jalan, dan anak jalanan (pengamen), jumlah anak jalanan yang berada di Jl. Cipto adalah 12 orang. Menurut keterangan para informan tersebut, ada beberapa anak jalanan di Kota Cirebon yang mengalami masalah eksploitasi seksual komersial anak. Biasanya aktifitas tersebut terjadi pada setiap malam minggu, dimana anak-anak jalanan khususnya perempuan, yang mengamen di sekitar lampu merah Jalan Cipto. Awal pristiwa ini terjadi biasanya anak diberi minuman keras sampai tidak sadarkan diri, sehingga mereka mengalami pelecehan secara seksual. Pelecehan seksual tersebut biasanya dilakukan di salah satu rumah kosong di Jalan Cipto oleh teman-temannya sesama anak jalanan atau sopir-sopir angkot, tukang becak dan orang-orang yang membutuhkan jasa seks serta sudah mengetahui situasi dan kondisi tempat maupun anak jalanan tersebut. Akan tetapi ada juga anak jalalanan perempuan yang sudah melakukan hal tersebut dengan sadar. (Sabtu 19/02/11).

Masalah perdagangan anak untuk tujuan komersial dan seksual merupakan masalah yang komlpeks karena menyangkut banyak faktor (ekonomi, sosial, dan budaya) yang telah dimanfaatkan untuk mengeksploitasi anak. Faktor lain yang menyebabkan ESKA adalah keinginan untuk mempunyai gaya hidup yang matrealistis dan lingkungan yang tidak menyenangkan.

Perdagangan anak untuk tujuan seksual atau pelacuran merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan salah satu bentuk terburuk eksploitasi anak. Pelacuran merupakan salah satu bentuk terburuk pekerjaan untuk anak karena sifatnya yang eksploitatif, baik dalam proses penarikan anak-anak ke dalam dunia pelacuran dan dalam pekerjaanya serta berdampak terhadap perkembangan fisik, mental dan moral anak, karena anak yang di eksploitasi rentan terhadap kekerasan fisik, psikologis, seksual, termasuk rentan terhadap penyakit menular seksual, penggunaan obat-obat terlarang, serta minuman beralkohol.

Usaha kesejahteraan merupakan bagian integral dalam pembangunan nasional, melalui usaha-usaha kesejahteraan sosial pada dasarnya diarahkan pada individu, kelompok masyarakat yang mengalami hambatan dalam melaksanakan fungsi sosialnya akibat dari dalam diri individu maupun di luar individu.
Dari uraian fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan Anak Jalanan di Kota Cirebon”. Adapun peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut adalah karena:
a. Peneliti ingin mengetahui tentang masalah Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan Anak Jalanan di Jl. Cipto Kota Cirebon.
b. Peneliti sudah mempunyai gambaran umum tentang anak jalanan di Jl. Cipto Kota Cirebon
c. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan dalam penanganan masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak jalanan Kota Cirebon.

Ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian tentang hal ini berdasarkan pada relevansi masalah dengan tugas dan fungsi pekerjaan sosial, yaitu memberikan intervensi pertolongan kepada individu, kelompok, atau masyarakat yang mengalami masalah kesejahteraan sosial

A. PERMASALAHAN PENELITIAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah : “Bagaimana Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan Anak Jalanan yang terjadi di Kota Cirebon.
Dari permasalahan pokok, penulis menjabarkannya kedalam sub-sub permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik informan yang mengalami ESKA ?
2. Bagaimana kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan ?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan informan mengalami ESKA?
4. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang dialami informan yang mengalami ESKA ?
5. Bagaimana harapa-harapan informan yang mengalami ESKA ?

B. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
a. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) terhadap anak jalanan yang terjadi di Kota Cirebon, yang meliputi:
1) Menggambarkan karakteristik informan
2) Mengetahui kegiatan ESKA yang dilakukan oleh informan
3) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan informan dieksploitasi seksual komersial.
4) Mengetahui permasalahan-permasalahan yang dialami informan
5) Mengetahui harapan-harapan informan.
b. Menyusun alternatif program penanganan anak jalanan yang mengalami ESKA di Jl. dr. Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon.

2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan ilmu atau praktek pekerjaan sosial khususnya tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak jalanan Kota Cirebon.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pemikiran dalam upaya penanganan terhadap permasalahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak jalanan Kota Cirebon.

C. RUANG LINGKUP DAN KETERBATASAN PENELITIAN
1 Ruang Lingkup Penelitian
Di Kota Cirebon banyak terdapat anak jalanan, yaitu di Terminal, di Jl. Kejaksan, di Jl. Ahmad Yani, di Jl. Pemuda, di Jl. dr. Cipto Mangunkusumo, di Jl. Rajawali, dan di tiga berlian. Dalam penelitian ini dilaksanakan di Jalan dr. Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon.
2 Keterbatasan Penelitian
Permasalahan yang dihadapi anak jalanan yang dikemukakan Tata Sudrajat (1997 : 153 ) yaitu:
a. Korban Eksploitasi seks maupun ekonomi
b. Penyiksaan fisik.
c. Ditangkap polisi.
d. Korban kejahatan dan penggunaan obat.
e. Konflik dengan anak-anak lain.
f. Terlibat dalam pelanggaran hukum.
Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak dikalangan Anak Jalanan

D. SISTEMATIKA PENULISAN KIA
Berdasarkan pedoman inti Karya Ilmiah Akhir (KIA) Program Diploma 1V Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, sistematika Karya Ilmiah Akhir (KIA) adalah sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan, berisi mengenai latar belakang masalah, masalah penelitian, hipotesis (jika ada), tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan
BAB II : Tinjauan pustaka memuat uraian yang sistematis tentang penelitian sebelumnya dan terkait dengan ilmu pengetahuan yang mutakhir (berupa pustaka) dan berhubungan dengan permasalahan penelitian. Tinjauan pustaka pada dasarnya membahas pustaka-pustaka pertopik Tinjuan pustaka merupakan pengembangan konseptual secara rinci dari teori-teori yang mendasari penelitian dan teori yang mendasari penyusunan rekomendasi program, sehingga terlihat jelas perspektif profesi pekerjaan sosial.
BAB III : Metode penelitian, berisi penjelasan tentang prosedur penelitian yang digunakan untuk menjawab masalah penelitaan dan atau membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan.
BAB IV : Deskripsi dan pembahasan hasil penelitian, menyajikan dan menguraikan data/informasi sebagai jawaban atas masalah yang menjadi fokus penelitian.
BAB V : Kesimpulan, berisi tentang penemuan-penemuan hasil interpretasi terhadap data yang diperoleh dalam penelitian
BAB VI : Rekomendasi program, memuat tentang disain program pemecahan masalah/penanggulangan masalah/pengembanagan sosial masyarakat merupakan suatu bentuk perencanaan logis dan sistematis yang harus serta dapat dilakukan untuk menjawab temuan penelitian.


E. TINJAUAN PUSTAKA

1. Anak Jalanan
a. Pengertian Anak Jalanan
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih ada dalam kandungan (UU. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (1)).
Definisi yang dikemukakan Departemen Sosial RI (1995:5) anak jalanan adalah “anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalanan baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya”.
Berdasarkan definisi tersebut memberikan empat faktor penting yang saling terkait:

1) Anak
Menurut Elizabeth Hurlock (1991 : 23 ) usia anak adalah 6-18 tahun, rentang usia ini dianggap rawan karena mereka belum mampu berdiri sendiri, emosinya belum stabil, mudah terpengaruh dan belum mempunyai bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk hidup dijalanan.
2) Menghabiskan sebagian besar waktunya
Bila dilihat dari banyaknya waktu yang digunakan oleh anak jalanan, terlihat bahwa sebagian besar waktu yang mereka miliki dihabiskan dijalanan, dibandingkan dengan tempat lain.
3) Mencari nafkah dan berkeliaran
Mereka berkeliaran dijalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mencari nafkah.
4) Jalanan dan tempat-tempat umum
Faktor-faktor tersebut memperlihatkan terganggunya keberfungsian sosial anak. Keberfungsian mengacu pada situasi dan relasi anak-anak yang melahirkan berbagai tugas dan peranan.
b. Ciri-ciri Anak Jalanan
Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya berada di jalanan atau tempat-tempat umum minimal 4 jam sehari, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1) Kebanyakan anak-anak berusia 5 s/d 18 tahun
2) Melakukan kegiatan berkeliaran (tidak jelas kelihatannya) di jalan atau di tempat-tempat umum minimal dalam kurun waktu 1 bulan yang lalu.
3) Penampilannya kusam, kotor, pakaian tidak terurus.
4) Mobilitas mereka tinggi.
Ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan diantaranya :
Ciri Fisik Ciri Psikis
1) Warna kulit kusam
2) Rambut kemerah-merahan
3) Kebanyakan berbadan kurus
4) Pakaian tidak terurus 1) Mobilitas tinggi
2) Acuh tak acuh
3) Penuh curiga
4) Sangat sensitif
5) Berwatak keras
6) Kreatif
7) Semangat hidup tinggi
8) Berani menanggung resiko
9) Mandiri
Selain itu karakteristik dari anak jalanan korban eksploitasi antara lain :
1) Melakukan kegiatan ekonomi di jalan
2) Mereka diawasi oleh pihak yang menjadi pelaku eksploitasi.
3) Tertekan dan mempunyai rasa takut untuk mengungkapkan masalah.
4) Secara fisik penampilan dekil atau kotor pada badan atau pakaian yang mereka pakai.
5) Sebagian besar anak korban eksploitasi berpendidikan rendah dan putus sekolah
c. Kategori Anak Jalanan
Menurut Tata Sudrajat anak jalanan dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok berdasarkan hubungan dengan orang tuanya, yaitu :
1) Anak yang putus hubungan dengan orang tuanya, tidak sekolah dan tinggal di jalanan (anak yang hidup dijalanan / children the street).
2) Anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya, tidak sekolah, kembali ke orang tuanya seminggu sekali, dua minggu sekali, dua bulan atau tiga bulan sekali biasa disebut anak yang bekerja di jalanan (Children on the street)
3) Anak yang masih sekolah atau sudah putus sekolah, kelompok ini masuk kategori anak yang rentan menjadi anak jalanan (vulnerable to be street children).


2. Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
a. Pengertian Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen, dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. (Eksploitasi Seksual Komersial Anak : 9 ).
ESKA adalah Sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial.
Bentuk-bentuk dari kegiatan seksual komersial terhadap anak, baik Deklarasi Kongres Dunia Menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap anak maupun ketentuan KHA dan UU Perlindungan Anak mendefinisikan bahwa eksploitasi seksual komersial terhadap anak meliputi kegiatan penyalagunaan seksual anak oleh orang dewasa dengan cara paksa (coercion), pemberian uang atau sejenisnya kepada anak yang bersangkutan ataupun kepada pihak ketiga, anak dijadikan sebagi objek seks serta objek komersial. Eksploitasi seksual komersial anak juga dapat dilihat dalam bentuk paksaan serta kekerasan terhadap anak-anak, dalam bentuk kerja paksa dan bentuk perbudakan modern (comtemporary form of Slavery). (www.depkumham.go.id Rabu 16/02/11) .
b. Jenis-jenis Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
Menurut Sri Wahyuningsi dkk (2002:11), jaringan perdagangan anak untuk dilacurkan / eksploitasi anak, mencakup beberapa jenis, yaitu:
1) Sederhana, yaitu calon korban dijual oleh penjual (bisa orangtua, suami atau orangtua angkat) langsung kepada pembeli atau melalui perantara tertentu.
2) Agak kompleks, yaitu calon korban didatangi atau diajak teman/ tetangga/ saudara/ pacar untuk mencari pekerjaan yang halal di toko, kafe, rumah makan ke kota besar dengan iming-iming gaji yang besar. Dalam kenyataanya mereka langsung dijual kepada pembeli di kota tujuan tetapi adapula yang menuju lokasi transit lalu diperkosa dan kemudian baru dijual kepada pembeli langsung.
3) Kompleks, yaitu calon korban didatangi calo/perantara (orang yang dipekerjaanya mendatangi desa-desa untuk mencari gadis-gadis yang beranjak dewasa untuk disetor atau dijual ke pengumpul atau langsung kepada germo/mucikari) dengan janji mencarikan pekerjaan halal di kota besar dengan gaji besar dan menanggung semua pengeluaran transportasi dan akomodasi, meskipun nantinya menjadi hutang yang harus dibayar mahal oleh korban.
c. Penyebab terjadinya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
Globalisasi dengan segala implikasinya cenderung mendorong terjadinya ESKA. Hal ini terkait dengan dampak negatif dari perkembangan industri pariwisata, teknologi informasi dan komunikasi serta transportasi. Di samping faktor-faktor tersebut, masalah kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan terbatasnya lapangan kerja masih merupakan masalah yang belum terselesaikan, sehingga semakin mendorong terjadinya ESKA. Kemiskinan memang masih merupakan masalah dominan di Indonesia. Salah satu akibat kemiskinan yang berhubungan langsung dengan ESKA adalah putus sekolah.
Selain itu faktor-faktor yang mendorong anak-anak jatuh menjadi korban eksploitasi seksual komersial sangat erat terkait dengan pendidikan yang diberikan oleh keluarganya, yang membentuk pola perilaku seseorang. Ketidakmampuan suatu keluarga untuk melakukan fungsi-fungsi/tugas yang seharusnya mereka penuhi khususnya tugas/fungsi memberikan perlindungan dan kasih sayang, serta pendidikan dan sosialisasi terhadap anak, berakibat pada pemaksaan anak untuk masuk ke dalam eksploitasi seksual komersial.
Faktor lain yang memberikan kontribusi dan mendorong masuknya anak-anak dalam dunia seks komersial adalah:
1) Tradisi kawin usia muda dan mudahnya perceraian
2) Kuatnya kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak yang masih perawan dapat membuat laki-laki awet muda dan meningkat kejantananya
3) Fenomena migrasi desa-kota yang dilakukan oleh tenaga kerja tak terdidik.
4) Gaya hidup perkotaan yang konsumtif.
5) Hidup yang hanya memikirkan saat ini saja tanpa harus memkirkan masa depan.
Menurut Suyanto, meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan seksual merupakan akibat dari berbagai faktor eksternal, yaitu karena takut akan HIV AIDS dan kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan seorang anak akan menambah awet muda, anak-anak kemudian diperdagangkan sebagai komoditas untuk industri seks. Bahkan ada kasus orangtua yang menjual keperawanan anaknya sebagai cara mendapatkan uang dengan mudah.
Koentjoro (2004) mengkatagorikan tiga faktor yang di anggap sebagi penyebab terjadinya pelacuran yaitu faktor persediaan (komunitas pemasok pelacuran), perantara, dan permintaan (di daerah tujuan).
Beberapa faktor yang termasuk dalam permintaan, perantara, dan persediaan adalah sebagai berikut:
1) Faktor permintaan, meliputi pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial, migrasi para pekerja laki-laki, mobilitas sosial, dan turisme / pariwisata.
2) Faktor perantara, yaitu adanya mucikari, kaki tangan mucikari (mantan pelcur, pelacur aktif), dan orangtua / kerabat. Peran perantara antara lain menerjemahkan permintaan akan pelacur di perkotaan, pencari “bakat” pelacur dan penghubung permintaan dan daerah sumber penghasil pelacur.
3) Faktor persediaan, terdiri dari faktor pendorong yang meliputi budaya dan kepercayaan sistem patrimonial, tradisi pernikahan, kebanggaan menjadi janda, dan penyamaan anak dengan sawah dan uang yang banyak; sikap terhadap pernikahan, motif berkuasa, dan materialisme. Sedangkan faktor pendukung meliputi perlakuan sosial (kontrol sosial), sosialisasi, dan persepsi terhadap pendidikan.
d. Permasalahan Anak yang Mengalami Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)
Adanya Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) dikalangan anak jalanan, berdampak terhadap perkembangan fisik, mental, dan moral anak. Permasalahan yang rentan dialami oleh anak jalanan yang mengalami ESKA adalah sebagai berikut :
1) Kekerasan fisik
2) Tekanan Psikologis
3) Kekerasan Seksual
4) Penyakit menular seksual
5) Penggunaan obat-obat terlarang
6) Minuman beralkohol



3. Pekerjaan Sosial dan Pelayanan Sosial Anak
a. Pengertian Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan mengembangkan interaksi-interaksi di antara orang dengan lingkungan sosial sehingga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka, mengatasi kesulitan-kesulitan serta mewujudkan aspirasi-aspirasi dan nilai-nilai meraka.
Charles Zastrow yang dikutip Dwi Heru Sukoco (1992:7) dalam bukunya yang berjudul Profesi Pekerjaan Sosial mengemukakan definisi pekerjaan sosial sebagai berikut: “Social work is the professional activity of helping individualis, groups, or communities to enchance or restore their capacity for social functioning and create societal condition favorable to their goals.”
Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok, dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
Fungsi-fungsi dasar pekerjaan sosial erat kaitannya dengan keberfungsian sosial dari orang yang ditolong, dalam hal ini adalah keberfungsian anak yang berusia belum 18 tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan sesuai dengan batasan pengertiannya. Keberfungsian sosial anak menyangkut aktivitas mereka sehari-hari, khususnya aktivitas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, aktivitas dalam menjalankan peranan dan aktivitas dalam berusaha mengatasi permasalahan yang mereka alami dalam kehidupan. Pertolongan yang diberikan kepada dua anak jalanan yang menjadi korban ESKA ditujukan untuk membantu terhadap permasalahan yang dialami dua anak tersebut serta meningkatkan kemampuan anak dan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani, rohani maupun sosial yang dapat mempengaruhi anak dalam melaksanakan peranan sosialnya.
Pekerja sosial dalam program kesejahteraan sosial anak di bagi menjadi 5 (lima) kluster (www.pksa-kemensos.com), yaitu :
1) Pekerja sosial pendamping Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH)
Pekerja sosial pendamping ABH membantu klien menangani tekanan situasional dan transisional, Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan, dan pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal, pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan.
2) Pekerja sosial pendamping Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK)
Pekerja sosial pendamping AMPK bertugas memberikan pelayanan dan dukungan terhadap akses rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya, melindungi anak dalam melaksanakan tugas-tugasnya kembali sebagai anak baik di rumah, sekolah maupun situasi kehidupan sosialnya. Memulihkan kondisi fisik, mental akibat tekanan yang dialami anak, mengembangkan relasi sosial untuk anak dengan orang-orang yang ada disekitarnya dan mewujudkan situasi lingkungan yang mendukung keberfungsian sosial anak serta mencegah terulangnya tindak kekerasan, perlakuan salah dan eksploitasi anak.
3) Pekerja sosial pendamping Anak yang mengalami Kecacatan (ADK)
Yaitu menolong klien dengan cara menyediakan atau memberikan kesempatan dan fasilitas yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya
4) Pekerja sosial pendamping anak Jalanan dan Terlantar (AT-AJ)
Pekerja sosial pendamping AT-AJ berperan dalam melindungi dan memberdayakan anak jalanan dan anak terlantar. Melindungi anak jalanan dan anak terlantar dengan cara berpartisipasi aktif dalam meningkatkan peran lembaga-lembaga sosial dan lembaga-lembaga pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak jalanan dan anak terlantar. Sedangkan dalam hal memberdayakan ialah meningkatkan kemampuan skill anak jalanan dalam bidang tertentu, dengan tujuan para anak jalanan tersebut dapat mandiri secara ekonomi.
5) Pekerja sosial pendamping Anak Balita (AB)
Peran Pekerja sosial sebagai pendamping AB adalah memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan balita. Misalnya memfasilitasi adanya yayasan TPA ( Tempat Penitipan Anak ), serta arena belajar dan bermain anak terhadap masyarakat miskin agar anak-anak mendapatkan haknya sebagaimana anak-anak yang lain.
b. Pelayanan Sosial bagi Anak
Dalam pekerjaan sosial pelayanan sosal merupakan suatu implementasi pembangunan kesejahteraan sosial untuk mencapai kesejahteraan sosial. Salah satu wujud pelayanan sosial diarahkan pada pelayanan sosial terhadap anak jalanan.
Pelayanan kesejahteraan sosial juga dapat menciptakan kesempatan sosial bagi anak-anak jalanan tersebut untuk meningkatkan dan merealisasikan potensi-potensi yang ada.
Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak tidak terlepas dari prinsip-prinsip tentang hak orang tua, hak anak, dan hak negara. Dengan demikian penanganan masalah anak dalam konteks pekerjaan sosial haruslah dilakukan secara holistik-komprehensip, yakni menempatkan anak dalam konteks situasi total keluarga, masyarakat dan negara.
Adapun bentuk pelayanan sosial bagi anak yaitu dengan memberikan perlindungan, bimbingan dan pembinaan baik fisik, mental, dan sosial, serta keterampilan kepada anak agar dapat hidup, tumbuh kembang, dan berpartisipasi secara wajar.


F. METODE PENELITIAN

1 Desain Penelitian
Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Lexy J. Moleong (2010:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai berikut: “Metode Kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati”.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terhadap 2 (dua) anak jalanan yang menjadi korban eksploitasi seksksual komersial anak (ESKA). Peneliti mengambil studi kasus sebagai desain penelitian, sehingga dapat melakukan penelitian yang mendalam terhadap subyek yang dipilih, dalam hal ini mengenai ”Eksploitasi Seksual Komersial Dikalangan Anak Jalanan”. Maxfield dalam Moh. Nazir (1998 : 66 ), menjelaskan bahwa :
”Studi kasus, penelitian kasus (Case Study), adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas”. Subyek penelitian dapat individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat.

Kaitannya dengan penelitian, peneliti ingin mempelajari secara jelas latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subyek. Tujuan lain adalah untuk dapat memberikan gambaran secara detail dari individu dalam hal ini mengenai eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak jalanan Cirebon. Melalui penelitian ini, peneliti mencoba melihat bagaimana anak jalanan yang mengalami eksploitasi secara seksual komersial menjalani kehidupannya, masalah-masalah yang dialami, penyebab-penyebab / faktor-faktor yang menyebabkan anak jalanan di eksploitasi, dan harapan-harapan anak jalanan.

2 Ruang Lingkup Data dan Sumber Data
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah anak jalanan korban ESKA yang bertempat di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo Cirebon.
Dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan deskripsi latar terbuka dan juga latar tertutup, dengan alasan dalam melakukan penelitian tehadap informan dapat dilakukan diluar rumah dalam halaman seperti di jalann, di alun-alun, di taman maupun didalam lingkungan keluarga (rumah) informan. Seperti dijelaskan Lofland dan Lofland dalam Lexy J. Moleong (2000 : 94), bahwa :
”Latar terbuka terdapat dilapangan umum seperti tempat berpidato, orang berkumpul di taman, toko, bioskop, dan ruang tunggu rumah sakit. Pada latar demikian peneliti hanya dapat mengamati dan kecil kemungkinannya dapat melakukan wawancara. Hal ini perlu diperhitungkan peneliti sehingga strategi pengumpulan datanya dapat lebih efektif, hubungan antara peneliti dengan subyek juga kurang mesra. Sebaliknya pada latar tertutup, hubungan peneliti. dengan subyek harus akrab dan diperlukan strategi khusus untuk dapat mengamati dan melakukan wawancara mendalam.”

Sumber data yang akan dipergunakan pada Penelitian ini meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder.
a. Sumber Data Primer
Sumber data Primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari informan yaitu 2 (dua) anak jalanan yang mengalami ESKA di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo, anak jalanan lainnya dan warga di Jl. dr.Cipto.
( Desember 2010 sampai April 2011).
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang dikumpulkan untuk melengkapi data primer terkait dengan permasalahan yang diteliti. Sumber data sekunder dapat berupa dokumen, buku, majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi, foto dan data statistik. (Desember 2010 sampai April 2011).

3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Wawancara mendalam (Indepth Interview)
Wawancara merupakan percakapan langsung antara peneliti dengan informan yang mengarah pada penggalian data yang diperlukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Wawancara mendalam (Indepth Interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data selain untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti secara terbuka, juga untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari informan (Kabag. Sosial Dinas Sosial Cirebon yaitu Ibu Maemunah, anak jalanan, warga Jl. Cipto, tukang becak, sopir angkot dan pedagang) dengan meminta pendapat dan ide-ide dari mereka. Dalam melakukan wawancara peneliti mengacu kepada pedoman wawancara yang telah disusun.
Proses yang digunakan ialah pertama: peneliti secara langsung mengunjungi informan ditempat-tempat yang memungkinkan untuk dapat menggali informasi, seperti di Dinas Sosial Kota Cirebon, di Jalan-jalan, dan di angkot, dalam melakukan wawancara peneliti menjalin komunkasi dan relasi yang baik dengan informan. Kemudian setelah terjalin komunikasi dan relasi yang baik peneliti mengutarakan maksud dan tujuan wawancara serta memohon kesediaanya untuk memberikan informasi yang diketahuinya tentang permasalahan penelitian. Kedua, wawancara tidak terstruktur (Unstructuring Interviewing) : yakni wawancara yang dilakukan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh pedoman wawancara. Apabila ada respon baik dari informan untuk memberikan informasi yang dimilikinya, maka teknik ini dapat berubah menjadi teknik wawancara terstruktur: yakni wawancara yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terikat pada pedoman wawancara yang telah tersusun.
b. Observasi Partisipasi (Participant Observation)
Observasi Partisipasi (Participant Observation), cara yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi yang dapat memberikan keterangan tambahan mengenai masalah yang akan diteliti tersebut. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai orang luar atau pengamat dengan tujuan untuk lebih memahami dan mendalami permasalahan yang dihadapi oleh anak jalanan yang mengalami ESKA. Dalam Observasi ini, peneliti melihat langsung situasi dan kondisi Anak Jalanan yang mengalami ESKA di Jl. Cipto Cirebon.
Observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara pengamatan untuk memperoleh data dari informan yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan informan selama proses penelitian. Hasil observasi tersebut selanjutnya dicatat dan dicocokan dengan wawancara.
c. Studi Dokumentasi
Peneliti melakukan studi dokumentasi dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data dari dokumen-dokumen resmi yang berhubungan dengan obyek penelitian seperti hasil penelitian, situs internet yang berhubungan dengan anak jalanan dan ESKA, sehingga peneliti memperoleh gambaran tentang masalah eksploitasi seksual komersial anak dikalangan anak jalanan. Sugiyono (2005:82) mengemukakan bawa ”Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu”. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental sesorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life historis). Cerita, biografi, peraturan kebijakan. Dokumen yang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar