Jumat, 25 Maret 2011

PEKERJAAN SOSIAL DENGAN ORGANISASI

PEKERJAAN SOSIAL  DENGAN ORGANISASI

A. Latar Belakang

“Jauh di dalam diri manusia tinggal kekuatan yang tertidur; kekuatan yang akan mengejutkan dia dan yang belum pernah dia impikan untuk dimiliki, kekuatan yang akan mengubah hidup dengan cepat kalau dibangunkan dan diterjemahkan menjadi suatu tindakan” (Orison Sweet Marden).

Lembaga pendidikan tinggi merupakan tempat mendidik dan mencetak para calon profesional di bidangnya masing–masing. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung merupakan salah satu pendidikan tinggi yang mendidik calon Pekerja Sosial Profesional yang mampu mengatasi berbagai tantangan yang ada di masyarakat. Untuk mencapai tujuan secara baik, maka STKS Bandung perlu melakukan suatu bentuk Praktikum lapangan yang terintegrasi dalam kurikulum secara utuh. Praktikum dimaksudkan sebagai pendampingan bagi pemahaman secara teoritik yang diperoleh mahasiswa di dalam kelas. Praktikum ini diselenggarakan secara bertahap yang dimulai dengan Praktikum I dan diikuti oleh Praktikum II, yaitu Pengembangan Organisasi Sosial Lokal.

Pratikum merupakan salah satu persyaratan wajib bagi seluruh mahasiswa Jurusan Pengembangan Sosial Masyarakat (PSM) di STKS Bandung. Pratikum ini merupakan bentuk nyata dari aktivitas belajar mengajar mahasiswa dalam menerapkan praktek pekerjaan sosial secara langsung di masyarakat. Pratikum diarahkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa (first-hand learning experience) dalam bekerja serta memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya Organisasi Sosial Lokal masyarakat perdesaan. Pratikum ini dipandu oleh paradigma pekerjaan sosial dalam pengembangan organisasi lokal (locality Organization atau sering disebut juga sebagai community Organization/CO) yang sangat menekankan pentingnya partisipasi masyarakat, dengan demikian, organisasi lokal yang ada pada masyarakat memiliki kemampuan untuk mengatasi masalahnya sendiri dengan menggunakan kemampuannya sendiri.
Perubahan konsep dalam pelaksanaan Praktikum kali ini dapat dianggap sebagai suatu kemajuan bagi Mahasiswa STKS Bandung Jurusan PSM. Perubahan konsep tersebut dapat dipahami sebagai suatu bentuk penyesuaian dari kurikulum STKS Bandung Jurusan PSM.

B. Waktu
Waktu pelaksanaan Praktikum II ini adalah tanggal 22 September 2010 sampai dengan 21 Oktober 2010 (selama 30 hari).
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pelaksanaan Praktikum pada dasarnya dibagi ke dalam :
1. Tujuan umum
Pada dasarnya Pratikum II bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam menambah keterampilan praktikan pada bidang keorganisasian serta memahami suatu organisasi sosial lokal, struktur sosial yang ada dalam masyarakat, sistem interaksi sosial/kemasyarakatan yang mengarah pada kerjasama antar warga dan kebutuhan-kebutuhannya.

2. Tujuan khusus
Melatih mahasiswa untuk :
a. Mengidentifikasi dan mengkaji karakteristik organisasi sosial lokal masyarakat perdesaan.
b. Melakukan dialog dan persiapan sosial bersama masyarakat.
c. Menemukenali potensi penting atau permasalahan organisasi sosial lokal masyarakat perdesaan.
d. Menyusun rencana dalam rangka pengembangan potensi maupun pemecahan masalah.
e. Mengembangkan potensi atau melakukan intervensi memecahkan permasalahan yang ada dalam organisasi sosial lokal masyarakat perdesaan.
f. Melakukan evaluasi.
3. Manfaat
a. Bagi mahasiswa
1). Mengembangkan sikap dan keterampilan profesi Pekerja Sosial.
2). Memahami dan memecahkan masalah-masalah Kesejahteraan Sosial di organisasi sosial lokal masyarakat perdesaan.
3). Menjalin relasi dengan masyarakat.
b. Bagi STKS Bandung
1). Merupakan sarana pelaksanaan dan pengembangan pendidikan profesional Pekerja Sosial.
2). Merupakan umpan balik bagi pengembangan kurikulum di STKS Bandung.

c. Bagi masyarakat
Mendapatkan masukan dalam usaha menemukenali masalah kesejahteraan sosial, kebutuhan dan sumber yang ada di masyarakat.
D. Metoda dan Teknik
1. Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan Praktikum II yaitu metode Pengorganisasian Masyarakat (Community Organization).
“Pengorganisasian Masyarakat (Community Organization) sebagai salah satu metode atau proses pekerjaan sosial dalam pengembangan organisasi yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan individu melalui bimbingan antar kelompok dalam suatu masyarakat” (George R. Terry, Ph.D.).
2. Teknik
Teknik yang digunakan dalam Praktikum II adalah :
1). Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan studi dokumentasi dimaksudkan cara Praktikan mengumpulkan data dengan mempelajari dokumen yang ada, seperti profil desa, catatan-catatan hasil rapat, keputusan-keputusan, gambar-gambar dan lain-lain.

2). Focus Group Dicussion (FGD)
Suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. FGD diterapkan oleh Praktikan dalam pertemuan warga untuk menemukenali masalah, kebutuhan, dan sumber.

3). Observasi
Kegiatan ini dilakukan Praktikan dengan cara melakukan pengamatan dan melihat secara langsung terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat di Desa Lembang.

4). Diagram Venn
Pelaksanaan diagram venn dilakukan bersama aparatur desa pada saat kegiatan praktikum II dengan menjelaskan tujuan dan maksud dari pelaksanaan diagram venn kepada seluruh peserta community meeting untuk mengkaji organisasi lokal ditinjau dari manfaat, pengaruh serta dekatnya hubungan organisasi lokal dengan masyarakat. Kegiatan diagram venn dilakukan mahasiswa pada minggu kedua untuk mengetahui keberadaan organisasi lokal yang ada yang selanjutnya dilakukan Penilaian Kapasitas (PEKA) oleh masiswa praktikan kepada organisasi yang dipilih oleh masyarakat saat kegiatan diagram venn.

5). Interview (Wawancara)
Melalui teknik ini, Praktikan mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan, melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, remaja masjid serta orang-orang yang dianggap perlu.

6). Penilaian Kapasitas (PEKA)
Pada minggu kedua selama kegiatan praktikum II, dilakukan tindak lanjut dari kegiatan diagram venn kepada organisasi lokal yang dipilih aparatur pemerintah desa dan masyarakat Desa Lembang yang pilih berdasarkan manfaat serta kedekatannya dengan masyarakat untuk dilakukan Penilaian Kapasitas (PEKA) oleh mahasiswa praktikan. Dalam kegiatan PEKA mahasiswa menemukan kekurangan serta kelebihan pada organisasi lokal terpilih, yang dilihat dari penilaian-penilaian yang diberikan oleh peserta-peserta dari organisasi melalui teknologi pekerjaan sosial dalam melihat kapasitas suatu organisai lokal untuk dilakukan upaya pengembangan organisasi lokal melalui kegiatan yang direncanakan oleh peserta dari organisasi lokal dan tim kerjanya dengan didampingi mahasiswa selaku fasilitator kegiatan.

E. Lokasi Praktikum
Praktikum II kali ini mengambil lokasi di Desa Lembang Kecamatan Leles Kabupaten Garut.
F. Sasaran
Sasaran dalam pelaksanaan Praktikum II adalah pengurus dan anggota Organisasi Lokal Desa Lembang Kecamatan Leles Kabupaten Garut.

G. Sistem Praktikum
Pelaksanaan Praktikum ini menggunakan “Block Placement” Sistem, dimana mahasiswa selama 30 hari berada di lokasi Praktikum dengan bobot 4 SKS.




H. Kegiatan Praktikum
1. Persiapan
Kegiatan persiapan telah praktikan mulai semenjak pra pratikum yaitu mengikuti pembekalan dari Lembaga kemudia dilanjutkan dengan bimbingan oleh dosen pembimbing yang terdiri dari 2 (dua) orang dosen pembimbing untuk satu kelompok. Kegiatan selanjutnya adalah survey Lokasi Praktikum yang kami laksanakan pada tanggal 18 September 2010.

2. Assesmen
Assessmen merupakan suatu langkah penting dalam proses pemecahan masalah. Assessmen ini meliputi pengkajian tentang faktor-faktor penyebab, serta pengkajian dan pemahaman tentang apa yg dpt dilakukan / dirubah utk meminimalkan atau pemecahan masalah (Barker dlm Ashman, 1993).
Dalam kegiatan praktikum II ini Praktikan melakukan assesmen terhadap Organisasi-organisasi DKM yang ada di Desa Lembang.

3. Perencanaan
Perencanaan adalah sebuah proses yang dilakukan dengan cermat dan rasional yang meliputi pilihan tindakan-tindakan yang diperkirakan dapat mencapai tujuan-tujuan yang sudah dirinci untuk waktu yang akan datang
Dalam kegiatan perencanaan ini praktikan berpedoman kepada hasil assesmen untuk kegiatan ini praktikan bersam-sam dengan pemuda Desa Lembang berencana untuk membuat Organisasi Karang Taruna

4. Intervensi
Intervensi adalah penerapan rencana yg telah disusun menjadi suatu bentuk kegiatan untuk mencapai tujuan perubahan atau tujuan pelayanan.ntervensi merupakan aktivitas bersama antara Praktikan dengan Pemuda dan tokoh masyarakat.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan untuk melihat kelebihan dan kekurangan / kelemahan yg erjadi dlm melaksanakan kegiatan perencanaan atau dalam pembentukan organisasi karang taruna .dalam tahap ini praktikan juga melihat sejauh mana organisai ini berpengaruh terhadap generasi muda di Desa Lembang.

6. Pengakhiran
Proses penghakhiran bekerja sama dengan pemuda desa serta masyarakat dalam kegiatan pembentukan karang taruna.

7. Hambatan
Hambatan yang dirasakan selama melaksanakan kegiatan praktikum khususnya dalam pembentukan organisasi kepemudaan di Desa Lembang adalah masih terasa sulitnya untuk mengumpulkan para pemuda desa untuk diajak berkumpul dalam membicarakan tentang organisasi kepemudaan yang ada di desa hal ini disebabkan karena merek banyak yang bekerja di tempat pengrajin tas dan kegiatan home industri lainnya.







I. Definisi Judul
1. DIVERSIFIKASI adalah usaha penganekaragaman (pelayanan/kegiatan) yang dilakukan suatu organisasi untuk memaksimalkan kerja sehingga arus kegiatan dapat lebih stabil.

2. PELAYANAN dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa, baik dalam bentuk barang maupun jasa yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat.

3. ORGANISASI adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.

4. DKM adalah Dewan Keluarga Masjid, atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), merupakan organisasi yang dikelola oleh jemaah muslim dalam melangsungkan aktivitas di masjid. Setiap masjid yang terkelola dengan baik memiliki DKM dengan strukturnya masing-masing. Secara umum, pembagian kerjanya terbagi menjadi tiga yaitu Bidang 'Idarah (administrasi manajemen masjid), Bidang 'Imarah (aktivitas memakmurkan masjid) dan Bidang Ri'ayah (pemeliharaan fisik masjid).

5. PROGRAM adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan. Program merupakan kumpulan instruction set yang akan dijalankan oleh pemroses.

6. PENYULUHAN adalah konsep atau istilah merumuskan arti dengan menetapkan yang ekstensi.

7. PERGAULAN BEBAS adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, melewati batas-batas norma ketimuran yang ada.

8. REMAJA adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

J. Bentuk dan Kriteria Organisasi Sosial
Menurut Keputusan Menteri Sosial RI No. 40/ HUKIKEP/X/1980, organisasi
sosial adalah suatu perkumpulan yang dibentuk oleh masyarakat baik yang
berbadan Hukum maupun yang tidak Berbadan Hukum yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan Usaha
Kesejahteraan Sosial.
Adapun bentuk-bentuk dan kriteria daripada Organisasi Sosial adalah sebagai berikut:
a. Organisasi Sosial Berbadan Hukum,
b. Organisasi Sosial Yang Tidak Berbadan Hukum.

1. Kriteria Organisasi Sosial

a. Organisasi Sosial Berbadan Hukum
Organisasi Sosial Berbadan Hukum, mempunyai kriteria memenuhi syarat formal sebagai berikut:
1. Mempunyai struktur Organisasi dan susunan penguru yang jelas dan lengkap.
2. Mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
3. Mempunyai program kerja yang jelas dan berkelanjutan terutama bidang Usaha Kesejahteraan Sosial.
4. Mempunyai akte notaris pendirian yang syah menurut Hukum.

b. Organisiasi Sosial Tidak Berbadan Hukum:
1. Belum berbentuk Badan Hukum dan/atau tidak memerlukan status Badan Hukum,
2. Belum mempunyai Akte Notaris pendirian, dan/atau memang tidak memerlukan Akte Notaris pendirian,
3. Mempunyai beberapa orang pengurus,
4. Mempunyai program kerja yang nyata di bidang Usaha Kesejahteraan Sosial.
5. Mempunyai tempat kedudukan dan jangkauan operasional yang jelas.

2. Klassifikasi:
Klasifikasi jenis, sifat dan kegiatan Organisasi Sosial Berbadan Hukum dan Tidak Berbadan Hukum, dapat dikelompokkan berdasarkan wilayah sebagai berikut:
a. Organisasi Sosial Berbadan Hukum.
1. Nasional: Dari segi operasional sesuatu Organisasi Sosial dapat bergerak secara nasional dengan beberapa cabang/perwakilan di berbagai daerah dan mempunyai satu pusat sebagai sentral segala aktifitas dan kepengurusannya.
2. Regional: Sesuatu Organisasi Sosial hanya bergerak pada satu atau beberapa wilayah Propinsi saja.
3. Lokal: Wilayah kegiatannya terbatas pada suatu atau beberapa wilayah Kabupaten/Kotamadya atau wilayah Kecamatan.

b. Organisasi Sosial Tidak Berbadan Hukum
Oleh karena Organisasi Sosial Tidak Berbadan Hukum ini tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang hanya didasari atas maksud/kepetingan-kepentingan tertentu dan terbatas dari warga masyarakat yang bersangkutan, sehingga ruang lingkup kegiatan Organisasi Sosial tersebut hanya berkisar di wilayah anggota Organisasi Sosial yang bersangkutan, misalnya: dalam suatu RT/RW ataupun kelurahan.

3. Tempat Kedudukan
a. Organisasi Sosial Berbadan Hukum bertempat kedudukan di Ibukota negara RI yang berwilayah kegiatan nasional, atau di Ibukota propinsi dan Kabupaten/Kotamadya atau Kecamatan yang wilayah kegiatannya regional dan lokal.
b. Organisasi Sosial Tidak Berbadan Hukum karena pada umumnya bergerak di wilayah/unit-unit masyarakat yang paling bawah/kecil, maka tempat kedudukannya pun di wilayah/unit yang paling bawah/kecil tersebut, seperti di Kelurahan, RT, dan RW.







BAB II
PROSES KEGIATAN

a. Persiapan Sosial

1. Persiapan Awal
a. Mengkaji berbagai kerangka konseptual tentang pengembangan organisasi sosial yang dituangkan dalam bentuk sebuah karya tulis.
b. Melakukan review terhadap teknologi pekerjaan sosial dalam pengembangan organisasi.
c. Mengkaji gambaran awal mengenai situasi dan kondisi masyarakat khususnya organisasi lokal.
d. Menyusun “Job Description” untuk setiap kelompok.
e. Mengikuti pembekalan praktikum yang diselenggarakan oleh Sub Bidang Administrasi Praktikum dan Kemahasiswaan.
f. Melakukan bimbingan pra lapangan dengan supervisor.

2. Kegiatan di lapangan
Tugas yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dalam praktikum II secara garis besar terbagi menjadi 3 fokus kegiatan yang terinci ke dalam 14 tahapan kegiatan konkrit sebagai berikut:
a. Dialog dan Persiapan sosialisasi
1) Persiapan untuk bekerja sama
Mahasiswa praktikum melakukan perkenalan dengan aparatur pemerintahan yang berada di Kecamatan Leles, Desa Lembang, RW dan RT setempat serta pengurus organisasi lokal yang bertujuan sebagai langkah awal dalam menjalin kerjasama.
2) Pembentukan dan pengembangan rasa saling percaya
Membangun akses serta kepercayaan secara konstruktif dengan tokoh pemerintah desa, masyarakat, khususnya dengan organisasi lokal Desa Lembang.
3) Pembentukan dan pengembangan partnership
Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat maupun Kegiatan Desa/organisasi lokal yang bertujuan untuk mengembangkan partnership dilingkungan Desa Lembang.
4) Pemaknaan potensi dan masalah organisasi lokal
Memahami dan mengetahui potensi dan masalah dalam organisasi lokal untuk di upayakan perencanaan pengembangan organisasi bersama pengurus organisasi lokal.
5) Penentuan arah kegiatan
Membawa organisasi lokal untuk diarahkan kepada kegiatan yang dilakukan mahasiswa praktikum II dalam pertemuan untuk mengembangkan organisasi lokal melalui teknologi pekerja sosial.

b. Assessment dan Perencanaan
1) Penggalian dan analisis sumber daya
Menganalisis dan menggali sumber daya dengan organisasi lokal yang ada di Desa Lembang melalui teknik pekerja sosial seperti Diagram venn dan Penilaian Kapasitas (PEKA) untuk dilakukan upaya pengembangan organisasi.
2) Menyusun rencana dan membentuk tim kerja
Melakukan penyusunan rencana kerja serta menyusun tim kerja untuk melakukan rencana tindak lanjut dalam pengembangan organisasi lokal. Sehingga organisasi lokal mengetahui tugas pokok serta fungsi dalam suatu organisasi.
3) Menguatkan motivasi kerjasama
Mengembangkan semangat dalam organisasi lokal untuk bersama mengembangkan organisasi lokal sehingga tercipta suatu organisasi yang baik.

c. Pengembangan/Intervensi dan evaluasi
1) Mengaktifkan dan menguatkan interaksi sosial antar anggota kelompok/organisasi, kesatuan-kesatuan sosial atau menggerakkan tim kerja.
2) Menggerakkan sumber daya dan memperluas peluang.
3) Melaksanakan rencana
Mengembangkan semangat pada pengurus organisasi serta keinginan untuk melaksanakan rencana dalam mengembangkan organisasi.
4) Pendampingan organisasi
Mendampingi organisasi lokal sebagai fasilitator dan motivasi dalam upaya mengembangkan organisasi.
5) Evaluasi
Melakukan evaluasi dari hasil kerja selama melaksanakan praktikum II didalam mengembangkan organisasi.
6) Pengakhiran
7) Penyusunan laporan hasil praktikum II secara kelompok kepada pimpinan formal desa dan lembaga STKS.


b. ASSESMEN
1. Kegiatan
Dari hasil Community Meeting yang dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2010 di aula kantor Desa Lembang, didapat beberapa organisasi local yang ada di tingkat desa. Selain mengadakan Community Meeting praktikan juga menggali informasi dengan mengadakan wawancara langsung kepada tokoh pemuda dan pemuda di tingkat RW menggali informasi tentang kegiatan–kegiatan ataupun organisasi-organisasi yang ada di tingkat RW kegiatan ini praktikan laksanakan dengan mengunjungi tempat-tempat berkumpulnya masyarakat seperti di arena olah raga dan di kediaman masing-masing.

2. Tujuan
Tujuan diadakan assesmen ini supaya praktikan mengetahui bagai mana keadaan atau keberadaan organisasi local di tengah –tengah masyarakat sejauh mana manfaat oragnisai tersebut di masyarakt khususnya organisasi kepemudaan apa manfaat yang dirasakan oleh pemuda Desa Lembang, dari kegiatan asessmen ini praktikan juga dapat menganalisa dan menentukan perubahan apa yang harus dilakukan oleh organisais tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan kegiatan ini juga praktikan bersama – sama dengan pemuda bisa membuat kegiatan yang lebih positif untuk kemajuan organisasi

3. Sasaran
Sasaran dalam kegiatan Asesmen adalah para pengurus dan anggota organisasi DKM AL-Hikmah Desa Lembang serta para tokoh masyarakat baik formal maupun informal agar mereka dapat memberikan dukungan dan bimbingan dan juga dapat membantu jalannya oraganisasi baik bantuan materian maupun non material.

4. Waktu dan Tempat
Kegiatan asesmen ini Praktikan laksanakan pada minggu kedua pelaksanaan praktikum, untuk menjumpai aparat desa praktikan langsung mengadakan wawancara di kantor desa pada jam dan kegiatannya praktikum laksanakan di tempat-tempat kegiatan olah raga maupun di rumah rumah mereka sambil bersilaturrahmi.

5. Metode/ Teknik
Dalam kegiatan assesmen ini praktikan menggunakan metode wawancara lansung kepada tokoh – tokoh pemuda serta tokoh formal dan informal yang ada di desa, disamping itu untuk menggali informasi yang lebih akurat praktikan juga mengadakan diskusi secara kelompok di setiap perkumpulan perkumpulan pemuda yang ada di tingkat RW, agar informasi yang diperoleh bisa menjadi bahan untuk kegiatan perencanaan selanjutnya

.
c. PERENCANAAN
1. Kegiatan
Rencana pengembangan organisasi dalam upaya meningkatkan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan memanfaatkan potensi pemuda secar efektif dan mengevaluasi setiap perubahan dan mengarahkannya secara konstruktif. Jadi dengan adanya kegiatan Praktikum Mahasiswa STKS Bandung mereka sangat berharap praktikan bisa memfasilitasi terbentuknya organisasi kepemudaan di tingkat desa, yang bertujuan untuk menyatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda yang ada di tingkat RW tersebut.

2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan perencanaan ini adalah agar tertampungnya aspirasi dari pengurus dan anggota organisasi dkm dalam keinginan mereka dalam hal menyatukan perkumpulan-perkumpulan remaja yang ada di tingkat RW, sehingga terbentuknya organisasi dkm yang lebih besar yang ada di tingkat desa agar mereka memiliki suatu wadah yang dapat manampung aspirasi mereka daklam membantu pelaksanaan pembangunan di bidang keagamaan dan meningkatkan kesejahteraaan masjid Al-Hikmah Desa Lembang, serta wadah ini juga dapat membantu program-program yang direncanakan oleh pemerintahan desa terutama program tentang meningkatkan SDM masyarakat Desa Lembang.

3. Sasaran
Sasaran dari kegiatan perencanaan ini adalah pengurus dan anggota organisasi dkm yang mampu dan mau untuk dilibatkan dan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan perencanaan pembentukan organisasi dkm.

4. Waktu dan Tempat
Sesuai kesepakatan yang telah dibuat maka pada tanggal 11 Oktober 2010 kami praktikan bersama-sama tokoh agama dan remaja melaksanakan pertemuan di posko praktikum untuk membentuk panitia pembentukan panitia penyuluhan dkm Desa Lembang, dalam kegiatan ini turut hadir Bapak Kepala Desa Lembang ( Bapak Imamudin Suhendar ) untuk memberikan arahan kepada tokoh pemuda yang hadir, untuk dapat melaksanakan rencana yang telah disepakati sesuai dengan harapan masyarakat Desa Lembang.

5. Metode/ Teknik
Metode yang praktikan gunakan dalam kegiatan perencanaan ini adalah diskusi kelompok dengan menghadirkan pengurus dan anggota organisasi dkm.

d. Intervensi
Secara lengkap proses kegiatan praktikan selama praktikum dapat digambarkan dalam berbabagai tahapan berikut:

1. Membangun Akses Serta Kepercayaan dengan Berbagai Elemen
Sebelum berangkat menuju lokasi praktikum, praktikan berkumpul di kampus STKS bersama rekan-rekan praktikan yang lain pada pukul 07.00 WIB dan selanjutnya berangkat menuju ke Kantor Kecamatan Leles pada pukul 10.00 WIB Praktikan tiba di Kantor Kecamatan Leles. Di lokasi tersebut dilaksanakan acara penyerahan semua peserta Praktikum II oleh pihak STKS yaitu Bapak Wawan Heryawan selaku Ketua STKS dan penerimaan oleh pihak Kecamatan Leles yang diwakili oleh Sekretaris Kecamatan. Kemudian setiap kelompok praktikan berangkat menuju lokasi praktikum masing-masing yang didampingi oleh Sekretaris Desa Lembang Ibu Astri Sulasrti. Lokasi praktikum kami bertempat di Dusun I RW 04 RT 10 Kampung Nagrog Desa Lembang. Pada pukul 19.30 WIB praktikan berkunjung ke rumah Bapak Ketua RW 04 Bapak Sukardi untuk melaporkan keberadaan praktikan dilokasi praktikum dan sekaligus bersilaturahmi.
Pada hari Jumat tanggal 24 September 2010 pukul 08.00 WIB bertepatan dengan pertemuan PNPM Desa Lembang praktikan melakukan pertemuan dengan aparat desa di kantor Desa Lembang bersama tokoh masyarakat untuk menciptakan tali silahturahmi dan membangun akses kepercayaan khususnya dengan para aparat desa. Selain itu praktikan menggunakan momen ini untuk mensosialisasikan maksud dan tujuan Praktikum II sekaligus perkenalan setiap anggota kelompok yang akan melaksanakan praktikum di Desa Leles. Hal ini diterima baik oleh aparat desa yang hadir saat itu.
Di hari yang sama, posko praktikan mendapat kunjungan dari para tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, warga disekitar Desa Lembang dan pada malam harinya dikunjungi oleh tokoh agama, Bapak Kadus I dan Kepala Desa Lembang. Kejadian tersebut sangat menyenangkan praktikan karena praktikan merasa kedatangan praktikan diterima dengan baik oleh masyarakat Desa Lembang. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi praktikan serta langkah awal yang baik dalam tahap membangun akses dan kepercayaan dengan berbagai elemen masyarakat.
Pada hari Jumat tanggal 25 September 2010 pukul 11.00 WIB praktikan melakukan kunjungan rumah ke kediaman Kepala Desa Lembang Bapak Imamudin Suhendar sekaligus bersilaturahmi dengan ibu Kepala Desa Lembang Ibu Nenden Helmi Liana. Kami diterima dengan baik oleh Kepala Desa dan mendapatkan informasi mengenai keadaan lokasi praktikum yang praktikum tempati yaitu Desa Lembang. Untuk itu selama minggu pertama praktikan berusaha memperluas akses dan kepercayaan tersebut dengan melakukan hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti:

a. Kegiatan umum masyarakat
Dalam rangka membangun relasi dan keakraban praktikan menerapkan teknik community involvement, artinya praktikan ikut serta dan melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat. Misalnya:
1) Kegiatan keagamaan, yaitu menghadiri pengajian desa di tiap RW yang dilaksanakan setiap hari Kamis malam Jumat Ba’da Magrib di Desa Lembang. Kegiatan ini menjadi peluang yang baik bagi praktikan untuk mengenal lebih dalam masyarkat Desa Lembang. Saat itu praktikan mendapat kehormatan untuk memperkenalkan diri bersama dengan praktikan yang lain. Praktikan juga menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari praktikum yang sedang dilakukan serta memohon bantuan dan kerjasama dari masyarakat dalam setiap kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan nantinya. Praktikan merasa sangat senang dan menyampaikan ucapan terima kasih atas penerimaan masyarakat yang begitu besar.
Keterlibatan praktikan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut merupakan bagian dari proses Praktikum II yaitu melebur dan menjadi bagian dari masyarakat sehingga tercipta suatu kepercayaan dari masyarakat.

2) Kegiatan Pendistribusian Raskin di Desa Lembang, dalam kegiatan ini praktikan membantu dalam pembagian Beras Raskin yang akan dibagikan ke warga yang ada di Desa Lembang.
3) Kegiatan Posyandu, dalam kegiatan ini praktikan ikut menghadiri kegiatan. Kegiatan ini dilakukan setiap sebulan sekali di 4 Kampung yaitu Kampung Lekor, Kampung Nagrog, Kampung Caringin dan Kampung Kanduruan.
4) Kegiatan Olahraga, dalam kegiatan ini praktikan bersama pemuda Desa Lembang mengikuti kegiatan olahraga seperti bulutangkis yang dilaksanakan seminggu 3 kali yaitu hari senin, selasa, dan rabu. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Lembang, selain itu praktikan juga mengikuti kegiatan olahraga bola volley yang dilaksanakan setiap sore di lapangan bola volley Desa Lembang.
5) Kegiatan Upacara di Kecamatan Leles dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila bersama aparat Desa Lembang.
b. Kunjungan rumah
Dalam upaya membangun akses dan kepercayaan praktikan juga melakukan kunjungan ke rumah tokoh-tokoh masyarakat mulai dari tokoh-tokoh formal sampai tokoh-tokoh nonformal. Tokoh formal yaitu Ketua RW di Desa Lembang , aparat desa yang bertempat tinggal di wilayah Desa Lembang, Kader serta Kepala Sekolah SMP), tokoh pemuda (Asep Boy, King-king), Ketua LPM Bapak Saepulloh, Ketua BPD Bapak H. Ase Rahmat Nawawi, Sekretaris PKK Ibu Dadah, Ketua KWD Bapak Usman, Ketua Pamhut Swakarsa Bapak Endin, Ketua DKM Bapak Aki Sopia, Ketua Kelompok Tani Bapak Supia. Dalam kunjungan rumah ini praktikan melakukan perbincangan-perbincangan ringan sampai kepada diskusi mengenai topik-topik tertentu yang berkaitan dengan organisasi sosial local yang ada di Desa Lembang.
Kunjungan rumah juga dilakukan praktikan terhadap warga biasa yang bukan merupakan tokoh masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memperbesar penerimaan warga dan memperkuat kepercayaan mereka terhadap keberadaan praktikan. Praktikan selalu menggunakan saat-saat dalam berkunjung dengan memperkenalkan rekan-rekan praktikan yang lain dan mensosialisasikan maksud dan tujuan praktikum yang dilakukan praktikan.
c. Memberi salam atau menyapa
Memberi salam merupakan salah satu hal terpenting bagi praktikan, karena merupakan bentuk penghargaan praktikan terhadap masyarakat. Pemberian salam atau menyapa ini dilakukan praktikan selama praktikan berada di lokasi praktikum, baik kepada orangtua, pemuda dan anak-anak. Hal ini dilakukan karena praktikan memandang bahwa setiap orang dalam masyarakat khususnya Desa Lembang memiliki harga diri dan martabat.
Semua kegiatan di atas sangat berguna karena telah menciptakan suatu keakraban dan kepercayaan antara masyarakat dengan praktikan sehingga praktikan mendapat dukungan dalam pelaksanaan setiap tahapan Praktikum II. Beberapa diantaranya dilakukan praktikan selama minggu pertama dan kedua praktikum untuk membangun akses dan kepercayaan dengan berbagai elemen masyarakat, namun bukan berarti pada minggu-minggu berikutnya praktikan tidak melakukan kegiatan serupa, kegiatan itu tetap dilakukan namun fokus dan konsentrasinya berbeda dengan minggu pertama dan kedua.


2. Membangun Kesepakatan Bersama dalam Rangka Penyiapan Kerjasama
Tahap ini tidak dilakukan secara terpisah dengan tahapan sebelumnya. Keduanya merupakan satu kesatuan yang dinamis. Momen yang terbaik dalam melakukan tahapan ini adalah pada saat pengajian khususnya waktu pengajian desa agar cakupannya lebih luas dan mengefektifkan waktu yang ada. Dalam pengajian itu menyampaikan permohonan dukungan dan kerjasama dari masyarakat dengan mengatakan bahwa praktikan datang untuk belajar dari masyarakat.
Pada kesempatan lain, seperti perbincangan dengan tokoh masyarakat dan warga biasa, praktikan juga sesekali menyampaikan permohonan bantuan dan dukungan dari mereka dalam rangka penyiapan kerjasama dengan masyarakat dalam hal ini mengenai orgnisasi sosial lokal. Secara lebih mendalam, kesepakatan ini dibangun oleh praktikan pada saat pertemuan dengan tokoh masyarakat di kantor Desa Lembang ( Jumat 1 Oktober 2010) dalam rangka persiapan community meeting.
Dalam pertemuan warga yang pertama ini, praktikan menyampaikan bahwa puncak dari Praktikum II adalah identifikasi masalah/kebutuhan sosial dan potensi/sumber yang ada dalam organisasi sosial lokal di Desa Lembang melalui penerapan Diagram Venn. Setelah maksud dan tujuan disampaikan, praktikan mendapatkan dukungan dalam bentuk keterlibatan dua orang diantara mereka dalam proses pelaksanaan Community Metting yang akan dilakukan nanti.
Selanjutnya tahap membangun kesepakatan bersama masyarakat dalam rangka penyiapan kerjasama ini dilakukan praktikan dalam Community Metting yang dilaksanakan sebanyak dua kali oleh praktikan, diantaranya:
a. Pertemuan warga (Community Metting) pertama, yaitu dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti Ketua RW, Ketua RT, tokoh agama, tokoh pemuda, Ketua PKK dan para kader yang dilaksanakan pada hari Jumat 24 Septembet 2010 pukul 09.00 WIB bertempat di Kantor Desa Lembang.
b. Pertemuan warga (Community Metting) kedua, dengan warga masyarakat (bapak-bapak dan ibu-ibu). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Oktober 2010 pukul 13.00 WIB bertempat di Kantor Desa Lembang. Dalam kegiatan ini, praktikan menjelaskan tentang penerepan Diagram Venn. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mengetahui hubungan organisasi sosial lokal dan seberapa besar kedekatan dan manfaat yang diterima oleh masyarakat dengan adanya organisasi tersebut.
Jadi kedua pertemuan tersebut diadakan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai masalah dan sumber yang ada, yaitu berdasarkan perspektif tokoh-tokoh masyarakat dan warga biasa. Saat penerapan Diagram Venn, praktikan menyampaikan harapan kerjasama dari masyarakat yang hadir.

3. Mengoptimalkan Motivasi untuk Bekerjasama
Untuk kelancaran kegiatan praktikum II di Desa Lembang maka praktikan membangun kesepakatan-kesepakatan atau kerjasama dengan warga masyarakat baik dalam bentuk kegiatan pertemuan secara formal maupun non formal, terutama dengan tokoh dibawah ini, yaitu;
a. Kepala Desa Lembang (Bapak Imamudin Suhendar) dan Sekretaris Desa (Ibu Astri Sulastri).
b. Ketua RW 04 (Bapak Sukardi).
c. Ketua Kadus I selaku pendamping (Bapak M. Zakaria).
d. Tokoh Pemuda Desa Lembang (Bapak Asep Boy, Juju, Jalal).
e. Para Kader PKK Desa Lembang.
f. Ketua LPM Desa Lembang (Bapak Saepulloh).
g. Ketua BPD Desa Lembang (Bapak H. Ase Rahman Nawawi).
h. Ketua KWD Desa Lembang (Bapak Usman).
i. Ketua Pamhut Swakarsa (Bapak Endin).
j. Ketua Kelompok Tani Desa Lembang (Bapak Sopia).
k. Ketua DKM Desa Lembang (Bapak Aki Sopia).
Waktu Pelaksanaan minggu kedua pada tanggal 1 oktober 2010 melaksanakan (Community Metting) 13.00 WIB bertempat di Kantor Desa Lembang. Dalam kegiatan ini, praktikan menjelaskan tentang penerepan Diagram Venn. pertemuan tersebut diadakan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai masalah dan sumber yang ada, yaitu berdasarkan perspektif tokoh-tokoh masyarakat,aparat desa, tokoh pemuda, RT, RW, Tokoh agama. Saat penerapan Diagram Venn, praktikan menyampaikan harapan kerjasama dari masyarakat yang hadir. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mengetahui hubungan organisasi sosial lokal dan seberapa besar kedekatan dan manfaat yang diterima oleh masyarakat dengan adanya organisasi tersebut.
Proses pelaksanaan masing masing praktikan melaksanakan asessmen terhadap organisasi lokal yang ada dengan menerapkan Peka dan teknik yang lainnya. Dengan melibatkan pihak –pihak yang tekait seperti pengurus oraganisasi dan anggotanya
Faktor yang mendukung dalam kegiatan paraktikum melaksanakan proses assesmen terhadap organisasi para pengurus ikut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan praktikum II yang ada di Desa Lembang.
Organisasi lokal yang ada di Desa lembang dapat bekerjasama dengan praktikan dan keterbukaan organisasi yang berada di desa lembang dapat menerima praktikan dengan baik, terutama pada peningkatan organisasi lokal dan dapat berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat maupun organisasi yang bersangkutan.
Untuk faktor penghambatnya yaitu kurang adanya pemahaman dari masyarakat terhadap organisasi lokal yang ada di desa lembang, dalam berbahasa sunda praktikan mengalami kesulitan dalam berbahasa sunda, dalam segi kondisi hujan yang menjadi penghambat dalam melaksanakan kegiatan praktikum.

4. Membangun relasi pertolongan/kerjasama dengan masyarakat
Kegiatan dalam menjalin relasi, Praktikan mengikuti kegiatan yang dilakukan masyarakat setempat seperti pengajian dan latihan Bola Volli. Pengajian dilakukan tiap hari senin dan rabu, yang dilaksanakan di Mesjid Al-Hikmah. Latihan Bola Volli dilakukan setiap satu miggu dua kali yaitu hari minggu dengan hari rabu. Media itu digunakan untuk memperkuat hubungan antara Praktikan dan masyarakat, dari pemuda sampai orang tua dan dengan tokoh masyarakat.
Dengan mengikuti segala kegiatan yang ada dimasyarakat, semakin mempererat emosional dengan masyarakat. Dengan berkembangnya semangat pemuda dan orang tua mempermudah Praktikan untuk menjelaskan maksud dan tujuan, serta memberikan bantuan fikiran dan tenaga saat membantu Praktikan.
Saat mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat, Praktikan menanyakan waktu luang warga, sehingga kegiatan yang dilakukan tidak bentrok dengan kegiatan masyarakat sehari-hari serta membuat kesepakatan-kesepakatan apa yang akan Praktikan dan masyarakat lakukan dalam satu bulan kedepan.
Kegiatan yang selama ini dilakukan Praktikan telah mempererat hubungan emosional dengan masyarakat, sehingga diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan.
e. Hambatan yang dihadapi atau dialami oleh selama pratikum
Selama pelaksanaan Praktikum II hambatan sosial/psikologis yang dialami oleh Praktikan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Bahasa pergaulan sehari-hari
Pada awalnya Praktikan merasa ada sedikit gangguan dalam menjalin keakraban dengan warga terutama masalah bahasa yang digunakan karena Praktikan hanya bisa berbahasa Sunda sedikit seperti “punten dan mangga”. Satu hal lagi yang menjadi ketakutan Praktikan adalah bahasa Sunda yang digunakan adalah bahasa Sunda yang kasar, sehingga perasaan takut menyinggung perasaan warga masyarakat juga menjadikan Praktikan agak sungkan terutama berbicara dengan para tokoh–tokoh masyarakat maupun tokoh - tokoh. Tapi beruntung, mereka mau mengerti dengan keadaan Praktikan bahkan mereka tidak segan–segan untuk mengajarkannya pada Praktikan apa yang belum atau tidak Praktikan ketahui dan ditambah lagi Praktikan selalu didampingi oleh pendamping yang selalu membantu Praktikan untuk bisa berkomunikasi dengan warga setempat. Selanjutnya pada setiap percakapan dengan masyarakat, Praktikan berusaha menggunakannya sedikit demi sedikit. Masyarakat yang maklum dan telah mengerti atas hal ini sangat mendukung usaha Praktikan untuk mampu berkomunikasi dengan baik.

2. Lokasi praktikum
Kondisi geografis yang tanahnya tidak datar atau selalu naik turun ketika Praktikan berjalan menyebabkan Praktikan merasa kelelahan ketika harus berjalan mengelilingi desa. Bukan hanya kondisi geografisnya saja tetapi jalan yang dilalui pun sangat kurang baik atau bisa dikatakan rusak karena hampir seluruh wilayah jalan bukan jalan beraspal tetapi jalan yang dimana setiap jalannya penuh dengan kelicinan sehingga apabila Praktikan berjalan kaki ataupun bersepeda motor selalu merasa ketakutan karena takut terjatuh.
Lokasi praktikum juga agak menyulitkan bagi Praktikan untuk berkomunikasi dengan pihak luar dikarenakan lokasi yang sangat jauh terpelosok dan akses untuk berhubungan dengan pihak luar selain warga masyarakat menjadi sangat susah dilakukan apalagi disaat Praktikan harus mengambil data-data untuk kelengkapan praktikum dimana lokasi tujuan di luar wilayah posko Praktikan berdiam, contonya kantor kecamatan dan kantor balai desa.
Akan tetapi, pada dasarnya Praktikan merasa senang dengan kegiatan praktikum. Yang lebih mengesankan adalah sifat penerimaan warga kepada Praktikan. Mereka bahkan berpesan kepada Praktikan agar sering berkunjung atau bahkan selalu mengingat saudara – saudaranya yang baru di Desa Lembang biarpun nantinya sudah selesai praktikum.
3. Persepsi yang salah tentang Praktikum
Tujuan pelaksanaan Praktikum II adalah menemukenali masalah, kebutuhan dan membuat program serta ditindaklanjuti dengan pemecahan masalah tersebut secara partisipatif. Hal ini berulang kali disampaikan oleh Praktikan kepada masyarakat tetapi, sebagian warga masyarakat menganggap Praktikum seperti halnya Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Perguruan Tinggi lainnya yang selalu mengerjakan proyek fisik.
Kenyataaan ini menimbulkan persepsi sebagian warga masyarakat yang menganggap bahwa Praktikan datang membawa dana bantuan. Hal ini diperparah dengan keberadaan Praktikan sebagai bagian dari Civitas Akademika STKS Bandung yang berada di bawah Kementerian Sosial Republik Indonesia yang selama ini diidentikkan oleh masyarakat luas sebagai “Kementerian pemberi bantuan”. Dari persepsi tersebut, terdapat sebagian warga masyarakat yang mengharapkan bantuan dari Praktikan, terlebih dalam bentuk finansial.
4. Rendahnya partisipasi masyarakat
Masyarakat Desa Lembang merupakan masyarakat pekerja keras. Semenjak pagi hari, mereka harus bersiap-siap yang kemudian mereka turun ke kebun untuk bertani sayur-sayuran dan ke sawah untuk bertani.
Padatnya kegiatan masyarakat tersebut, membuat masyarakat sedikit waktu untuk melakukan kegiatan yang lain. Mereka lebih cenderung untuk bekerja mencari uang, daripada aktif berpartisipasi dalam kegiatan lain seperti kegiatan sosial yang sifatnya sukarela.
Hal ini dirasakan sebagai hambatan oleh Praktikan, karena konsep Praktikum yang memerlukan partisipasi masyarakat di setiap kegiatannya. Dalam hal ini Praktikan berusaha untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat dengan bantuan tokoh-tokoh formal maupun informal, sehingga antara Praktikan dan masyarakat dapat Berbuat Bersama Berperan Setara.


BAB III
HASIL KEGIATAN

A. Lokasi Praktikum
1. Sejarah
Desa Lembang terbentuk pada tahun 1979, terbentuknya Desa Lembang adalah hasil dari pemekaran Desa Lekor yang mekar menjadi 3 ( tiga) desa yaitu Desa Lembang, Desa Cipancar dan Desa Kandang Mukti. Dahulunya Desa Lekor terdiri dari 6 Dusun, 30 RW dan 60 RT.
Berikut adalah kepala-kepala desa yang pernah memimpin Desa Lembang semenjak pertama kali terbentuk atau mengalami pemekaran dari Desa Lekor :
a. Kepala Desa pertama adalah Bapak Ase Rahkman yang menjabat dari tahun 1979 sampai tahun 1981,
b. Kepala Desa kedua Bapak Tarmu yang menjabat dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1987,
c. Kepala Desa ketiga Bapak Rukamantika beliau ini menjabat selama 2 periode kepemimpinan yaitu dari tahun 1987 sampai dengan 2002,
d. Kepala Desa yang keempat Bapak Raden Oman yang menjabat dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007,
e. Kepala Desa yang kelima Bapak Imamudin Suhendar yang menjabat dari tahun 2007 sampai sekarang.
Keadaan Desa Lembang pada saat sekarang sudah banyak perubahan dari awal pemekaran tahun 1979, baik sarana dan pra sarana jalan menuju desa maupun menuju kerumah rumah warga. Hal ini dapat terlihat dengan sudah adanya kendaraan roda empat yang banyak keluar masuk Desa Lembang dan kegiatan warga pun sudah berpariasi , seperti adanya home industry pembuatan tas dan jaket kulit.
2. Kondisi Geografis
Pada umumnya wilayah Desa Lembang adalah wilayah pertanian dan perkebunan. Pertanian yang dikembangkan oleh masyarakat berupa jenis tanaman padi persawahan. Di lahan kering banyak jenis tanaman yang dikembangkan berupa cengkeh, mangga, jeruk, pisang, manggis, kelapa dan pepaya. Areal wilayah lainnya digunakan masyarakat untuk tanaman perkebunan seperti teh, melinjo, tembakau dan sengon/albasia.
Masyarakat Desa Lembang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, wiraswasta dan buruh tani perkebunan. Kenyataan demikian tergambar dari profil wilayah, baik secara geografis, sosiografis, demografis dan sosial budaya.
Secara umum kondisi ekonomi masyarakat Desa Lembang masuk dalam kategori menengah ke bawah, hal ini tergambar dari stratifikasi sosial yang nampak melalui kelas pemilik perkebunan dan kelas buruh. Sehingga secara material kepemilikan asset ekonomi dimiliki oleh orang-orang yang mereka sebut sebagai “majikan”, sementara kelas buruh hanya sebagai tenaga buruh penggarap (buruh tani) yang memeiliki pendapatan rendah sehingga hal ini berimplikasi terhadap kehidupan ekonomi dan sosial dari kalangan masyarakat buruh tersebut. Meskipun secara umum sumber potensi yang ada di Desa Lembang berupa keluasan wilayah perkebunan, akan tetapi mayoritas masyarakat hanyalah sebagai buruh tani/buruh penggarap atau dapat dikatakan alokasi sumber potensi tidak merata.
Sementara itu kehidupan interaksi sosial masyarakat Desa Lembang secara global masih terlihat sebagaimana yang terkaji dalam sosiologi desa yang memiliki ciri-ciri seperti sistem kekeluargaan/kekerabatan dan kebersamaan yang masih kental yang tergambar dalam kegiatan berupa acara hajatan perkawinan, pembangunan/pindah rumah dan sebagainya.
Dilihat dari kehidupan sosialnya, secara umum kehidupan sosial masyarakat Desa Lembang masih memegang teguh nilai-nilai lokal baik nilai adat budaya yang secara turun temurun terwariskan dari generasi ke generasi, maupun nilai agama yang dianutnya. Sehingga dalam penyelesaian masalah maupun dalam kehidupan sehari-harinya kedua nilai tersebut masih menjadi acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Termasuk dalam berbagai kegiatan sosial budaya seperti adat perkawinan, musyawarah untuk mencapai mufakat, dan sebagainya.
Adapun batas-batas wilayah Desa Lembang Kecamatan Leles Kabupaten Garut secara geografis adalah:
a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Rancasalak
b. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Hegarsari
c. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Cipancar
d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Dano
Orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan ), Jarak lokasi Desa Lembang ke pusat-pusat pemerintahan adalah sebagai berikut:
a. Ke Ibukota Kecamatan : 3 km
b. Ke Ibukota Kabupaten : 13 km
c. Ke Ibukota Provinsi : 52 km

3. Kondisi Demografis
a. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
No. Kelompok umur dalam tahun Jenis Kelamin Jumlah %
Laki-laki Perempuan
1 0 – 5 290 294 584 13,10
2 6 – 10 296 288 584 13,10
3 11 – 15 235 240 475 9,70
4 16 – 20 244 214 458 7.55
5 21 – 25 239 240 479 9,83
6 26 – 30 248 279 527 11,32
7 31 – 35 225 210 435 8,45
8 36 – 40 185 166 351 5,83
9 41 – 45 163 149 312 4,61
10 46 – 50 146 138 284 3,74
11 51 – 55 132 145 277 3,52
12 56 – 60 139 126 265 3,15
13 61 – 65 116 127 243 2,46
14 66 – keatas 126 152 278 3,55
Jumlah 2.784 2.768 5.552 100
Sumber : Hasil pendataan di lapangan September 2010
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif pada wilayah Desa Lembang sebanyak 3.388 jiwa (16-60 tahun) atau 62,91 % dari total penduduk seluruhnya sebanyak 5.552 jiwa. Batasan usia produktif ini sesuai dengan pendapat Drs. Basir Barthos dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Makro, (1995:64) mengemukakan bahwa “usia produktif dapat digolongkan yaitu usia 16 sampai dengan 60 tahun”.


b. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah %
1 Belum masuk TK 408 22,58
2 TK 25 1,38
3 SD / Sederajat 1.027 56,83
4 SLTP / Sederajat 312 17,27
5 SLTA / Sederajat 35 1,94
Jumlah 1.807 100,00
Sumber : Hasil pendataan di lapangan September 2010
Tabel tersebut menunjukkan bahwa warga masyarakat Desa Lembang sebanyak 1.374 orang atau sebesar 66,63 % dari jumlah keseluruhan penduduk rata-rata berpendidikan Sekolah Dasar. Hal ini berarti bahwa sumber daya manusia di wilayah ini masih sangat rendah.
c. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pekerjaan
No Jenis Pekerjaan Frekuensi Prosentase

1 PNS/TNI/POLRI 9 0,51
2 Pertanian 895 50,28
3 Perdagangan 240 13,48
4 Peternakan 3 0,17
5 Pengrajin 8 0,45
6 Pegawai Swasta 112 6,29
7 Buruh Tani 421 23,65
8 Lain-lain 92 5,17
Jumlah 1.780 100,00
Sumber : Hasil pendataan di lapangan September 2010





4. Kondisi Sosiografis
a. Pola Perumahan
Rumah adalah kebutuhan pokok bagi setiap manusia tidak terkecuali masyarakat di Desa Lembang walaupun mereka tnggal di daerah pedesaan mereka memiliki rumah sendiri yang dibangun dengan berbagai model dan bentuk yang dulunya kebanyakan rumah panggung tapi saat ini sebagian besar rumah telah berubah menjadi rumah semi permanen dan permanen.
1). Rumah Tidak Layak Huni
Dari data yang kami peroleh di Desa Lembang terdapat 152 rumah tidak layak huni yang terletak hampir merata di setiap RW di Desa Lembang hang kondisinya sangat memprihatinkan dan hal ini sudah mendapat perhatian dari aparat desa dan dalam waktu dekan ini akan mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumah warga tersebut aparat desa telah mengajukan permasalahan ini ke dinasa terkait melalui Camat Kecamatan Leles.










2). Rumah Layak Huni
Sebanyak 110 unit rumah termasuk dalam kategori permanen, kemudian 46 unit rumah semi permanen dan sisanya sebanyak 675 unit rumah termasuk dalam kategori rumah non permanen. Jadi jumlah seluruh rumah di Desa Lembang sebanyak 831 unit rumah, dengan perincian sebagai berikut :
Pola Perumahan Warga Desa Lembang Tahun 2010
No Pola Perumahan Jumlah Persentase
1 Permanen 110 13,24
2 Semi Permanen 46 5,53
3 Non Permanen 675 81,23
Total 831 100,00
Sumber : Hasil pendataan di lapangan September 2010

3). Pengelompokan
Pengelompokan pemukiman di Desa Lembang hamper sama dengan kondisi didaerah lain. Di Desa Lembang kebanyakan warga membangun rumah di pinggir jalan utama atau jalan desa kebanyakan dari mereka yang membangun rumah di penggir jalan adalah mereka yang tingkat ekonominya menengah keatas karena mereka membangun rumah dengan kondisi permanen dan disamping itu banyak juag diantara mereka yang membangun rumah di pinggira jalan karena ingin membuka usaha seperti berjualan bahan pokok dan bahan keperluan seharihari warga desa, maksud dan tujuan mereka membangun dipinggir jalan adalah agar akses bagi warga untuk menuju ke tempat belanja keperluan seharihari jadi lancer karena didukung oleh lokasi dan jalan yang memadai, sedangkan untuk warga yang memiliki taraf perekonomian menengah ke bawah banyak dari merek yang membangun rumah agak kedalam dan harus melewati gang dan pematang sawah dan pola perumahan mereka pun kebanyakan semi permanen

b. Interaksi Sosial Secara Umum
1). Interaksi dirumah
Karena sebagain besar masyarakat Desa Lembang bermata pencaharian bertani maka untuk intaraksi di rumah sesame anggota keluarga kebanyakan anggota keluarga hanya berinteraksi dimalam hari karena masing-msing anggota keluarga kalau siang hari sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga mereka berkumpul hanya pada waktu malam hari

2). Interaksi di tempat kerja
Hamper setiap hari mereka menjalin hubungan atau berinteraksi di tempat keraj para petani akan sering berjumpa sesame petani di sawah, kemudian para buruh yang bekerja pada home indusri yang ada di rumah rumah industry juga hamper setiap hari merek berinteraksi dan kegiatan ini hanya berlansung pada siang hari saja diwaktu jam kerja mereka berlangsung.


3). Interaksi di Masyarakat
Untuk kegiatan interaksi dimasyarakat, warga Desa Lembang melakukan interaksi dengan masyarakat pada waktu adanya perkumpulan dan kegiatan lainnya seperti pengajian dan acara arisan bagi ibu-ibu dan juga adanya kegiatan pesta yang dilaksanakan oleh salah satu anggota masyarakat, maka dalam kesempatan ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk saling berkomunikasi sesame warga masyarakat

c. Institusi Lokal
1). Tradisional
Adanya pengelompokan lokal di Desa Lembang mayoritas dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang mereka anut, yakni Islam. Hal tersebut dapat terlihat dari bentuk-bentuk pengelompokan lokal yang ada, antara lain:
1) Kelompok Pengajian
Dilaksanakan satu minggu dua kali, yaitu setiap hari senin (siang) di Mesjid Al-hikmah (Mesjid umum) Kampung Lembang (RW 03) dan rabu (siang) di Madrasah Nurul Falah.
2) Kelompok Pengajian Anak-anak
Dilakukan hampir setiap hari setelah sholat Magrib di setiap RT di Desa Lembang.





2). Bentukan
Kelompok bentukan ini adalah kelompok yang dibuat oleh warga masyarakat dengan dasar dan tujuan tertentu seprti:
a). Kelompok Olahraga.
Yaitu kelompok warga yang menyukai olahraga tertentu, seperti sepakbola, bulutangkis dan volli. Pada saat-saat tertentu misalnya pada saat Hari Kemerdekaan kelompok ini biasanya mengadakan turnamen atau perlombaan antar kampung dalam satu desa atau beberapa desa.
b). Kelompok Kesenian
Yaitu warga yang bergabung dalam kelompok seni tari berupa Jaipongan selain itu juga terdapat kesenian sunda yaitu seni Degung (Seni musik) dalam bentuk Pop Sunda. Adapula kesenian lainnya adalah Calung (alat musik dari bambu), Reog (alat musik gendang) yang ditampilkan pada saat-saat tertentu seperti hari-hari besar nasional.
c). PKK
Kelompok PKK adalah kelompok yang terdiri dari ibu-ibu yang melakukan kegiatan pembinaan kesejahteraan keluarga seperti kegiatan posyandu dan kegiatan social lainnya.
5. Interaksi Sosial Secara Umum
Sebagian besar warga masih memiliki hubungan darah. Jika terdapat salah satu keluarga yang terkena musibah, seperti kematian, maka warga akan bersama-sama membantu meringankan beban keluarga tersebut dengan memberikan bantuan meteri maupun nonmateri. Khusus bagi warga yang tidak mampu, semua biaya dan kebutuhan selama proses memandikan jenazah sampai dengan pemakaman ditanggung oleh DKM (Dewan Keluarga Masjid).
1). Interaksi dirumah
Karena sebagain besar masyarakat Desa Lembang bermata pencaharian bertani maka untuk intaraksi di rumah sesame anggota keluarga kebanyakan anggota keluarga hanya berinteraksi dimalam hari karena masing-msing anggota keluarga kalau siang hari sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga mereka berkumpul hanya pada waktu malam hari

2). Interaksi di tempat kerja
Hamper setiap hari mereka menjalin hubungan atau berinteraksi di tempat kerja para petani akan sering berjumpa sesame petani di sawah, kemudian para buruh yang bekerja pada home indusri yang ada di rumah rumah industry juga hamper setiap hari merek berinteraksi dan kegiatan ini hanya berlansung pada siang hari saja diwaktu jam kerja mereka berlangsung.

3). Interaksi di Masyarakat
Untuk kegiatan interaksi dimasyarakat, warga Desa Lembang melakukan interaksi dengan masyarakat pada waktu adanya perkumpulan dan kegiatan lainnya seperti pengajian dan acara arisan bagi ibu-ibu dan juga adanya kegiatan pesta yang dilaksanakan oleh salah satu anggota masyarakat, maka dalam kesempatan ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk saling berkomunikasi sesame warga masyarakat.
6. Budaya
Warga Desa Lembang dulunya masih menganut nilai-nilai budaya sunda, adat istiadat, tradisi serta kebiasaan yang telah dijalankan secara turun temurun dan alamiah yang merupakan peninggalan para leluhur, ada sebagian yang masih dipertahankankan tetapi ada juga yang kini lambat laun mulai pudar seiring dengan perubahan jaman dan tingkah laku masyarakat seperti:
1) Sistem Pertanian
Dalam mengolah lahan pertanian, warga Desa Lembang biasa melakukannya sendiri atau bersama dengan anggota keluarga yang lain. Jika perlu mereka menggunakan jasa para buruh tani. Alat yang digunakan masih bersifat tradisional yaitu menggunakan cangkul atau bajak dengan tenaga kerbau. Alat lain yang biasa digunakan adalah golok/parang, garpuh, linggis, arit, “landasan” (batu atau alat dari kayu untuk merontokkan padi dari tangkainya).
2) Sistem Perkawinan
Kebiasaan atau tradisi dalam upacara perkawinan yang dilaksanakan antara lain :
a. Pelamaran : adalah pinangan dari calon laki-laki pada keluarga calon wanita dan penentuan waktu pernikahan.
b. Sesarahan : Penyerahkan segala perlengkapan untuk upacara pernikahan. Bahan yang diserahkan adalah makanan dan lauk-pauk, pakaian laki-laki dan perempuan disimpan dalam suatu wadah yang masing-masing wadah dibawa oleh pengantar dari pihak calon mempelai laki-laki. Kebiasaan ini dapat disesuaikan dengan kemampuan dari keluarga mempelai laki-laki.
c. Akad nikah : Peresmian perkawinan yang dilakukan di masjid, di rumah mempelai wanita atau di gedung yang lain.
d. Nyaweran/sawer : Kegiatan yang diiringi dengan nyanyian nasehat disertai dengan membuang beras dan uang (logam) sebagai tanda agar kedua pengantin di kemudian hari dapat menjadi peduli dengan sesama. Dilakukan setelah akad nikah dan injak telor.
e. Munjungan: Kunjungan dari keluarga mempelai perempuan kepada keluarga mempelai laki-laki sambil membawa makanan, misalnya kue bolu.
3) Sistem Bahasa
Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda. Mempunyai perbedaan dialegnya dan memiliki tingkatan, yaitu :
b. Lemes : Merupakan tingkatan tertinggi dalam bahasa Sunda. Kata-kata dalam tingkatan ini yang memiliki arti yang sangat halus dan digunakan sebagai wujud penghargaan kepada orang lain, khususnya terhadap orangtua, misalnya tuang (makan), . abdi (saya).
c. Sedang : Digunakan di antara sesama warga yang sederajat, misalnya emam ( makan).
d. Kasar : Digunakan dalam pergaulan dengan teman akrab, misalnya, maneh (kamu).
4) Sistem Kebersamaan
Adanya rasa kekeluargaan yang diwujudkan dengan kegiatan berkumpul bersama sambil menikmati makanan yang juga dimasak bersama-sama. Makanan itu diletakan di atas beberapa buah daun pisang secara memanjang. Kebiasaan ini dikenal dengan sebutan ngeliwet/jebrak.
5) Nilai-nilai Keagamaan
Semua warga di Desa Lembang menganut agama Islam, Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan adalah sebagai Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha/Idul Qurban, peringatan menyambut Tahun Baru Hijriyah pada bulan Muharam, peringatan Maulid Nabi, peringatan Isro Mi’raj, Nisfu Sa’ban. Kegiatan pengajian yang dilakukan secara rutin tersebut merupakan wahana untuk mensosialisasikan nilai-nilai keagamaan dan juga rencana-rencana kegiatan dusun atau sebagai kesempatan untuk musyawarah dengan warga untuk memutuskan suatu tindakan yang berkaitan dengan kepentingan warga.
6) Peralatan dan Perlengkapan Hidup Manusia
Masyarakat Lembang pada umumnya sudah mempergunakan alat dan perlengkapan hidup yang sudah memadai walaupun mereka tinggal di desa tapi dalam melaksanakan aktifitas mereka sudah mempergunakan peralatan yang modern, sudah banayak dari masyarakat yang memiliki sepeda motor bahkan ada dari beberapa keluarga yang sudah memiliki kendaran roda empat, dan perlengkapaan hidup lainnya baik sandang, pangan dan papan mereka sudah menikmatinya seperti orang –orang kota pada umumnya.





7) Struktur Kepemimpinan
Di dalam masyarakat Desa Lembang terdapat dua bentuk kepemimpinan, yaitu:
a) Kepemimpinan resmi (formal leadership) yaitu kepemimpinan yang termasuk di dalam jabatan pemerintahan desa/formal, diantaranya Ketua RT, Ketua RW dan Kepala Dusun.
b) Kepemimpinan tidak resmi (informal leadership) yaitu kepemimpinan karena pengakuan masyarakat seperti para tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh perempuan, misalnya ustadz, ustadzah, guru agama.















7. Pelayanan Sosial serta Pelayanan Publik yang Menonjol
Pelayanan Sosial/ publik yang tampak di RW 03 Desa Cisangkal ialah sebagai berikut:
a. Posyandu
Posyandu bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk balita dan ibu hamil serta pelayanan KB. Posyandu dilaksanakan setiap bulan sekali di di Desa Lembang oleh ibu-ibu PKK yang bekerjasama dengan pihak Polindes oleh bidan desa. Kegiatan yang dilakukan pada Posyandu ini adalah penimbangan balita dan pelayanan KB. Posyandu di Desa Lembang terdiri dari 3 ( tiga ) buah Posyandu yang dilaksanakan pada minggu pertam, kedua dan ketiga setiap bulannya
b. Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin)
Raskin merupakan program pemerintah dalam bentuk pembagian beras yang diberikan kepada masyarakat miskin, dengan teknis pelaksanaannya disalurkan melalui ketua RT yang berada di wilayah Desa Lembang
Bantuan Raskin di Desa Lembang dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu, jompo dan orang yang bertugas mendata dan membagi raskin, tercatat untuk warga Desa Lembang yang berhak mendapatkan raskin sebanyak 525 KK. Adapun biaya pengganti dan transport distribusi raskin adalah Rp 1400,-/ kg. Warga tidak merasa keberatan akan hal tersebut karena mereka menyadari bahwa biaya angkut raskin ke Desa Lembang memang mahal dan mereka sangat membutuhkan raskin tersebut.

c. Program BOS
Program BOS merupakan suatu program wajib belajar yang sembilan tahun dengan digulirkannya anggaran 20% untuk membiayai pendidikan anak-anak dari Sekolah Dasar/sederajat hingga Sekolah Menengah Pertama/sederjatnya. Penerima dana Bos di Desa Lembang terdapat 3 ( tiga ) buah SD dan 1 ( satu ) buah SLTP.
d. Jamkesmas
Program Jamkesmas adalah suatu program untuk jaminan kesehatan kepada masyarakat yang tidak mampu atau masyarakat miskin. Program ini memang sudah masuk ke RW 03, tapi dengan menggunakan Jamkesmas maka sepertinya pelayanan kesehatan (pengobatan) terhadap mereka tidak maksimal.
e. Jamkesda
Program Jamkesda merupakan suatu program untuk jaminan kesehatan kepada masyarakat yang sebenarnya harus diakomodir dalam program Jamkesmas, tetapi ternyata tidak, maka utuk mengakomdir warga tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut mencanangkan program Jamkesda.
f. Pemasangan Listrik Gratis
Untuk penerangan listrik Desa Lembang mendapatkan bantun dari pemerintah Kabupaten Garut Pemasangan Listrik Gratis untuk keluarga miskin untuk secara bertahap selama 4 ( empat ) tahun, utnuk tahun pertama tahun 2010 Desa Lembang medapatkan 50 buah rumah yang dipasangkan listrik oleh PLN Kabupaten Garut dan untuk tahun-tahun berikutnya 50 buah rumah tangga setiap tahunnya.
g. PNPM Mandiri
Pelaksanaan PNPM di Desa Lembang l telah dilaksanakan semenjak tahun 2009 dari data yang dapat kami himpun untuk tahun 2010, program PNPM di Desa Lembang diproyeksikan menjadi 2 ( dua ) yaitu:
1). Simpan pinjam khusus perempuan
Untuk simpan pinjam di Desa Lembang terdapat 10 ( sepuluh ) kelompok dengan totol pinjaman sebesar Rp. 57.000.000
2). Pembangunan Sarana Air Bersih
Pembangunan Sarana Air Bersih ini berupa pembuatan Bak penampungan air yang di alirkan dari sumber air berseih yang terdapat di gununng diatas perkampungan, pembangunan bak penampungan ini sebanyak 14 bak untuk di setiap RT di Dusun 1 dan sebagian di dusun 2, adapun jumlah bantuan yang diterima adalah sebesar Rp. 1777.000,-.











B. GAMBARAN ORGANISASI LOKAL
1. Identifikasi Organisasi
Dalam mengidentifikasi organisasi lokal, praktikan melibatkan masyarakat yang diwujudkan dalam suatu pertemuan warga (Community meeting). Pada saat pertemuan warga, praktikan menerapkan teknik Diagram Venn. Diagram Venn sediri merupakan teknik menemukenali organisasi yang ada dilingkungan Desa Lembang dengan cara memetakan organisasi mana yang mempunyai nilai penting dalam masyarakat dan tingkat kemudahan dalam mengaksesnya.
Pada tanggal 1 oktober 2010 pukul 13.00 WIB dilaksanaan pertemuan warga yang diselenggarakan oleh praktikan di Aula Desa Lembang. Dalam menerapkan teknik Diagram Venn, diperoleh data tentang organisasi yang ada di Desa Lembang. Adapun organisasi yang berhasil dipetakan adalah sebagai berikut:
a. BPD
b. LPM
c. PKK
d. DKM
e. Kelompok Tani Sari Mukti
f. Pamhut Swakarsa
g. Koperasi Warga Desa (KWD) Setia Binangkit
h. Organisasi Kepemudaan

2. Gambaran Organisasi Yang Terpilih
a. Organisasi PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga)
1) Pengertian
PKK merupakan suatu wadah perkumpulan ibu-ibu yang bertujuan untuk mengisi kegiatan hidup dalam rangka mencapai kesejahteraan keluarga
2) Struktur kepengurusan
• Ketua : Nenden Helmi Liana
• Wkl Ketua : T i n a
• Sekretaris : Dadah Nur Endah
• Bendahara : Eni Rohaeni
• Wk.Bendahara : R i n a
• Pokja I
- Ketua : Entin Suguhartini
- Wk.Ketua : Maemunah
- Sekretaris : E l a
- Anggota : Y a n i
• Pokja II
- Ketua : Nana Yuhana
- Wk.Ketua : Euis Kartika
- Sekretaris : E l I n g
- Anggota : Roheni
• Pokja III
- Ketua : E u I s
- Wk.Ketua : I d a
- Sekretaris : Lilis
- Anggota : I d a s
• Pokja IV
- Ketua : Al Hasanah
- Wk.Ketua : N u n u n g
- Sekretaris : U c u n
- Anggota : M a m a h
3) . Masalah
Berdasarkan hasil penilaian kapasitas organisasi PKK mengalami masalah dalam hal pengelolaan program tahunan, khususnya dalam masalah penanganan gizi buruk.
b. Organisasi DKM Masjid Al-Hikmah
1) Pengertian
Dewan Keluarga Masjid, atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), merupakan organisasi yang dikelola oleh jemaah muslim dalam melangsungkan aktivitas di masjid. Setiap masjid yang terkelola dengan baik memiliki DKM dengan strukturnya masing-masing. Secara umum, pembagian kerjanya terbagi menjadi tiga yaitu Bidang 'Idarah (administrasi manajemen masjid), Bidang 'Imarah (aktivitas memakmurkan masjid) dan Bidang Ri'ayah (pemeliharaan fisik masjid). Masjid Al-Hikmah diresmikan pada dasarnya adalah sebagai sarana ibadah dan pelaksanaan dakwah Islamiyah bagi masyarakat di wilayah Desa Lembang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut
2). Struktur Kepengurusan
• Ketua : Sopia
Sekretaris : Ajang
Bendahara : Ayat
• Bidang-bidang :
Bidang 'Idarah : H.Agus
Bidang 'Imarah : Qomar
• Bidang Ri'ayah : Adang
• Anggota : Asep, Adnan.
3). Permasalahan
Berdasarkan hasil Penilaian Kapasitas (PEKA), organisasi DKM menghasilkan rekomendasi dari hasil musyawarah bahwa pergaulan bebas yang marak terjadi pada saat ini harus segera ditangani.
c. Organisasi KWD Setia Binangkit
1). Pengertian
KWD Setia Binangkit merupakan koperasi warga desa yang ada di Desa Lembang.
2). Struktur Kepengurusan
Susunan pengurus KWD Setia Binangkit sebagai berikut:
• Penasehat : Dinas Koperasi leles
• Pengawas : Saepulloh, Arso, dan Ratnika
• Ketua : Usman
• Sekretaris : Taryat dan Asep setiawan
• Bendahara : Euis Rohayati dan Aan Kartika
• Kolektor : Nyanyang
3) Permasalahan
Dari hasil penilaian kapasitas yakni permasalahan bidang pengelolaan program.
d. Organisasi PAMHUT SWAKARSA
1). Pengertian
Pamhut Swakarsa merupakan kependekan dari “Pasukan Pengamanan Hutan Swakarsa”. Organisasi ini berdiri tahun 2009 yang prakarsai oleh departemen kehutanan bekerja sama dengan kepala desa yang anggotanya terdiri dari masyarakat umum yang peduli terhadap kelestarian alam. Adapaun tujuan dibentuknya pamhut swakarsa didesa lembang guna membantu petugas lapangan untuk mengamankan hutan dari gangguan pencurian kayu, perambahan liar, perburuan satwa, dan hal-hal lain yang menggangu kelestarian hutan dan alam.
2). Struktur Kepengurusan
• Ketua : Bapak Endin
• Sekretaris : Bapak Asep Setiawan
• Bendahara : Bapak M. Zakaria
• Anggota : 22 orang
3). Permasalahan
Berdasarkan hasil Penilaian Kapasitas Organisasi Pamhu Swakasa memiliki masalah dalam pengelolaan kegiatan


e. Organisasi Kelompok Tani Sari Mukti
1). Pengertian
Kelompok Tani Sari Mukti merupakan kelompok tani yang bergerak dalam bidang perkebunan kopi di Desa Lembang.
2). Struktur Kepengurusan
• Pelindung : Kepala Desa Lembang
• Ketua : Sopia
• Sekretaris : Endin
• Bendahara : Yusup Supriatna
• Seksi-seksi
• Seksi Produksi : Nyanyang
• Seksi Usaha : Oma
• Seksi Sarana & Prasarana : M. Zakaria
3). Permasalahan
Berdasarkan hasil penilaian kapasitas Kelompok Tani Sari Mukti mengalami masalah dalam hal pengelolaan kegiatan dan peningkatan Sumber Daya Manusia.
f. Organisasi LPM
1). Pengertian
LPM merupakan Lembaga formal yang ada di tingkat desa. Sesuai dengan namanya yakni Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, LPM mempunyai peranan dalam menyusun, melaksanakan, dan melestarikan pembangunan guna mewujudkan masyarakat desa yang berdaya.
2). Struktur Kepengurusan
• Ketua : Bapak Saepulloh
• Sekretaris : Nyonya Astri Sulastri
• Bendahara : Bapak Usman
• Ketua Bidang Ekonomi : Bapak Sukardi
• Ketua Bidang Pembangunan : Bapak Hendi
• Ketua Bidang Kemasyarakatan : Bapak Usep
3). Permasalahan
Berdasarkan hasil Penilaian Kapasitas Organisasi, LPM memiliki permasalahan dalam bidang pengelolaan kegiatan.
g. Karang Taruna Bina Mandiri
1). Pengertian
Menurut Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 83/Huk/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna
• Karang Taruna adalah Organisasi Sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.
• Anggota Karang Taruna adalah setiap generasi muda dari usia 11 tahun sampai dengan 45 tahun yang berada di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.
• Komunitas Adat Sederajat adalah warga masyarakat yang tinggal dan hidup bersama di daerah yang dibatasi oleh wilayah adat dan kedudukannya sederajat dengan desa/kelurahan.
• Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT) adalah wadah penghimpun mantan pengurus Karang Taruna dan tokoh Masyarakat lain yang berjasa dan bermanfaat bagi kemajuan Karang Taruna, yang tidak memiliki hubungan struktural dengan Kepengurusan Karang Tarunanya.
2). Kepengurusan
Musyawarah Pembentukan Karang Taruna Desa Lembang dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2010 di aula kantor desa yang dihadiri oleh perwakilan pemuda di masing-masing RT sebanyak 3 (tiga) orang perwakilan . dan tokoh masyarakat serta apaarat desa, dalam musyawarah tersebut telah terbentuk kepengurusan Karang Taruna
Sesuai dengan ketentuan yang diatur Peraturan Menteri Sosial RI Nomor: 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.
Nama Karang Taruna : Taruna Bina Mandiri
• . Ketua : Jalaludin
• Sekretaris : Nana Yuhana
• Bendahara : Yusuf
• Bidang bidang :
1). Bidang Pendidikan dan Pelatihan : Fitri / Astrid
2). Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial : Eni Roheni
3). Bidang Kelomppok Usaha Bersama : Apan
4). Bidang Kerohanian : M. Zakaria
5). Bidang Olah raga / budaya : Gito
6). Bidang Lingkungan Hidup : Nyanyang
7). Bidang Hubungan kemasyarakatan : Dede Supriadi
3). Permasalahan
Karena organisasinya baru dibentuk jadi kalau diamati dari hasil wawancara dan observasi langsung terhadap organisasi Karang Taruna, setelah praktikan mengadakan wawancara dengan Ketua dan pengurus maka permasalahan yang ada adalah karena SDM yang masih rendah maka pengurus Karang Taruna perlu di pelatihan lainnya untuk meningkatkan sumber daya mannusianya agar kegiatan organisasi dapat berjalan dengan baik. Kemudian para pemuda di Desa Lembang bayak yang bekerja di luar desa maka keanggotaan karang taruna masih sedikit mungkin perlu sosialisasi kepada para pemuda di tingkat RW dan RT agar mereka bisa berpartisipasi dalam organisasi Karang Taruna








3. Identifikasi dan Analisi Organisasi yang terpilih (DKM Al-Hikmah)
1) Pengertian
Dewan Keluarga Masjid, atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), merupakan organisasi yang dikelola oleh jemaah muslim dalam melangsungkan aktivitas di masjid. Setiap masjid yang terkelola dengan baik memiliki DKM dengan strukturnya masing-masing. Secara umum, pembagian kerjanya terbagi menjadi tiga yaitu Bidang 'Idarah (administrasi manajemen masjid), Bidang 'Imarah (aktivitas memakmurkan masjid) dan Bidang Ri'ayah (pemeliharaan fisik masjid).
2) Sejarah
Masjid Al-Hikmah diresmikan pada tanggal 24 Desember 2002 sebagai sarana ibadah dan pelaksanaan dakwah Islamiyah bagi masyarakat di wilayah Desa Lembang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Dewan Keluarga Masjid (DKM) Al-Hikmah antara lain adalah: pengajian setelah shalat dhuhur yang dilaksanakan pada hari senin dan hari rabu, peringatan hari besar Islam, dll. Sebagai fasilitas umum dan fasilitas sosial, Masjid Al-Hikmah juga digunakan sebagai tempat akad nikah, pertemuan, dll. Bekerja-sama dengan MTIDL (Majelis Taklim Ibu-Ibu Desa Lembang) DKM Al-Hikmah menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh dari para Jamaah untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa di sekitar kawasan Desa Lembang.
Pengurus DKM Al-Hikmah turut juga mengundang peran-serta kaum Muslimin dan Muslimat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan Desa Lembang, untuk memakmurkan masjid dengan, antara lain, mengikuti kegiatan-kegiatan rutin yang diselenggarakannya.
Gambaran tahapan asesmen melalui PEKA dalam organisasi PKK sebagai berikut :
Tahun Kejadian/Peristiwa Dampaknya Bagi Peristiwa
2004 Pembentukan DKM Al-Hikmah • Terbentuknya kepengurusan PKK
2007 • Juara senam, gerak jalan dan jalan santai tingkat kecamatan.
• Kegiatan Pendataan • Seluruh program DKM mulai berjalan aktif
• Mendapatkan Tropi Juara tingkat kecamatan
2009-2010 • Pengajian-
Al Hidayah • Aktif dalam kegiatan pengajian

3) Ijin Organisasi
DKM Al-Hikmah dibentuk berdasarkan izin dari Kepala Desa Lembang pada Tahun 2004.
4) Struktur Kepengurusan
Ketua : S o p i a
Sekretaris : A j a n g
Bendahara : A y a t
Bidang-bidang :
Bidang 'Idarah (administrasi manajemen masjid) : H. A g u s
Bidang 'Imarah (aktivitas memakmurkan masjid) : Q o m a r
Bidang Ri'ayah (pemeliharaan fisik masjid) : A d a n g
Anggota : A s e p, A d n a n.













5) Visi, Misi dan Tujuan
a. Visi
Mewujudkan keluarga, kemakmuran dan kesejahteraan masjid yang bermadani.
b. Misi
1) Membentuk DKM yang terampil dan mampu bersaing.
2) Mengembangkan kemampuan dan keterampilan anggota melalui pelatihan-pelatihan.
c. Tujuan
Tujuan dibentuknya DKM “Al-Hikmah” di Desa Lembang adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masjid Al-Hikmah Desa Lembang Kec. Leles Kab. Garut.
6) Dasar Pendirian Organisasi
DKM Al-Hikmah dibentuk atas dasar keinginan warga Desa Lembang untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masjid Al-Hikmah.
7) Sumber Keuangan
DKM Al-Hikmah memperoleh dana internal yang berasal dari infaq dan sodaqoh masjid.
8) Alokasi Dana
Dalam hal pengelolaan keuangan, DKM Al-Hikmah mengalokasikan sebagian besar dana untuk meningkatkan atau intensifikasi pertanian dengan membeli peralatan kerja seperti: alat-alat pembersih masjid, alat-alat untuk beribadah dan lain-lain, serta alokasi dana yang lain digunakan untuk menunjang kegiatan operasional lain.
9) SDM
a. Tingkat Pendidikan
Kemampuan SDM DKM Al-Hikmah dapat dilihat melalui tingkat pendidikan yakni rata-rata tersebar dalam lulusan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
b. Pengalaman yang Ada
Untuk sementara pengalaman anggota organisasi dalam mengikuti pelatihan belum ada.
10) Aset
a. Fisik
Aset fisik yang dimiliki oleh DKM Al-Hikmah antara lain:
1) Masjid Al-Hikmah Sekretariat
2) Bedug
3) 3 mikropon
4) Karpet sajadah 10 lembar
b. Non Fisik
Aset fisik yang dimiliki oleh DKM Al-Hikmah antara lain;
1) Pengetahuan dan keterampilan anggota.
2) Tenaga yang memadai.
3) Semangat kerja.
4) Harapan untuk maju.
11) Pelayanan
Kegiatan yang dilakukan oleh DKM Al-Hikmah antara lain:
a) Pengajian Tafsir Al Quran setelah shalat subuh berjamaah setiap hari Senin s/d Jumat.
b) Ceramah singkat ("kultum") setelah shalat subuh berjamaah setiap hari Sabtu dan Ahad dengan Penceramah sesuai jadwal.
c) Pengajian tafsir ayat-ayat kauniyah Al Quran setiap hari Senin dan Kamis setelah shalat dhuhur.
12) Penerima Manfaat
Sejauh ini manfaat adanya DKM Al-Hikmah yakni dirasakan oleh remaja masjid, warga sekitar, serta masyarakat desa lembang pada umumnya.
13) Jaringan
DKM Al-Hikmah telah mengembangkan jaringan dengan:
a. Pemerintah Desa
b. MTIDL (Majelis Taklim Ibu-Ibu Desa Lembang)
14) Administrasi dan Catatan Kegiatan Organisasi
Administrasi dan Catatan Kegiatan Organisasi DKM Al-Hikmah dilakukan oleh pengurus.
15) Monitoring
Untuk memantau dan memastikan kelangsungan kegiatan, perkembangan DKM dimonitoring oleh Pemerintah Desa dan MTIDL (Majelis Taklim Ibu-Ibu Desa Lembang), serta Lembaga Swadaya Masyarakat lokal.
16) Permasalahan
Berdasarkan hasil Penilaian Kapasitas (PEKA) yakni permasalahan bidang pengelolaan program dan peningkatan Sumber Daya Manusia.
17) Program Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan yakni Program Penyuluhan Dampak Pergaulan Bebas Terhadap Remaja melalui Organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang Kecamatan Leles Kabuaten Garut.
18) Monitoring ; Pihak Yang Melaksanakan Pengawasan Di Organisasi Tersebut
Sebagai tim monitoring untuk Organisasi DKM Al-Hikmah di tingkat desa, kaur kesra akan langsung mengawasi jalannya organisasi, di tingkat kecamatan akan di monitor oleh kasi kesra di kecamatan.
19) Referensi Pelaksanaan Kegiatan
Untuk pedoman pelaksanaan kegiatan mereka telah berkoordinasi dengan Pemerintahan Desa, disamping itu juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Kecamatan melalui Kasi Kesra di Kecamatan yang membawahi bidang keagamaan.
20) Referral
Sebagai rujukan dkm Al-Hikmah Desa Lembang akan mengajukan rujukan kepihak desa melalui kaur kesra dan selanjutnya akan di tindak lanjuti melalui rujukan ke kecamatan melalui kasi kesra.
21) Bagaimana Proses Rekrutmen ( Anggota)/ Kreteria Penerima Manfaat
Untuk merekrut keanggotaan dkm Al-Hikmah, pengurus berpatokan kepada aturan yang ada bahwa keanggotaan dkm Al-Hikmah adalah Warga yang berumur 15 tahun sampai dengan 45 tahun yang menetap di Desa Lembang.
C. INTERVENSI
1. Nama Program
Program penyuluhan dampak pergaulan bebas terhadap remaja melalui Organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang Kecamatan Leles Kabuaten Garut.
a. Rencana Kegiatan
Pembuatan Proposal Kegiatan Penyuluhan tentang Pergaulan Bebas Remaja
1. Latar Belakang
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Bencana yang terus menimpa bangsa ini tentunya dapat diperbaiki dengan proses waktu yang tertentu, namun bencana akibat rusaknya moral, bagaimana memperbaikinya? Dalam pergaulan bebas remaja sekarang kita lihat sangat menyedihkan,lihat saja dilingkungan sekitar kita kebanyakan yang menjadi korban pergaulan bebas adalah remaja belia. Kebanyakan mereka yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dalam pergaulan bebas ini mereka akan ikut-ikutan dengan kawan mereka atau karena ajakan kawan mereka. Disinilah mereka memulai yang namanya metode coba-coba hinga akhirnya kecanduan. Dari yang minum minuman keras, memakai narkoba hingga akhirnya terjadilah sex bebas. Kita lihat saja kalau sudah malam minggu atau malam libur banyak remaj-remaja yang begadang tanpa keperluan yang jelas. Mungkin tanpa kita sadari pemerintah juga lalai dalam menangani pergaulan bebas ini. Lihat saja sekarang di kota-kota besar saja sudah ada berapa banyak diskotik yang tidak terlalu dipantau oleh dinas pariwisata. Dikostik juga dapat sebagai pemicu kerusakan moral para remaja saat ini, sekarang saja kita lihat jika masuk diskotik sudah tidak ada cek KTP. Mungkin saja yang masuk diskotik belum cukup umur. Tapi, karena kelalaian itulah banyak yang belum cukup umur masuk diskotik. Mungkin didalam diskotik 75% pengunjung minum alkohol, 20% memakai narkoba, dan mungkin hanya 5% saja yang tidak mengkonsumsi apa-apa. Setelah mabuk tanpa sadar maka disinilah yang sering terjadi seks bebas. Dengan istilah “Sex After Dugem”. Setelah beberapa kali melakukan seks kadang tanpa si wanita sadari dia telah hamil. Disinilah yang terjadi perikhan dini bila si pria mau menikahi si wanita. Tetapi bagaimana jika si pria tidak mau atau tidak bertanggung jawab? Maka terjadilah yang namanya aborsi karena si wanita malu dan belum siap menjadi seorang ibu. Tanpa dia pikirkan apa bahaya dari aborsi itu sendiri. Aborsi sendiri adalah penguguran janin atau membuang janin sengaja sebelum waktunya, sebelum dapat lahir secara alamiah. Padahal dampak atau resiko aborsi sangat berbahaya. Dampak pada mental wanita tersebut mungkin wanita tesebut akan mengalami gangguan jiwa atau tertekan batin karena penyesalan yang tidak ada hentinya. Dampak kesehatan atau keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi mungkin akan mengalami kematian mendadak karena pendarahan hebat atau karena pembiusan yang gagal, dan dampak dibelakangan hari juga tidak sedikit mungkin saja si wanita tersebut mengalami luka dalam yang lama kelamaan semakin parah dan berujung kematian juga. Oleh karena itu pemerintah harus mampu mengambil tindakan dan menyaring pengaruh yang berhak dan berdampak negatif bagi para remaja. Begitu pula peran remaja harus mampu mengendalikan diri dan menghindari hubungan seks pra nikah. Upaya-upaya pencegahan pergaulan bebas adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama, moral dan etika, diantaranya :
1. Pendidikan agama, moral, dan etika keluarga.
2. Kerja sama guru dan orangtua, tokoh masyarakat, pendidikan yang diberikan hendaknya tidak hanya kemampuan intelektual, tetapi juga mengembangkan kemauan emosi anak agar dapat mengembangkan rasapercaya diri. Oleh karena itu, kami memilih judul Pergaulan bebas remaja yang sangat berkaitan erat dengan masalah diatas.
2. Tujuan
Tujuan Umum : Melalui kegiatan yang dilaksanakan diharapkan dapat mencegah terjadinya Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja di Desa Lembang.
Tujuan Khusus : meningkatkan Pengetahuan remaja di Desa Lembang terhadap dampak pergaulan bebas.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan diharapkan dapat:
1). Mengurangi angka kematian pada ibu dan anak.
2). Menekan angka aborsi pada remaja.
3). Mencegah terjadinya PMS.
4). Menekan terjadinya pernikahan di usia dini.
3. Manfaat
Remaja dapat mengetahui tentang bahaya pergaulan bebas.
4. Sasaran
Remaja di kawasan Desa Lembang.
5. Rincian Kegiatan
a. Tahap Persiapan
Pada Tahap I ini kegiatan yang dilaksanakan diantaranya yaitu melakukan persiapan-persiapan untuk pelaksanaan kegiatan yaitu menidentifikasi Nara Sumber yang akan memberikan penyuluhan, Tempat pelaksanaan kegiatan, persiapan Undangan kepada kelompok sasaran.

b. Tahap pelaksanaan
Pada tahapan kedua ini kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan Kegiatan penyuluhan yang melibatkan remaja masjid.
c. Tahap Monitoring dan Pelaporan
Pada tahapan ini dilakukan monitoring dan pelaporan kegiatan.
d. KegiatanPenyuluhan
Tahap Penyuluhan Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1). Pembukaan - Membuka forum penyuluhan dengan membaca salam
a) Petugas menjelaskan tujuan - Mendengarkan dan menjawab salam
b). Menyimak
2). Penyajian - Petugas menjelaskan materi tentang dampak pergaulan bebas pada remaja
a. Memberi kesempatan peserta (remaja) untuk bertanya
b. Menjawab pertanyaan
c. Memberikan evaluasi hasil penyuluhan kepada peserta (remaja) - Mendengarkan
a. Bertanya
b. Mendengarkan apa yg telah dijawab oleh penyaji
c. Menjawab evaluasi yang diberikan oleh petugas
3. Penutup - Petugas memberikan salam penutup
- Menjawab salam


6. Waktu dan Tempat Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 18 Oktober 2010, pukul 13.30 WIB dan bertempat di Masjid Al-Hikmah, Desa Lembang.
7. Faktor Pendukung dan Penghambat
a. Faktor Pendukung
- Narasumber yang mudah diakses.
- Adanya kemauan anggota kelompok sasaran untuk meningkatkan pengetahuannya.
b. Faktor Penghambat
- Keterbatasan media (LCD).
8. Analisis SWOT
Analisis Kelayakan kegiatan ( Analisis SWOT )
a) Strengths ( Kekuatan )
Kesadaran dan motivasi tokoh dan warga masyarakat Desa Lembang serta motivasi yang tinggi dari para generasi muda untuk mau ikut dalam kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh dkm.
b) Weakness ( Kelemahan )
Banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-haari sehingga mereka tidak begitu peduli dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh dkm, dan belum tumbuhnya kesadaran yang mendalam dari dalam diri mereka untuk mau ikut bergabung dengan teman-teman sebayanya.


c) Opportunity ( Kesempatan )
- Adanya sistem dukungan) untuk Kegiatan Penyuluhan dari Pihak pemerintahan desa dan warga masyarakat, serta tokoh masyarakat Desa Lembang, baik tokoh Forman dan informal.
- Adanya kesediaan langsung dari para nara sumber untuk memberikan penyuluhan dalam rangka / usaha pencegahan pergaulan bebas dikalangan remaja.
d) . Threat ( Ancaman )
- Adanya sebagian warga yang selama ini belum memahami pentingnya Penyuluhan tentang pergaulan bebas dikalangan remaja.
- Kesadaran warga masyarakat yang masih rendah untuk ikut berpartisipasi penuh kedalam kegiatan keagamaan.












2. Pelaksanaan Kegiatan
Sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan maka kegiatan penyuluhan dapat dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 20 Oktober 2010 di masjid Al-Hikmah Desa Lembang yang dihadiri oleh para remaja Desa Lembang
Dalam kegiatan penyuluhan Pengurus DKM Al-Hikmah mendatangkan nara sumber dari Kecamatan Leles yang terdiri dari
1. Bidan Puskesmas Lembang : Ibu Hj Nurrohmi
2. Ustad Kecamatan Leles : Ust. Amir
3. Ustad Desa Lembang : Ust. Syamsudin
Penyuluhan tentang pergaulan bebas remaja oleh nara sumber dari kecamatan secara bergiliran ketiga nara sumber memberikan materi-materi tentang pergaulan bebas dan akibat yang dapat ditimbulkan dari penyalah gunaan pergaulan tersebut. Para peserta undangan dapat menerima arahan dari para nara sumber dan mereka sangat antusias mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut.








D. Evaluasi
Evaluasi adalah alat/cara untuk menentukan apakah tujuan umum dan obyektif (tujuan khusus) dari usaha pekerjaan sosial yang akan dicapai. Evaluasi mengidentifikasi hasil – hasil yang tidak diharapkan baik negatif maupun positif dari aktivitas pertolongan. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat, sistem pengawas dan praktikan untuk memantau jalannya kegiatan dan segera dicarikan solusi apabila ada hambatan dan penyimpangan baik dari proses maupun pada hasilnya.
Kegiatan evaluasi ini dilakukan untuk mengukur efektifitas dan efesiensi pencapaian tujuan pemecahan masalah, maupun pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, evaluasi juga bermaksud untuk menilai proses-proses yang telah dilakukan, tak dapat dilakukan, serta mengalami hambatan dalam pelaksanaan kegiatan mulai dari proses dan hasil.
Hasil dari evaluasi ini akan dijadikan sebagai bahan untuk menyusun rencana tindak lanjut. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah evaluasi mengenai proses dan hasil pelaksanaan kegiatan. Kegiatan ini dilakukan dalam diskusi dengan Pengurus DKM
Ada beberapa hal yang akan dievaluasi antara lain:
1. Kesiapan Panitia
Menurut peserta yang hadir terutama penanggungjawaab kegiatan (Ketua DKM Aki Sopia) memberikan tanggapan bahwa Pengurus telah menjalankan tugasnya penuh tanggung jawab sehingga terbukti sukses menyelenggarakan kegiatan. Oleh karena itu beliau mengucapakan limpah terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota yang telah sukses menyelenggarakan kegiatan dimaksud. Tak lupa pula belaiu juga mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa karena dengan kehadirannya telah membawa sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan. Beliau juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa karena kehadirannya dapat membawa angin segar terutama dalam hal peningkatan Organisasi DKM. Kegiatan penyuluhan seperti ini belum pernah ada dan belum pernah dilakukan di Desa Lembang
2. Kehadiran para peserta
Peserta semulanya berdasarkan perencanaan akan menghadirkan perwakilan tiap remaja masjid yaitu sebanyak 25 orang. Namun berdasarkan daftar hadir ternyata kehadirannya kurang memenuhi. Namun hal ini tidak membuat pengurus gelisah karena pengurus menyadari bahwa kegiatan ini baru pertam kali dilaksanakan. Dengan kehadiran peserta seperti ini menunjukkan adanya semangat dan antusias sangat tinggi dari para peserta untuk mengikuti kegiatan.
3. Waktu
Berdasarkan undangan yang disebarkan jadwal pertemuan yaitu jam 13.00 WIB, namum sudah menjadi kebiasaan di desa pertemuan agak sedikit terlambat karena peserta banyak yang terlambat datang sehingga kegiatan penyuluhan baru bisa terlaksan pada jam 14.00 WIB dan kegiatan berakhi pada pukul 15.30 WIB dan berjalan lancar.


4. Materi dan Pemateri
Berdasarkan materi yang dirancang bersama antara praktikan dengan pengurus semuanya sesuai dengan kondisi yang dirasakan oleh warga terutama sebagai para remaja Jadi berdasarkan hasil evaluasi mengatakan bahwa materi sudah dirancang sesuai dengan kondisi yang ada pada remaja. Sedangkan evaluasi terhadap pemateri peserta mengatakan bahwa para narasumber atau pemateri sangat baik dalam membawakan materinya dan berhasil membuat suasana menjadi hidup artinya tidak ada rasa ketegangan oleh para peserta dan para peserta yang pada umumnya usia lebih tua dari nara sumber dan mereka pun merasa untuk digurui. Para nara sumber pun membawa materi tidak seperti antara guru dan murid sehingga para peserta merasa suasana penuh dengan keakraban. Materi yang diberikan sangat mudah untuk dipahami, karena lebih banyak waktu yang digunakan untuk berdialog.










BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Organisasi lokal merupakan organisasi yang berada pada suatu komunitas yang memiliki kerjasama satu sama lain, dimana mereka kemungkinan memiliki kedekatan personal, dan biasanya memiliki penalaman bekerja secara bersama-sama (Uphoff,1986), serta organisasi lokal merupakan wadah untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahanyang dihadapi para anggotanya (masyarakat) yang dalam pelaksanaannya merupakan ajang dalam pengembangan para anggota (masyarakat) yaitu dengan menitikberatkan partisipasi mereka., mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring dan evaluasi sehingga pada akhirnya para anggota akan merasakan manfaat dari organisasi tersebut. Apabila para anggota diberi peluang yang seluas-luasnya untuk berperanserta dalam menjalankan organisasi, maka tentunya masyarakat akan memiliki kemampuan untuk mengaktualisasi diri dan menentukan masa depannya sendiri. Adapun kesimpulan dari setiap kegiatan adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
Yaiu melakukan persiapan dilapangan mulai dari melakukan survey ke Desa Lembang, menemui Kepala Desa, Kepala Dusun untuk mendapatkan Izin secara informal dan mengenal kondisi geografis sampai dengan mendapatkan posko untuk praktikan bermukim selama praktikum.
b. Asesmen
Kegiatan yang dilakukan dalam asesmen ini adalah melakukan identifikasi organisasi lokal yang ada di Desa Lembang dengan menerapkan Teknik Diagram Venn yang bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa dekat hubungannya dengan masyarakat dan seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat dengan adanya keberadaan organisasi itu. Selain itu praktikan juga melakukan PEKA (Penilaian Kapasitas) di organisasi-organisasi yang ada di Desa Lembang.
c. Perencanaan
Praktikan merencanakan suatu program kegiatan yang akan dilakukan bersama sama dengan pengurus organisasi yang dipilih untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di dalam organisasi tersebut sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Perencanaan programnya yaitu DIVERSIFIKASI PELAYANAN ORGANISASI DKM AL-HIKMAH MELALUI PROGRAM PENYULUHAN TENTANG PERGAULAN BEBAS REMAJA DI DESA LEMBANG.
d. Intervensi
Setelah melakukan perencaan kegiatan bersama dengan Tim Kerja Organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang, praktikan kemudian melakukan intervensi program atau kegiatan yang telah direncanakan dengan mendapatkan hasil terlaksananya pengelolaan program atau kegiatan di dkm Desa Lembang yang selama ini belum terealisasi sebagai berikut :
a) Pengelolaan organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang.
b) Peningkatan kapasitas pengurus dan anggota DKM Al-Hikmah.
e. Monitoring
Monitoring atau evaluasi dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu monitoring terhadap proses dan monitoring terhadap hasil kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DKM Al-Hikmah Desa Lembang Desa Lembang.
f. Terminasi
Pada tahap terminasi atau pengakhiran kegiatan ini praktikan menyampaikan hal-hal yang telah dilakukan mulai dari persiapan sampai evaluasi dan menyampaikan rekomendasi yang ditujukan kepada Pemerintahan Desa Lembang agar dapat lebih memperhatikan lagi dan mengadakan pengawasan dan pembinaan sehingga dapat ditindaklanjuti karena organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang merupakan salah satu mitra dari Pemerintahan Desa Lembang itu sendiri.
Dalam laporan ini praktikan dapat memberikan saran atau rekomendasi terhadap organisasi DKM Al-Hikmah Desa Lembang, dalam upaya penanganan masalah yang dirasakan oleh masyarakat Desa Lembang antara lain :
a. Perlu adanya kerjasama dan saling mendukung dalam upaya mengatasi permasalahan yang dialami.
b. Tidak terpengaruh oleh arus globalisasi yang merusak tatanan kebudayaan yang memiliki nilai kekeluargaan, gotong royong dan tolong menolong.
c. Kegiatan yang dilakukan perlu didahului dengan proses perencanaan agar mudah dikontrol dan dievaluasi secara bertanggungjawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar