Rabu, 17 Oktober 2012

PRAKTEK MANAJEMEN KASUS

Manajemen Kasus Pekerjaan Sosial
Oleh Bambang Rustanto
Mata Kuliah Peksos Dengan Keluarga

I.Pengertian Manajemen kasus

Seringkali seseorang mengalami suatu permasalahan yang sesungguhnya membahayakan jiwa maupun raga. Namun mereka tidak tahu cara keluar dari masalahnya tersebut atau tidak berani melakukanya, sehingga kondisi demikian membutuhkan pertolongan orang lain untuk membantu mengatasi permasalahannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka manajemen kasus dapat membantu untuk memberikan pelayanan terhadap orang dalam situasi dan kondisi meminta atau mencaripertolongan.

Melalui pendekatan tersebut, maka pelayanan yang diberikan diharapkan dapatmenjamin orang yang mempunyai masalahakan memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara cepat dan tepat.Moxley:1989, menjelaskan bahwa: “Manajemen kasus sebagai suatu sistem pelayanan yang mengkoordinasikan dan melanjutkan suatu jaringan dukungan-dukungan formal dan informal serta aktifitas-aktifitas yang direncanakan untuk mengoptimalkan fungsi dan kesejahteraan orang dengan kebutuhan-kebutuhan yang beraneka ragam” Oleh karena itu, pada saat manajer kasus mendapat limpahan permasalahan dari pekerja sosial, maka ia harus mencermati dan mempertimbangkan dengan masalah klien dan kebutuhannya berdasarkan hasil asesmen yang dibuat oleh assesor.

Namun jika perlu maka manajer kasus harus mempelajari situasi dan kondisi yang mempengaruhi masalah, guna ketepatan intervensi yang akan diambil. Oleh karenanya maka seorang manajer kasus harus memperhatikan dengan cermat tentanag fungsi-fungsi manajemen kasus agar dapat memaksimalkan pertolongan yang akan diberikan. Salah satu fungsi manajemen kasus yang tidak dapat dilaksanakan sendirian adalah fungsi koordinasi, karena dalam pelaksanaannya akan selalu berhubungan dengan orang lain untuk mengakses sumber-sumber yang tersedia di masyarakat guna memaksimalkan pertolongan yang akan diberikan.

Dineman, 1922 dalam Comton, 1999, menyebutkan bahwa ”praktek pekerjaan sosial adalah manajemen kasus yang membantu orang berhubungan dengan sumber –sumber yang ada di masyarakat. Rose,1992 dalam Compton, 1999, juga menyebutkan bahwa: “untuk beberapa hal, manajemen kasus berarti membantu klien untuk mengakses sumber-sumber yaitu dengan mengatur sumber-sumber dari masyarakat”. Lauber: 1992 dan More:1990 dalam Comton :1999 bahwa:“salah satu fungsi dari pekerjaan sosial adalah koordinasi dukungan sosial formal”.Begitu juga Robert L. Balker (1982: 20) bahwa: Case management is a procedure to coordinate all the helping activities on be help of client or group of clients”(kegiatan dalam manajemen kasus merupakan kegiatan yang memiliki prosedur untuk mengkoordinasi seluruh aktivitas pertolongan yang diberikan kepada klien secara perorangan maupun kelompok).

Koordinasi seyogyanya dilakukan secara professional oleh teamwork. yaitu antara manajer kasus dengan pekerja sosial sebagai asesor, penjangkau (outricher) dan atau dengan profesi lain yang terkait, sehingga upaya pelayannya dapat ditingkatan sesuai kebutuhan klien. Selaku teamwork, maka ada beberapa kaidah yang harus dilaksanakan oleh pekerja sosial, antara lain: 1) Tumbuhkan rasa perhatian terhadap klien. 2) Ciptakan kepecayaan antar team. 3) Tanggung jawab terhadap persoalan yang dihadapi klien. 4) Terbuka. 5) Fokus pada tujuan pemecahan masalah.

II. Tujuan Manajemen Kasus
1. Menjamin kontinyuitas pelayanan lintas bidang pada waktu atau kurun waktu tertentu 2. Menjamin responsivitas pelayanan terhadap berbagai kebutuhan klien termasuk perubahan pelayanan, jika perlu seumur hidup klien. 3. Membantu klien memperoleh akses terhadap pelayanan yang dibutuhkan, memecahkan hambatan aksesibilitas yang disebabkan oleh kriteria keterjangkauan, peraturan, kewajiban. 4. Menjamin bahwa pelayanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan klien, diberikan dengan cara tepat dan tidak duplikatif.

III. Dasar-dasar Manajemen Kasus
1. Fungsi managemen kasus. a. Identifikasi klien dan orientasi (Client Identification and Orientation). Manajer kasus harus terlibat langsung dalam melakukan identifikasi dan orientasi sekaligus melakukan seleksi terhadap permasalahan yang dialami oleh klien, serta mempengaruhi secara positif kepada orang / lembaga yang dapat menerima rujukan terkait dengan kebutuhan klien. b. Asesmen klien (Client Assessment). Asesmen berfungsi menggali dan mengumpulkan informasi terkait dengan kebutuhan-kebutuhan biopsikososial dan spiritual klien, serta sumber-sumber serta potensi klien baik kekuatan dan kelemahannya. Melalui asesmen tersebut maka akan diperoleh data yang lebih mendalam, jelas dan akurat karena diperoleh secara menyeluruh dan integral, sehingga dapat dijadikan langkah menyusun rencana intervesi yang tepat guna pemecahan masalah yang dihadapi klien. Lambert Maguire (2008:46) dalam bukunya mengatakan bahwa: “..ada penyebab-penyebab biologis, sosial psikhologis lingkungan dan penyebab-penyebab yang dipelajari dari perilaku dan/atau masalah-masalah. Oleh karena itu, manajer kasus harus mempelajari dengan cermat hasil asesmen dilakukan oleh pekerja sosial selaku asesor, guna menentukan rencana intervensi yang akan disusunnya. c. Rencana Intervensi, setelah manajer kasus mempelajari dan memahami hasil asesmen, dilanjutkan membuat telaahan dan merencanakan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan klien, dengan mempertimbangkan hak azasi manusia, artinya bahwa layanan tersebut mempertimbangkan hak-hak dasar yang dibutuhkan oleh korban tindak kekerasan terhadap perempuan.Selanjutnya manajer kasus bersama klien menyusun rencana intervensi yang sebelumnya manajer kasus memberikan informasi tentang lembaga layanan yang dapat diakses oleh klien. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa korban tindak kekerasan biasanya memiliki ketakutan yang luar biasa, ataupun rasa malu jika masalahnya diketahui oleh orang lain, sehingga rencana intervensi yang akan diberikan benar-benar memberikan rasa aman, nyaman.Selanjutnya manajer kasus juga menginterpretasikan tujuan dan fungsi rencana kasus kepada pemberi pelayanan, agar terdapat sinkronisasi dalam memberikan pelayanan. d. Koordinasi,manajer kasus melakukan koordinasi dalam rangka menghubungkan klien dengan sumber-sumber bantuan yang sesuai dengan kebutuhan klien. Koordinasi yang efektif dilakukan tidak hanya pada saat akan melakukan rujukan, namun sebaiknya dilaksanakan sebelum dan sesudah melakukan rujukan, artinya bahwa berkoordinasi sama dengan berjejaring artinya sebaiknya selalu dijaga. Oleh karena itu, penting bagi seorang manajer kasus mengenal lebih dekat lembaga-lembaga tersebut, dan memiliki daftar alamat lengkap dan kontak person yang bisa dihubungi. e. Tindak lanjut, monitoring dan evaluasi Seorang manajer kasus harus selalu melakukan kontak secara kontinyu terhadap klien paska rujukan, untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan benar-benar tepat, sehingga klien berada di lingkungan yang nyaman dan aman. Selanjutnya monitoring dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan klien selama berada di lembaga tersebut, apakah mengalami perubahan signifikan dengan pelayanan yang diberikan. Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan terhadap lembaga terkait (rujukan), guna mengetahui layanan yang sedang / sudah diberikan kepada kliennya. f. Dukungan,Manajer kasus harus selalu memberikan dukungan selama masa pelayanan melalui: informasi-informasi yang dibutuhkan, memberikan konseling pada saat klien mengalami permasalahan, serta melakukan pembelaan terhadap klien jika hak-hak dasarnya tidak dipenuhi di lembaga rujukan tersebut. g. Pencatatan, pencatatan selama proses pelayanan penting bagi manager kasus, guna mengetahui perkembangan / kemajuan yang dicapai klien, pelaksanaan pelayanan serta kesesuaiannya terhadap rencana yang telah diusun sebelumnya. Manajer kasus wajib menjaga kerahasiaan file ini karena menyangkut kehidupan klien selanjutnya.

2. Prinsip-prinsip Manajemen Kasus
(Gerhart, 1990). a. Individualisasi pelayanan (Individualization of services) Dalam memberikan pelayanan kepada klien, walaupun memiliki persamaan masalah, ataupun persamaan karakter yang dimiliki klien, maka seorang manajer kasus harus dapat memberikan pelayanan yang spesifik, karena bahwa manusia memiliki kebutuhan yang berbeda bagi setiap indvidu. b. Pelayanan yang komprehensif (comprehensiveness of services) Pelayanan diberikan tidak hanya terfokus pada klien, tetapi juga sistem klien (lingkungan) yang mempengaruhi keberadaan klien, agar tercita suasana yang kondusip bagi kehidupan klien. c. Pelayanan yang teratur (parsimonious services) d. Kemandirian (fostering autonomy) Pelayanan yang diberikan bertujuan agar klien mampu hidup normal dan kedepan mampu mengatasi masalahnya sendiri. e. Keberlanjutan pelayanan (continuity of care) Pelayanan dilakukansesuai dengan tahapan pelayanan yang dimulai dari pendekatan awal sampai dengan terminasi yang berakhir dengan kemandirian klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar